
Teman Yang Berbeda
Winsi berjalan memasuki gerbang sekolah dengan tenang, tatapannya lurus melihat ke arah kelasnya berada. Tempat belajar yang sudah hampir dua bulan tidak dia datangi. Sebelum masuk sekolah, gadis itu kembali mengikuti kelas teraphi bersama seorang psikolog yang berbeda, dari ahli di rumah Arkan. Ini atas keinginan ibunya atas saran seorang dokter jiwa.
Winsi bergabung bersama beberapa orang yang mengalami nasib serta trauma berbeda dari berbagai kalangan yang berbeda pula. Dia mengikuti kelas itu selama satu bulan penuh dengan cara di karantina dan tidak boleh ditengok oleh orang terdekat untuk sementara.
Saat dia masuk sekolah, kondisi fisik dan kejiwaannya sudah jauh lebih baik, bahkan bisa dikatakan traumanya hilang. Walau, masih ada sedikit sisa perasaan rendah diri, tapi tidak akan mempengaruhi pergaulannya sehari-hari.
Dia berpapasan dengan beberapa temannya yang tidak akrab dan mereka hanya melihat kehadirannya sekilas. Tentu saja mereka tidak akrab dan bersikap cuek sebab, baru saja masuk kelas dan sekolah, mereka sudah tidak lagi saling bertemu, bahkan hampir dua bulan lamanya.
“Winsi!” teriak Fika, saat Winsi duduk di sampingnya. Dua Gadis remaja itu sama-sama melempar senyum dan saling berpelukan untuk, melepaskan kerinduan karena tidak menyangka akan bertemu lagi.
Fika mendengar desas-desus yang ada bahwa, di sekolah mereka ada salah seorang murid yang mendapatkan perlakuan tidak senonoh, dari seseorang di dalam tahanan penjara. Isu yang beredar sangat tidak jelas, tersebar dari mulut ke mulut, bahkan siapa yang dipenjara dan mendapatkan perlakuan itu pun tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.
Akan tetapi dia sempat heran mengapa kabar dan desas-desus itu bertepatan dengan ketidakhadiran Winsi. Namun, sebagai sahabat, Gadis itu membuang pikiran buruknya jauh-jauh karena dia tidak mungkin menanyakan hal seperti itu pada Winsi. Dia berpikir bahwa sahabatnya pasti tidak tahu kabar itu. Sementara beriya yang ditulis oleh ketua kelas pada absen sekolah bahwa, Winsi tidak masuk karena sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit.
“Apa kamu sudah sehat kamu sakitnya lama sekali?” tanya Fika sambil menepuk bahu Winsi. Gadis itu tersenyum dan mengangguk tanpa mengatakan apa pun juga.
“Wah, pasti kamu ketinggalan pelajarannya jauh ya? Hampir dua bulan, Win, kamu nggak sekolah, sebenarnya kamu sakit apa, sih?”
“Nggak tahu aku sakit apa. Udahlah yang penting kan sekarang aku udah sekolah.”
“Hehe. Iya.”
Tak tak lama setelah perbincangan itu selesai, bel tanda pelajaran di setiap kelas pun dimulai dan semua guru berdatangan sesuai pelajaran dan masuk ke dalam kelas sesuai jadwal mereka masing-masing.
Jam demi jam pelajaran berlalu hingga waktu istirahat tiba dan, semua anak keluar kelas untuk melakukan apa yang biasa diakukan para murid, di luar jam pelajaran mereka.
Saat itu Winsi berdiri dengan bersandar di depan lorong kelasnya berada. Dia memang ingin sendirian di sana, sambil melihat ke halaman di mana ada beberapa anak yang tengah bermain basket. Dia seperti biasanya, tidak suka bergaul dan lebih banyak diam, dia lebih asik dengan dirinya sendiri daripada melibatkan secara fisik dan emosional dengan banyak orang.
Fika bukannya mengacuhkannya, tapi Winsy yang tidak mau mengikuti kebiasaan Fika sebab, teman sebangkunya itu memang sangat berbeda dari dirinya dan Merry, Fika ceria dan banyak bergabung dengan teman-teman yang lainnya, bahkan selama dua bulan ini dia sudah memiliki banyak sahabat dari kelas yang berbeda.
__ADS_1
Dahulu saat Winsi masih di sekolah dasar apabila dia tidak ingin bermain bersama yang lain, maka Merry tidak akan mengabaikannya melainkan, selalu menemani dan juga membelikan jajan untuk dirinya.
Tiba-tiba dia tersenyum tipis mengingat Meri, dia tahu sahabat SD-nya itu menyukai Erlan tapi, sepertinya tidak dengan laki-laki itu, dia tidak mempunyai perasaan apa pun padanya. Dia sempat berpikir hendak mengatakan apa yang dirasakan Merri kepada Erlan tapi, dia tidak mempunyai keberanian seperti itu di hatinya.
Apalagi sekarang, dia sudah bersyukur tidak akan bertemu dengan Erlan karena tidak berada dalam satu atap lagi dengannya. Ketika dia keluar dari gedung kelas terapi, ibunya membawanya ke rumah sewa yang jauh dari rumahnya yang dahulu bersama Basri—bapaknya, jauh dari rumah Arkan juga jauh dari tempatnya menuntut ilmu saat ini. Dia harus dua kali menumpang angkutan umum untuk sampai ke sekolah karena tempat tinggalnya sekarang lebih dekat dengan pasar.
Runa memang pindah dari rumah Arkan setelah dua hari Winsi tinggal di gedung tempatnya mengikuti terapi. Sudah berulang kali dia meminta izin kepada pemilik rumah besar untuk menyewa rumah sendiri hingga akhirnya dengan berat hati pria itu mengizinkannya pergi.
Dia secara kebetulan menemukan sebuah rumah bekas warung kecil, yang tidak dipakai lagi oleh pemiliknya. Dengan susah payah dia akhirnya bisa menemukan si empunya dan berhasil menyewa. Lalu, dia memulai berdagang nasi uduk seperti biasanya, ditambah dengan sembako dan aneka penganan kecil lainnya.
“Hai!” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan lamunan Winsi tentang rumah baru dan sahabatnya.
Dia menoleh dan melihat Hansya wanita yang pernah berseteru dengannya, berdiri di samping dengan pongah, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia diikuti beberapa teman-temannya yang setia, semua wanita itu melihat penuh selidik ke arah Winsi.
“Sudah lama kamu nggak nongol. Ah ... jangan-jangan kamu ini sebenarnya takut, kan, sama aku?” kata Hansya.
Winsi menggeleng.
Mendengar perkataan Hansya, Winshi mengerutkan alisnya, dia bingung dengan laki-laki yang dimaksud olehnya.
‘Apa yang dia maksud adalah Erlan, orang yang waktu itu menolongku? Lalu, apalagi maksudnya kali ini?’ batin Winsi dengan waspada, mengedarkan pandangan ke sekitar dan membalas semua pandangan mencurigakan itu dengan tatapan tajam, sudut matanya seolah meruncing dan alisnya semakin dalam berkerut hingga menunjukkan ekspresi serius yang mengerikan.
Hansya menangkap perubahan wajah Winsi hingga dia berjalan satu langkah lebih dekat ke arahnya dan, menepuk bahunya lalu berkata dengan pelan Dan lemah lembut.
“Maksudku ... gini, loh, Win!” katanya terlihat mencairkan suasana. “Eh, benar, kan, namamu Winsi?”
“Ya,” jawab Winsi. “Ada apa sama laki-laki itu?”
Hansya tersenyum dan ia ingat akan tujuannya semula mendekati Winsi yang dia lihat berdiri sendiri di depan kelasnya. Sudah lama sekali gadis itu tidak terlihat di kelasnya. Dia penasaran dengan Erlan. Oleh karena itu dia berusaha mendekati anak yang dulu pernah jadi rivalnya.
“Kamu kenal, kan, siapa dia, saudaramu atau temanmu, boleh nggak kalau aku kenalan sama dia?”
__ADS_1
“Siapa? Erlan? Aku gak tahu dia anak mana. Jadi aku nggak bisa kenalin kamu sama dia,” kata Winsi, acuh dan datar bahkan wajahnya tanpa ekspresi.
“Tapi, kamu dulu kayaknya akrab banget sama dia, kamu naik mobil bareng, kan? Pasti kamu tahu di mana rumahnya!”
“Nggak, rumahku jauh soalnya dia bilang rumahnya di Bok dua Komplek Argasena. Kalau rumahku di dekat pasar.” Winsi menyebutkan alamat Erlan yang tidak jauh dari rumahnya dahulu.
Hansya termenung memikirkan ucapan Winsi, yang pasti jujur soal tempat tinggalnya. Gadis itu tidak akan bohong tentang dirinya dan Erlan yang sangat tidak mungkin bila mereka berteman apalagi saudara.
“Dulu, dia bilang kalau aku adiknya itu bohong, maksud sebenarnya sih, biar kamu nggak ganggu aku lagi, bahkan bukan cuma aku tapi, siapa pun yang kamu ganggu pasti dia akan seperti itu.” Winsi menambahkan keterangannya.
“Oh,” sahut Hansya akhirnya, sementara semua temannya yang lain, hanya mengangguk-angguk setiap kali dia bicara.
Walaupun sedikit kecewa tapi, Hansya tetap bersikap baik pada Winsi karena dia khawatir apabila dia usil lagi dengan gadis ini, maka akan mendapatkan akibat seperti saat dulu dia mengganggunya.
Keakraban antara Hamsya dan Winsi terus berlangsung, sampai saat mereka pulang dari sekolah. Kakak kelas Winsi itu mengajaknya pulang bersama, dengan menumpang kendaraan mewah yang biasa dinaiki dengan para sahabatnya. Akan tetapi dia menolak, walau perjalanan pulang mereka satu arah.
Winsi kembali sendiri ketika rombongan Hansya pergi, sedangkan Fika sudah lebih dulu pulang bersama temannya yang lain. Dia mencari angkutan lainnya sambil tetap berdiri di depan gerbang sekolah. Cuaca sebenarnya tidak terlalu panas, tapi dia enggan berjalan ke mana pun dan, memilih berdiri bersama temannya yang lain lagi.
Saat itulah tiba-tiba Meri datang mengagetkannya. Dia heran kenapa sahabatnya itu kembali menyambangi sekolahnya. Dia orang teman itu pun bercakap-cakap.
“Ayo! Kita pulang bareng lagi!” pinta Meri.
“Ayo! Kenapa tadi nggak sekalian pulang saja?”
“Aku lihat kamu, tadi. Aku kangen, udah lama banget kita nggak ketemu sejak kamu sama ibumu di bawa ke penjara!”
Entah apa maksud Meri hingga dia berkata seperti itu dengan suara yang keras. Tentu saja hal itu menarik perhatian. Beberapa anak yang berdiri di antara mereka pun sontak saja menoleh sambil mengerutkan alis penuh selidik.
Aroma kabar tidak sedap yang beredar, seolah kembali menguap. Sementara Winsi tidak tahu menahu bahwa, ada kabar seputar anak yang dianiaya di penjara, beredar di sekolahnya sejak sebulan yang lalu.
“Eh, Mer! Apa maksudmu?”
__ADS_1
Bersambung