
Hari-hari Yang Berlalu (Jujur)
Winsi tertegun, dia tidak tahu harus bagaimana sementara Hanifah mengetahui dari pengakuan Erlan bahwa, mereka adalah bersaudara. Akan tetapi, dia hendak berkata jujur apa adanya kali ini. Gadis itu menarik nafas sejenak kemudian menoleh pada Hanifah, yang duduk di sampingnya sambil tersenyum.
“Kak Han, wajarlah di antara aku dan Erlan tidak mirip, Kak. Soalnya kami sebenarnya memang bukan saudara, maksudnya bukan saudara kandung. Kami ini saudara angkat, Ayahnya Erlan yang mengangkatku jadi anaknya dan sekarang Ibuku mau menikah dengan Ayah. Ya ... otomatis kami jadi saudara, kan?”
Mendengar ucapan Winsi, Hanifah pun tertegun, dia menatap Winsi kemudian tersenyum dan mengangguk seolah-olah mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan tentang ketidakmiripan itu, disebabkan oleh orang tua mereka yang jelas-jelas berbeda.
“Ooh. Jadi, sekarang ibumu belum menikah dengan Ayahnya Erlan, begitu?”
“Belum, mereka baru merencanakannya dan tadi mereka meminta restu, agar aku menyetujui hubungan mereka. Tentu saja aku merestui mereka aku senang mereka bahagia. Gimana Kak? Aku benar, kan, kalau punya harapan agar Ayah bahagia.”
“Memangnya kamu anak yatim? Kamu nggak punya ayah kandung? Kenapa ayahnya Erlan bisa mengangkat kamu jadi anaknya?”
Kini giliran Winsi yang tertegun dia tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang karena khawatir. Apabila dia berkata jujur tidak mempunyai ayah, padahal dia mempunyai Basri—bapaknya, itu artinya dia bohong dan akan berdosa.
Memang dia tidak diakui oleh bapaknya tapi, apakah dia harus mengakui bahwa bapaknya tidak mengakuinya sebagai anak kandung sehingga orang lain pun menganggapnya sebagai anak haram? Dia tentu tidak mau bila orang pun akan menganggapnya seperti bapak yang menganggapnya demikian. Itu tidak mungkin ... dia harus jujur.
“Ada Aku punya Bapak tapi, tidak tahu di mana dia sekarang, itu sudah lama sekali. Sekarang ibuku sudah resmi bercerai lalu akan menikah dengan ayahnya Erlan.”
“Oh jadi seperti itu ... ya, sudah kalau gitu, aku permisi! Oh ya, Win, terima kasih ya, makanannya!”
Winsi mengangguk, dia kembali menikmati camilan sambil menunggu Runa dan Arkan kembali dari jalan-jalan. Sekilas dia melirik ponsel Arkan yang tergeletak di lantai aula di sisinya. Benda itu kembali berdering tapi Winsi mengabaikannya padahal, Arkan begitu saja percaya, meninggalkan benda pribadi begitu saja padanya.
Winsi melihat panggilan itu dari Erlan lagi, dia pikir pasti dia ingin mengobrol dengan ayahnya hingga Gadis itu mengabaikannya. Dia sudah tidak ingin melihat wajahnya atau mengobrol dengan pria itu. Dia sudah menyatakan perang dingin, bahkan lebih dingin dari saat Amerika menyatakan perang dingin dengan Uni Soviet tempo dulu.
Setelah Runa dan Arkan meninggalkan tempat itu, Winsi melakukan kegiatan seperti biasanya.
Di hari-hari berikutnya dia terlibat hubungan lebih baik dengan Hanifa, wanita itu memperlakukannya dengan baik bahkan terkesan pilih kasih. Akan tetapi tidak membuat Winsi besar kepala dan bersikap sombong karena mendapat dukungan dan perlakuan spesial dari Hanifa.
__ADS_1
Winsi tetap melakukan semua kewajiban yang sama seperti para santri lainnya, walaupun, memang ada beberapa kejadian yang membuat beberapa santri heran. Satu hari ada seorang yang kehilangan uang di kamarnya sehingga semua santri dalam kelompok yang sama di panggil, kecuali Winsi.
“Berapa uang yang hilang?” tanya Hanifa waktu itu, dia memang menjadi penanggung jawab kamar di mana Winsi berada.
“Seratus ribu!” Jawab salah satu anak yang kehilangan uang dan dia menangis.
“Siapa yang tahu atau menemukan uang teman kalian!”
Semua diam hingga para santri menyadari salah satu di antara mereka belum hadir, yaitu Winsi yang tidak ada di antara mereka. Kemudian Hanifa membelanya, dengan mengatakan jika Winsi masih berlatih bola basket, untuk kejuaraan mereka bulan depan melawan sekolah lain. Oleh karena itu, dia dimaklumi untuk tidak hadir di sana.
Saat itu pula Hanifah membelanya dan mengatakan bahwa tidak mungkin Winsi mengambil uang karena baginya nilai begitu sangat kecil. Dia memahami anak itu memiliki uang sekolah yang diberikan Arkan lebih dari cukup.
Saat Winsi kembali ke asrama setelah latihan basket, teman-teman satu asramanya pun menanyakan kenapa dia tidak datang ketika ada panggilan, untuk berkumpul ke kamar asrama. Tentu saja dia tidak mengetahuinya karena saat itu sedang berada di tengah lapangan. Dia pun sedikit heran mengapa tidak ada seorang pun yang memanggilnya.
Sebagian temannya ada yang bersikap sinis padanya dan sebagian lagi, menceritakan semua hal yang terjadi hari itu sehingga dia memahami penyebabnya. Lalu, dengan tenang Winsi mengeluarkan uang dan memberikan kepada teman yang kehilangan tersebut sebagai gantinya.
Saat di hari berikutnya ketika Winsi bertemu dengan Hanifah, anak itu pun memintanya untuk tidak memperlakukan secara berbeda karena dia tidak enak dengan teman-temannya. Akan tetapi gurunya itu menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud berbuat hal di luar kewajaran, hanya saja memang tidak mungkin mengganggu karena sedang berlatih.
Winsi yang mempunyai tubuh tinggi dan kuat, menjadi andalan sekolahnya. Pada saat pertandingan berlangsung, telah terjadi kecurangan namun orang yang melakukan kecurangan itu tidak mau mengakui dan, menolak untuk dilakukan penalti, bahkan menantang kelompok Winsi di luar lapangan. Sikap arogan ini membuat Gadis itu emosi. Tanpa berpikir panjang dia melayangkan kepalan tangannya atau dalam karate disebut dengan sudan cuki andalannya.
Tidak di duga, anak yang melakukan kecurangan itu membalas Winsi lebih sengit hingga akhirnya gadis itu terpaksa melayangkan tendangan sodang barai atau tendangan ke samping yang telak mengenai pinggang lawan. Pihak lawan pun terjatuh hingga terjadi keributan dan Winsi pun dinyatakan bersalah karena melakukan kekerasan.
Saat itu Hanifa maju membela dan dengan sengit menunjukkan beberapa bukti, tentang kecurangan melalui rekaman videonya hingga Winsi tidak dihukum karena dinilai membela diri.
Hanifa dan Winsi semakin akrab tentu saja mereka selalu membicarakan Erlan jika kebetulan bertemu saat bersantai. Akan tetapi, Winsi selalu menanggapi dingin pembicaraan gurunya bila sudah membahas soal pria itu.
Guru pembimbing Winsi yang cantik itu selain menjadi penanggung jawab asrama, dia pun sering membantu salah satu guru penanggung jawab hafalan Al Qur’an jika waktunya anak-anak menyetorkan hafalan mereka.
Biasanya saat tasmi’ membaca hafalan masing-masing anak, baik guru maupun anak-anak membutuhkan ketenangan dan konsentrasi. Apabila mereka mengapal satu juz dalam sepekan, maka saat tasmi’ dilakukan, mereka harus membaca hafalannya secara terus-menerus tanpa jeda.
Begitu juga saat seorang santri mengapal tiga, empat, atau lima juz, maka saat tasmi’ mereka pun harus membacanya tanpa jeda, kecuali, untuk keperluan hajatnya.
__ADS_1
Dalam tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah SMA terpadu Al Hijrah itu, Winsi berhasil membawa beberapa prestasi. Sekolah terpadu adalah lembaga pendidikan yang menganut sistem boarding school atau belajar secara full day sekaligus memadukan dengan pesantren di dalamnya.
Prestasi Winsi, selain dalam bidang akademik, olah raga, juga hafalan Al Qur’an yang menjadi harapan ibunya.
Runa pernah berkata pada anaknya, “Wiwin ... kalau kamu berhasil menghafalkan satu Alquran atau seluruhnya berjumlah 30 juz maka, sama saja kamu sudah memberikan suatu mahkota untuk Ibu di surga...”
Akan tetapi, Winsi tidak berhasil menghafalkan sebanyak itu karena dia juga tekun menghafal beberapa pelajaran sekolah yang dia pikir penting untuk masa depannya.
“Maafkan Wiwin, Bu ....”
“Tidak apa-apa ... lakukan semampumu, tidak usah memaksakan diri.”
Berulang kali anak itu meminta maaf kepada ibunya karena tidak mampu menuruti keinginan Runa. Selama ini Winsi hanya menjadikan hafalan Alquran, sebagai ekstrakurikuler di luar mata pelajarannya. Namun, ibunya tidak kecewa dan sudah cukup bangga anaknya mampu menghafal beberapa juz saja karena Winsi cukup pandai dalam pelajaran dan berhasil meraih juara di bidang yang lain.
“Tempuhlah pendidikan sekuat kemampuanmu menjalaninya, asalkan kamu niatkan, untuk menunjang kehidupan dunia dan juga akhiratmu. Sebab semua itu penting dan jangan mengabaikan salah satunya.”
Nasihat Runa selalu terngiang di kepalnya, apalagi seorang ustaz selalu saja mengatakan pada para santri bahwa orang yang cerdas adalah yang selalu berpikir tentang kehidupan sesudah mati.
Begitulah hari demi hari berlalu hingga suatu hari Winsi merasakan ada sesuatu yang aneh di asrama karena dia tidak pernah melihat Hanifa hampir satu bulan lamanya.
“Eh, kemana ya ustaz Hanifa kok nggak pernah keliatan?” tanya Winsi pada seorang temannya.
“Iya, aku juga heran kok nggak pernah lihat, udah lama. Padahal bentar kita perpisahan, ya kan?” kata Nia, sahabat Winsi selama di pesantren, tubuhnya masih saja gemuk.
“Iya, tapi kalo nggak salah, katanya sih Ustaz Hanifa itu ....” kata seorang temannya yang lain terputus karena ada seorang di belakang mereka memanggil.
“Winsi!”
Bersambung
__ADS_1