Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
112. Manja Pada Ayah


__ADS_3

Manja Pada Ayah


Sesampainya di rumah sakit, Arkan mengantarkan dan menemani Erlan sebentar, sedangkan Hanifa di bawa ke ruangan UGD untuk ditangani petugas medis. Setelah itu dia pun meninggalkan anaknya yang menunggu kabar dari dokter, sampai Hanifa dipindahkan ke kamar perawatan yang biasanya.


“Kamu ini luar biasa, Mas Erlan. Sabar menghadapi dia,” kata dokter, sambil tersenyum kagum pada Erlan yang begitu sabar menghadapi Hanifa.


Dokter itu menyarankan agar Erlan menjadikan satu kamar di rumah sebagai tempat perawatan dan menyewa seorang perawat yang bisa menjaga dan mengerti cara penanganan jika sewaktu-waktu gadis itu kambuh.


Apabila Erlan mau, maka pihak rumah sakit akan memfasilitasi beberapa perlengkapan yang bisa digunakan dengan cara menyewa atau membeli.


Saat Erlan dan dokter sedang berbincang, Hanifa tersadar dan seorang perawat mengabarkan kepada mereka.


Erlan datang mendekati Hanifa dengan senyum seperti anak kecil yang begitu senang melihat orang tuanya datang membawa oleh-oleh.


“Papah!” kata Hanifa dengan suara riang seraya mengulurkan tangannya. Erlan menyambut uluran kedua tangan gadis itu yang langsung melingkar di lehernya bahkan mencium kedua pipi dengan penuh kerinduan.


Sementara dokter yang sudah akrab dengan Arkan dan Erlan itu tertawa kecil menyaksikannya.


“Pak Arkan benar, Mas Erlan. Sudah memaksa menikahi Hanifa, soalnya kalau nggak dinikahi malah susah nanti kalau dia terus begini,” kata dokter itu seraya berjalan keluar meninggalkan Erlan yang masih berpelukan dengan Hanifa, lebih tepatnya Hanifa yang memeluk Erlan, karena pria itu hanya merespon dengan hambar.


*****


Sementara itu di rumah, kedatangan Arkan di sambut dengan pertanyaan beruntun dari Runa karena suaminya itu datang seorang diri tanpa Erlan. Dia ingin mengutarakan sesuatu pada anak itu dan apa yang akan dia katakan, harus disampaikan secara langsung, disertai keyakinan dan lemah lembut.


Arkan hanya menjawab seperlunya saja saat Runa menegurnya, “Mungkin dia lembur, Sayang. Ada yang harus dia kerjakan.”


“Kerjaannya penting, ya? Apa dia bisa kamu andalkan, dia, kan, baru lulus kuliah?”


“Aku baru mau coba dan latih, dia bisa apa nggak?”

__ADS_1


“Oh.”


“Memangnya kenapa, sih?”


“Aku mau ngomong soal niatku, mau jodohin dia sama Wiwin, Mas.”


Arkan terdiam sesaat dan berpikir jika Runa pasti akan kecewa seandainya dia tahu masalah yang disembunyikannya selama ini, terbongkar. Sebenarnya semua hanya tunggu waktu dan, dia sadar soal itu. Tidak mungkin menyembunyikan masalah Erlan ini untuk selamanya. Sikapnya yang menutupi, ibarat bom waktu yang kapan saja bisa meledak.


Menikah adalah ibadah paling lama dan butuh perjuangan. Dan pernikahan bukanlah ibadah yang harus disembunyikan karena kuatir akan sikap riya’ di hati manusia. Oleh karena itu bila seseorang menikah haruslah mengadakan walimah walaupun sederhana, sebagai bentuk pengumuman bahwa sepasang muda mudi yang bersama bukanlah pasangan zina.


Namun, kini Arkan dan Erlan memutuskan untuk menyembunyikannya, mengingat Runa yang berniat akan menjodohkan anaknya. Kedua pria itu khawatir Runa akan marah kalau sampai tahu Erlan sudah menikahi wanita bernama Hanifa.


Keheranan Runa berlangsung hingga keesokan harinya, saat waktunya sarapan tiba, Erlan belum muncul juga. Hatinya semakin bimbang, karena hari ini pun Winsi akan kembali ke Jogjakarta. Kalau gadis itu sudah berada di tempatnya sekarang, sedangkan dia tahu jika dirinya dijodohkan, maka bisa dipastikan, gadis itu tidak akan kembali pulang dan Runa tidak ingin hal itu terjadi.


Sebenarnya maksud Runa menjodohkan Winsi adalah, bukan hanya karena demi keamanan saja melainkan karena menganggap Erlan orang yang tepat untuk mendampingi, melindungi dan menjaganya. Apalagi kedua anak itu sudah saling mengenal sejak lama.


Runa pikir Winsi mau menuruti kemauannya bila Erlan menjanjikan sesuatu, misalnya jaminan hidup dan pekerjaan. Semua itu karena betapa keras kepalanya Winsi yang ingin mandiri dan tidak mau membebani siapa pun lagi hingga dia tidak mau menikah. Ditambah lagi dengan traumanya, atau rasa percaya dirinya yang tidak stabil, membuat gadis itu semakin enggan memilih seorang pria sebagai pasangan.


“Mas, kenapa Erlan belum juga pulang, ya?” tanya Runa sambil menata makanan di piring suaminya.


“Mana aku tahu, dia nggak telepon?” Arkan balik bertanya.


“Hp-nya nggak aktif.”


“Oh,” kata Arkan, seperti bergumam, padahal dia tahu di mana dan kenapa Erlan tidak pulang tadi malam.


“Win, coba kamu yang telepon, biar Erlan pulang.”


“Ya kalau telepon Ibu nggak bisa ... ya, sama telepon Wiwin juga nggak bisa, Bu,” sahut Winsi sambil menyiapkan nasi ke mulutnya.

__ADS_1


“Masa, sih. Siapa tahu kalau kamu Yang telepon Mungkin saja diangkat.” Runa berkata sambil duduk dan menyuapi Jiddan di sampingnya.


“Ibu aja sendiri, telepon Erlan. Nih, pake hp Wiwin.” Winsi berkata sambil memberikan ponselnya kepada Runa.


Runa mengambil telepon genggam milik anaknya kemudian mencari nomor Erlan di sana, setelah menemukannya dia pun menghubungi dan terdengarlah nada sibuk yang menandakan Erlan tengah bicara dengan seseorang. Setelah beberapa kali panggilan hingga akhirnya Runa berinisiatif untuk menghentikan keinginannya mengatakan tentang perjodohan.


Semua akan percuma kalau Erlan tidak melamar Winsi saat ini juga. Gadis itu bisa menolak dan tidak akan pulang dengan berbagai alasan guna menghindari perjodohan. Dia tidak akan mau dipaksa kecuali dengan ancaman atau memintanya pulang karena satu alasan tragis, yang rasanya sulit untuk diwujudkan.


Setelah selesai sarapan, Runa masih berusaha untuk menghubungi Erlan untuk terakhir kalinya, sebelum Winsi berpamitan dan membawa kopernya, kembali ke Jogjakarta. Gadis itu akan pergi ke bandara bersama dengan keberangkatan ayahnya untuk bekerja.


Pada akhirnya Runa mengalah juga karena tidak berhasil menghubungi Erlan bahkan sekarang ponselnya benar-benar dalam keadaan tidak aktif. Dia melepas kepergian anaknya dengan sukarela, setelah Winsi berpamitan dan menciumi pipi gembil Jiddan, secara bergantian kanan dan kiri.


Ketika berada di dalam mobil, ayah dan anak angkat itu duduk berdampingan di kursi belakang. Winsi bersandar dengan manja di bahu kanan Arkan dan menghirup aroma tubuh ayahnya. Ini adalah kesempatan ketika tidak ada ibunya, maka dia akan bermanja-manja. Berbeda dengan saat Runa ada di antara mereka sebab dia khawatir apabila ibunya itu marah dengan apa yang dilakukannya.


Bagi Winsi berada di dekat Arkan adalah hal yang paling menyenangkan, sudah cukup hanya ayah angkatnya seorang, yang bisa dijadikan tempat untuk bergelayut manja di lengannya.


Seakan dia tidak membutuhkan keberadaan pria lain karena Arkan sudah mengisi kekosongan hatinya. Kenyamanan berada di sisi Arkan membuat bagian tertentu di benaknya menjadi penuh. Bagian yang tidak pernah terisi sejak dia masih kanak-kanak.


Arkan mencubit pelan hidung kecil Winsi sambil berkata, “Sering-seringlah pulang biar ibumu senang, jangan terlalu betah tinggal di sana, apa enaknya hidup sendirian?”


“Siapa bilang aku sendirian, Ayah ... kan ada Allah aku juga punya teman namanya Nia, dia baik banget.”


Suara Winsj terdengar lemah lembut dan manja membuat Hasnu yang mengemudikan kendaraan mereka, hanya bisa melihat interaksi ayah dan anak angkat itu dari kaca spion dengan tersenyum tipis. Keakraban mereka tampak terlihat berbeda ketika mereka berdua sedang berada di antara Runa ataupun Erlan. Tentu saja kedua orang itu sangat menjaga perasaan orang-orang di sekitarnya.


Arkan tidak tahu sebesar apa arti dirinya di hati anak gadis itu. Dia hanya tahu apabila Winsi seperti anaknya sendiri yang membutuhkan kasih sayang penuh dari seorang ayah. Anaknya bukan hanya Erlan karena baginya Winsi sama saja dengan anaknya yang sudah dia besarkan tangannya walaupun, dia terlahir bukan sebagai darah dagingnya sendiri.


Mungkin apabila Arkan didekatkan dengan Basri maka orang akan bingung siapa ayah kandung Winsi yang sebenarnya karena hubungan kedekatan itu lebih terlihat akrab antara dirinya dan Arkan. Hanya gadis itu yang tahu tentang perasaannya sendiri, tapi dia juga tidak mengotori hatinya dengan perasaan yang berbeda karena perasaannya pada Arkan adalah murni antara seorang anak dan ayah pada umumnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2