Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
124. Kutunggu Sampai Besok


__ADS_3

Kutunggu Sampai Besok


Keesokan harinya mereka bertemu di meja makan untuk sarapan, Erlan duduk di tempat di mana Arkan biasa duduk, Runa dan Winsi duduk di tempat biasa. Mereka menikmati makanan di piring masing-masing nyaris tanpa suara dan hanya suara dentingan sendok yang kadang terdengar atau ocehan Jiddan yang kebetulan sudah terbangun juga.


Di saat yang sama, Erlan melihat layar ponsel yang bergetar dan menyala tanpa suara. Sejak mulai makan, dia selalu melirik benda itu seolah menunggu sebuah kabar penting dan, langsung mengangkatnya sambil berjalan menjauh dan meninggalkan makanannya sendiri.


Winsi sempat melirik ke arah pria yang apabila berpakaian kemeja rapi dan, baru keluar dari kamarnya itu selalu tampak mirip sekali dengan Arkan di matanya. Apalagi memang tinggi badan mereka sama. Hanya tubuh ayahnya lebih montok dari Erlan, selebihnya semua hampir sama.


Ada kerinduan yang kental di hatinya pada pria yang membuatnya merasakan cinta seorang ayah untuk pertama kalinya itu.


“Buk, aku nanti mau ke makam Ayah, apa Ibu mau ikut?”


“Ya,” Runa langsung menanggapi dengan baik dan dia berharap jika setelah pergi ke makam ayahnya, Winsi bisa memberi jawaban yang bagus pada Erlan.


Erlan tidak kembali ke rumah setelah menerima panggilan, tidak ada yang tahu ke mana perginya pria itu, kecuali Hasnu. Namun, dia sudah berjanji pada Erlan untuk tidak memberitahuku pada semua penghuni rumah tentang hubungannya dengan Hanifa. Dia akan menjelaskannya sendiri kalau sudah tiba waktunya semua orang tahu.


Dia tidak berniat selingkuh, bukan ... ini bukan perselingkuha. Dan dia pun tidak berniat menipu semua orang, hanya saja dia malu bila pada kenyataannya dia menikahi wanita tidak waras yang menganggap dirinya sehingga ayah. Dia tidak berdaya untuk membawa istrinya ke rumah sakit jiwa atau menyembuhkannya pun tidak bisa.


Dia sudah mencoba berulang kali membayar dokter jiwa untuk menyembuhkannya, tapi setiap kali melihat sesuatu yang mirip dengan kecelakaan, jiwanya kembali terguncang dan sikap wajar pun seketika hilang.


Winsi dan Runa kini berada di sisi makam, mereka hanya berdua saja tanpa orang lain yang menyertai sedangkan Jiddan ditinggalkan dalam keadaan tidur.


Winsi tidak berkata apa-apa mulutnya hanya komat Kamit membaca doa dan hanya hatinya yang berdialog sendiri seolah-olah Arkan akan mendengarkan walaupun tidak sama sekali.


“Ayah ... Erlan mengajakku menikah. Apa ayah suka kalau aku jadi menantu? Aku sih, nggak mau kalau Ayah jadi mertua. Ah ...! Ayah, sepertinya lucu kalau aku menikahi anak itu, gimana kalau kami selalu bertengkar, Ayah tidak ada di sini untuk memisahkan kami. Jadi, seorang istri harus taat pada suami dalam banyak hal, tapi aku gak mau kalau harus nurut sama Erlan!”

__ADS_1


“Ayah! Apa benar kalau kami menikah itu artinya menyambung tali silaturahmi denganmu? Aku akan menjaga tali silaturahmi walau nggak nikah sama Erlan, kok. Rasanya lebih enak kita bertengkar tanpa beban atau harus menjaga perasaan, aku bisa jadi diriku sendiri, tapi kalau menikah, mana bisa begitu?”


“Ayah, kalau memang menikah dengan Erlan bisa membuatmu bahagia di alam sana dan amal ibadah yang dilakukan anakmu bisa menjadi cahaya di alam barzah, maka akan aku lakukan! Kalau memang amanah terakhirmu adalah menjagaku, maka akan aku biarkan diriku dalam penjagaannya!”


Runa memeluk Winsi setelah khusuk berdoa, lalu dia berkata, “Nak! Turuti saja kemauan Erlan, mungkin bisa membuat Ayahmu lebih senang di alam sana dengan amal baik yang dia lakukan pada kita!”


“Ya. Baiklah ... Jadi, kita nggak jadi pulang ke Jogja?”


“Nggak!”


“Nggak jadi bikin usaha mie ayam juga?”


“Nggak!”


“Apa Ibu juga bahagia kalau aku jadi istri anak itu?”


“Ya Erlan, lah! Memangnya siapa dia kalau bukan anak-anak. Tahu nggak Bu, waktu aku kecil dulu dia sering manggil aku anak buluk!”


“Itu namanya panggilan sayang, dia tahu sejarah hidupmu dari kecil sampai sekarang!”


“Ih, malu, lah, Bu!”


Runa mengerti, dia kemudian menoleh ke arah batu nisan yang sudah diganti dengan marmer dan berkata, “Lihat, Mas. Wiwin itu suka kasar sama Erlan karena dia sebenarnya malu!”


“Ibuk! Apaan sih?”

__ADS_1


Setelah itu mereka tersenyum kecil, karena tidak mungkin tertawa dan bercanda di antara pemakaman. Setelah mereka puas berdoa dan mencurahkan hati di sana, mereka pulang. Sebenarnya tidak ada mayat dalam kubur yang bisa mendengar ucapan orang yang berziarah di makamnya, selain berupa doa yang sudah diajarkan Rosul, karena alam mereka sudah berbeda dengan alam nyata.


*****


Sepekan setelah kejadian hari itu, Erlan tidak pulang dengan alasan pergi ke luar negeri melihat restoran yang dikelola Saina dan Markjo di Amsterdam. Saat akan pulang, di memberi pesan pada Winsi, tentang permintaannya. Dengan sekuat tenaga pria itu menguatkan hati menjalani dua pernikahan sekaligus.


Manusia tempatnya salah dan lupa, tapi, manusia juga tempatnya ingat dan benar hingga terkadang ada keraguan di antara keduanya, apakah yang mereka lakukan itu salah atau benar. Naluri mengajaknya melakukan semuanya karena amanah dan juga kebaikan tapi, di sisi lain logika menolak untuk menduakan karena dia pun, tidak mau jika orang lain melakukan hal yang sama padanya.


Dalam pesan itu, Erlan menulis, “Kalau kamu jawab pesanku, berarti kamu mau jadi istriku dan kita menikah, tapi, kalau kamu abaikan pesan ini sampai besok, berarti, ya, udah kamu menolak dan kita tetap seperti ini, terserah kamu mau apa, tapi jangan harap bisa bawa Ibu dan Jiddan pulang ke Jogja!” Bukan, dia bukan pria egois yang mementingkan dirinya sendiri atau karena napsu yang tidak terkendali, bukan.


Winsi membaca pesan itu dan menarik napas panjang lalu, merebahkan dirinya ke kasur. Dia berpikir cukup lama antara menerima dan tidak. Lalu, dia pun kembali melakukan sholat istikharah, sudah sejak lama dia melakukannya tapi belum mendapatkan jawaban. Setelah selesai sholat, dia melihat HP-nya berbunyi karena Nia menelepon. Temannya itu mengatakan jika mereka mendapatkan pesanan minuman buah andalan cafe yang cukup banyak, untuk pesta pernikahan pekan depan. Mereka membicarakan banyak hal hingga Winsi mengantuk dan, tertidur begitu saja setelah menutup ponselnya.


Setelah beberapa jam, Winsi terbangun dari tidurnya karena mendengar Azan asar, tapi, sebelum dia pergi berwudhu, ponselnya kembali berdering.


Gadis itu menempelkan telepon genggamnya ke telinga dan terdengar suara Erlan di seberang sana.


“Alhamdulillah, Win. Aku bersyukur kamu angkat, teleponku, berarti kamu benar-benar setuju rencanaku, ya? Kita nikah pekan depan!” setelah itu telepon pun di tutup secara sepihak.


“Apa? Hei! Erlan, apa maksudmu, aku nggak jawab apa-apa, kok!” suara Winsi terdengar keras hingga memenuhi ruang kamarnya, tapi, percuma saja karena Erlan sudah tidak bisa mendengar teriakannya itu.


‘Kok, bisa sih, dia bilang begitu? Memangnya aku jawab apa?’ kata hati Winsi sambil membuka pesan di kolom chat-nya pada Erlan.


“Astagfirullah.” Winsi bergumam begitu melihat pesannya, yang terkirim pada Erlan, mungkin tombol huruf Y, itu tertekan secara tidak sengaja saat dia tertidur.


‘Apa ini jawaban dari istikharahku?’ pikirnya lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2