
Dokumen Dari Kakek Untuk Winsi
Runa menatap Winisi dengan nanar, lalu dia berkata, “Win, memang Erlan nggak nunggu adiknya lahir, karena harus mengurus Saina, apa salahnya kamu yang nunggu? Ini permintaan Ibu, Nak?”
“Mengurus tante Saina? Apa nggak salah ...? Kan, tante udah besar nggak usah diurusin lagi sama Erlan! Dia masih anak-anak, Bu?”
“Kamu harus tahu,” Badri menyela ucapan anak itu, “Erlan yang kamu bilang masih anak-anak itu dibanggakan sama Ayahmu!”
Winsi menatap Ibunya dan kakek secara bergantian, dia tidak tahu mana yang harus dituruti di antara dua orang itu, tapi, dia punya keyakinannya sendiri bahwa dia hanya perlu mengikuti kata hati. Sudah cukup rasanya selama ini selalu menuruti orang-orang di sekitarnya, bahkan sejak kecil hidup dalam penindasan orang tuanya sendiri. Akan tetapi, berbeda dengan sekarang karena dia kini memiliki kepribadian yang bebas.
“Benarkah Ayah?” Winsi menoleh pada Arkan yang tetap tenang sambil meneruskan makan malam.
Tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu, dia tetap tenang mendengarkan perdebatan yang ada. Dia sudah terbiasa menghadapi berbagai macam konflik dan kecamuk sehingga yang terjadi di hadapannya kali ini adalah hal yang biasa baginya. Apalagi perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, dia sudah sering mengalaminya dengan Erlan sejak dulu.
Mendengar pertanyaan anak angkatnya itu dia meletakkan sendok, menghentikan makan malam, kemudian menoleh dan berkata, “Memangnya apa yang mau kamu dengar? Ayah mempercayainya dengan maksud melatih tapi, Ayah nggak melepaskannya begitu saja ... bulan depan juga Ayah mau ke sana, apa kamu mau ikut?”
Winsi berpikir sejenak mendengar ucapan Arkan sambil mengerutkan alisnya, 'pergi ke Amsterdam ... apakah itu perlu, tapi aku belum pernah pergi ke sana!’ kata Winsi dalam hati.
Akhirnya dia cuma menggelengkan kepala, mengingat di sana akan bertemu dengan Saina maka, dia lebih baik mengatakan tidak.
“Kau tidak perlu bertemu dengan Saina kalau kamu memang nggak mau menemuinya!”
Ucapan Arkan seolah memutus pikiran Winsi ketika dia hendak menolak ajakan ayahnya tapi, bisakah dia pergi ke sana tanpa harus bertemu dengan wanita itu? Sebab dia tidak bisa membayangkan apabila harus berinteraksi dengan Saina, pasti wanita itu akan memberinya ejekan dan hinaan. Apalagi jika harus menyaksikannya memeluk dan mencium ayah atau Erlan. Tidak. Itu sangat menyebalkan.
Tiba-tiba wajah Winsi jadi berbinar jika membayangkan bisa ikut jalan-jalan ke Amsterdam tanpa harus bertemu dengan Saina yang menyebalkan itu.
Akhirnya Winsi mengangguk pada Arkan sambil melangkah memasuki kamarnya. Pada saat yang bersamaan, seorang perawat yang biasa merawat Badri mendekati majikannya itu, sambil membungkukkan badan dengan hormat.
Laki-laki itu berkata, “Maaf Tuan, saya mohon izin, dari malam ini sampai dua hari ke depan saya tidak akan bisa merawat tuan karena Ibu saya sakit, izin untuk meminta cuti saya bulan ini.”
Arkan hanya bisa mengangguk menyetujui walaupun, dia sangat membutuhkan perawat itu malam ini karena dari hari ke hari kesehatan ayahnya juga semakin menurun. Akan tetapi, dia tidak mungkin mencari perawat pengganti secepatnya untuk malam ini sedangkan, dia juga tidak mungkin melarang perawat itu untuk pergi. Biar bagaimanapun juga dia masih punya sisi kemanusiaan dan bertoleransi.
Setelah perawat itu mendapatkan izinnya maka, dia pun segera pergi dari hadapan Arkan saat itu juga. Sementara Badri menggerakkan kursi rodanya sendiri, menggunakan alat pengendali yang terpasang di pegangan kursi.
“Tenang, Ayah. Ada aku ... aku akan menjaga Ayah malam ini.” Runa berkata dengan tenang membuat ketenangan juga pada Arkan dan juga Badri.
“Apa kamu tidak kerepotan? Mungkin aku hanya akan memintamu mengambilkan aku minum.”
“Tidak apa-apa ayah.”
Di malam hari, adalah satu waktu yang justru tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena saat itulah batuk Badri akan semakin parah, jika dibandingkan siang hari.
Malam itu berjalan seperti malam-malam sebelumnya hanya saja, ada yang berbeda yaitu di mana Runa harus tidur bersama ayah mertuanya yang sedang sakit. Sementara Arkan tidur di sofa kamar untuk menemani istrinya yang terus berjaga saat pria tua itu terbatuk.
__ADS_1
Sementara Winsi yang sudah berada di kamar, tidak tahu apa yang terjadi hingga dia langsung tertidur. Sejak dia menghabiskan makan malam dan melakukan percakapan yang cukup menegangkan, dengan Kakek, dia tidak keluar lagi dari kamarnya kecuali, setelah salat subuh.
Setelah melipat mukena, dia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, saat itulah dia merasa aneh karena melihat kedua orang tuanya tidur bersama kakek. Hal ini tidak biasa karena dia tidak mengetahui apabila malam itu perawat Badri sedang libur.
Dia membangunkan ayah dan ibunya untuk salat subuh karena Arkan dan Runa kesiangan. Kedua pasangan itu sering terbangun di waktu malam sehingga mereka baru bisa tidur ketika subuh hampir menjelang.
“Apa Kakek benci sama aku?” tanya Winsi saat menggantikan kedua orang tuanya untuk menjaga Badri.
“Tidak, kamu anak yang baik.”
“Maaf kalau aku merepotkan atau Kekek tidak suka, makanya aku akan pergi.”
“Oh, jadi karena aku kamu mau pergi? Aku pikir memang karena tekad dan kemauanmu untuk sukses ... bukan karena alasan konyol seperti itu!”
Mendengar ucapan Badri, Winsi mengerutkan alisnya karena dia bicara hal yang berbeda.
“Ya. Tentu saja karena alasan itu tapi, kenapa kakek kemarin mengusirku?”
“Aku hanya mengukur seberapa kuat keinginanmu.”
“Benarkah? Jadi, apa menurut kakek aku sudah cukup kuat?”
“Belum!”
“Orang seperti kamu butuh lebih banyak kekuatan untuk pergi dan sukses. Jadi, apabila suatu saat nanti kamu bertemu orang-orang seperti aku ... kamu tidak akan mudah menangis. Kalau kau berani mengambil tantanganmu maka kau tidak boleh cengeng.”
“Jadi, menurut Kakek aku selama ini cengeng?”
“Ya. Kalahkan dulu rasa takut tersebar dalam hidupmu. Ingat, pemberani itu bukan berarti orang yang tidak punya rasa takut tapi, mereka yang mmapu melawan ketakutannya.”
Kata Badri lagi, “ Bayangkan kalau nanti kamu tinggal seorang diri dan kamu terbiasa tidak menutup pintu kamarmu! Jadi, mulai sekarang belajarlah untuk tidur tanpa merasa takut, bila pintu kamarmu tertutup kau harus belajar dari situ. Ikuti ajakan Ayahmu, belajar di sana jangan terus membenci Saina karena wanita itu sudah mendapatkan hukumannya?”
“Hukuman?”
“Ya.”
Setelah itu Badri pun mengatakan apa yang telah terjadi pada Saina, bisa jadi yang dialaminya itu karena ujian atau dikarenakan, dosa dan perbuatan buruknya.
Waktu itu Winsi memang mendengar bahwa, Saina sedang mengelola bisnis bersama Erlan di Amsterdam dari ibu dan ayahnya. Akan tetapi, mereka berdua belum sempat mengatakan kejadian yang sebenarnya. Akhirnya, kini dia tahu mengapa Saina bisa mendapatkan kesempatan untuk mengelola restoran kakek di sana.
Saat itu Badri yang sedang berbaring di tempat tidur, menunjuk sebuah laci dan meminta agar Winsi membukanya. Gadis itu tanpa ragu-ragu melakukan perintah kakek hingga dia mengeluarkan semua isinya, berupa dokumen yang berjumlah cukup banyak.
Pada saat yang sama Badri berusaha untuk bangkit lalu, duduk dengan perlahan, tentu saja Winsi membantunya dengan sabar, hingga pria itu merasa nyaman, bersandar di kepala tempat tidur. Kemudian laki-laki itu memberikan sebuah dokumen yang ada di tangannya
__ADS_1
Pria tua itu berkata.
“Kalau kamu memang mau pergi ke Jogjakarta, bawa ini.”
“Apa ini kek?”
“Aku tidak tahu apa itu bermanfaat untukmu di sana atau tidak ... tapi, yang jelas ini bisa kamu jadikan sebagai patokan kalau ingin memulai usahamu di sana. Jadilah orang yang lebih kuat dan jangan cengeng. Kamu sudah mengalami banyak cobaan hidup, kalau kamu masih cengeng juga, itu keterlaluan!”
Winsi memperhatikan sebuah dokumen yang disodorkan kepadanya oleh Badri, setelah itu dia meminta Winsi untuk menyimpan kembali dokumen yang lainnya di dalam laci yang sama.
“Bawalah itu ... simpan baik-baik, jangan sampai hilang dan jangan berikan kepada ibumu!”
“Kenapa Ibu tidak boleh tahu?”
Kalau ibumu tahu maka hal ini bisa mengingat kembali masa lalu dan luka lamanya. Jadi kalau kamu memang ingin membuat ibumu bahagia, maka wujudkan mimpimu gunakan dokumen itu dengan sebaik-baiknya.”
“Baik, Kek!”
Winsi menjawab pria itu dengan tenang padahal dia sendiri belum mengetahui apa isi dokumen itu dan mengapa dia dilarang untuk memberitahukan kepada ibunya. Meskipun begitu, gadis itu tersenyum, memantapkan hati untuk meninggalkan tempat itu dan pergi jauh. Merantau, menuntut ilmu sekaligus mengembangkan diri. Dia hanya perlu belajar untuk mengalahkan rasa takut seperti yang dikatakan Badri.
Hari-hari pun berlalu, kedua wanita itu bahu membahu mengurus Badri, selama perawat belum kembali melakukan tugasnya lagi. Kedua wanita itu seperti sedang menemukan keluarga baru, sementara Badri pun merasa lebih baik dirawat oleh mereka karena mereka melakukannya, dengan kesabaran tanpa menginginkan imbalan, bahkan sering membacakan lantunan ayat suci yang membuat jiwanya menjadi lebih tenang.
*****
Winsi duduk sendiri di depan jendela sebuah kamar hotel sambil menatap ke arah luar dengan takjub. Dia baru saja bangun dari tidurnya setelah kelelahan menempuh perjalanan, selama belasan jam dari bandara Soekarno Hatta menuju Amsterdam Schiphol. Pemandangan Kota itu memang indah dengan hamparan perbukitan sejuk, kincir angin serta kanal-kanal bersih, yang menjadi andalan untuk menarik wisatawan.
Saat Winsi ada di hotel Pulltzer Amsterdam, salah satu hotel dengan view yang menarik dan, Arkan yang sudah dengan sengaja menyewa kamar itu. Ayah ingin memanjakan anaknya, itu hal yang wajar di masa liburan, sebelum anak itu pergi untuk kuliah.
Gadis itu tidak tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh ayahnya. Dia pun hanya menggelengkan kepala melihat bukti pembayaran yang harus dibayar Arkan saat menyewa hotel yang mereka sewa. Bahkan untuk membayar satu tiket pesawat saja membutuhkan uang lima juta.
Winsi beranjak dari duduknya saat terdengar ketukan pintu. Dia membuka setelah memakai pakaian lengkap.
“Ayah?” sapa Winsi, saat melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya.
“Kamu sudah bangun, sudah salat subuh?”
“Sudah.”
“Mau ikut ke restoran, Kakek, Sekarang?"
“Tidak, jangan bilang sama Erlan kalau aku ikut.”
“Kenapa?”
__ADS_1
Bersambung