
Janji Diatas Janji
Erlan menarik napas dalam sebelum mengangguk, sambil melihat kepada Winsi. Semua yang ada di sana tercengang dan takjub dengan pengakuan anak muda yang begitu berani mengakui jika dia beristri lebih dari satu.
“Erlan, apa itu artinya kamu menduakan keponakanku dengan wanita ini?” tanya Reni, sambil menunjuk Winsi, dia adalah kakak tertua dari ayahnya Hanifa.
Walaupun, Hanifa bukan anak kandungnya, dia terlihat begitu marah dengan kelakuan Erlan yang menurutnya keterlaluan. Bagaimana tidak, sebab istrinya masih sakit, tapi, dia mencari kesenangan sendiri. Dia menganggap bahwa Erlan tidak berperasaan.
“Dia istri saya, dia sudah membantu saya hari ini mengurus Hanifa. Apa salahnya?” kata Erlan, sambil meraih tangan Winsi ke atas pahanya. “Dia tahu saya suami Hanifa! Jadi, jangan salahkan dia.”
“Memang, Lan, bagi kebanyakan laki-laki itu kalau poligami itu tidak ada salahnya, karena itu hak suami, tapi, apa pantas kamu menikah lagi karena istrimu sakit seperti ini. Kan, kamu sendiri yang janji mau mengurus Hanifa,?” kata Reni lagi, sementara suaminya, Darma hanya diam, menjadi pendengar yang setia.
Sementara Erlan menangkap sebuah kesalahpahaman pada pemikiran wanita tua yang duduk di depannya itu. Maksud Erlan adalah agar semua orang tidak menyalahkan Winsi.
“Bude, saya sudah melakukan janji saya mau mengurus Hanifa, lalu, salah saya di mana?” protes Erlan.
“Kamu kira aku nggak ingat apa, tentang semua yang kamu katakan dulu?” kata Reni lagi, sambil berdiri dan berkacak pinggang.
“Saya ingat, Bude. Ingat semuanya, dan saya tidak melanggar satu pun dari janji itu!” sanggah Erlan.
“Siapa bilang? Kamu bilang nggak akan menyakiti Hanifa, kan? Terus, gimana kalau ponakan ku ini tahu, kamu sudah menikah lagi, apa dia nggak sakit hati, Lan? Apa namanya nggak menyakiti?” kata Reni dengan berapi-api.
Erlan diam, dia tidak bisa menjawab kalau soal sakit hati, apalagi membantah, walaupun semua yang dia lakukan itu tidak salah, tapi, soal mendua hati tidak ada wanita yang sanggup untuk berbagi. Ihklasnya seorang wanita yang suaminya berbagi cinta, hanya bisa dilakukan karena terpaksa lalu akhirnya menjadi terbiasa.
Erlan hanya memikirkan keadaan agar semua baik-baik saja waktu itu. Dia menikahi Winsi karena demi mencegah wanita itu pergi. Dia tidak memikirkan bagaimana jika Hanifa sembuh, lalu, mengetahui tentang status pernikahannya suatu saat nanti. Dia mengambil keputusan secara singkat, hingga dia tidak tahu apakah keputusan itu akan menjadi masalah di kemudian hari.
Dia tidak akan memaksa orang lain untuk mengerti apa yang menjadi dasar tindakan serta sikapnya, mengapa memiliki dua istri. Saat itu dia hanya mencari sebuah solusi.
Namun, sebanyak apa pun manusia mengeluh, sebesar apa pun memohon, sedalam apa dia ingin dimengerti oleh sesama, pada akhirnya dia sendirilah yang harus menanggung segala suatu dan bukan orang lain. Bahkan, dia tidak mungkin mengandalkan orang yang sudah menjadi tempatnya berkeluh kesah itu.
__ADS_1
Bukankah setiap manusia pada akhirnya hanya akan mengandalkan dirinya sendiri saja sampai diyaumil akhir nanti?
“Bude, saya Ama sekali tidak bermaksud menyakiti Hanifa, begitu juga Winsi, istri saya ini!” kata Erlan akhirnya setelah menghela napas berulang kali.
“Bisa saja, ya, kamu ini jawabnya! Padahal mah, lebih baik urus saja istrinya yang bener dari pada nikah lagi, kamu nikah itu cuma nambah beban aja, tahu?” Kata Reni
“Ya, nambah beban kalau nggak diobati, nggak di bawa ke mana-mana. Harusnya obati dan bawa Hanifa ke tempat yang tepat, terus, daftar jadi pasien VVIP, pasti dia akan di perlakukan dengan baik di sana!” kata Winsi unjuk bicara, dia sudah tidak tahan suaminya terus saja di pojokkan.
“Eh, Erlan itu udah janji mau ngurusin sendiri, jangan ikut campur, kamu! Aku tahu maksud kamu apa?” kata Reni.
“Memangnya apa maksud saya?” tanya Winsi tegas. Erlan menggenggam tangan istrinya lebih erat.
“Kamu suruh Erlan bawa Hanifa ke rumah sakit jiwa, biar kamu bisa enak-enakkan sama dia, kan?”
“Apa?”
Namun, karena dia itu adalah seorang wanita tua, membuat Winsi meredam emosinya, kemudian menghela napas panjang dan kembali menghadapinya dengan sabar.
“Maaf, sebelumnya, Bude ... saya bilang jika Hanifa lebih baik di bawa ke rumah sakit jiwa itu biar dia cepat sembuh, dan bukan karena mau enak-enakkan sama Erlan, bukan!”
Winsi berhenti sejenak.
“Justru kalau di bawa ke tempat yang benar dan mendapatkan perawatan yang tepat, maka Hanifa tidak akan terlalu lama sakit seperti ini. Maksud saya baik! Apalagi Erlan sudah mengurus Hanifa dengan baik selama ini, kok!”
“Bude ... jangan terlalu menekan Erlan ... kalau Bude sendiri tidak mampu mengurus Hanifa. Ada larangan dalam agama, kalau kita itu tidak boleh menyakiti kalau tidak bisa membahagiakan, kita tidak boleh menyusahkan kalau tidak mampu meringankan.” Kata Winsi, tatapan matanya tidak lepas dari Reni dan suaminya.
“Wah, wah, Erlan, rupanya kamu pintar cari istri cerewet seperti ini!” kata Reni lagi.
“Saya bicara yang sebenarnya dan saya juga kenal dengan Hanifa sejak lama. Tentu saya juga mau dia cepat sembuh,” kata Winsi.
__ADS_1
“Wiwin ... Tenang, ya!” kata Erlan, tapi, Winsi mengabaikannya.
“Wah, rupanya kamu pagar makan tanaman, ya?” kata Reni.
“Maaf, saya menikah dengan Erlan tapi, saya tidak saya tidak tahu kalau Erlan sudah menikah!” kata Winsi.
“Kalau begitu kamu mau dong bantuin suamimu ngurusin Hanifa di rumah, dan bukannya di bawa ke rumah sakit jiwa, soalnya nanti ponakan ku malah tambah sakit!” kata Reni.
“Saya heran, kenapa Bude lebih senang Hanifa di rawat di rumah, apa karena sengaja biar dia lebih lama sakit, agar lebih banyak dapat kompensasi dari perusahaan Ayahnya Hanifa, begitu? Karena Bude mengaku kalau Bude yang merawatnya?”
“Winsi ....” Erlan berkata sambil berusaha menenangkan istrinya. Namun, sekali lagi, Winsi mengabaikannya bahkan, melepaskan genggaman tangannya. Dia sudah sangat kesal dan bersabar menahan diri.
“Apa kamu bilang? Kurang ajar kamu, ya! Dasar anak masih kemarin sore, sok tahu!” kata Reni masih dengan gaya yang sama.
“Saya bukannya sok tahu, tapi, saya Cuma menebak saja, ya ... mudah-mudahan saya salah, dan keluarga Hanifa semuanya orang-orang yang baik.
“Awas, ya! Kalau kamu bicara menuduh kami yang tidak-tidak, mana ada dana seperti itu dari perusahaan!” kata Reni jadi serba salah.
“Ya ... kalau benar-benar ada, itu artinya saya sudah bicara yang iya-iya!” kata Winsi sambil tersenyum masam.
“Kamu!”
“Ya, saya akan membantu mengurus Nadia dan akan membawanya ke rumah sakit jiwa, biar teman saya itu cepat sembuh. Kalau dia sudah sembuh ... Bude nggak usah kuatir, saya akan mengalah demi kebahagiaan Erlan dan Hanifa!” kata Winsi datar, sambil menyandarkan tubuhnya.
“Bagus!” kata Reni.
“Wiwin! Tidak!” pekik Erlan seraya meraih tangan istrinya lagi.
Bersambung
__ADS_1