Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
46. Maafkan Aku


__ADS_3

Maafkan Aku


 


Suara itu terdengar jelas di belakang anak-anak itu, membuat serangan mereka yang berusaha menyudutkan Winsi, terhenti.


Gadis itu sibuk merapikan jilbabnya yang miring karena di tarik oleh tangan salah satu teman Meri, sementara beberapa anak lain menoleh ke sumber suara, mereka melihat Erlan yang melangkah mendekati lalu, berdiri di samping Winsi yang tengah menatapnya acuh. Dia tidak mengharapkan Erlan membantu, dia bisa mengatasi hal ini sendirian.


Seandainya anak-anak itu mencoba melakukan kekerasan padanya, Winsi tidak akan sungkan lagi. Dia akan melawan, karena mereka yang lebih dahulu memulai. Itulah tekadnya kali ini, begitu dia merasakan beberapa pandangan dingin tertuju ke arahnya saat dia diperkenalkan tadi, di depan kelas. Bagjakan beberapa tatapan mata mengundang permusuhan.


“Erlan, kamu?” gumam Meri, dengan tatapan mata penuh rasa tidak suka pada Erlan dan Winsi.


‘Bagaimana bisa?’ tanya Meri dalam hati.


“Ya! Dia Adikku, kenapa?” tanya Erlan lagi mengulangi perkataannya.


Meri tertawa kecil seperti menertawakan dirinya sendiri. Lalu, dia berkata, “Sejak kapan, Wiwin jadi adikmu?”


“Bukan urusanmu!” jawab Erlan datar.


“Ya, terserah! Aku minta maaf,” sahut Meri, dia memang minta maaf, tapi, raut wajahnya lebih mirip mengejek daripada rasa bersalah.


“Meri, kamu kenal dia?” tanya salah satu temannya sambil menunjuk Erlan dan, Meri mengangguk.


Tentu saja dia tahu karena mereka pernah tinggal dalam satu kompleks, rumah mereka hanya berbeda blok, dan tentu saja beda segalanya.

__ADS_1


Erlan terkenal kaya, tampan dan pemain basket yang handal di sekolah saat dia masih SMP. Sekarang pria remaja itu kembali melanjutkan pendidikan pada yayasan yang sama. Dia masih memiliki bakat itu sampai sekarang bahkan dia jadi salah satu idola, apalagi saat dia sudah SMA, penggemarnya bertambah. Lalu, sekarang dia mengaku punya seorang adik perempuan yang sama sekali tidak mirip, bahkan seperti seorang pecundang! Apa ini mungkin?


Berbeda dengan Winsi, dia  sama sekali tidak melihat Erlan sebagai siapa pun. Bahkan dia tidak membutuhkannya saat ini.


Gadis itu punya harga diri yang mulai tumbuh karena merasa semua anak di sekolah ini tidak ada yang mengenalnya, tidak tahu tentang kebenaran bahwa, dia anak Basri, seorang supir truk yang kasar dan tidak menginginkannya sebagai anak, menganggapnya anak haram. Tidak ada. Itu kenyataan yang mengerikan.


‘Ya, aku bukan anak Basri, aku anak Ayah!’ pekik Winsi dalam hati.


“Ya, sudah kalau kalian kenal aku. Jadi, kalian jangan ganggu dia lagi!” kata Erlan seraya merengkuh bahu Winsi dan membawanya berjalan beriringan.


“Lepas!” kata Winsi sambil menepis tangan Erlan dari bahunya, risi.


Sementara beberapa anak perempuan teman Meri itu, memandang keduanya dengan takjub. Bagaimanpun, ini aneh di mata mereka, baik Winsi atau Erlan sama sekali tidak mirip, jadi bisa dipastikan mereka bukan adik dalam artian yang sebenarnya.


Akan tetapi, mereka paham, bila siapa pun Winsi, mereka tidak bisa mengganggunya lagi. Kalau tidak ingin terlibat masalah, dengan keluarga Erlan.


“Iya. Bisa sendiri, terus ... kali ini di ceburin di selokan, gitu?”


“Ya, nggak, lah. Aku bisa lawan mereka kalau mereka begitu.”


“Ya. Terus jadi masalah di sekolah biar rame?” jawaban Erlan seperti menunjukkan kekhawatiran, tapi, caranya tidak di sukai oleh Winsi.


“Siapa yang mau rame?”


“Kan, aku Cuma membela diri, memangnya nggak boleh?”

__ADS_1


“Nggak! Nanti gak sembuh-sembuh itu, buluk!”


Mobil terus melaju, sedangkan kedua remaja yang duduk di jok belakang masih adu mulut, saling menyangkal dan menyalahkan. Sementara Hasnu yang menyopiri mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Pria itu tahu bahwa kedua anak itu sudah saling mengenal dan bermain sejak kecil, walau tidak terlalu sering. Hanya Winsi yang menjadi teman Erlan di kompleks perumahan itu. Wajar kalau mereka begitu karena biasanya orang yang terlalu dekat justru akan lebih mudah memicu pertengkaran.


Kedua anak remaja itu masih saja bersikap acuh tak acuh bila bertemu, bahkan walau sudah beberapa hari ini mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Akan tetapi, mereka masih sering bertengkar bila ada sedikit saja pemicunya.


Sementara itu, Winsi masih mempunyai kebiasaan turun sebelum pintu gerbang sekolah lalu, saat pulang pun akan menunggu di tepi jalan jauh dari sana. Tentu saja hal ini pun menjadi pemicu pertengkaran karena menurut Erlan, gadis itu tidak perlu malu-malu atau menyembunyikan identitas karena semua teman sekolah sudah banyak yang mengetahui siapa mereka berdua.


Hari yang dijanjikan pun tiba, Winsi benar-benar pindah ke rumah besar walaupun, perasaan gadis itu tidak menentu, antara senang dan takut akan hukuman bila tanpa sengaja melakukan kesalahan. Apalagi di sana dia hanya sendiri, tidak ada ibu bersamanya. Dia ragu apakah dia akan betah kali ini atau tidak.


Winsi menempati kamar yang dulu pernah dia tinggali saat masih terapi. Saat itu Arkan melarangnya pulang ke rumah Basri hingga dia dan ibunya terpaksa tinggal di sana selama beberapa lama.


Rumah besar tidak terlalu jauh letaknya dengan rumah lamanya. Dia sempat memikirkan bagaimana kabar bapaknya saat ini, dia tidak pernah bertemu, apalagi lewat di depan rumah. Basri memang galak, sudah meninggalkan bekas luka dan penderitaan yang dalam, menyebabkan trauma yang sulit disembuhkan seandainya dia tidak mengikuti terapi. Akan tetapi, masih ada rasa penasaran akan keadaan bapaknya saat ini.


Sebenarnya dia ingin bertanya pada Meri tentang keadaan Basri, sayangnya sekarang Meri tidak lagi seakrab dulu lagi. Bahkan terakhir kali bertemu, Meri sengaja mengacuhkannya, padahal dia sudah memakai sepatu dan tas baru yang mahal pemberian Arkan. Mereka sekarang sederajat, kan? Anehnya Meri justru terlihat semakin membenci.


Seperti hari ini, Winsi bertemu Meri yang pura-pura tidak kenal. Itu terjadi di jam istirahat dan dia hendak mencuci tangan sebelum makan siang, tapi, temannya ini melengos begitu saja hingga Winsi kecewa, senyumannya tak dibalas. Ingin sekali dia bertanya apa alasannya bersikap demikian, tapi dia hampir tidak memiliki kesempatan.


Winsi selalu makan sendiri di kelas dan jarang bergabung dengan teman-teman di kantin. Dia seperti para sisiwa lain yang harus mengisi perut pada jam istirahat sebab, sekolah sampai sore atau full day, akan sangat lapar jika tidak makan siang.


Gadis itu selalu membawa bekalnya sendiri yang dia minta pada Bi Neni, wanita lembut dan baik  hati, juga ramah seperti ibu sendiri. Winsi baru tahu sekarang bahwa wanita itulah yang merawat Erlan dengan penuh kasih sayang sejak kecil karena ibunya meninggal. Dia sempat mengira bahwa asisten rumah tangga itu lah ibunya karena dia selalu menemani Erlan bermain bahkan mengajarkannya naik sepeda.


Ah ... pantas saja dia tidak pernah melihat wanita lain yang tinggal bersama mereka di rumah besar atau wanita yang tidur sekamar dengan Arkan seperti bapak yang tidur satu kamar dengan ibu. Ternyata nasibnya dan Erlan tidak jauh berbeda, pria itu hidup tanpa seorang ibu, sedangkan dirinya hidup tanpa kasih sayang seorang ayah, bahkan bapaknya tidak mengharapkan kehadirannya di dunia, bedanya dia selalu mendapat kekerasan fisik.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2