Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
84. Ya Lumayan


__ADS_3

 Ya Lumayan


Setelah mengaktifkan ponsel, Winsi memasukkan kembali telepon genggam itu ke dalam tasnya.


Nafadi heran mengapa anak itu tidak bersikap seperti anak remaja yang biasanya tidak bisa lepas dari telepon genggam, bahkan dia harus diingatkan oleh ayah dan ibunya, untuk mengaktifkan agar mereka bisa dengan mudah melakukan komunikasi. Pria itu berpikir kemungkinan sejak Winsi datang ke rumahnya pun anak itu tidak memberi kabar kepada kedua orang tuanya.


Nafadi menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Kalau punya barang itu dimanfaatkan dengan baik jangan egois hanya karena menghindari seseorang kamu mengabaikan orang lainnya.


“Baik, Mas!” Winsi hanya mengganggu walaupun sebenarnya dia sangat enggan berhubungan dengan benda pipih itu. Baginya segala sesuatu yang ada di dalam ponsel sangat menggoda hingga apabila terus menikmati apa yang ada di dalamnya maka, dia akan mengabaikan pekerjaan atau aktivitas lainnya.


Winsi kembali mengikuti langkah Nafadi , mereka masuk ke dalam sebuah kantor Desa di Kelurahan Ngupasan, untuk menanyakan beberapa hal tentang keadaan sebidang tanah milik Runa yang telah terabaikan lebih dari 20 tahun yang lalu. Tanah itu terletak di Kampung Kauman, sebuah kampung asri yang berada di sebelah selatan Malioboro dan di sebelah utara Keraton Yogyakarta, berbatasan dengan jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan.


Tak lupa Winsi menunjukkan dokumen pemberian Badri yang kini dia miliki. Aparat desa yang memeriksa isi dokumen itu seketika takjub, bagaimana mungkin dokumen masih ada orang yang memiliki dokumen begitu lengkap walaupun, tanah itu kini sudah menjadi semak belukar, yang tidak terurus bahkan orang-orang di sekitarnya pun tidak mengetahui siapa pemiliknya.


Aparat itu menunjukkannya kepada beberapa rekan yang lain termasuk kepala desa dan, mereka pun akhirnya mengerti bahwa yang memiliki dokumen itu bukanlah orang sembarangan karena dalam dokumen itu disertakan data penyebab kebakaran yang sudah dilupakan oleh banyak orang. Berita tentang kejadian kebakaran yang diakibatkan oleh korsleting listrik, berapa korban serta berapa jumlah kerugian pun ada.


Tidak ada yang bisa melakukan penyelidikan sebuah masalah selama puluhan tahun kecuali, orang-orang yang memiliki pengaruh dan kemampuan.


Pada intinya dokumen itu menjelaskan bahwa tanah yang terbengkalai adalah, benar-benar milik orang yang membawa dokumen. Di sana tertulis buktinya dengan jelas, termasuk silsilah dari pemilik tanah sehingga Winsi bisa mengklaim tanah itu dengan mudah. Bahkan yakin tidak akan ada sebuah sengketa untuk mendapatkannya.


Berbekal dokumen itulah kemudian Winsi bisa mendapatkan haknya kembali. Dia bisa mengurus sertifikat tanah itu lagi dengan cara pembaruan ulang karena sertifikat dan, semua surat penting tentang tanah itu sebelumnya hangus terbakar.


Setelah mendapat informasi yang diinginkan, kedua orang itu pergi lokasi tanah yang dicari, dengan diantar oleh salah seorang aparat desa setempat, mengendarai mobil Nafadi.


“Jadi, ini tanahnya, Pak?” Tanya Winsi ketika sampai di lokasi. Mereka turun dari mobil secara bersamaan.


“Ya!”  sahut aparat itu, lalu, dia memberi penjelasan bahwa keadaan kampung dan sekitarnya sudah banyak berubah, tidak seperti dulu. Dia memberi keterangan seperti itu karena tahu jika Winsi bukanlah seseorang yang lahir di desa itu.


“Masih lumayan, kan, tanahnya?” kata aparat itu lagi.


“Ya, lumayan.” Nafadi dan Winsi berkata secara bersamaan.


Sekarang keadaan kampung sudah begitu ramai, karena maju dan jalan-jalan sudah bagus, penduduknya pun padat. Semua sudah jauh lebih baik, hanya tanah itu yang dibiarkan terbuka begitu saja.


Winsy menatap tanah yang ada di hadapannya dengan penuh syukur karena di atas tanah itu, hanya terdapat rumput dan belukar, dia tidak harus bersengketa dengan orang lain, yang menempati tanahnya, secara diam-diam, seperti yang kebanyakan terjadi pada tanah kosong di berbagai tempat.


“Kamu yakin mau mendirikan usahamu di sini?” tanya Nafadi, setelah aparat desa pamit dan pergi.

__ADS_1


 Winsi pun mengangguk.


“Kira-kira usaha apa yang cocok di sini, Mas?”


Mendengar pertanyaan itu Nafadi tersenyum lalu, dia kembali bertanya, “Memangnya kamu mau usaha apa, usaha itu lebih bagus kalau sesuai dengan fashion kamu, pasti akan cocok, di manapun itu!”


“Mungkin usaha kuliner makanan, yang dibutuhkan banyak orang seperti warung nasi misalnya.”


“Hmm ... Itu bagus juga kamu pernah pengalaman sebelumnya, bukan?”


“Ya.”


“Kalaupun kamu tidak mendirikan usaha di sini juga tidak masalah, kamu bisa bangun rumah ... minta saja Ayahmu untuk membangunkan rumah kalau kamu memang menyukai tempat ini.”


“Tidak, aku tidak akan menggantungkan hidupku, Ayah sudah sangat baik padaku selama ini.”


“Apa salahnya? toh harta dan uangnya tidak akan habis kalau hanya membangunkanmu sepetak rumah saja?”


“Ha iya mas Adi benar.”


“Kalau tidak minta saja pada suamimu nanti, beres, kan?”


Saat Ningsih bicara, ingatannya kembali pada masa lalunya yang buruk seperti berputar di otaknya. Dia sudah dijamah oleh seorang laki-laki hingga dirinya tidak suci. Apalagi pernikahan antara ibu dan bapaknya pun buruk sehingga dia takut apabila kelak dia menikah, akan mengalami apa yang dialami oleh ibunya.


“Kenapa, bukankah menikah itu sunnah?”


“Ya, aku tidak mau saja, tidak ada laki-laki yang mau dengan perempuan seperti aku, Mas!”


“Memangnya kamu kenapa?”


Winsi diam dia tidak mungkin menceritakan masa lalu dan menjadi traumanya, untuk menikah kepada Nafadi orang yang baru saja dikenalnya.


Memang keluarga Arkan sangat mempercayai Nafadi, bahkan menganggapnya seperti saudara, tetapi bagi Winsi, pria itu tetap saja orang lain yang tidak perlu mengetahui tentang kehidupannya.


“Ya ... Memang ada seorang yang punya masa lalu kurang beruntung terus jadi trauma dan, biasanya tidak mau melakukan ini dan itu ... tetapi, alasan seperti itu sebenarnya tidak baik, itu bisa menghalangi orang menjalankan ibadah yang lebih bermanfaat bagi kehidupannya.”


Winsi menatap Nafadi sambil mengerutkan alisnya, sudah beberapa kali pria itu berbicara seolah-olah mengetahui tentang masa lalunya. Oleh karena itu, Winsi akan segera menghubungi Arkan untuk memastikan apakah Arkan mengatakan semua tentang kehidupannya di masa lalu. Dia tidak suka kalau ayahnya yang dia percaya, mengatakan hal-hal buruk yang dialaminya kepada orang lain.

__ADS_1


“Ayo! Mas kita pulang saja, sekarang sudah tambah panas nih, mending kita nyari warung es atau makan siang!”


“oke!”


 Kedua orang itu segera menaiki mobil dan Nafadi melajukannya ke arah kota mencari sebuah restoran yang bisa mereka nikmati hidangannya bersama. Pria itu menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang hingga kemudian, dia menghentikan mobilnya tepat di halaman sebuah restoran sederhana namun cukup bersih dan bagus.


“Sepertinya makanan di sini enak.” kata Winsi sambil melepas sabuk pengamannya kemudian turun. Disusul oleh Nafadi.


Nafadi mengangguk sambil berkata, “Memang, ini salah satu restoran yang menyediakan makanan khas Jogjakarta dengan harga yang terjangkau tapi enak.”


“Mas Adi sering makan di sini?”


“Jarang, beberapa kali  saja sama teman-teman, apalagi jauh dari rumah ... dari kantor juga.”


“Oh.”


Saat berbincang-bincang, mereka sudah duduk di kursi yang kosong di antara beberapa kursi lain yang sudah terisi oleh para pelanggan restoran. Mereka kemudian memesan makanan sesuai selera dan keinginan lalu, tetap mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.


Setelah pesanan mereka datang dan pelayan menghidangkan makanannya, mereka mengucapkan terima kasih lalu, menikmatinya. Winsi mengomentari beberapa makanan dan bisa dia jadikan rekomendasi untuk restoran usaha selanjutnya.


Sementara itu di meja sebelah, di mana mereka sedang menikmati makanan, ada seseorang yang dengan diam-diam mencuri pandang pada Winsi. Sesekali dia melihat wajah gadis itu lekat, kemudian melihat lagi layar ponselnya berkali-kali.


“Kalau kamu memang ingin punya bisnis restoran kenapa kamu tidak meneruskan bisnis Ayahmu?” Tanya Nafadi sambil meminum air dari gelasnya.


Winsi mendongak melihat Nafadi sekilas lalu, menelan makanan yang ada di mulutnya dan berkata, “Aku cuma mau memanfaatkan tanah ibu, itu saja.”


“Jadi, tidak harus dijadikan restoran kan?”


Belum sempat Winsi menjawab pertanyaan Nafadi, ponsel di tasnya berbunyi.


Inilah salah satu hal yang tidak dia sukai ketika mengaktifkan telepon genggam karena benda pipih itu, selalu saja berbunyi tidak mengenal waktu, suasana dan tempat.


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2