
Tatapan Mata Yang Berbeda
Erlan tersenyum malu-malu melihat Runa yang tampak tersenyum lucu ke arahnya. Dia tahu kalau ibu sambungnya itu tidak marah hanya, merasa geli dengan sikap anak-anaknya.
Wanita itu juga maklum dengan tingkah kolokan mereka walaupun, sudah beranjak dewasa akan tetapi sekali anak-anak tetaplah anak-anak. Bukankah setiap manusia pasti ada sikap kekanakan pada dirinya.
Misalnya saja, sikap kekanakan yang terdapat pada seorang wanita apabila mendapati pasangan atau suaminya berjanji, maka wanita itu akan seperti anak-anak yang terus menerus menagih janji untuk segera diwujudkan.
“Sebenarnya aku nggak pernah berniat mengejek Wiwin dengan sebutan Anak Buluk, Bu.”
“Terus, maksudnya apa coba kan dia sekarang nggak bulukan lagi?”
“Buluk itu artinya bukan luka.”
“Apa maksudnya?”
“Ya, gitulah.” Erlan berkata sambil berlalu sementara dia menahan tawa seperti, menertawakan dirinya sendiri karena apa yang dikatakannya baru saja pada Runa, adalah karangan yang muncul begitu saja di kepalanya.
Melihat tingkah Erlan, Runa hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia tahu mungkin Erlan ingin melihat ataupun berbicara dengan teman masa kecilnya sebelum dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Wajar saja karena ini adalah hari-hari di mana dia masih punya waktu di rumah.
Akan tetapi Erlan tidak bisa mewujudkan keinginannya dikarenakan sambungan telepon untuk para santri dan para orang tua mereka, untuk sementara dihentikan. Kalaupun ada sesuatu hal yang penting para orang tua cukup menghubungi salah satu pembimbing saja.
Mengingat hari kepulangan sudah dekat, dikarenakan oleh keputusan mudhir pesantren untuk memfokuskan para santri berlatih dan memaksimalkan hafalan mereka. Sebelum nanti menunjukkannya pada acara tasmik yang terakhir dan hasilnya, bisa mereka banggakan di hadapan para orang tua.
Semua yang terjadi antara Erlan dan Runa di ruang tamu, tidak lepas dari pandangan sinis Sania, yang sedari tadi memperhatikan keakraban dua orang itu dari balik pintu kamarnya. Dia terlihat cemburu dengan hubungan ibu dan anak yang seolah-olah mereka memiliki ikatan sedarah, dia tidak berdaya untuk merusaknya.
Sania sudah putus asa untuk mendapatkan cinta dari semua pria yang ada di sana. Termasuk dari Badri, orang yang sudah dianggap seperti pamannya sendiri. Dia sudah lelah berusaha untuk mendapatkan hati Badri, hanya karena laki-laki itu kecewa padanya berulang kali.
Pernah suatu ketika laki-laki tua itu terbatuk-batuk karena usia dan juga penyakitnya, lalu, Sonia berusaha untuk membantu dan merawatnya. Akan tetapi, Badri justru menolak karena saat laki-laki tua itu terbatuk ataupun melakukan banyak gerakan, maka, dia akan mudah mengeluarkan kotoran dari dalam tubuhnya. Hal itu karena faktor usia yang sudah senja.
__ADS_1
Kebanyakan manusia di usia ini, sudah tidak seperti orang muda yang masih kuat dan mampu menahan hajatnya. Kondisi lemah, ditambah beberapa penyakit, membuat manusia berusia lanjut akan seperti anak bayi, yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri. Hal itu adalah fitrah manusia yang terjadi pada siapa saja.
Pada saat hal itu terjadi pada Badri, Saina tidak tahan hingga dia keluar dari kamar karena merasa mual. Berbeda halnya dengan Runa yang ikut merawatnya dengan sabar, tanpa menunjukkan rasa jijik ataupun bosan.
Di saat yang sama Saina merasa kalah, apalagi Arkan terlihat begitu menjaga diri darinya, hanya karena tidak ingin melihat istrinya merasa cemburu dan tidak berharga.
Dua hari berlalu setelah obrolan itu, kini sudah tiba waktunya Erlan melakukan perjalanan yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Tentu saja dia harus pergi bersama Saina. Wanita itu sudah bersiap dengan membawa koper besar miliknya. Sementara Erlan tidak membawa banyak barang, hanya satu buah tas ransel yang di bawa bersamanya.
Saat berpamitan, Erlan melihat Runa begitu sedih melepasnya, ada tatapan berbeda dari sinar mata wanita itu ketika Erlan menjabat dan mencium punggung tangan ibunya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuatnya ingin menarik ibu sambungnya itu dalam pelukan penuh kehangatan. Saat memeluk wanita itu, dia melirik ayahnya dan juga Badri—kakeknya yang duduk di kursi roda. Setelah itu dia melihat ke sekeliling rumahnya, ada rasa yang sangat berat untuk meninggalkan, tidak seperti biasanya. Sedangkan hatinya bergemuruh.
“Ibu juga dirimu baik-baik, ya? Ibu akan melahirkan adikku karena itu ibu harus sehat dan kuat.” Kata Erlan saat melepas pelukannya.
Wanita itu mengangguk mengusap kepala Erlan yang jauh lebih tinggi darinya sambil tersenyum manis.
Dia berkata, “Kamu juga harus sehat dan baik-baik saja selesaikan kuliahmu tahun ini juga, kamu bisa ketemu lagi sama Wiwin.”
Mendengar ucapan Runa Erlan mengerutkan alisnya dia berpikir untuk mengirim pesan kepada Winsi melalui ponselnya yang tidak pernah aktif selama ini. Pesannya akan terbaca kemudian saat ponsel itu kembali di aktifkan.
“Kamu, ini!” Arkan menyahut sambil menekuk wajahnya cemberut, tapi, Erlan justru tertawa, seraya melangkah memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Hasnu, Saina sudah dari tadi menunggunya di sana.
Runa saling bertatapan dengan sinar mata yang rumit sebelum akhirnya pintu ditutup dan mobil itu pun bergerak menjauh.
Setelah kepergian Erlan, Arkan berjalan untuk menghampiri mobilnya sendiri, saat membuka pintu mobil dia menoleh pada istrinya lalu berkata, “Apa kamu mau ikut?”
Runa menatap Arkan sekilas lalu, menggelengkan kepalanya tanda dia menolak ikut suaminya, yang akan menengok seseorang di rumah sakit. Dia tidak kuat mencium aroma obat-obatan yang bisa membuatnya mual dan muntah. Sebenarnya dia ingin sekali melihat orang yang menjadi tanggung jawab suaminya untuk sementara waktu tetapi, dia lebih tidak ingin bila harus merepotkan orang lain.
*****
__ADS_1
Arkan dan Runa menatap Winsi dengan penuh haru ketika nama anak gadis mereka itu dipanggil untuk naik ke atas panggung karena prestasinya. Dia memang bukan termasuk anak yang paling cerdas tetapi, mendapatkan gelar menjadi siswa sepuluh besar terbaik itu sangat menyenangkan.
Winsi mendapatkan trophi, piagam, medali juga kado kenang-kenangan berupa sebuah tas sederhana yang cantik, begitu juga teman-teman lain yang berprestasi seperti dirinya.
Setelah beberapa acara seremonial berakhir, Winsi pun bisa bertemu dengan kedua orang tuanya yang menunggu di kursi yang disediakan di dekat acara perhelatan. Dia memeluk ibunya dengan sangat erat penuh dengan senyum bahagia.
“Jadi, kamu mau nerusin kuliah di mana setelah ini, mau nyusul Erlan ke luar negeri?” tanya Arkan saat kedua orang wanita di hadapannya sedang berpelukan.
“Ayah!” kata Winsi sambil melepaskan pelukan dengan ibunya kemudian menghamburkan diri untuk memeluk Arkan. Pria itu masih saja tinggi hingga dia harus mendongak untuk melihat wajah Ayah angkatnya itu sambil berkata, “Apa Ayah tidak menyukaiku?”
“Kenapa kamu bilang seperti itu?”
“Aku belum juga pulang ke rumah tapi, Ayah sudah mengusirku pergi mengikuti Erlan keluar negeri ... apa maksudnya kalau bukan karena Ayah tidak sayang?”
Mendengar ucapan Winsi, Arkan pun tergelap iya kembali menepuk lembut puncak kepala anak itu seperti kebiasaannya.
Pria itu menatap penuh arti, pada gadis yang kini sudah tumbuh menjadi dewasa, setelah beberapa tahun dalam asuhannya. Mereka hanya bertemu apabila anaknya itu pulang saat libur pesantren tiba meskipun demikian tidak mengurangi keakraban di antara mereka.
“Aku tidak punya anak perempuan selain kamu, bagaimana aku bisa tidak menyayangimu?” kata Arkan sambil menundukkan kepala melihat langsung winsi tepat di bola matanya.
“Kalau tidak mau kuliah juga tidak apa-apa, misalnya, kamu mau menikah karena sudah punya calon suami, aku mau menikahkanmu dengan acara besar-besaran. Kamu boleh menyewa hotel yang mana saja untuk pesta pernikahanmu.”
“Benarkah apa Ayah punya uangnya?”
“Punya.”
“Kalau gitu, mana uangnya buat aku saja.”
“Kenapa, minta uangnya sekarang?”
__ADS_1
Bersambung