
Menghindar
Erlan melepaskan pelukannya dan berdiri, lalu melihat ke arah Winsi yang masih duduk, membuat pria itu harus menunduk dan berkata, “Aku bertanya sekali lagi, apa selama ini kamu nggak punya perasaan apa-apa padaku?”
Winsi memalingkan wajahnya dari tatapan Erlan dan berkata sambil tersenyum, “Bukannya aku tadi pagi bilang, kan, kalau aku juga cinta sama kamu?”
“Terus, bagaimana dengan Ayah?”
“Ayah adalah ayah, dia cinta pertamaku.”
“Apa? Akh yang benar saja!”
“Kenapa memangnya, apa aku salah, gitu?”
“Ya, salah!” Erlan berkata sambil melangkah pergi ke kamarnya sendiri, suaranya terdengar penuh kekecewaan. Dia tidak lagi menoleh dan meninggalkan Winsi yang bengong sambil berpikir tentang apa yang salah dengan ucapannya.
Seandainya apa yang dikatakannya salah, bukankah seharusnya laki-laki itu menjelaskannya?
“Memangnya apa salahnya menjadikan Ayah sebagai cinta pertama, tapi, kan, suamiku bukan Ayah! Dasar aneh!”
Setelah berkata demikian, Winsi menghela napas dalam-dalam, karena tiba-tiba hatinya penuh sesak oleh perasaan yang, entah apa namanya dan memenuhi benaknya hingga membuatnya begitu takut. Dia tidak ingin Erlan marah seperti tadi. Namun, ada rasa gengsi yang juga hadir secara bersamaan membuatnya enggan meminta maaf duluan.
Winsi hanyalah wanita biasa yang tidak mendapat pengetahuan tentang ciri-ciri bila suami marah, apalagi dia perempuan yang tidak gaul atau pernah memiliki pacar. Bagaimana cara menyenangkan suami pun dia tidak tahu.
Baru setelah Runa melihat apa yang terjadi pada anaknya, keesokan harinya, maka, dia memberikan ilmu pengetahuan yang bisa dia berikan kepada anak perempuannya itu.
Dia pun tidak pernah menduga jika Winsi akan menikah secepat itu sehingga dia belum sempat mengajarkan beberapa hal tentang rumah tangga dan bagaimana sebaiknya seorang istri membahagiakan suaminya.
Pagi itu, saat Erlan hendak berangkat bekerja, Winsi bertanya dengan ketus, “Mau ke mana kamu, Lan?”
Erlan masih sangat kesal hingga dia pun cemberut, sudah semalam mereka tidak bertegur sapa. Walaupun, mereka sudah tidur bersama di kamar Erlan, tapi, mereka seperti orang asing dan saling membelakangi. Selain karena masalah cinta pertama di hati Winsi, Erlan juga kesal karena istrinya itu selalu bertanya soal buku tentang penyakit gangguan syaraf pada manusia yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya.
__ADS_1
Dia menyesal mengapa menyimpan buku itu di sana dan bukan membuangnya saja.
Erlan tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan jujur karena dia tidak mungkin mengakibatkan dirinya sendiri tercebur dalam lumpur masalah yang dia ciptakan sendiri. Lalu, mau tidak mau akhirnya dia mengatakan jika dia membaca hanya karena penasaran saja, bukan karena butuh ilmu buat istrinya yang lain.
Mendengar Winsi bertanya seperti itu, Erlan menoleh tapi tidak menjawab, pria itu pergi begitu saja ke mobil dan menjalankan kendaraan pribadinya dengan kecepatan tinggi seolah ingin menghindari istrinya.
“Win, kamu kok, begitu sama suamimu?” tanya Runa setelah kepergian menantunya.
“Memangnya kenapa, Buk? Apa aku salah, cuma tanya aja, masa nggak boleh?”
Runa menghela napas panjang karena mendengar jawaban Winsi yang tidak tahu letak kesalahannya. Dia mengajak anaknya itu duduk berdua di teras samping membicarakan sesuatu, yang sangat serius soal rumah tangga dan hubungan suami istri sesuai pengalamannya.
Mereka saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, mengutarakan segala perasaan yang selama ini hanya bisa di pendam sendiri, tapi, hari ini mereka bisa bicara dari hati ke hati dan melepaskan semua beban yang ada.
Antara ibu dan anak, tidak memiliki rahasia, dan Winsi memberikan pernyataan yang membuat Runa senang bahwa, ternyata dirinya masih suci dan menganggap semua ketakutannya pada bayang-bayang masa lalunya tidak beralasan.
Winsi akhirnya jujur pada ibunya tentang rasa takutnya selama ini hingga membatasi pergaulan dengan kaum pria. Jujur, jika dia takut dinilai sebagai wanita murahan karena tidak perawan lagi. Namun, nyatanya saat dia diruda paksa pria besar itu, sebenarnya belum terjadi apa-apa, pria itu baru melakukan pemanasan pada organ kewanitaannya yang menyebabkan rasa perih, apa lagi dia tidak pernah tahu hubungan antara laki-laki dan perempuan itu seperti apa.
“Aku pikir dia tahu apa maksudku ngomong begitu.”
“Tidak semua orang mengerti apa yang kita maksudkan dan, kita juga tidak bisa memaksa orang lain mengerti dengan apa yang kita inginkan, kalau kita tidak berbicara terus terang.”
Runa diam sejenak karena Winsi terlihat bingung dengan ucapan ibunya.
“Win, Kebanyakan laki-laki itu tidak peka dengan perasaan wanita, oleh karena itu Jujur saja dan katakan secara lemah lembut ... suamimu pasti mengerti karena Ibu tahu Erlan bukan laki-laki yang temperamental.”
“Masa? Tuh, buktinya dia diam aja malah cemberut-in aku.”
“Mungkin saja dia cemburu, Itu tandanya dia memang pengin kamu cuman cinta sama dia aja nggak sama laki-laki lain.”
Winsi tetap saja tidak mengerti dan heran dengan sikap Erlan karena dia merasa bahwa bukan merupakan kesalahan bila mencintai Ayahnya, sedangkan Arkan sekarang pun sudah tiada sehingga Erlan tidak perlu membuat alasan untuk cemburu ataupun marah kepadanya.
__ADS_1
Sementara itu, di kantor tempat Erlan melanjutkan bisnis ayahnya, sedang berlangsung acara serah terima jabatan pimpinan baru secara resmi, kepada Erlan dari kepala komisaris atau beberapa rekan bisnis Arkan, yang ikut memegang saham perusahaannya. Tidak ada campur tangan saudara-saudara ayahnya dalam bisnis itu, tapi, dia tetap mengundang paman pertamanya, sebagai saksi dan juga agar pamannya itu melihat secara jelas pembukuan keuangan di sana.
Maksud Erlan bukan untuk menyombongkan diri, melainkan hanya untuk membuktikan kebenaran ayahnya, yang tidak pernah mencampurkan urusan bisnis kakeknya dengan bisnisnya sendiri.
Sang paman pun akhirnya tahu dan mempercayai keunggulan Arkan selama ini, yang bisa memegang kendali atas beberapa usaha sekaligus, termasuk usaha yang dikelola Badri di dalam negeri. Sementara dia hanya mampu menjalankan satu bisnis di luar negeri dan itu pun sudah sangat membingungkan.
“Jadi, Paman, aku hanya mau Paman tahu, aku tidak akan membuat bisnis baru, tapi, aku juga tidak mau mengelola bisnis Kakek. Aku sudah cukup berterima kasih Paman memberikan Saham hak Ayah padaku. Jadi, kalau Paman mau kembali ke luar negeri, cari orang lain untuk mengurus perusahaan Kakek itu!”
“Terserah, tapi, di mana istrimu? Dia bisa membantumu, kan?”
Erlan memang punya rencana untuk mengajak Winsi hari ini, tetapi, karena dia sedang kesal bahkan, istrinya itu tidak meminta maaf padanya. Dia merasa bahwa istrinya itu bersalah hingga dia mengurungkan niat, untuk mengajak sekaligus menunjukkan pekerjaan yang dikemudian hari bakal membutuhkan bantuannya.
“Dia ada di rumah! Aku pikir dia belum siap karena belum lulus kuliah, kalaupun aku harus mempercayakan perusahaan ini padanya dan aku mengelola perusahaan Kakek, aku tidak bisa sepenuhnya melepaskan dia!”
Paman Erlan itu hanya mengangguk membenarkan ucapan keponakannya itu, sebelum dia pergi karena memenuhi sebuah telepon. Begitu juga dengan Erlan, dia pun melihat pada ponselnya yang menyala, dia mendapat panggilan dari Hanifa.
“Dia meneleponku, apa dia pulih?” gumam Erlan segera pergi meninggalkan kantornya untuk menemui Hanifa.
Untuk sementara waktu, Erlan tidak akan fokus mengurus bisnisnya dan dia hanya mempercayakan semuanya kepada sekretaris yang selama ini sudah menjadi kepercayaan Arkan. Tidak seperti ayahnya, dia punya kesibukan berbeda, harus mengurus Hanifah dan juga istri lainnya yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Di tempat lain, Winsi tengah mencoba motor matic merk brand ternama yang baru dipesannya, gadis itu pergi ke dealer yang terletak tidak jauh dari sekolah menengahnya dahulu. Dia diantar oleh Hasnu seperti biasanya.
Winsi tetap berlaku seenaknya, walaupun, dia sudah menjadi istri sah dari seorang pria yang kini menjadi tuan muda di rumahnya. Seperti sekarang, dia tetap duduk di samping Hasnu, yang menjadi sopir, dia tidak mau duduk di kursi belakang mobil meskipun, pria tua itu sudah membukakan pintu untuknya.
“Non, padahal buat apa beli motor, kan, ada Bapak yang bisa nganter Nona ke mana saja?” kata Hasnu sedikit protes karena dia merasa tidak banyak pekerjaan setelah Arkan—majikannya tiada.
Saat berbincang-bincang mereka berdua sedang berada di ruangan sebuah deler motor yang cukup besar di sana.
“Nggak apa, Pak Hasnu di rumah aja istirahat, biar saya bebas ke mana-mana!”
“Apa jangan-jangan Tuan Erlan nggak tahu, Nona pesan motor sekarang?”
__ADS_1
Bersambung