Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
113. Bukan Menantu


__ADS_3

Bukan Menantu, Tapi Hanya Anak


Setelah tiba di depan lobi kantor, mereka turun dari mobil secara bersamaan dari pintu masing-masing, lalu berjalan beriringan, Winsi tidak bersikap manja lagi melainkan bersikap sopan dan berjalan dengan tenang di samping ayahnya. Mendapatkan tatapan aneh dari beberapa karyawan yang ada di sekitar ruangan itu, membuatnya sedikit gugup tetapi ia tetap bersikap seolah sudah biasa.


Mungkin para karyawan itu merasa aneh karena selama ini memang Arkan tidak pernah membawa seorang wanita pun ke sana. Sementara Winsi yang menjadi pusat perhatian itu mengalihkan kegugupannya, dengan mengedarkan pandangan matanya mengitari area sekeliling kantor yang tidak begitu luas.


Di kantor itulah semua administrasi dan pembukuan keuangan dari semua usaha Arkan di kelola. Dari kantor itu pula Arkan memantau setiap perkembangan dari proyek yang tengah dijalaninya. Ada beberapa restoran, pembangunan perumahan dan usaha konstruksi lainnya, yang dia kelola dari ruangan pribadinya. Para staf dan karyawan juga tidak banyak, mereka hanya beberapa orang yang kompeten mengelola pembukuan keuangan dan semua jenis urusan yang bersifat administratif saja.


Arkan menghentikan langkahnya di salah satu pintu di lokasi yang sama dengan para pegawai, kemudian dia membuka kuncinya dan mengajak Winsi masuk, sambil merengkuh bahunya sedangkan, pintu ruangan ia biarkan terbuka ketika mereka sudah duduk di dalamnya.


“Apa ini juga kantor Kakek dulu, Ayah?”


“Ya. Di sini dulu kantor kakek dan mungkin nanti di sini pulas jadi kantor Erlan,”


Winsi memaksa ikut karena masih ada waktu sekitar satu jam lagi jadwal penerbangan pesawatnya tiba. Ia ingin melihat seperti apa kantor ayahnya selain itu dia juga memang masih ingin tinggal sebentar lagi di sana.


“Apa kamu mau bekerja di sini juga atau menggantikanku sekarang? Kalau kamu mau maka Ayah dengan senang hati istirahat di rumah dengan ibu dan adikmu ... Ayah sudah tua, sudah sepantasnya istirahat di rumah, dan kau saja yang bekerja gimana?”


“Kalau aku bekerja di sini lalu bagaimana dengan Erlan, apa dia mau jadi pengangguran, sepertinya itu bagus kalau dia menjadi bawahanku, Ayah, benarkan?” Winsi berkata sambil tergelak begitu juga dengan Arkan.


Baru saja mereka selesai tertawa ada seorang pegawai wanita yang berpakaian kurang sopan masuk, setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Wanita itu mengantarkan beberapa berkas kepada Arkan. Dia melirik sekilas pada Winsi kemudian berbicara tentang beberapa hal serius kepada Ayah angkat gadis itu, sambil membuka-buka beberapa dokumen di atas meja.


“Coba ambil sampel dan berkas perbandingannya bulan lalu bahwa semuanya ke sini,” Arkan memberikan perintah dan gadis itu pun segera melenggok keluar.


Sementara Winsi melihatnya sambil mencibir dia tidak suka wanita itu walaupun, Arkan menanggapinya tanpa ekspresi bahkan, tidak melihat wajahnya sama sekali, tapi, dia tetap tidak suka bila wanita seperti itu dekat-dekat dengan ayahnya.

__ADS_1


“Siapa dia Ayah, apa Ayah yang sengaja mempekerjakan wanita seperti itu? Kalau saja Ibu tahu pasti akan cemburu!”


“Bukan aku, tapi dia sudah bekerja cukup lama, bahkan sejak Kakek masih hidup. Pekerjaannya rapi dan bagus, aku tidak mungkin mengusirnya tanpa sebab, kalau soal pakaian, itu adalah haknya, apalagi dia tidak seiman dengan kita.”


“Oh,” kata Winsi tanda ia mengerti dan ia tidak perlu mengkhawatirkan ayahnya, apabila laki-laki itu tertarik kepadanya karena mereka memang memiliki ideologi yang berbeda.


Mereka hanya saling menghormati dan menghargai karena sama-sama membutuhkan dalam satu perusahaan.


Beberapa karyawan memang tidak mengetahui tentang pernikahan Arkan waktu itu apalagi wanita yang dia nikahi sudah memiliki anak tiri sebesar Winsi. Dikarenakan, waktu pernikahan Arkan dengan Runa diadakan dengan sederhana dan tidak banyak menyebar undangan termasuk kepada para pegawainya pun tidak.


Arkan tertawa mendengar ocehan anaknya, dia pun mendekati dan duduk di samping Winsi lalu, menunjukkan berkas yang dibawa oleh wanita tadi. Dia menjelaskan apa isi dari dokumen, seolah-olah Winsi akan mengerti.


Gadis itu hanya mendengarkan dengan saksama, kemudian memperhatikan semuanya sambil memeras otak karena dia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, dia baru saja berada di tingkat dua dan dia akan naik ke tingkat tiga tahun depan. Namun, tidak ada salahnya mempelajari semua itu, bukankah ilmu bisa di dapat di mana saja dan kapan saja?


Sementara Arkan hanya mencoba dan memberi penjelasan saja selain sikapnya itu hanyalah untuk meredam kecemburuan anaknya. Dia tahu ketidaksukaan Winsi ketika melihat gadis dewasa yang berpakaian tidak rapi ada di dekat ayahnya.


Akan tetapi, dia tidak bisa apa-apa dan dia hanya duduk dengan sopan di depan Arkan dan juga Winsi yang sedang bercakap-cakap sangat akrab, tapi tetap dalam batas kewajaran antara ayah dan anak.


“Ayah memang luar biasa, mungkin aku kalau manggang nanti akan mengajukan perusahaan Ayah sebagai tempatku belajar, apakah boleh Ayah?”


“Tentu saja. Kapan?”


“Aku nggak tahu, kapan?”


“Ya, sudah. Berangkat sana, dari pada terlambat.” Arkan berkata sambil berdiri diikuti dengan Winsi yang menyelempangkan tasnya kembali, dia masih tersenyum melihat dokumen-dokumen itu tanpa mengabaikan ayahnya yang masih berbicara.

__ADS_1


“Ingat pesan Ayah sering-sering pulang biar Ibumu senang oke?”


“Aku nggak bisa janji kalau tahun depan, gimana kalau aku tambah sibuk, Ayah?”


“Kau ini!” Arkan berkata sambil menepuk lembut kepala Winsi seperti biasa, kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak mereka pertama kali berjumpa.


“Apa Ayah kangen mau nepuk kepalaku lagi, makanya Ayah pingin aku cepet-cepet pulang? Kalau nggak Ayah aja yang datang ke Jogjakarta, oke?” Winsi berkata sambil tertawa kecil. Dia memeluk Arkan sebentar, lalu mencium punggung tangannya, setelah itu berpamitan dan mengucapkan salam.


“Hati-hati, ya?” kata Arkan setelah Winsi sampai di pintu kantor yang dibiarkan tetap terbuka.


“Ya!” sahut Winsi sambil melangkah dan menghilang di balik dinding pembatas.


Arkan merasa lega karena sejak dari mobil sampai berada di kantornya Winsi tidak juga membicarakan tentang perjodohan dirinya yang diusulkan oleh ibunya.


Laki-laki itu menyimpulkan, yang artinya Runa belum menyampaikan niat untuk menjodohkan anaknya. Dia merasa lega, sebab menurutnya belum waktunya menjodohkan Winsi dengan siapa pun juga termasuk Erlan. Dia lebih senang kalau gadis itu mengambil inisiatifnya sendiri atau mengembangkan usaha seperti yang dicita-citakannya ketika Badri masih ada.


Sementara Winsi sudah duduk di mobil yang akan mengantarkannya ke bandara. Di sepanjang perjalanan itu dia terus berpikir tentang niat ibunya yang akan menjodohkan dirinya dengan Erlan.


Dia menganggap bahwa, Arkan tidak mengetahui tentang rencana ibunya itu dan, dia berharap Runa tidak mengatakan apa pun pada ayahnya. Sungguh dia malu apabila harus menerima perjodohan itu, dia tidak pernah sedikit pun berpikir untuk menjadi menantu Arkan karena dia sudah sangat nyaman menjadi seorang anak seperti biasanya.


Seorang menantu tidak mungkin bermanja-manja dengan mertua lelakinya, seorang menantu pasti malu bila harus bergelayut manja di lengan Ayah mertuanya.


Ayah mertuanya pun tidak mungkin akan sering kali menepuk-nepuk kepala menantunya atau merengkuh bahu istri anak lelakinya. Tidak mungkin.


Dia sebenarnya tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Runa, tanpa terasa air mata menetes sebulir demi sebulir di pipinya. Dia sudah nyaman menjadikan Erlan sebagai saudara dan sebagai kakak, tempat untuk berterus terang dan jujur tentang segala hal, sekaligus orang yang bisa membantunya.

__ADS_1


Sulit rasanya mencintai Erlan untuk menjadi seorang suami atau kekasih, bahkan nanti menjadi ayah dari anak-anaknya. Sulit sekali. Dia ingin semuanya berjalan apa adanya seperti sekarang.


Bersambung


__ADS_2