Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
83. Sebidang Tanah


__ADS_3

Sebidang Tanah Yang Berharga


 


“Maaf, apa kita pernah kenal sebelumnya?” tanya Winsi pada orang yang terlihat pada layar ponsel. Dia memandang laki-laki itu dengan acuh tak acuh.


Erlan, pria yang ada di seberang sana tertegun.


“Wiwin, jangan pura-pura, kita sudah saling kenal!” kata Erlan. Dia sudah menduga jika Winsi berada di rumah teman ayahnya, saat dia melihat foto yang diunggah di akun media sosial miliknya sebab, dia yakin ayahnya tidak akan mempercayakan anak gadis itu pada orang lain selain Nafadi. Mereka sudah seperti keluarga dan menjadi sahabat sejak kecil.


Erlan tidak bisa menghubungi dengan berbagai cara, karena sepertinya Winsi sengaja memberi jarak dan batas yang jelas di antara mereka. Oleh karena itu, yang bisa dia lakukan adalah sering-sering melihat unggahan di media sosialnya, karena hanya dari media itulah dia tahu tentang kabar dan aktivitas yang dilakukannya. Dia cukup senang dengan itu, selama akun media sosialnya tidak diblokir dari pertemanan.


Dia tidak heran, dengan sikap Winsi yang seolah-olah membencinya, walaupun, sampai saat ini dia tidak tahu penyebabnya. Akan tetapi, pernah suatu ketika dia menduga jika semua itu dikarenakan, panggilan anak buluk padanya. Seandainya itu benar, maka, dia ingin sekali memastikannya dan meminta maaf. Namun, sayangnya Winsi tidak pernah memberinya kesempatan.


“Hai, kamu ini nggak sopan!” kata Waila saat Winsi memalingkan tubuhnya.


“Waila, silakan lanjutkan obrolan kalian, aku mau ada perlu,” kata Winsi sambil berjalan kembali ke lemari dan mengambil perlengkapan ibadahnya.


"Ada perlu apa? Kamu baru aja datang, kan? masa mau pergi lagi, sih?"


"Ya, terserah aku, lah!"


Waila meliriknya sekilas, sambil cemberut lalu, dia berkata, “Sok suci! Mana ada orang Sholeh tapi jutek sama orang lain? Introspeksi diri sana!”

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Waila pergi meninggalkan Winsi yang sudah memulai ibadah.


Setelah selesai sholat, Winsi berzikir sekaligus termenung memikirkan ucapan Waila sebelumnya. Gadis yang baru dikenalnya itu sudah menilainya miring. Ada rasa tidak suka dinilai demikian oleh seseorang. Akan tetapi, dia segera ingat bahwa kebaikan manusia bukan hanya dilihat dari barang-barang yang diberi tetapi, juga dinilai dari sikapnya kepada orang lain. Sungguh yang lebih mudah menyakitkan hati manusia itu adalah perkataan dan perbuatan.


Oleh karena itu ada seorang imam yang mengatakan apabila kebaikan seseorang tidaklah diukur dari banyaknya dia beribadah sholat dan puasa melainkan dari bagaimana akhlaknya kepada orang-orang yang terdekat dengannya. (Ibnul Qoyim)


Winsi benar-benar melakukan introspeksi diri karena ucapan yang dilontarkan Waila. Ya, terkadang seseorang tidak bisa menduga jika orang biasa, bisa mengeluarkan kata-kata yang mengandung hikmah dan tidak disadari oleh orang-orang di sekitarnya.


Gadis itu menyadari akan sebuah kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini kepada Erlan. Memang bukan kesalahan besar tapi, apabila dosa-dosa kecil dilakukan terus-menerus maka akan menjadi besar.


Akhirnya, Winsi pun memberanikan diri untuk menghubungi Erlan. Dia terlebih dahulu membereskan peralatan salatnya lalu, mengambil ponsel dan menyalakannya kembali.


Dia mulai melihat pesan-pesan Erlan dari awal, yang selalu diabaikannya. Itu adalah pesan yang sudah lebih dari setahun tahun yang lalu dan tidak pernah dia baca. Namun, pesan dalam aplikasi itu masih sampai sekarang, bahkan terus bertambah.


Tiba-tiba dia merasa bersalah. Namun, dia tidak tahu harus memulai menjawab pesan dari mana karena jumlahnya sangat banyak.


Akhirnya, gadis itu menulis, “Wa’alikummussalam. Alhamdulillah. Aku baik-baik saja dan aktivitasku juga biasa saja. Aku akan kuliah di sini. Jadi, tidak usah kuatir karena ada banyak orang yang selalu membantuku. Semoga kamu juga baik-baik saja. Maaf. Selama ini tidak pernah membalas pesanmu, terima kasih atas kebaikanmu selama ini dan sampai jumpa.”


Tidak lama setelah mengirimkan pesan, Winsi kembali mematikan ponsel. Dia tidak memberi kesempatan selanjutnya bagi Erlan untuk menghubungi atau bisa saling berbalas pesan, sebab apa yang ditulis Winsi di sana seolah mengisyaratkan jika pesan itu yang pertama juga yang terakhir darinya.


 


*****

__ADS_1


 


Winsi duduk di samping Nafadi yang tengah fokus mengendarai mobilnya menuju sebuah tempat yang ingin dia datangi. Hari itu mereka pergi mencari lokasi tanah berharga peninggalan kedua orang tua Runa. Berbekal dokumen yang diberikan Badri, tekadnya begitu kuat untuk mendapatkan kembali harta yang telah ditinggalkan selama lebih dari 20 tahun. Meskipun dia masih ragu, apakah tanah itu masih ada atau tidak tapi, dia tetap harus mengusahakannya terlebih dahulu sebelum akhirnya boleh menyerah.


Winsi tahu, jika pria tua yang tengah sakit itu tidak main-main dengan tantangannya, sebab Badri adalah orang yang sangat keras kepala jika soal harta.


“Ayo! Kita turun! Kita cari dulu informasi di sini,” Kata Nafadi sambil membuka pintu mobil, di susul oleh Winsi.


“Ini kantor desa, Mas?”


“Ya. Pihak desa pasti bisa memberi sedikit informasi.”


Mereka baru hendak melangkah masuk ke kantor desa, saat tiba-tiba ponsel Nafadi berbunyi. Pria itu segera mengangkat ponselnya dari saku celana dan melihat pada layar, lalu, menoleh pada Winsi.


“Ayahmu!” katanya seraya menempelkan benda pipih itu ke telinga. “Halo!” katanya lagi.


Beberapa saat Nafadi terdiam mendengar Arkan yang bicara padanya. Setelah beberapa saat dia mengakhiri panggilan, menoleh pada Winsi dan kemudian berkata, “Aktifkan HP-mu. Biar Ibumu mudah kalau ingin menelepon!”


Hati Winsi seketika bergejolak, baru kemarin dia mematikan ponsel setelah selesainya mengirim pesan pada Erlan. Dia tidak berpikir tentang kegelisahan ibunya, dan bertindak egois. Hanya karena menghindari Erlan tapi, justru menyakiti ibunya sendiri. Akhirnya dengan terpaksa dia menyalakan ponsel.


Begitu telepon genggam milik Wisi diaktifkan, seketika terdengar beberapa kali suara yang menandakan masuknya notifikasi pesan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2