Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
92. Tak Ada Kabar


__ADS_3

Tidak Ada Kabar


 


Erlan tertegun melihat mobil yang ditumpangi Winsi itu pergi, dia ingin kembali menaiki taksi untuk mengejar atau menghentikannya lalu, bertanya mengapa pergi, sementara dia baru saja datang. Dia hanya mau meluapkan rasa kesal pada gadis itu, yang sudah kembali pada sikapnya semula yaitu tidak mau menjawab pesannya.


Dia tidak mendapatkan jawaban melalui pesan singkat, walaupun sudah mengirimkan pesan itu berulang kali. Saat melihat Winsi kali ini, dia ingin mendapatkan jawabannya akan tetapi dia justru pergi.


Erlan melihat suasana sekitar rumah yang terasa aneh dan juga ucapan belasungkawa, tertulis dengan jelas nama kakeknya di beberapa rangkaian bunga beraneka warna yang berjajar, membuat Erlan mengurungkan niatnya. Akhirnya dia hanya bisa menatap mobil itu semakin menjauh lalu menghilang di balik gerbang penjaga besar ditutup penjaga.


“Ayah!” teriak Erlan sambil berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan tanpa mengucapkan salam sambil melemparkan tasnya ke sofa ruang tamu begitu saja.


“Ayah!” teriaknya lagi sambil melangkah menuju kamar Arkan karena tidak mendapatkan jawaban juga begitu dia berteriak.


“Den Erlan sudah pulang?” tanya Neni, asisten rumah tangga paruh baya itu berjalan dengan cepat menghampiri Erlan, yang masih berdiri di depan pintu kamar ayahnya.


“Di mana, Ayah, Bu?” tanya Erlan sambil menoleh ke bawah melihat pembantu yang mengasuhnya dari kecil itu dengan penuh pertanyaan.


“Ada di kamar, baru saja istirahat. Jangan di gang—“ Neni berbicara dengan terburu-buru tapi, ucapannya terputus karena melihat pintu kamar Arkan yang terbuka.


“Kamu, kenapa pulang?” kata Arkan sambil keluar dengan langkah cepat dan menghampiri Erlan lalu memeluknya. “Apa ujianmu sudah selesai?” Dia berkata dengan penuh lemah lembut selain karena masih lelah dia juga tidak ingin anaknya itu menjadi lebih emosi lagi. Sementara Runa baru saja merebahkan diri di tempat tidur, setelah berhasil mengatasi kesedihan melepas kepergian anaknya.


Erlan tidak menjawab Dia melepaskan pelukan ayahnya dengan kasar lalu berkata, “Apa maksudnya semua ini, kenapa Ayah tidak memberitahuku?”


“Soal apa?”


Kedua laki-laki yang memiliki tinggi badan sama itu, berbicara sambil berdiri berhadap-hadapan di depan pintu kamar, sementara Neni sudah berlalu karena tidak ingin ikut campur dalam masalah ayah dan anak.


Neni tahu jika Arkan bersikap tegas dan mengecewakan Erlan, bukan tanpa alasan. Kedisiplinan, adalah alasan utama, selain itu karena rasa duka akibat kehilangan hanya akan terjadi sementara waktu. Bukankah semua orang pasti merasakan kehilangan dan juga  akan mati pada akhirnya?


“Soal Kakek! Kakek meninggal dan Ayah tidak memberitahuku, keterlaluan sekali!”


“Ya, maafkan Ayah memang sengaja tidak mengabarimu soal kematian Kakek karena Ayah pikir kamu masih ujian, kamu tidak boleh pulang! Apa kamu mengerti?”


“Jadi, menurut ayah ujian dan nilaiku lebih penting daripada kabar seperti ini?”

__ADS_1


“Ya! Kamu harus kuat, bukan cuman fisik, mental dan kepandaian, tapi juga hati, kamu pikir tantangan dari masa depanmu nanti, tidak butuh mengelola perasaanmu? Kamu butuh mengatasi hal seperti itu, dan latihan dari sekarang!”


“Ayah!” mendengar itu Erlan geram seraya mengepalkan tinjunya dengan kuat, ingin sekali dia melakukan sesuatu seperti meninju dinding tapi, dia lebih memilih untuk menahan diri.


“Kamu tahu berapa banyak orang yang pekerjaannya kacau karena perasaan, berapa perusahaan yang hancur hanya karena kesedihan pemiliknya, bahkan beberapa orang mencoba mengakhiri hidupnya hanya karena tidak kuat menanggung beban rasa kehilangan atau diabaikan?”


Erlan diam, melirik ayahnya dengan sinis.


“Apa kamu mau menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang hancur itu hanya karena perasaan saja?”


Dia melakukan apa yang diminta oleh ayahnya dan menunjukkan keteguhan hati, sekuat mungkin bersabar untuk mengatasi rasa kehilangan. Biar bagaimanapun juga, Erlan adalah anak laki-laki satu-satunya, yang diandalkan Arkan serta tidak ingin mengecewakannya.


Erlan tidak bisa menahan satu titik air mata yang jatuh tanpa sengaja, karena merasa kehilangan sang Kakek sekaligus kecewa pada ayahnya. Dia memang tidak begitu dekat dengan kakeknya karena tegas dan galak saat mendidiknya di masa kecil hingga remaja, tapi, kesedihan itu tetap ada.


Sebenarnya dia merasa tidak enak hati beberapa hari yang lalu, tetapi karena tidak pernah ada kabar apa pun dari rumah dan kesibukannya melakukan ujian, membuat Erlan mengabaikan perasaannya. Apalagi Winsi selalu saja mengabaikan pesan-pesannya. Saat itu dia hanya bisa berdoa agar semua baik baik saja, doa adalah satu-satunya cara agar bisa terhibur dan sekaligus berdzikir pada-Nya, sebab, doa adalah kidung tanpa suara dan syair tanpa nada.


Erlan kecewa bukan karena tidak diberi kabar tentang kematian kakek, tapi, karena dia tidak bisa bertemu dengan wanita menyebalkan yang ingin dibalasnya. Gadis itu benar-benar membuatnya kesal, siapa lagi kalau bukan Winsi, yang  baru saja pergi.


Erlan tahu selama rentang waktu masa berkabung, Winsi pasti ada di rumah. Seandainya tahu, pasti dia akan pulang dan melampiaskan kekesalan pada gadis itu. Berani-beraninya tidak menjawab pesan yang sudah berulang kali dia kirimkan, memangnya dianggap apa dia selama ini. Huh! Kesal sekali rasanya diabaikan.


 


*****


 


Winsi menghitung sisa uang tabungannya di hadapan Navadi, ketika dia mengatakan keinginannya untuk membangun sebuah warung kecil di atas tanah milik ibunya. Sekarang tanah itu sudah dibersihkan dan diberi batas secara jelas, sehingga dia bisa membangun apa pun di atasnya.


Sebagian uang tabungannya sudah dia gunakan untuk mengurus surat-surat tanah, sedangkan sisa uangnya akan dia gunakan untuk memenuhi keinginan selanjutnya.


Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan surat kelegalan tanah secara sah, membutuhkan waktu berbulan-bulan, untuk itulah dia mengisi dan menggunakan waktu untuk membangun sebuah toko. Walaupun, ukurannya kecil dan bentuk yang sederhana, tapi cukup nyaman bila digunakan sebagai tempat usaha.


Beberapa hari yang lalu Nafadi sempat menghubungi Arkan, dia mengabarkan tentang keinginan Winsi, yang akan menggunakan sisa uang tabungannya untuk membangun tokonya sendiri. Dari situ dia tahu jika sahabatnya tidak memberi tunjangan atau bantuan apa pun pada gadis itu.


Arkan memang sengaja membiarkan Winsi diwujudkan mimpinya sendiri. Namun, bukan berarti apa yang dilakukannya lepas dari pengawasan begitu saja. Dia hanya ingin melihat sejauh mana Gadis itu mampu mandiri.

__ADS_1


Dia ingin anak angkatnya datang secara sukarela saat membutuhkan bantuan, dengan demikian dia akan lebih terhormat. Dari pada dia menawarkan bantuannya sekarang, tapi justru ditolak mentah-mentah, mengingat betapa keras kepalanya gadis ini.


Jadi, Arkan membiarkan Winsi berbuat sesuka hati. Asalkan apa yang dilakukannya masih dalam koridor yang wajar dan bisa ditolerir secara akal sehat. Dia yakin suatu saat nanti anak angkatnya itu akan membutuhkannya.


Biar bagaimana pun juga, Arkan adalah laki-laki yang baik, dia belum pernah mengecewakan anak-anaknya dalam hal materi karena semua kebutuhan mereka selalu dia penuhi tanpa harus meminta.


Sebenarnya pendirian Winsi yang ingin mandiri sebagai anak remaja yang baru beranjak dewasa, cukup egois menurut Arkan. Namun, mengingat apa yang sudah dialaminya di masa lalu serta kekecewaan yang sudah dia rasakan, pada pria yang seharusnya mendukung jalan hidupnya, membuat hal itu wajar.


Winsi hanya ingin menjaga hati agar tidak kecewa seperti dulu lagi, saat dia banyak berharap pada Bapak, tapi justru dia tidak mampu memeluk harapannya sendiri. Dia tidak ingin kembali kecewa, sehingga dia mengusahakan segalanya tanpa merepotkan orang lain.


“Jadi, Mas, makanya aku minta tolong sama kamu awasi dia, ya?” kata Arkan waktu itu melalui sambungan telepon.


“Ya, aku juga tahu ... makanya aku cuma menunjukkan padanya orang yang bisa membangun toko, tapi, aku tidak memberikan bantuan apa pun selain dari itu,” sahut Nafadi.


“Apa kamu pikir uang sisa tabungannya cukup?”


“Tentu saja tidak,” sahut Nafadi cepat.


“Baiklah, aku akan membantunya diam-diam berikan saja nomor ponsel orang itu.”


Untuk sementara hanya itu yang bisa lakukan Arkan untuk membantu Winsi secara diam-diam. Dia memberikan sejumlah material bangunan berkualitas melalui orang yang sudah dikontrak oleh gadis itu, untuk membangun tokonya sendiri.


“Oh iya, satu lagi yang harus kamu perhatikan tentang orang yang bernama Basri.” Arkan berkata sebelum Navadi sempat menutup ponselnya.


“Siapa dia? Apa dia berbahaya bagi Wiwin?”


“Bisa jadi, kamu tidak perlu membayar pengawal untuk mengawasinya, hanya saja kamu perlu cari tahu di mana tempat tinggalnya lalu, kabarkan padaku, oke?”


“Baiklah.”


Arkan pun menceritakan siapa Basri dan juga mengatakan kekhawatiran serta wasiat Badri kepada Winsi. Kemungkinan pria itu tidak akan berbuat jahat pada anaknya, tetapi mereka hanya perlu berhati-hati apabila laki-laki itu memanfaatkannya, suatu saat nanti.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2