Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
42. Ayah!


__ADS_3

Ayah!


Sebuah mobil BMW X 15 hitam terparkir secara mendadak di sisi trotoar dekat dengan posisi di mana Winsi duduk di tanah yang becek sambil menangis. Seorang pria bertubuh tinggi yang memakai stelan jas rapi terlihat turun secara tergesa-gesa. Kejadian itu bersamaan waktunya saat Winsi terkulai lemas dan sebuah angkutan umum yang membawa rombongan anak-anak berlalu diiringi suara riuh di dalamnya.


Tap! Tubuh Winsi tertangkap oleh Akan, sebelum kepalanya sempat menyentuh aspal. Pria itu baru saja pulang dari berkunjung ke suatu tempat, saat dia melihat perundungan pada Winsi dengan mata kepalanya sendiri. Dia tidak mempedulikan semua yang dikenakan anak itu, selirih tubuhnya kotor, berlumpur, seperti, rambut, tas, dan bajunya.


Terlebih dahulu pria itu mengambil tas dan menyimpan di pundaknya setelah itu, mengangkat tubuh Winsi yang kotor dan bau serta, membawa masuk ke dalam mobil. Dia menyalakan mesin, memutar mobil dan melajukan kendaraannya menuju rumah sakit kota.


Setelah beberapa waktu berlalu dan kendaraan itu sudah berjalan hampir tiba.


Winsi perlahan-lahan membuka mata dia terbangun dan melihat di sekitarnya yang terasa asing. Selain itu dia pun merasakan tubuhnya terguncang-guncang seperti berada dalam kendaraan serta terdengar suara lembut murotal dari ayat-ayat suci Alquran.


Tidak lama setelah itu Winsi merasakan guncangan di tubuhnya berhenti lalu, pintu di sampingnya terbuka dan, seseorang meraih diri serta menggendongnya keluar dari sana. Saat itu dia masih terpejam hingga dia tahu, akan dibawa ke mana oleh pria itu.


‘Apakah ini ... seorang Ayah ....?’ batinnya masih terasa perih, bahkan menyuarakan kata ayah pun begitu sakit di ulu hati.


Ya, dia pria yang selalu membeli nasi uduk Ibunya dan Erlan memanggilnya ayah. Dia tidak tahu siapa nama pria yang selama ini sudah begitu baik dan ramah. Dia mengizinkan tinggal di rumahnya dan memberinya makanan enak. Ah ... seandainya dia benar-benar ayahnya.


Winsi meringkuk dalam pelukan Arkan, menghirup aroma tubuhnya dan menikmati kehangatan yang diberikan ketika laki-laki itu terus berjalan membawanya. Winsi seperti anaknya!


'Seperti inikah pelukan hangat seorang ayah? Aku menyukainya ... Bolehkah aku memanggilnya Ayah? Apakah dia menyukaiku atau karena menyukai ibu hingga dia begitu baik pada kami?’ kembali batin Winsi berkata dengan perih.


“Ayah ....” bisik Winsi lirih, tapi Arkan masih bisa mendengarnya hingga laki-laki itu menatap wajah Winsi sekilas, sambil mengerutkan alisnya.


“Maaf, Om. Saya manggil Ayah ....” lirihnya lagi.


“Dokter, tolong anak saya!” kata Arkan setelah sampai di ruang UGD.


Arkan membawanya ke rumah sakit, karena melihat Winsi dalam keadaan menyedihkan setelah mengalami perundungkan dari beberapa temannya, dia khawatir akan keselamatannya.


Sebenarnya tidak ada masalah apa pun pada gadis itu, dia hanya merasakan lemas karena terlalu banyak menahan amarah. Membendung energi kemarahan dan menangis menyesali diri adalah hal yang paling melelahkan. Memang, dia merasakan sakit saat ditampar berulang kali oleh beberapa teman sekolahnya tapi, itu tidak lebih sakit dari rasa di hatinya. Dia sudah pernah mengalami siksaan fisik sejak kecil, hingga menerima hal seperti itu, tidak berarti apa-apa baginya.


Setelah Winsi mendapatkan penanganan dari dokter, seorang perawat membantu membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju rumah sakit. Lalu, dia diminta untuk tetap berada di kamar perawatan sampai dia benar-benar kuat untuk melakukan aktivitas fisik lainnya.


Arkan masuk ke bangsalnya untuk melihat keadaan anak itu setelah tubuhnya bersih. Winsi melihat Arkan dari tempat tidur, dia berbaring dengan posisi meringkuk di balik selimut tipis berwarna putih.


“Gimana, apa kamu sudah merasa baikan?” tanya Arkan saat berdiri di sisi tempat tidur. Mereka berada di kamar VIP yang sudah dipesan oleh pria itu sampai Winsi benar-benar pulih.


“Om, boleh saya panggil Ayah?” Winsi balik bertanya membuat Arkan menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Tentu.” Arkan menjawab dengan jujur dari dalam hatinya bahwa tidak masalah bila dia memiliki satu lagi anak perempuan. Dia tersenyum lembut sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.


“Apa Erlan nggak marah?”


“Kukira tidak masalah tapi, jangan pikirin dia.”


“Kenapa Ayah baik padaku?”


“Bukan Cuma kamu ... Aku juga baik pada Ibumu.”


“Ya. Saya tahu, tapi, kenapa?”


Arkan menghela napas panjang lalu, dia duduk di kursi yang ada di sisi tempat tidur.


“Winsi ... aku dulu pernah berteman dengan ibumu, waktu kami masih remaja, aku dan Runa, satu sekolah.”


“Benarkah?”


“Ya. Aku mencintai ibumu sejak dulu, bahkan sampai sekarang aku masih menyukainya.”


Mendengar ucapan Arkan, Winsi memundurkan kepalanya sambil berpikir, alisnya naik saat menatap Arkan lebih saksama seolah apa yang di dengarnya adalah hal aneh dan tidak bisa di percaya.


Winsi duduk secara perlahan, tanpa melepaskan pandangannya dari pria dewasa yang ada di hadapan dan tengah tersenyum manis padanya.


“Pasti kamu nggak percaya.”


Winsi menggelengkan kepalanya.


“Apa ibumu punya hp?”


Winsi mengangguk cepat, rambutnya yang tidak tertutup jilbab acak-acakan karena tidak di sisir dan dia baru saja bangun dari rebahannya. Gadis itu memberikan nomor telepon ibunya sekaligus heran, kenapa selama berada di rumah Arkan, ibunya dan pria itu tidak saling bertukar nomer telepon genggam?


Winsi tidak tahu bila selama berada di rumah besar, Runa selalu menghindari Arkan, apalagi saat Tuan Besar Badri berada di luar kamar, serta bisa melihat aktivitas semua penghuni rumah, maka wanita itu akan memilih menemani anaknya berdiam diri di kamar. Wanita itu jelas terlihat sangat canggung dan menjaga diri atau terkesan takut.


Winsi melihat Arkan yang sibuk dengan ponselnya sambil menahan tawa lalu, memberanikan diri untuk bertanya.


“Katanya Ayah suka sama Ibuk, kenapa nggak punya nomor teleponnya?” kata Winsi masih menahan tawa, seketika Arkan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan membuang napas kuat.


Ya, dia sendiri kesal pada Runa, sebab Wanita itu selalu menghindar saat dia menanyakan hal itu padanya. Arkan terkadang kesal bila setiap kali dia mengajak Runa bicara, maka wanita itu selalu menjadikan Winsi sebagai alasan menolak keinginannya. Ibu muda itu hampir tidak memberinya kesempatan walaupun, hanya untuk bertukar nomor telepon genggam.

__ADS_1


Arkan sadar dengan sikap Runa yang sangat menjaga diri karena dia memang masih berstatus seorang istri dari Basri. Suaminya belum mengeluarkan kata talak bahkan akta nikahnya masih tercatat secara resmi sesuai hukum negara. Mereka tidak mungkin membina sebuah hubungan terlarang dan menjijikkan, hanya karena alasan saling menyukai.


Cinta dan perasaan adalah salah satu alasan seseorang berbuat salah dengan menjalin hubungan dengan wanita bersuami atau berselingkuh dengan pria beristri. Sungguh itu alasan paling remeh temen padahal dengan jelas agama mengatakan untuk menjaga Jawa nafsu yang dihembuskan syetan?


Hubungan terlarang selalu saja terasa indah dan lebih nikmat dikarenakan adanya bumbu penyedap oleh syetan. Mahkluk terkutuk itu sangat pandai membungkus sebuah kenikmatan surag berpahala, dengan kenikmatan sementara yang penuh dosa.


Ya, dalam pernikahan hubungan suami istri bisa menjadi pahala karena dilakukan dalam ikatan sah dan direstui, tapi hubungan lawan jenis itu bisa menjadi maksiat bila dilakukan tanpa ikatan dan hanya mengandalkan rasa cinta atau keinginan.


“Oh, ya. Ayah, aku akan memanggil Ayah kalau tidak ada orang. Boleh?”


“Apa itu artinya kita punya rahasia?” Arkan berkata sambil mencubit hidung Winsi.


Winsi menggeleng, dia hanya khawatir bila ada yang salah paham pada mereka. Terutama Badri—kakek Erlan, dia sangat takut pada pria tua itu, apalagi saat secara tidak sengaja mereka saling bertatapan, walaupun, hanya sesekali berpapasan ketika tinggal di rumah besar.


“Kalau begitu, panggil saja kapan pun kamu mau. Jangan sungkan. Anggap saja aku ayahmu sendiri.”


“Tapi, Ayah tahu, kan, aku punya Bapak?”


“Ya, aku tahu. Aku juga heran kenapa kamu memanggilku Ayah?”


“Aku ingin punya Ayah, bukan Bapak. Soalnya Bapakku galak.”


“Hmm ... lalu, kalau aku galak, apa kamu nggak mau lagi menganggapku Ayahmu?”


Winsi termenung dia berpikir positif bahwa Arkan tidak akan galak padanya. Mereka memang tidak dekat, apalagi ibu dan anak yang kini tinggal terpisah dengan kepala keluarga mereka itu tetap diperlakukan dengan baik.


“Tapi, Ayah nggak galak, kan, sama Erlan?” Winsi bertanya dengan menitikkan air mata yang baru saja keluar dari tempatnya. Mengingat betapa galaknya pria yang tinggal bersamanya dulu, siapa yang bisa menahan kesedihannya. Dia berharap banyak pada Arkan yang tidak mungkin jahat padanya.


Melihat Winsi hanya diam, Arkan kembali bertanya. “Sekarang, ceritakan pada Ayah, kenapa kamu bisa dikerjai teman-temanmu, apa kamu nakal?”


Mendengar pertanyaan Arkan kali ini Winsi menggelengkan kepalanya lalu, memalingkan pandangan sambil menghapus air matanya kasar, bibirnya mengerucut menunjukkan rasa muak.


Dia tidak ingin menjadi anak lemah yang mudah menyerah tapi, dikeroyok anak lain sebanyak itu, dia tidak bisa melawan mereka satu persatu. Apalagi mereka juga teman Meri, tentu tidak enak kalau sampai menyakitinya.


Ah, iya ... Meri, bagaimana dia bisa lupa tentang temannya yang seolah menutup mata dengan semua yang menimpanya? Tiba-tiba hatinya semakin sakit memikirkan saat dia melihat dari sudut matanya, bahwa Meri melihatnya dipukuli tanpa melakukan apa-apa.


Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya, mengapa Meri tidak lagi menjadi temannya? Apakah dia membencinya hanya karena Erlan, siapa tahu sahabat itu menganggap dirinya merebut laki-laki yang disukainya itu? Pikiran gadis itu berkecamuk.


Tiba-tiba dia bertanya pada Arkan, setelah dia selesai bercerita, “Ayah, apa Erlan punya pacar?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2