Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
9. Es Boba Dan Uang


__ADS_3

Es Boba Dan Uang


“Jadi, terserah aku dong, uangku mau dipake apa, mau jajan atau mau beli apa juga!” Winsi berkata dengan nada mengejek. Saat bicara, dia membalikkan badan dan kini mereka saling berhadapan lalu, mencebik pada Erlan.


Erlan mengerutkan alisnya demi mendengar pembicaraan yang tidak masuk akal baginya. Dia memberikan sejumlah uang yang diminta oleh Basri kemarin. Pria setengah baya itu mengatakan akan mengembalikannya suatu saat nanti, tapi Erlan melarangnya. Dia memberikannya untuk Winsi, sebagai hadiah karena baginya uang satu juta setara dengan uang jajannya selama satu pekan.


Beberapa hari yang lalu, Basri berkata padanya bahwa, dia membutuhkan uang yang akan digunakan untuk membayar biaya sekolah Winsi, membelikannya sepatu, tas dan juga jaket agar anak itu tidak kedinginan saat wisata. Erlan prihatin mendengarnya, setelah mengetahui orang tua Winsi itu, tidak menghasilkan uang karena baru saja mengalami kecelakaan dan harus menservis mobilnya agar bisa kembali bekerja.


Semua yang Erlan dengar dari Winsi adalah hal yang berbeda, gadis itu seolah-olah tidak menerima uang yang dia titipkan pada Basri--bapaknya. Itu mustahil, kan? Sebab seorang ayah tidak akan mengkhianati anaknya sendiri. Akan tetapi, bila memang benar Winsi tidak menerimanya, digunakan untuk apa uang itu oleh Basri.


“Ya. Uang yang sudah kamu terima dari siapa pun itu, memang jadi hakmu.” Erlan tidak terima Winsi membantahnya dan tidak percaya kalau, anak yang dia lihat cukup alim itu ternyata sekasar ini pada orang yang sudah menolongnya.


“Tapi ingat, hargai orang yang sudah nolongin kamu, sampai kamu bisa berangkat sekarang.” Erlan menambahkan kalimat nasehat.


Winsi mengerutkan bibirnya lalu, dia berkata untuk membela diri. “Apa memang hubungannya aku bisa berangkat sekarang. Aku pake uang tabunganku sendiri, tahu?”


“Apa? Pake uang tabungan?” Erlan tidak percaya, dia memalingkan pandangannya sambil tersenyum mengejek. Dia menarik Winsi ke sisi antrean, sehingga gilirannya disela orang lain, Winsi melihat dengan gelisah, sementara temannya yang lain sedang mendapatkan gilirannya sekarang.


“Lepas!” dengan sekuat tenaga Winsi menepis tangan Erlan, bahkan ingin sekali menggunakan salah satu jurus untuk memelintirnya. Dia sudah memiliki kepandaian dasar karate, hanya saja tenaganya belum cukup kuat untuk melawan pria setinggi Erlan. Bila yang ada bersamanya sekarang adalah, seorang wanita yang tidak kompeten, maka Winsi benar-benar bisa mengalahkannya.


Dia mengikuti pelatihan karate sejak kelas lima secara sembunyi-sembunyi, sebab, jadwal latihannya selalu disaat bapaknya kembali. Kalau saja bapak tahu dia menghamburkan uang untuk itu, kemarahannya tidak ringan. Selain itu, latihan karate adalah cara terbaik untuk menghindari bapak kalau ada di rumah. Selalu saja Winsi punya alasan, seperti belajar kelompok, agar tidak terjadi hal yang bisa memicu kemarahan Basri.


Sudah banyak penindasan yang dia alami sejak dari kecil, bahkan sejak dia bayi. Saat Runa pergi dan menitipkannya pada Basri untuk mengerjakan tugas yang lain, kemudian dia menangis, pria itu tidak segan untuk memukul atau mencubitnya. Oleh sebab itu, perasaan takut secara alami menaungi hatinya, seolah ada jarak sejauh ribuan kilometer yang memisahkan ikatan hati dengan bapaknya. Rasa hati yang patah, telah menjadi dasar di lubuk hati terdalam, membekas menyisakan kebencian.


Dia berlatih untuk menempa diri, agar kelak tidak selemah ibunya, tidak mudah mengalah dengan kekerasan yang diterimanya, tidak gampang menyerah dengan orang yang menindasnya. Kelemahannya lambat laun menjadi kekuatan, baik hati dan tubuhnya. Efek kekerasan dalam rumah tangga pada anak di bawah umur, akan ada setelah seorang anak beranjak dewasa. Dia tidak bisa melawan bapak saat ini, takut dituduh anak durhaka, lagipula, bapaknya memiliki tubuh jauh lebih besar darinya.


Saat ini, Winsi mendorong dada Erlan kuat membuat remaja itu sedikit terhuyung ke belakang, dia tidak menduga bila tenaga gadis ini, kuat juga.


“Apa maksud semua ucapanmu?” tanya Winsi sambil menatap Erlan nanar.


“Harusnya aku yang tanya, apa maksudmu? Apa kamu sudah bohong sama ayahmu? Bilangnya butuh uang buat beli sepatu, tas, tapi mana? Kamu masih pake tas buluk itu!”


“Heh! Tas bulukan juga bukan punyamu! Lagipula, ya, aku gak pernah minta uang sama Bapak apalagi sama kamu. Sudah aku bilang, aku pake uang tabunganku!”


Setelah berkata begitu, Winsi pergi begitu saja, lagi-lagi meninggalkan Erlan dengan pikirannya sendiri.


‘Sebenarnya apa yang terjadi?’ batin Erlan seraya menatap punggung Winsi yang semakin menjauh, menuju stand es Boba di mana semua temannya sudah menikmatinya.


Winsi mendekati penjual yang kini sudah tidak begitu ramai, lagi. Dia memesan seporsi minuman yang sama dengan teman-temannya. Saat hendak membayar, dia menyadari sesuatu yang hilang dari tangannya, itu uangnya! Ah, yang benar saja.


Dadanya bergemuruh, tapi jantungnya seolah kehilangan satu detakan, wajahnya pias, tapi terasa panas, sementara tangannya gemetar, uangnya hilang, lalu, bagaimana dia akan membayar?


Winsi hanya membawa uang jajan sebesar lima puluh ribu, tidak ada uang lagi di sakunya. Tanpa dia sadari, uang itu hilang dari genggamannya, saat dia memegang topi Erlan di kapalanya. Tiba-tiba ada satu lagi pria yang menambah tebal rasa benci di hatinya. Gara-gara pria itu uang jajannya yang cukup besar, hilang.


Dia masih kebingungan di depan stand, saat Meri memanggilnya, dari salah satu tempat duduk yang berjajar.


“Win, ayo cepat, sini!”

__ADS_1


Winsi memandang temannya itu dengan tatapan kosong, lalu dia membuka mulutnya hendak meminta Meri mendekat dan meminjam uang untuk membayar es bobanya.


“Meri! Sini dong!” kata Winsi sambil melambaikan tangan.


Meri mendekat, “Ada apa?” tanyanya, sambil menyedot es di gelasnya.


“Meri ... aku ....” ucapan Winsi terhenti disaat yang bersamaan seorang pria meringsek di sampingnya.


“Bu, es bobanya dua ya, ini uangnya, satu lagi bayarin yang punya dia!” kata Erlan, sambil menunjuk Winsi. Pria itu yang mendesakkan badan di antara dirinya dan orang lain.


Winsi menoleh tak mengerti mengapa pria ini seperti lalat yang mengikuti makanan ke mana pun dia pergi. Akan tetapi, dia merasa lega karena tidak perlu berhutang pada Meri, sedangkan soal Erlan yang telah mentraktir es bobanya ... biarlah nanti saja. Toh, uang yang digunakan untuk membayar es itu, tidak seberapa bagi laki-laki seperti dia.


Wajar bila Erlan membayar satu porsi es dengan harga 15.000 rupiah saja, sedangkan dirinya harus kehilangan 50.000 rupiah, itu jumlah yang besar untuk ukuran anak seperti dia.


Jadi, ketika teman-temannya membeli pernak-pernik hiasan rambut, seperti bando dengan mutiara, atau kaos ciri khas Ciwidey, ada juga teman-temannya yang membeli gelang dan kalung dengan bandul hati, pita dari renda, jepit rambut berbentuk kupu-kupu ... dia hanya bisa melihatnya, sambil menggigit jari. Dia tidak punya uang untuk membeli apa pun juga. Semua ini gara-gara Erlan, kalau bukan keisengannya, Winsi bisa membeli barang yang dia inginkan.


“Terima kasih, Kak!” akhirnya hanya itu yang dia katakan, lalu, pergi menuju tempat duduk di antara rombongan temannya. Dia menikmati es Boba dengan semangat sambil berbincang khas anak-anak.


“Sama-sama,” sahut Erlan sambil tersenyum. Dia sempat melirik wajah Winsi yang terlihat merah karena malu, sementara hatinya menjadi senang, meski dia tahu kini, bila Basri ternyata sudah memanfaatkan dirinya dan anaknya sendiri demi uang.


‘Tapi, aku bisa apa?’ batinnya, sambil membawa minuman pesanannya ke tempat temannya berkumpul.


Dia tahu bila Winsi tidak bisa membayar minuman karena tidak memiliki uang. Remaja itu berpikir, bahwa dirinya adalah seorang penolong, seandainya dia tidak ada, mungkin Winsi tidak tahu harus berbuat apa.


Ya, pikiran anak remaja seusianya masih belum bisa memasukkan salah satu cabang iman, yaitu Ikhlas, dalam kehidupannya. Manusia dewasa yang sudah mengerti tentang pentingnya sifat ini pun acapkali mengabaikannya.


Erlan dan teman-teman akrabnya, memang memiliki rencana pergi berlibur ke Ciwidey, sejak lama dan hari itu mereka mewujudkannya. Kawasan itu, sedikit berbeda dari tempat yang sering mereka gunakan untuk bersantai. Biasanya, ketiga orang anak pengusaha sukses yang bersahabat itu memilih hotel atau tempat wisata penuh tantangan untuk, melampiaskan hobi dan kegemaran mereka.


Terkadang, mereka pergi ke pemandian air hangat, atau sekedar main bilyard di salah satu rumah orang tua mereka. Akan tetapi kali ini, ada yang mengusik hati Erlan ingin pergi berlibur ala rakyat biasa dengan membawa bekal nasi seadanya dan di makan di atas rumput tanpa alas. Anehnya, ketiga temannya menyetujui begitu saja.


Tidak ada kebetulan, tapi yang terjadi sekarang adalah memang kebetulan ketika ternyata, Winsi dan Erlan berada di tempat yang sama, bahkan laki-laki itu bertindak semacam malaikat penolong baginya.


Hari sudah melewati siang hari, ketika para guru meminta seluruh murid peserta wisata untuk berkumpul di halaman parkir tempat bis mereka masing-masing. Sementara menunggu beberapa teman yang belum hadir, Winsi duduk di antara Meri dan beberapa temannya ia hanya melirik mereka dengan diam saat teman-temannya itu memamerkan apa yang mereka beli dan dibawa pulang.


“Win, aku mau pipis, temenin yuk,” kata Meri sambil meringis, lalu, beranjak dari duduknya.


“Ayo! Tapi, bilang sama Pak Guru dulu, ya?”


“Ya.”


Kedua anak itu, berjalan mendekat ke salah satu guru yang ada, setelah mengucapkan beberapa kata, mereka pergi ke toilet wanita, mereka secara bergantian menggunakan toilet umum yang sama. Saat Winsi masih menunggu Meri di luar, seorang menepuk bahunya. Dia menoleh.


“Kapan, kamu pulang?” tanya Erlan saat kedua mata mereka sudah saling bertemu pandang.


“Sekarang juga mau pulang.” Jawab Winsi tenang, sambil melepaskan topi hitam yang sejak tadi masih bertengger di atas kepalanya. Itu topi yang bagus.


Winsi tersenyum, sambil berkata, “Nih, Kak, topinya. Makasih, ya. Sekarang udah nggak panas, kok!”

__ADS_1


Erlan menerimanya dengan berat hati, dia menatap topi di tangan sambil berkata, “Pulang bareng aku, yuk! Aku anter sampai rumah.”


“Nggak akh, pasti isi mobinya laki-laki semua.”


Setelah Winsi berkata demikian, kebetulan Meri selesai dan mereka pergi meninggalkan Erlan.


“Ayo!” ajak Meri, meraih tangan Winsi setelah melirik Erlan dan tersenyum padanya.


Selama di perjalanan yang cukup panjang, Winsi tertidur karena kelelahan, sebagian anak-anak lainnya juga sama. Dia duduk dengan Meri, teman sebangkunya. Mereka seperti lem dan kertas yang sulit dipisahkan.


Ada titik air yang membasahi kaca jendela dan bagian dalamnya membentuk uap warna putih, membuat Winsi tergerak untuk menggambar beberapa bentuk di sana. Dia merasa lucu dan bersemangat. Melupakan semua rasa sakit yang tertinggal seperti luka di hatinya.


Namun sebentar lagi, dia akan pulang ke rumah, di mana dia akan kembali bertemu dengan Bapak, sebab biasanya Basri akan pulang setiap akhir pekan, dari pekerjaannya menjadi sopir truk yang mengangkut berbagai bahan makanan pokok ke berbagai kota.


Dia tidak sendiri, ada banyak anak di dunia yang mendapat kekerasan dalam rumah tangga dengan berbagai alasan dan cara yang berbeda.


Winsi mendesah pelan, sambil.menarik napas dalam, dia menoleh pada Meri yang tertidur. Dia sedikit menggodanya dengan memainkan ujung hidungnya.


“Win, diam ah ... geli tahu?” kata Meri cemberut karena temannya menggoda.


“Habisnya, kamu lucu, tidur melulu.”


“Aku ngantuk!” Setelah berkata, Meri kembali tertidur.


Winsi kembali melihat keluar jendela sambil memikirkan ucapan Erlan tentang uang biaya wisata. Ucapan laki-laki itu seolah menganggap bahwa, dia bisa mendatangi kunjungan wisata sekolah karena uang pemberiannya. Mana mungkin Erlan memberinya uang sebanyak itu? Ya, dia bukanlah saudara, teman ataupun kerabat. Dia hanyalah seseorang yang saling mengenal karena hidup bertetangga walaupun rumah mereka agak berjauhan.


Sejenak kemudian Winsi pun teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu, saat dia baru saja pulang diantar oleh Erlan ke rumah dan berpapasan dengan Basri yang hendak pergi keluar. Winsi mengerutkan alisnya, ketika sadar bahwa saat itu, bisa jadi Erlan, memberikan sejumlah uang yang diminta oleh Basri sebagai biaya wisata sekolahnya.


Dia menyesalkan sikapnya yang tidak dan belum sempat membicarakan hal ini, dengan ibunya karena setelah kejadian itu, bapakk sudah pergi dan tidak kembali sampai hari ini.


Winsi tercengang mencerna pikirannya sendiri dan sebuah kenyataan bahwa memang Bapak memanfaatkan uang pemberian Erlan senilai satu juta, tapi bapaknya itu tidak memberikan kepadanya sedikitpun. Apa-apaan ini, bahkan dia tidak bisa membeli sepatu dan tas, tapi bapak memakai uang itu untuk kesenangan smdiirin


Hujan masih saja turun saat bis-bis pariwisata yang membawa anak-anak, mulai tiba di halaman sekolah mereka. Ini bulan Juni, sebenarnya sudah memasuki musim panas, tapi hujan kali ini cukup deras.


Semua anak berlarian dari bis menuju teras sekolah, sebagian menunggu jemputan orang tuanya, sebagian lagi nekat menembus pasukan air yang turun dari langit. Ada yang menaiki angkutan umum dan ada pula yang seperti Winsi, dengan setia menunggu hujan reda, karena sayang dengan pakaian baru yang dimilikinya bila basah.


Hari semakin sore, semua bis sudah kembali ke pangkalan, beberapa anak pun akhirnya pulang, sementara Winsi masih sendiri. Meri di jemput kakaknya dengan membawakan jas hujan.


“Win, aku duluan ya?”


“Ya.”


“Kamu, nggak apa-apa sendiri?”


Bersambung


"Jangan lupa like, komen, give, dan vote, ya ... terima kasih atas dukungannya"

__ADS_1


__ADS_2