
Dia Dan Kasih Sayangnya Lagi
Erlan menoleh pada Winsi yang memanggilnya sesaat sebelum dia melingkarkan tangannya di pinggang Hanifa.
“Apa kamu nggak bisa membujuk dengan cara yang lain?” kata Winsi.
Saat itu bukan hanya Eran yang tertegun tetapi, Fadli juga tertegun dengan kata-kata Winsi yang mengisyaratkan tidak setuju bila suaminya menggendong Hanifah. Walaupun, wanita itu tahu jika si gadis kurang akal adalah istri sah juga, dia tetap cemburu.
Winsi menunjukkan eksistensi dirinya yang lebih mendominasi hingga Erlan mengalah, dia menuntun Hanifa ke kamar dan menyuruhnya tidur sendiri, seperti memerintah pada anak kecil. Tentu saja gadis itu kesal dan merengek seperti biasanya apabila keinginannya tidak dituruti.
Winsi dengan cepat menyelesaikan makan malamnya kemudian dia segera menyusul ke kamar Hanifa, di mana dua orang pria sedang berusaha membujuk karena dia mulai melemparkan beberapa barang yang ada di sekitarnya.
“Hani! Diam! Apa kamu mau Mama pergi? Atau nanti Mama nggak akan kasih kamu es krim lagi!” kata Winsi sambil berkacak pinggang. Serta merta, Hanifa memeluk Winsi dan tersenyum manja.
“Jangan dong, Ma ... Mama nggak boleh pergi, Mama di sini saja, ya?” kata Hanifa mulai merajuk dia bergelayut manja di lengan Winsi sambil menghapus sisa air matanya.
“Ya, sudah ... “ Kata Winsi sambil menepak-nepuk tangan Hanifah yang ada di lengannya. “sekarang kamu, tidur sendiri, dan kamu nggak boleh nakal lagi, ya?”
Hanifah menuruti kata Winsi dia beranjak ke tempat tidurnya sendiri kemudian menarik selimut dan, menutupi setengah tubuhnya sambil mengoceh tidak karuan, entah apa yang dia katakan sedangkan, matanya menatap ke langit-langit kamar menerawang seolah menembus dunia lain yang tidak kasat mata oleh manusia lainnya.
Sementara itu Fadli memunguti beberapa barang yang berserakan dan membersihkan kamar yang terlihat berantakan.
Erlan menuntun Winsi untuk keluar dari kamar Hanifah dan, duduk di sofa ruang tamu menghilangkan rasa penat sambil menunggu Dinda datang.
“Sampai kapan kamu mau bertahan dengan semua ini? Apa kamu mau saja diperalat, dengan saudara-saudara Hanifa?” Kata Winsi setelah mereka duduk berjajar di sofa panjang.
“Di peralat gimana maksud kamu, Win?” tanya Erlan sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan, menoleh pada istrinya dengan tatapan yang tajam.
“Memang kamu nggak ngerasa kalau kamu diperalat?”
__ADS_1
“Aku hanya khawatir kalau mereka membicarakan sesuatu yang buruk tentang aku dan Hanifah di belakangku, itu saja!”
“Oh iya ... selama ini kamu selalu hidup tanpa gangguan dan omongan orang, nggak pernah mendapatkan kata-kata buruk dari orang lain ya ... ah! Pantas saja kamu seperti ini ....”
“Ya! Kamu memang benar, Win. Selain itu karena aku memang berjanji untuk mengurusnya di hadapan semua keluarga Hanifa!”
“Lan ... kalau kamu membawanya ke rumah sakit jiwa, bukan berarti kamu nggak ngurusin dia. Itu sama saj kamu ngurus tapi, nggak langsung lewat tangan kamu sendiri, kayak sekarang juga kan kamu bayar perawat? Apa bedanya kalau kamu memasukkan Hanifa ke rumah sakit jiwa? Coba pikir!”
Pembicaraan panas pun kembali terjadi.
Tiba-tiba Fadli datang dan dia ikut duduk di hadapan Erlan dan juga Winsi yang masih dalam keadaan bersitegang. Dia menatap kedua orang itu dengan tatapan yang rumit
“Apa Bapak dan Ibu mau membawa Hanifa ke rumah sakit jiwa?” tanya Fadli nada suaranya terdengar serius.
“Ya!” kata Winsi.
“Tidak!” kata Erlan.
“Memangnya kenapa?” tanya Winsi kemudian kepada Fadli.
“Ah, tidak saya hanya bertanya saja. Kalau mau membawa Hanifa ke rumah sakit jiwa adalah hak dari Pak Erlan sebagai suaminya, bukan?” kata Fadli.
Winsi menoleh pada Erlan kembali dan berkata, “Kalau memang kamu mau tetap bertahan seperti ini ya sudah terserah!” Tanpa memedulikan Fadli yang ada di hadapannya.
“Apa maksud kamu dengan terserah?” tanya Erlan.
Sementara Fadli beranjak dari tempat duduknya karena dia merasa tidak enak, apabila tetap berada di sana. Sementara kedua suami istri itu tengah membicarakan tentang urusan pribadi mereka.
“Aku nggak mau peduli dengan apa yang kamu lakukan! Aku sebenarnya cuma mau dukung kamu, Lan, bukan berarti aku mau misahin kamu dari dia, bukan! Aku juga pengin dia sembuh, apa itu salah?” tanya Winsi dengan serius sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Ya, sama. Aku juga mau dia sembuh.”
“Nah, makanya, obati dia di tempat yang tepat, dan jangan di rumah.”
“Tapi ...”
Erlan terlihat ragu, dia khawatir akan menyelisihi janji yang dia buat sendiri.
Sementara Winsi menilai jika Erlan terlalu mencintai Hanifa, dia menganggap cinta akan membuat seseorang mati-matian dalam memberikan perlindungan yang berlebihan, cinta juga membuat seseorang tega menikam dari belakang dan, tanpa berpikir dua kali untuk mendukung seseorang, tidak peduli orang yang didukungnya itu salah.
Sebenarnya di antara kedua orang itu sama-sama memiliki banyak waktu yang terbuang hanya untuk kesedihan dan kehilangan yang mereka alami.
“Tidak, aku tidak mau kehilangan lagi, tapi, tidak juga dengan cara seperti ini. Aku tidak perlu menjadi siapa hanya untuk ciptakan suka, suatu saat aku pasti lelah jika terus begini Tidak ... aku harus bangun dari mimpi buruk untuk meluaskan hati dan pikiranku sendiri.” Batin Erlan bicara dengan matanya yang terpejam.
Di saat yang bersamaan, Dinda datang, tapi, dia tidak sendiri. Ada dua orang pria dan wanita yang sudah cukup umur berjalan di belakangnya. Erlan tahu jika kedua orang itu adalah Paman dan Bibi tertua dari keluarga orang tua Hanifa.
Dinda segera bergantian untuk berjaga dengan Fadli yang segera pulang setelah melaporkan keadaan Hanifa padanya. Semua orang yang baru datang itu pun melihat Hanifa yang sudah hendak tidur.
Kedua orang tua yang datang itu adalah Darma dan istrinya, Reni. Erlan menyalami mereka dengan takzim. Namun, begitu melihat Winsi, ke dua orang itu tampak bermuka masam, bahkan memalingkan pandangannya.
Mereka memang bukan orang tua asli dari Hanifa tetapi, mengetahui suami keponakannya sendiri ternyata sudah mendua hati dengan wanita lain yang lebih sempurna akalnya, mereka tetap tidak menyukai dan tidak menerimanya.
Rupanya berita tentang Erlan yang memiliki dua istri sudah tersebar sejak pertama kali Merry bertemu dengannya waktu itu. Kemudian wanita itu mengatakannya kepada Tania dan Tania pun mengatakan kepada keluarga dan orang tuanya sehingga berita bahwa, suami Hanifa sudah mempunyai istri dua, tersebar dari mulut ke mulut.
Lalu berita itu diperkuat oleh Ridwan yang mendengar sendiri pengakuan dari Erlan, bila Winsi adalah istrinya. Tentu saja kedua orang tua dari keluarga Hanifa itu pun akhirnya tahu juga.
“Bude, Pakde, silakan duduk!” kata Erlan dengan ramah, seketika dia mempersilakan kedua tamunya itu duduk di tempat di mana dia duduk tadi.
Begitu juga dengan Winsi, yang tetap bersikap ramah walaupun, tidak tahu siapa orang yang telah datang di waktu yang tidak tepat karena sekarang sudah waktunya dia pulang ke rumah. Dia sudah lelah.
__ADS_1
“Erlan, apa dia ini istrimu?” tanya Darma setelah duduk di sofa yang dipersilakan untuk didudukinya.
Bersambung