
Dia Bukan Yang Terbaik
Dalam kendaraan yang masih berjalan, Winsi terus saja melihat ke luar jendela dan, mengabaikan Erlan yang sebentar-sebentar menoleh padanya.
“Hanifa suka makan apa?” tanya gadis itu tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya membuat Erlan memperlambat laju mobil dengan refleks.
“Apa?” tanya pria itu.
“Istri pertamamu suka apa?” tanya Winsi ketus.
“Nggak tahu, dia belum pernah bilang suka apa, gitu?”
Sebenarnya ada rasa tidak enak saat Winsi menyebutkan kata istri pertamamu padanya. Namun, dia tidak berdaya.
“Memang kamu nggak perhatian dia sukanya makan apa?”
“Nggak! Buat apa? Mikirin obatnya aja udah pusing aku!”
“Sudahlah, Lan ..., nggak usah ngeluh, ini amanah yang kamu ambil sendiri dengan sengaja, kan?”
“Ya, aku ngambil keputusan itu, kan, karena Ayah juga!”
“Nggak usah nyalahin orang, nggak usah nyalahin keadaan. Jalani aja apa yang sudah kamu putuskan!”
Erlan diam dia tidak bisa menyalahkan istrinya karena semua yang dikatakannya itu benar. Dia sudah mengambil keputusan dan amanah dalam keadaan sadar tanpa paksaan, maka dia tidak seharusnya menyalahkan keadaan, yang terkadang berada di luar kendali kita sebagai manusia.
Dalam hati Winsi ingin memberi sesuatu yang disukai Hanifa hanya untuk membujuk, bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Dia akan menggunakan cara memberikan apa yang di senangi wanita itu agar mau menurut atau bisa dikendalikan. Rasanya tidak rela jika membiarkan suaminya dalam kesulitan, mengurus seorang yang berkebutuhan khusus seperti Hanifa, walaupun wanita itu adalah istri dari suaminya sendiri.
Namun, berhubung Erlan tidak mengetahui apa pun soal Hanifa selain mengurusnya, akhirnya dia membatalkan niat mampir ke mall membeli sesuatu yang kira-kira berguna sebagai alat untuk membujuk Hanifa.
__ADS_1
Winsi tidak memiliki kemampuan dasar atau pengetahuan tentang cara merawat orang berkelainan jiwa, tapi, karena melihat gelagat dan cara Hanifa bersikap pada dirinya dan juga Erlan, gadis itu berpikir jika tabiatnya seperti anak kecil. Sementara anak kecil suka sekali di beri sesuatu sebagai imbalan agar mereka mau menurut. Itu adalah pemikiran sederhana seorang Winsi yang masih minim pengalamannya.
Sesampainya di rumah, Winsi keluar dari mobil Erlan tanpa menunggu sang suami membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu langsung menuju ke kamar pribadinya dan membersihkan diri di sana.
Runa yang melihat tingkah laku anak-anaknya itu, dengan penuh tanya. Sebenarnya dia penasaran sekali dengan apa yang sebenarnya tengah mereka sembunyikan. Namun, karena dia tidak ingin disalahkan juga kalau ikut campur, maka, dia memilih untuk diam saja dan menunggu salah satu di antara mereka mau mengatakan secara jujur kepada ibunya.
Runa baru saja hendak ke kamar Winsi karena gadis itu tidak keluar dari kamarnya, sejak tadi hingga melewatkan makan malam. Wanita itu tidak tahu kalau sepasang suami istri itu sudah makan di luar tadi. Bahkan, sekarang sudah sangat larut kalau hanya sekedar, mau makan.
Namun, langkah Runa terhenti karena Erlan menuju arah yang sama yaitu ke kamar Winsi hingga dia membatalkan niatnya untuk mengajak anak perempuannya makan malam bersama.
Keadaan di mana kedua anak itu tidur terpisah semakin membuat Runa heran. Apalagi sekarang, saat dia melihat Erlan lama menunggu di depan kamar istrinya karena pintunya terkunci.
“Sebenarnya ada masalah apa dengan kalian berdua, coba sekarang ngomong sama Ibuk! Kamu kira Ibu nggak memperhatikan kalian seperti ini?”
Runa bicara dengan nada keras agar Winsi yang ada di dalam kamar bisa mendengar suaranya.
“Win, keluar, kalau nggak, aku ngomong sama Ibu, sekarang!” Akhirnya Erlan mengeluarkan ancamannya.
Dia sebenarnya sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya pada semua. Dia marah poada keadaan, pada Winsi yang susah sekali dikendalikan dan juga marah yang terbesar adalah pada dirinya sendiri.
Dia kecewa pada diri karena ternyata dalam masalah ini dia lemah sekali, berulang kali dia memikirkan apa yang dilakukan ayahnya jika mengalami hal seperti ini. Itu artinya dia gagal menjadi yang baik menurut anggapan orang. Ya, dia bukan yang terbaik bagi wanita yang dicintainya.
“Jangan!” kata Winsi sambil membuka pintu, dia sudah dalam keadaan bersiap untuk tidur dengan memakai piyama dan, tanpa kerudung karena rambutnya basah.
“Kenapa?” Selain berkata sambil melangkah masuk, ke kamar itu begitu juga Runa, membuat Winsi tidak bisa mengelak dari berkata jujur pada ibunya, tentang masalah yang tengah mereka hadapi berdua.
“Sekarang bilang sama ibu kalau memang kalian punya masalah ... bukan ibu mau ikut campur tapi, Ibu nggak enak melihat kalian seperti itu, seperti musuh! Kalian pengantin baru tapi tidur terpisah nggak pernah mau ngomong di rumah! Jadi, sebenarnya ada apa?”
Runa bicara setelah dia duduk di salah satu sofa yang ada di kamar itu, sedangkan Erlan pun duduk di sebelahnya, sambil bersandar. Sementara Winsi duduk di sisi tempat tidur di hadapan ibu dan suaminya seakan dia adalah seorang terdakwa yang sedang di sidang oleh dua hakim di hadapannya.
__ADS_1
“Siapa bilang kami seperti musuh? Tuh, aku pulang berdua sama Erlan satu mobil!” Winsi terlihat tidak suka dengan ikut campur yang dilakukan ibunya karena dia tahu kalau ibunya pun pasti akan terluka.
“Tapi tadi Erlan bilang kalau kamu nggak keluar, dia akan ngomong sesuatu? Berarti memang benar, kan kalian punya masalah?”
“Nggak juga.” Winsi tetap mengelak sedangkan Erlan tetap diam, laki-laki itu menyerahkan sepenuhnya kepada istrinya, apakah Winsi mau jujur atau tidak, Itu terserah saja karena kalaupun Erlan yang bicara, akan lebih disalahkan karena sebenarnya dialah yang memulai segalanya.
“Ya sudah, kalau memang nggak ada masalah, tapi kenapa kalian tidur terpisah? Kalian, kan pengantin baru?” kata Runa lagi.
“Memangnya, kalau pengantin baru itu, mau ngapain, sih? Biasanya juga tidur sendiri-sendiri, apa bedanya?” kata Winsi.
“Itu, nggak bagus, Win! Namanya suami istri harus bersama agar terbangun kedekatan dan kerja sama, karena sekarang kalian ibarat satu tubuh, satu pakaian.”
“Kalau ibarat satu tubuh mana ada tubuh yang menyakiti dirinya sendiri?”
“Nah, kamu ngomong begitu berarti bener kan dugaan itu kalian berdua ini ada masalah?”
“Percaya deh ... Ibu itu sebaiknya nggak usah tahu! Kalau nanti ibu tahu, justru Ibu yang sakit sendiri, aku menutupi masalah ini bukan tanpa alasan Bu, udah deh ... sekarang aku mau tidur,.kalian berdua keluar, deh, aku ngantuk aku capek!” kata Winsi sambil merebahkan diri di tempat tidur kemudian, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
“Apa kamu kamu juga mau seperti Wiwin nggak mau jujur sama ibu, Lan?”
“Maafkan Erlan, Bu ... nggak bisa jujur sekarang, soalnya saya hanya bisa bicara kalau Wiwin mengizinkan, masalah ini berhubungan langsung sama dia.”
Runa meninggalkan kamar dengan kesal, dia merasa tidak dianggap oleh anaknya sendiri. Baginya, sepahit apa pun masalahnya akan lebih baik jujur sekarang, dari pada menyesalinya kemudian.
Terkadang manusia merasa mampu mengatasi segalanya seorang diri hingga tidak membutuhkan orang lain dan meminta saran, seolah menjadi orang yang paling hebat dalam menyelesaikan.
Setelah Runa pergi, Erlan duduk di sisi ranjang dan hanya melihat punggung istrinya yang turun naik karena bernapas sambil menangis di balik selimut.
Bersambung
__ADS_1