
Mendung Di Dua Kota Yang Berbeda
Runa memberi kabar pada Winsi secara langsung melalui telepon, sedangkan Erlan pun menerima kabar dari Hasnu. Mereka berada di kota yang berbeda tapi, memiliki kesedihan yang sama. Hidup yang mereka rasakan setelah menerima kabar berita duka itu, seakan membuat langit di atas kepala berubah mendung.
Soal kematian, memangnya siapa yang bisa menduga kapan, di mana dan bagaimana kematian itu datang?
Saat Runa menghubungi Winsi, jenazah Arkan sedang di mandikan. Tepatnya setelah ldua jam yang lalu, saat dokter yang memeriksanya menyatakan jika nyawa Tuan besar keluarga itu kini telah berpulang.
Rasa rindu sudah mendera wanita itu, padahal mayat suaminya belum lagi dimakamkan. Rasa sepi itu seolah sudah menyerang padahal di rumah masih banyak orang.
Mengapa kebersamaan kita begitu singkat, Sayang? Mengapa kau tinggalkan aku di saat aku begitu yakin besok kau akan baik-baik saja? Kenapa kau tidak memberitahuku dengan isyarat sebelumnya, kalau keretamu sudah tiba?
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam benak Runa.
Kenapa saat aku marah padamu, kau Cuma diam dan tidak membantahku agar hari kemarin penuh dengan kenangan dan kita lebih banyak bicara serta saling berpandangan? Kenapa kau diam saja, saat kau mungkin merasa begitu kesakitan? Tidak bisakah kau membangunkan aku, yang tidur terlalu nyenyak dalam kenyamanan padahal, akan kau tinggalkan?
Begitu sayangnya, kah, dirimu, hingga tidak ingin membuatku khawatir sedikit pun? Ah, yang benar saja, Sayang. Lihat, aku sekarang begitu kehilanganmu, tidak tahukah kau betapa sulitnya mengikhlaskan?
Air mata terus menetes walaupun bebeeapa kerabat dan saudara juga tetangga yang mulai berdatangan untuk menghibur.
Saat itu telepon genggam Runa kembali berbunyi, dan wanita itu terlihat tidak peduli, padahal Winsi yang menghubunginya. Anak perempuan itu sudah beberapa kali bersikap seperti itu, dia berulang kali menelepon ibunya dan menanyakan kebenaran tentang kepergian Ayahnya.
“Ya, nggak apa-apa Ayahmu pergi, kita nggak pernah bisa pegang nyawa manusia.” Kata Runa dengan nada lemas saat dia menghubungi anaknya dan, Winsi menanyakan kenapa? Lalu, telepon di tutup secara sepihak karena itu adalah jawaban terakhir yang Runa berikan padanya.
__ADS_1
Di tempatnya berdiri saat ini, Winsi tengah seperti orang yang tidak memiliki daya dan tubuhnya lemas karena terlalu banyak menangis. Dia pikir ayahnya tega, bahkan dia mengirim pesan pada nomor ponsel Arkan berulang kali seolah pria itu akan menjawabnya.
Jiwa anak-anak remaja dalam dirinya meronta, meminta penjelasan pada takdir yang seolah tak adil. Ingin berteriak padahal raganya sudah tidak mampu bergerak. Ingin sekali menolak semua berita yang dia anggap tidak benar, hanya satu pria yang dia cintai tapi, Allah mengambilnya. Dia masih ingin memeluk dan bermanja-manja. Bahkan isi pesan terakhirnya adalah, “Nanti, Ayah menepuk kepalamu lagi kalau jadi anak baik yang berbakti pada Ibumu. Turuti apa maunya, biar dia bahagia.”
Laku, kalau ayahnya tiada, siapa yang akan membuatnya memahami bahwa kasih sayang itu tidak datang kecuali dari sebuah ketulusan? Bahwa keberanian untuk menghadapi kenyataan tidak akan datang tanpa mengalahkan tantangannya?
“Siapa, Ayah? Tidak ada yang mau menepuk kepalaku seperti Ayah menepukku, tidak ada pelukan sehangat pelukanmu, tidak ada kehangatan seperti kasih sayangmu, tidak ada Ayah!” Winsi menangis berteriak sendiri dalam kamar, sedangkan Nia hanya ikut menangis melihat sahabatnya demikian terpukul.
Namun, iman dihatinya yang paling dalam masih mengingatkan dirinya untuk tabah dan, secara perlahan menerima sebuah kenyataan. Dari kematian Arkan, seolah gelap datang membayangi matahari, sekaligus mengajarkan untuk kebal, bagaimana menghadapi sakitnya sebuah kehilangan. Sakit!
Setelah tangisnya reda, Winsi berkemas membawa sedikit keperluannya dan bertolak kembali ke Jakarta, ke rumah besar yang baru beberapa hari dia tinggalkan.
Dia tidak sendirian, ada Nafadi, Waila dan juga Anas yang membersamai keberangkatannya kali ini, mereka semua adalah teman sekaligus saudara. Selain untuk berbela sungkawa dan mengantar jenazah ke peristirahatan terakhirnya, mereka pun memastikan jika Winsi tetap baik-baik saja.
‘Sebenarnya, yang dia cintai itu Om Arkan apa Erlan, sih? Kenapa kata Nia dia sampai teriak segala?’ batin Waila yang saat di pesawat, dia duduk di samping Winsi dan tidak saling bicara.
Sedang Anas dan Nafadi, duduk di kursi berseberangan dengan dua gadis tadi, dalam hati Nafadi sempat bertanya sedekat apa hubungannya antara Arkan dan Winsi, waktu pertama gadis itu datang dan Arkan menitipkan padanya.
“Ah, sobat ... kamu sudah ninggalin gadis yang luar biasa dan begitu sayang sama kamu, walaupun kamu bukan ayah kandungnya. Seandainya saja bisa mengambil hatinya!” gumam Nafadi sambil memejamkan mata.
Arkan memang sempat menceritakan kepada Nafadi sedikit, tentang bagaimana latar belakang Winsi, dan saat melihat bagaimana gadis itu menangis, dia bisa menilai jika Arkan adalah seorang ayah yang spesial.
Sementara itu di kota yang berbeda dan tempat yang berbeda. Erlan tengah susah payah mencari seorang asisten atau perawat, yang bisa dan mau menjaga Hanifa di rumahnya. Dari sejak wanita itu siuman, belum pernah bersikap benar.
__ADS_1
Saat Hasnu memberinya kabar, dia hanya bisa panik, kebingungan, sedih, tidak percaya dan masih banyak lagi segala perasaan yang berkumpul di dada.
“Apa? Ayah Hasnu berbohong, kan kalau Ayahku meninggal?” tanya Erlan saat mendengar kabar dari Hasnu, suaranya terdengar gemetar.
“Den, sebaiknya segera pulang dan cepat tenangkan Nyonya!”
“Aku belum bisa pulang, Yah. Oh iya, dari mana Ayah Hasnu tahu nomor baruku?”
“Den, sekarang bukan waktunya membahas soal itu, para pelayat datang dan nggak ada tuan rumah yang nyambut, Nyonya masih syok. Masa saya, sih, Den?”
Bagaimana Erlan tidak bingung, sebab Hanifa seperti anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Oleh karena itu, sudah berulang kali asisten dan perawat di sewanya, mereka kemudian menolak setelah bertahan satu atau dua hari saja.
Seandainya saja dia memang anak kecil umur lima tahun dan masih ada di taman bermain, mungkin akan terasa lucu dan menggemaskan, tapi, tidak akan sama jika yang bersikap kekanak-kanakan adalah wanita dewasa. Tidak!
Namun, untuk saat ini Erlan tidak mungkin mengawasinya sepanjang hari, dia harus pulang. Apalagi ayahnya tiada, dia ingin melihat dan mengantarkan untuk terakir kalinya.
"Ayah! Kenapa Ayah pergi di saat seperti ini, aku masih membutuhkan Ayah!" Erlan berkata, sambil berlutut di ruang tamu rumah Hanifa yang berantakan. Dia menggenggam ponsel yang layarnya mulai padam dengan kuat seolah ingin menghancurkannya.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah kamar di mana Hanifa berada.
Prang!
Bersambung
__ADS_1