
Seandainya Bisa Ikut
Winsi melepaskan pelukan, mengajak Runa duduk di sisi tempat tidur. Itu ranjang yang menjadi tempat ayahnya berbaring bahkan sampai ajal menjemput orang terbaik dalam hidupnya. Suasana kamar itu belum berubah, baik pakaian, parfum dan semua perlengkapan Arkan masih berada di kamar itu, pada tempat biasa di mana pria itu biasa menyimpannya semasa masih hidup.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke kamar ayah dan ibunya, lalu berkata, “Bu, tinggallah di sini sampai ujianku selesai, apalagi tidak enak kalau Ibu langsung pergi padahal masih dalam keadaan beduka dan masih masa Iddah.”
“Tapi ...”
“Buk, dengarin dulu Wiwin mau ngomong. Nggak bagus kalo Ibu pergi sekarang, masih banyak saudara! Tahan sebentar sampai masa Iddah ibu juga selesai....”
Winsi sudah dewasa, hingga dia bisa menenangkan ibunya dengan baik, rasa bersalah yang muncul sejak semalam, tidak bisa dia hilangkan karena harus meninggalkan Runa dalam keadaan sedih. Wanita itu butuh anak gadisnya untuk tetap berada di sisinya. Namun, keadaan memaksa mereka harus berpisah, seperti saat kematian Arkan, takdir yang memaksa apa pun yang berhubungan dengan pria itu selama di dunia untuk putus saat itu juga.
Setelah sepakat untuk mengalah, Runa kembali melakukan aktivitas biasa dengan perasaan sepi dan kerinduan yang pekat, di pagi seperti ini biasanya mereka akan sarapan bersama dan mengantarkan Arkan ke kantor setelah bercanda dengan Jiddan si buah hati. Semua kebiasaan seperti itu kini sudah terkubur bersama jenazah yang membuat kenangan itu terasa begitu manis setelah ketiadaannya.
Winsi menemani ibunya sarapan, dengan Jiddan dalam gendongannya sementara dirinya sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara.
Suasana di meja makan tampak kaku dan tidak biasa karena pemimpin rumah tangga sudah tidak lagi duduk di kursi yang biasanya didudukinya.
Erlan keluar dari kamarnya dan menghampiri meja makan, dengan pakaian yang rapi karena dia harus pergi ke kantor saat itu juga, untuk melihat semua pekerjaan yang ditinggalkan Arkan sejak dua hari yang lalu.
Winsi melihat ke arah Erlan yang berjalan mendekat dengan tatapan takjub, dia melihat sebagian diri ayahnya ada pada laki-laki itu seolah bayangan tubuhnya mengiringi di belakang sambil tersenyum padanya.
“Ayah ....” gumam Winsi lirih dan hanya dirinya yang mendengar suaranya sendiri.
__ADS_1
Saat Erlan duduk di sisi paman tertua keluarga Badri, Winsi segera tersadar dan memalingkan wajahnya ke arah yang berbeda. Dia beruntung Erlan tidak memperhatikannya, kalau saja pria itu tahu, dia pasti akan sangat malu.
Paman tertua duduk di mana biasanya Arkan berada. Kursi itu juga yang dulu di duduki Badri sebelum dia hanya bisa duduk di kursi Roda.
“Erlan, hari ini kita ke kantor pusat, ya, kita bicarakan perusahaan Kakek yang diurus oleh Ayahmu!”
Pembicaraan di meja makan itu hanya terjadi antara Erlan dan paman tertua dari keluarga Badri, sedang beberapa saudara yang masih ada di sana hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Terserah Paman saja, kalau soal perusahaan Kakek, saya tidak mau tahu bagaimana Paman membagi sahamnya! Usaha Ayah juga banyak yang harus Erlan urus,” Kata Erlan sambil mengambil nasi ke piringnya sendiri.
“Aku, bilang sama kamu soal ini, biar Runa tahu, kalau selama ini yang di urus Arkan bukan Cuma punya dia sendiri. Jadi, jangan heran nanti kalau kami membaginya. Kamu sebagai istri nggak usah protes!”
Runa mengangguk saja, karena wanita itu tahu di mana posisinya. Dia dan Winsi menikmati makanan dengan perlahan bahkan, makanan itu terasa tawar.
“Apa maksud Paman bicara seperti itu? Ibu Runa bukan orang yang akan melakukan seperti yang kalian kira!”
Erlan diam sambil menyimpan sendok di piringnya, dia tidak napsu makan lagi, padahal baru makan satu suap saja. Dia heran dengan pamannya yang satu ini, sejak dahulu dia selalu sibuk dengan bisnisnya sendiri di luar negeri, begitu juga dengan tantenya yang menikah dengan pria Eropa pun tidak datang kali ini. Saat Badri sakit dan membutuhkan biaya serta Arkan kerepotan saat harus mengurus beberapa usaha sekaligus, mereka tidak pernah mau terlibat.
Namun, baru kini mereka meributkan saham di perusahaan Badri yang mereka kira akan di urus oleh Erlan yang tidak berhak terlalu banyak.
“Jadi, berikan saham Ayah sesuai bagian Ayah, dan tunjuk orang lain untuk mengurus usaha kakek itu. Kalau soal usaha Ayah, aku yang akan mengurusnya, jangan kuatir. Ayah sangat rapi dalam pembukuan dan keuangan. Jadi, tidak akan tertukar antara hak Paman dan Tante, juga hak Ayah dan aku.”
“Apa kamu, yakin?”
“Ya. Makanya aku akan ke kantor hari ini soalnya Paman seperti orang yang ketakutan. Seharusnya aku sekarang masih berduka, Paman!”
__ADS_1
“Ah! Terserah kau kalau mau datang silakan, nggak datang juga ya nggak masalah!” kata Paman
“Satu lagi, soal rumah ini, sepenuhnya milik Ayah! Dahulu Kakek tinggal di sini biar ada yang merawat, kalau kalian mau bagi warisan rumah juga silakan atur saja penjualan rumah dan villa yang di Jogjakarta!”
Mendengar ucapan dua laki-laki yang saling bersitegang itu, Winsi dan Runa pun tahu, jika keluarga Badri masih punya kekayaan juga di kota itu. Ya, demikian pula dengan Runa dia tiba-tiba ingat rumah Arkan yang sering dia lihat dulu saat dia masih sekolah di sana. Kenangan itu, membuatnya kembali menitikkan air mata.
“Bu, apa ibu baik-baik saja?” tanya Winsi yang melihat Runa yang menyusut air matanya.
Runa itu hanya mengangguk dan menghabiskan makanannya dengan cepat. Dalam hati dia bersyukur Winsi sudah mengurus rumah milik mereka sendiri hingga bila sewaktu-waktu, mereka terusir atau terbuang seperti saat ini, maka mereka masih punya tempat tinggal, untuk berteduh dan melanjutkan hidup.
“Ibu, jangan kuatir, rumah ini milik kita, milik Ibu, Aku, Jiddan dan juga Wiwin.” Erlan berkata sambil berjalan mendekati Runa dan menepuk pundaknya. Dia tahu sedalam apa luka hati ibu sambungnya itu.
“Kau bilang, Wiwin? Dia tidak ada hubungannya dengan kamu atau Ayahmu di sini, kan?” kata Paman tertua sambil melirik Winsi sinis.
Winsi tersenyum, lalu menyerahkan Jiddan pada ibunya, dia sudah selesai makan.
Setelah mengusap bibirnya dengan tisu, dia berkata, “Paman jangan kuatir, saya sudah punya rumah dan usaha sendiri di Jogjakarta. Jadi, saya memang tidak menginginkan apa pun dari harta Ayah, kenangan bersama dengan Ayah adalah harta terbaik bagi saya!”
Dalam hati Winsi melanjutkan, ‘Kalian tidak akan pernah tahu harta yang sudah Ayah berikan untuk saya, yaitu kasih sayang dari seorang Ayah yang tidak bisa ditukar dengan apa pun juga!’
“Oh, begitu?” tanya paman tertua keluarga Badri.
“Ya, jadi, kalau nanti masa Iddah ibu saya sudah selesai, saya akan membawa ibu saya kembali ke Jogjakarta!” sahut Winsi tegas.
“Apa kamu bilang, Win?” tanya Erlan dengan gusar, tiba-tiba wajahnya memerah menahan amarah.
__ADS_1
Bersambung