
Aku Tidak Tahu Namamu
“Mana kutahu!”
Pembicaraan pun berakhir saat ibu Meri berpamitan untuk pulang.
Sampai resepsi sederhana itu selesai dan semua tamu pulang ke rumah masing-masing, nyatanya Erlan tidak juga pergi seperti yang dikatakannya saat menerima panggilan, bahkan dia duduk sambil bercanda dengan Jiddan yang sore itu baru terbangun dari tidurnya.
Ketika sudah melewati makan malam, dan waktunya bagi semua orang untuk beristirahat, Erlan tidak menyangka bahwa apa yang diucapkan oleh Winsi di siang hari benar-benar dilakukannya. Istrinya itu tidak mau tidur bersama, padahal dia menyiapkan kamar pribadi yang sudah diubah posisi dan beberapa perlengkapannya pun diganti.
Erlan sudah menjadi kamarnya sendiri sebagai pengantin mereka, tempat yang dia pikir akan nyaman ditiduri berdua sebagai pasangan baru dan menempuh kehidupan selanjutnya.
Namun, tanpa diketahui oleh siapa pun, Winsi tidur sendiri di kamarnya walaupun, dia berada di sana dengan rasa bersalah yang berkecamuk dalam hatinya. Biar bagaimanapun juga, Erlan sudah sah menjadi suaminya yang harus dia layani dan taati, bila menginginkan pahala di Yaumil akhir nanti.
Dia duduk di dekat jendela yang terbuka saat hampir tengah malam dan, betapa terkejutnya dia saat melihat Erlan ternyata sudah duduk di kursi sebelah jendela kamarnya.
“Ngapain, kamu di sini?” tanya Winsi heran, dalam nada bicaranya, tidak ada rasa bersalah sama sekali.
Erlan menoleh sambil meringis, lalu menyimpan gelas kopinya di jendela yang kini sudah terbuka secara sempurna.
“Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu di sini, sudah aku tunggu dari tadi.” Erlan pun menyahut dengan nada ketus.
“Aku nggak mau tidur di sana, itu kan kamarmu!”
“Ya, nggak apa, kan kita udah nikah.”
Winsi memalingkan pandangannya dan menunjukkan rasa sesal di wajahnya seraya menghela napas dalam-dalam.
“Aku tuh, ya ... sebenarnya nggak sengaja jawab pertanyaan kamu waktu itu.”
“Jadi, maksudnya kamu nyesel dengan pernikahan kita? Begitu?”
“Ya, nggak juga, sih.”
__ADS_1
“Terus?”
“Cuma belum siap sepenuhnya aja, kalau harus tidur bareng di kamar itu, sama kamu, Lan!”
Erlan tertawa kecil saat mengingat ucapan Winsi soal panggilan anak buluk yang pernah dia sematkan padanya.
“Kalau gitu, aku yang tidur di kamarmu. Jadi, aku yang tidur bareng sama kamu, gimana?”
“Hais! Itu mah sama aja, Lan?”
“Ya, nggak, lah!”
Winsi diam saat merasa kalau Erlan cuma mau merayu agar keinginannya tersampaikan. Dia tahu suaminya itu pasti akan iseng dan mengerjainya kalau memang nanti mereka jadi tidur bersama.
Erlan merubah posisi duduknya menghadap ke jendela, badannya masih di luar sedangkan tangannya menjulur masuk meraih tangan Winsi lalu, menggenggam dan menciumnya, tangannya harum, mungkin dia habis pakai sabun atau cream. Sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan dulu.
Gadis itu tidak menolak dan membiarkan tangannya diciumi oleh laki-laki yang selama ini menjadi saudara, teman, sekaligus tempatnya berkeluh-kesah. Winsi tahu kalau hanya Erlan, satu-satunya pria yang tahu masa lalunya dan mau menerima diri serta kekurangannya. Seharusnya dia tidak seperti ini, tidak malu atau canggung lagi, karena mereka sudah terbiasa bersama.
“Win, dengar ... sampai kapan pun aku nggak mau memaksamu, semua terserah kamu, tapi, aku tetap memberi pilihan, kamu boleh memilih apa pun dari pilihan itu.”
Saat memeluknya siang hari tadi, wangi tubuhnya saja berbeda walaupun kehangatan yang dia berikan sama, tapi, pelukan Erlan lebih pada ... rasa manis dan ada lagi sesuatu yang lain, yaitu cinta hingga menyebabkan gayrah di dalamnya.
“Win!”
“Ya!”
“Kenapa melamun?”
“Ah, nggak melamun, kok!”
Erlan membelai pipi Winsi dengan jarinya seraya berkata, “Kalau memang kamu kirim jawaban itu nggak sengaja, itu artinya kita jodoh benar-benar takdir Allah. Iya, kan?”
Winsi mengangguk kali ini dan, memalingkan muka, menghindari belaian dengan menurunkan tangan kekar Erlan dari pipinya. Namun, laki-laki itu tidak marah, semua karena mereka belum terbiasa, malu, atau masih ada sisa trauma dalam pikiran gadis itu.
__ADS_1
Erlan bersabar dan, dia tidak akan menunjukkan gejolak di hatinya, sampai Winsi menyerahkan diri dengan sukarela kepadanya. Ya Allah, sebenarnya dia ingin malam ini, sebelum dia disibukkan kembali dengan urusan Hanifa. Kemungkinan jika gadis itu membuat masalah, maka malam-malam berikutnya tidak akan setenang sekarang.
“Hai! Anak Buluk!” kata Erlan sambil mencolek hidung Winsi, membuat gadis itu cemberut.
“Hai! Itu Cuma panggilan karena aku waktu itu belum tahu siapa namamu!” Erlan berkata sambil mengusap rambutnya kasar dan mengubah posisi duduk dengan bersandar ke dinding di samping jendela. Dia duduk di kursi plastik kecil, yang ada di halaman samping.
“Ah ....! Seandainya waktu bisa dipitar lagi, aku pasti manggil kamu Peri Kecil! Pasti kamu lebih senang, ya?” kata Erlan lagi, kembali menoleh pada Winsi yang kini mengerti alasan Erlan memanggilnya demikian.
“Ya, sudah ... tidur sana, besok bangun biar lebih segar, nggak mengantuk lagi. Eh, iya, kapan kamu mulai kuliah?”
“Mulai hari Senin depan ... Eh, iya, Lan!”
Erlan membalikkan badannya dan berdiri di depan jendela sambil melipat kedua tangannya di depan perut. Dia menggerakkan dagu juga alisnya ke atas, sambil bertanya, “Ada apa? Hmm, hmm?”
Winsi pun berdiri hingga mereka sejajar dengan jarak yang dekat, hanya dinding pembatas dan sekat jendela yang memisahkan mereka.
Dia pun berkata, “Aku bukan peri, aku tidak sesempurna mereka yang katanya, bisa membantu manusia mewujudkan keinginannya! Aku wanita biasa yang belum tentu mampu membuat kamu bahagia ....”
Tiba-tiba Erlan menjadi gemas, dia tidak menjawab apa-apa tapi, langsung melangkah dengan cepat ke dalam rumah, membuka pintu kamar Winsi yang ternyata tidak terkunci.
Erlan menutup pintu kamar, lalu, membawa tubuh Winsi kembali dalam pelukannya. Gerakannya lincah tapi, tenang hingga gadis itu tidak sempat menghindar. Dikarenakan tidak mendapatkan penolakan, laki-laki itu melancarkan aksinya dengan menciumi seluruh wajah dan berakhir di bibir yang basah dan ranum, mellumatnya penuh kelembutan. Namun, hanya beberapa saat, dia menyudahi ciumannya karena mereka masih sama-sama belajar.
“Kamu sudah mewujudkan keinginanku, Sayang!” kata Erlan dengan kedua tangan berada di kepala Winsi, bersiap ingin menciumnya lagi, tapi, disaat bersamaan, Winsi mengecup pipinya lebih dulu.
Gadis itu berkata, “Kalau begitu terima kasih .... Umm ... Jadi, kamu mau tidur di mana? Aku sudah ngantuk!”
Erlan melepaskan tangan dari kepala serta, tubuh istrinya, berjalan ke jendela menutup dan menguncinya rapat-rapat. Setelah itu dia berbalik sambil mendekati Winsi, lalu, tiba-tiba melingkarkan satu tangan di belakang punggung dan tangan lainnya ke belakang lutut dan mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongannya.
“Erlan!” Winsi tiba-tiba memekik keras karena tidak menyangka Erlan akan melakukan itu padanya.
“Gimana kalau kamu tidur di kamar kita?”
“Lepasin! Aku nggak mau—“
__ADS_1
Bersambung