Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
91. Rahasia Masa Depan


__ADS_3

Setelah membaca pesan itu, Winsi tidak membalas lagi karena enggan mengomentari tulisan yang terasa menggelikan. Dia berpikir apa yang akan dilakukannya jika mereka bertemu saat ini.


Erlan yang ada di seberang sana tidak tahu apa yang terjadi di rumah, pria itu sedang sibuk menjalankan ujiannya yang bisa memakan waktu selama berhari-hari. Winsi memang menghubunginya tanpa berniat mengganggu ujian yang tengah berlangsung dan ingin sekali mengatakan sejujurnya alasan mengapa dia memberi pesan terlebih dahulu.


Ini hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya bahkan dia tidak pernah membalas pesan erlen kecuali sedikit dan bila terpaksa.


Gadis itu tidak akan mengatakan tentang kematian Kakek karena permintaan Arkan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Erlan jika mengetahuinya setelah semua berlalu atau saat dia kembali ke negerinya sendiri setelah selesai melaksanakan ujian.


Winsi kembali menitikkan air mata saat dia memikirkan hal itu. Rasanya sedih sekali memikirkan kehilangan sekaligus kekecewaan. Lupa sudah dia dengan ucapan Erlan tentang Waila yang tadi sempat menyinggung hatinya. Bagaimana mungkin Winsi dan Waila akan bersikap sama sementara mereka merupakan kepribadian yang berbeda.


Erlan berkata demikian sebenarnya hanya karena memancing reaksi dan komentarnya apabila dia mengatakan tentang wanita lain. Akan tetapi yang diharapkan Erlan jauh dari kenyataan karena ternyata, Winsi tidak meladeninya bahkan, tidak menggunakan perasaan hingga terpengaruh untuk cemburu atau marah, saat Erlan membandingkan dirinya dengan Waila.


Akhirnya prosesi pemakaman pun akan segera dimulai. Semula Winsi dan Runa juga ingin ikut serta mengantarkan jenazah, untuk terakhir kalinya ke pemakaman yang terletak cukup jauh dari pemukiman tempat tinggal mereka.  Akan tetapi Arkan melarang sebab, dia melihat Runa masih dalam keadaan lemah.


“Kalian sebaiknya tinggal saja di rumah,” kata Arkan dengan tenang sambil berjalan mengikuti rombongan yang sudah mengangkat peti jenazah.


“Tapi, Ayah ....”


“Win... Jaga ibumu saja di rumah, lihat keadaannya masih lemah seperti itu. Aku tidak akan membiarkan kalian ikut, sudah cukup mengantarkan Kakek sampai di sini saja aku sudah bersyukur.”


“Ya, ya, baiklah!” Sahut Winsi sambil cemberut selalu menuntun ibunya agar segera beristirahat di kamar. Runa adalah salah seorang yang sudah bekerja keras sampai akhirnya Badri penutup mata untuk selamanya. Mengantarkan jenazah itu sampai di depan pintu rasanya cukup, mengingat kondisinya yang masih belum pulih benar.


Sementara keadaan rumah mulai sepi beberapa kerabat pun sebagian besar ikut mengantarkan jenazah dan sebagian lagi pulang ke rumahnya masing-masing.


 

__ADS_1


*****


 


Sepekan sudah waktu terlewat begitu saja dari saat pemakaman Badri dilakukan. Suasana duka dan berkabung di rumah besar itu masih terasa begitu kental karena masih banyaknya kaum kerabat jauh yang datang silih berganti, menyambangi hanyalah Arkan dan keluarganya meskipun sekedar mengucapkan bela sungkawa.


Sementara itu di halaman rumah sudah tidak terpasang lagi tenda besar, untuk menyambut para tamu yang datang. Walaupun begitu, masih ada beberapa rangkaian bunga ucapan turut berduka cita dari berbagai instansi, perusahaan dan juga rekan-rekan bisnis Badri yang masih memenuhi halaman.


Sementara itu Winsi sudah selesai bersiap-siap untuk pergi karena dia tidak bisa lagi menunda keberangkatannya hari ini. Kegiatan kuliahnya, akan segera dimulai, sedangkan dia harus melakukan interview dan juga persiapan lainnya.


Tentu saja dengan berat hati dia harus meninggalkan rumah besar serta ibunya walaupun, Runa sekarang sudah baik-baik saja. Dia sudah mendapatkan istirahat yang cukup setelah seminggu dan, berusaha keras menjadi nyonya rumah yang baik.


Winsi melihat kenyataan ini bahwa ibunya sekarang sudah jauh lebih bahagia. Akan tetapi, dia tetap saja khawatir, disebabkan keadaan ibunya yang sedang hamil itu keadaan tubuhnya sudah tidak sekuat dulu lagi.


Dia mulai banyak membaca tentang kehamilan saat ini dan dari banyaknya artikel yang dibaca, dia mengerti bila usia ibunya saat ini termasuk kehamilan yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, Runa harus berhati-hati. Butuh banyak dukungan dari orang-orang sekitarnya agar dia tetap semangat dan juga baik-baik sampai akhirnya nanti melahirkan.


Bukannya dia tidak sayang dengan adiknya yang akan lahir nanti atau tidak sayang dengan ibunya tapi, keinginannya untuk mewujudkan sebuah mimpi dan juga tantangan dari Badri lebih dominan dalam hati. Lalu, siapa yang menyangka bila kakek tua itu justru pergi, sebelum dia sempat menunjukkan apa yang sudah dia usahakan ataupun membalas kebaikannya.


Bener, kan, bawa ajal itu menjelang tanpa seorang pun tahu kapan, di mana dan bagaimana dia datang? Ajal adalah hak mutlak Allah sebagai pencipta, yang menjadi rahasia terbesar selain masa depan seseorang.


“Maafkan Wiwin, Bu ... Ayah ... Tidak bisa lama lagi di sini nggak apa ya kalau Wiwin pergi?”


“Ya pergi saja, kamu sudah bilang sama Navadi kalau kamu akan pulang hari ini kan?”


“Sudah, Yah.”

__ADS_1


“Jangan sungkan pada Mas Adi, anggap dia penggantiku di sana dia pasti akan mengurusmu dengan baik, dan hati-hati di jalan,” hanya itu yang bisa Arkan katakan saat Winsi berpamitan, kedua orang itu berpelukan sejenak dan seperti biasanya Arkan menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut.


“Baik, Ayah. Untuk sementara aku akan tetap tinggal di sana sebelum aku membangun rumahku sendiri.”


“Jangan dulu berpikir soal membangun rumah, lebih baik kau selesaikan dulu kuliahmu dengan baik,” kata Arkan menasihati anaknya.


Winsi mengangguk, walaupun sebenarnya dia selalu memikirkan soal rumah karena tujuannya pindah adalah ingin segera memiliki tempat tinggal agar bisa melepaskan diri dari semuanya dan hidup mandiri tanpa menyusahkan orang lain sampai akhir hayatnya nanti


Sementara Runa masih menitikkan air mata dia seperti tidak rela, bila anaknya pergi sekarang karena dia masih ingin menghabiskan waktu dengannya lebih lama.


Begitu sampai di halaman mobil sudah disiapkan oleh Hasnu, dan sudah bersiap untuk menjadi sopir Winsi kali ini.


Winsi segera memasuki mobil dengan ekspresi wajah datar, bahkan bahasa tubuhnya memperlihatkan rasa enggan. Bayangan Runa yang masih menitikkan air mata belum bisa lepas dari pikirannya.


Bersamaan dengan Winsi masuk ke mobil sebuah taksi berhenti tepat di depan mobil  yang dikemudikan oleh Hasnu dan akan segera berjalan meninggalkan halaman untuk mengantarkan Winsi ke bandara pagi itu.


Tak tak lama setelah taksi itu berhenti pintu bagian belakang pun terbuka dan keluarlah Erlan dengan membawa tas ranselnya ke luar dari sana. Pria itu melihat ke dalam melalui kaca jendela mobil, untuk melihat siapa yang baru saja dilihatnya masuk saat taksi yang dikendarainya perlahan-lahan berhenti.


Dia tahu mobil itu adalah kendaraan yang biasa di pakai anggota keluarga, untuk berbagai keperluan. Walaupun mobil sering berganti, tapi tidak dengan plat nomor khususnya yang biasa di gunakan oleh semua mobil milik mereka.


Ketika melihat yang ada di dalam mobil itu adalah Winsi, Erlan mengangkat tangan untuk mengetuk kaca mobil agar gadis itu keluar dan menemuinya, tapi di saat yang sama, justru yang terjadi adalah ....


“Jalan, Pak!” kata Winsi memberi perintah, sebelum Erlan melakukan hal lainnya.


“Baik, Nona.”

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2