Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
135. Pertengkaran


__ADS_3

Pertengkaran Pertama Setelah Pernikahan


Sesampainya di rumah, Winsi turun dari mobil dengan hati yang masih bimbang dan memikirkan apa yang dia lihat. Dia membagikan makanan yang dibelinya pada ibunya, Neni, Hasnu, dan pekerja lainnya di rumah itu.


Namun, dia sendiri tidak menikmatinya tapi, hanya minum segelas air mineral satu gelas penuh. Tiba-tiba saja dia teringat dengan buku-buku yang ada di kamar Erlan, yang kini jadi kamar mereka. Wanita itu memang tidak tahu apa yang menjadi kebiasaan Erlan bila berada di luar rumah, karena dia tidak pernah mengikuti atau menanyakannya. Dia adalah perempuan yang tidak ingin tahu dengan urusan orang.


Winsi berjalan dengan cepat ke kamar dan mengambil buku tentang penyakit jiwa tersebut, lalu, dia membuka beberapa lembar isinya karena begitu penasaran. Insting dan naluri alamiahnya mengajak logikanya berpikir tidak waras. Namun dia juga tidak ingin berprasangka buruk.


Saat di mobil, Hasnu selalu mengingatkannya tentang pentingnya mengontrol sebuah emosi atau perasaannya dalam segala hal, apalagi sebagai seorang istri yang baik, dia tidak boleh berpikir buruk dan mencurigai suaminya tanpa alasan dan bukti. Jadi, dia harus tenang.


‘Tapi, kenapa ini seolah berhubungan?’ batinnya, sambil terus membuka dan membaca lembar demi lembar buku itu, hingga pada halaman selanjutnya dia menemukan struk pembelian beberapa obat yang seperti sengaja di letakkan di sana sebagai pembatas.


‘Apa ini?’ Winsi berkata dalam hati dan dia membaca tulisan resep obat itu dan mengambil ponselnya. Dia mencari aplikasi mesin pencari dan mengetikkan beberapa nama atau jenis obat dalam aplikasi itu. Setelah dia membaca semua fungsi obat yang ada dalam kertas kecil itu adalah obat yang berfungsi sebagai penenang syaraf, penidur dan pereda rasa sakit.


‘Ini obat buat siapa ya?’ lagi-lagi Winsi bergumam sendiri.


Setelah waktu sholat tiba, Winsi kembali bergabung di meja makan, bersama Jiddan dan Runa untuk menikmati makan siang. Setelah itu, dia melanjutkan kembali membaca buku yang cukup tebal, dengan begitu asyiknya hingga dia tidak sadar apabila suaminya sudah kembali.


“Kamu baca apa?” kata Erlan begitu dia memasuki kamar dan melihat Winsi tengah duduk di kursi dekat jendela, membaca salah satu buku yang belum sempat dia pindahkan. Ya, keberadaan buku itulah yang kemarin sempat membuatnya bingung untuk mengalihkan pertanyaan istrinya yang sulit dijawab dengan jujur.


“Buku kamu, Lan!”


“Lan, Lan, Lan! Nggak ada panggilan yang enak apa?” Erlan mencoba mengalihkan perhatian Winsi dari buku itu.


Dia duduk di sofa yang ada depan Winsi tepat di sebelah tempat tidur mereka. Lalu, melepaskan kancing kemeja bagian atas dan, menggulung lengan kemejanya sampai siku.


Winsi bersikap cuek, dia bertanya kembali, “Tahu, nggak Lan? Katanya Hanifa itu gila! Kamu, pasti masih ingat sama dia, kan?”


Erlan diam tak berkedip menatap Winsi yang berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang masih dibacanya. Dia saat ini beruntung karena hati, sebanyak apa pun bicara maka, suaranya tidak akan pernah terdengar manusia. Oleh karena itu, mulut bisa berkata begini dan begitu, tapi hati akan selalu berkata jujur apa adanya.


“Masa, sih?” tanya Erlan tanpa dosa, tapi, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri.


“Iya, benar!”


“Kamu tahu dari mana?” kata Erlan sambil melirik buku yang ada di atas pangkuan istrinya.


“Aku tahu dari teman Meri, namanya Tiana. Dia tetangganya Hanifa!”


Erlan seketika berdiri dan mengusap rambutnya kasar.

__ADS_1


Saat melihat gerakan Erlan yang tiba-tiba, Winsi seketika menoleh dan menatap wajah suaminya dengan saksama. Dia pun berdiri sambil menyimpan buku di tempatnya semula.


“Terus, aku lihat ini, ada di bukumu, loh, Lan?”


Winsi menunjukkan struk pembelian obat yang dia temukan, seketika membuat Erlan membeliakkan matanya secara sempurna. Dia heran, kenapa kertas kecil itu ada pada wanita di hadapannya karena dia merasa sudah membuangnya.


“Apa, ini?” Erlan balik bertanya.


“Mana aku, tahu. Seharusnya aku yang tanya sama kamu, Lan! Ini, tanda kamu beli obat, untuk siapa?”


“Aku juga nggak tahu, Win. Aku sudah lama nggak baca buku itu, terus aku juga lupa kenapa kertas itu, kok, bisa ada di sana?”


“Masa kamu nggak tahu, kan, ini bukumu?”


“Iya, buku ini memang pernah dipinjam sama temanku yang dokter itu, mungkin ini punya dokter itu?” kata Erlan sambil merebut kertas kecil dari tangan Winsi dan, membuangnya di tempat sampah.


“Kamu yakin?” Winsi berkata sambil berkacak pinggang, dia melihat aroma kebohongan yang kental. Erlan kemarin bilang kalau buku itu masih baru dan dia butuh untuk memahami karakter beberapa karyawannya yang bersikap aneh.


Namun, sekarang pria itu jelas-jelas mengatakan jika buku itu pernah dipinjam seorang dokter, bukankah hal ini justru terdengar lebih aneh lagi? Mana mungkin seorang dokter meminjam buku dari Erlan yang, sama sekali tidak pernah melibatkan diri dalam ilmu kedokteran. Seharusnya Erlan yang minjam buku tentang kesehatan ini kepada dokter jiwa.


“Kamu nggak bohong, kan, Lan, kalau buku ini pernah dipinjam sama dokter? Kok aneh sih, bukannya kamu yang harusnya pinjem sama dokter, ya?”


Erlan tidak bohong kalau soal ini, dia memang memiliki seorang teman seorang dokter yang juga pernah meminjam sebuah buku padanya, tapi bukan tentang penyakit jiwa. Melainkan tentang kepribadian dan life skill seorang pemimpin.


“Memang buku ini nggak ada hubungannya sama kuliah aku, tapi ada hubungannya dengan suamiku!” kata Winsi lagi dengan wajah cemberut, dia duduk di sisi tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Suami? Aku maksudnya?”


“Ya!”


“Memangnya aku kenapa?”


“Ya Aku lihat tadi ada di mobil kamu di sana!”


Mendengar ucapan Winsi, Erlan memegangi bagian dada kirinya yang berdetak lebih cepat.


“Di mana? Jangan ngarang aku dari tadi kerja di kantor!”


“Kalau memang kamu kerja di kantor ... terus siapa yang bawa mobil kamu ke rumah Hanifa?” kata Winsi dengan nada penuh selidik sambil menurunkan pandangannya dari ujung kepala sampai ujung kaki Erlan.

__ADS_1


“Memangnya kamu tahu rumah Hanifa?” tanya Erlan dengan mengerutkan keningnya begitu dalam.


“Iya, kebetulan aku tadi nganterin Tania ke rumahnya yang dekat dengan Hanifa dan aku lihat mobil kamu ada di sana.”†


“Win, nggak usah ngada-ngada ... Aku beneran nggak pergi ke mana-mana, mungkin saja mobil orang itu sama.” Erlan berkata dengan gusar.


“Masak apa nomor platnya juga sama?” kata Winsi sambil mengalihkan pandangannya.


Mereka belum pernah mengobrol begitu lama, kecuali saat Erlan hendak mengadakan tes DNA, dan sekarang mereka pun berbincang cukup lama, tapi obrolan mereka menjadi sebuah pertengkaran.


“Iya ... itu ada motor baru di depan punya siapa?”


Erlan mengalihkan pembicaraannya, demi menghindari pertanyaan yang lebih membingungkan lagi. Saat dia pulang tadi, dia memang melihat ada sesuatu yang berbeda di halaman rumahnya itu adalah motor baru yang dipesan oleh wingsi tadi pagi


Winsi sengaja membeli motor tanpa sepengetahuan suaminya karena dia tahu apabila Erlan tidak akan mengizinkannya. Apalagi pria itu tahu, pasti akan membelinya dengan uangnya sendiri secara cash. Walaupun mengizinkan pun, Erlan tidak akan rela jika istrinya membeli dengan menggunakan uangnya sendiri.


Padahal, Winsi sudah bertekad dan meniatkan uang tabungannya untuk membeli kendaraan idamannya itu sejak lama.


“Punyaku, emangnya kenapa?”


“Apa di sini kekurangan mobil? Ada mobil Pak Hasnu, mobil Kakek, mobil Ayah, dua mobil itu nganggur, Win! Ada Van juga, kamu bisa pilih mau pake yang mana aja ... Kenapa beli motor segala? Padahal,kalau mobil kan lebih enak, kamu nggak kepanasan nggak kehujanan!”


“Terserah aku, lah ... aku suka beli motor! Aku nggak bisa bawa mobil! tu juga nggak pakai uangmu!”


Erlan kesal bukan hanya karena Winsi tidak menginginkan uangnya, gadis itu memperlihatkan apabila dia mampu mandiri dan, memiliki apa yang dia inginkan tanpa harus melibatkan Erlan. Sedangkan pria itu menginginkan istrinya memenuhi semua keinginan dan juga kebutuhan dengan meminta padanya. Dia bisa membelikan lima motor sekaligus tapi, dia memang tidak suka apabila Winsi berbuat sesuka hati, membeli sesuatu tanpa seizinnya, walaupun dengan uangnya sendiri.


Erlan merasa berhak atas diri istrinya jadi apa pun yang diputuskan wanita itu, setidak-tidaknya dia memberitahu lebih dulu, tidak seperti ini.


“Kenapa kamu nggak ngomong, Kamu kira aku nggak bisa beliin motor kayak gitu?” kata Erlan.


“Aku tahu, kamu bisa beli motor lebih dari satu tapi, kan, aku bilang aku nggak butuh uangmu, Lan! Aku mau minta uang kamu kalau memang aku butuh, kalau untuk kebutuhanku sendiri aku bisa kok memenuhinya!”


“Kalau memang kamu bisa memenuhi semua kemauanmu sendiri, terus, buat apa ada aku suamimu, Win! Aku harus memenuhi kebutuhan kamu! Kalau kamu butuh apa-apa nggak minta sama aku, seolah-olah aku ini nggak ada gunanya nggak ada artinya buat kamu!”


“Ya ... bukan kayak gitu, sih, tapi ....”


“Tapi apa?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2