
Dia Yang Datang Dan Dia Yang Pergi
“Beberapa hari ini kalau Kakek bangun, diw selalu tanya soal kamu.” Arkan menjelaskan sikap Badri akhir-akhir ini yang begitu menghawatirkan Winsi, serta keberhasilannya menemukan tanah ibunya. Dia bercerita sambil menepuk kepala anak itu lembut. Sepertinya itu kebiasaan yang akan sulit dia hilangkan setiap kali dekat dan berbicara pada anak itu, pasti dia akan menepuk lembut kepalanya.
Sementara itu, Runa yang masih tertegun akhirnya bicara juga.
“Jadi, apa benar kamu bertemu Bapakmu?”
“Ya.” Winsi menjawab sambil melihat ke arah Arkan dan Runa secara bergantian. Dia khawatir apabila jawabannya akan mengganggu keadaan duka yang sedang menyelimuti keluarganya. Tidak seharusnya membicarakan Basri di saat suasana seperti ini karena sangat menyebalkan.
“Sudah, jangan membicarakan orang itu!” kata Arkan.
“Maaf,” sahut Runa pelan.
Tidak berapa lama setelah itu, rombongan dokter dan para perawat keluar dari kamar pasien dan segera mendekati Arkan. Mereka mengatakan beberapa hal tentang penyebab kematian Badri secara medis dan, tak lupa mereka meminta maaf atas kejadian yang harus dialami.
Semua yang dikatakan dokter itu sebenarnya bisa dimaklumi oleh Arkan karena dia sudah menduga jauh-jauh hari sebelumnya, bahwa hal ini akan terjadi, mengingat usia dan juga kesehatan Badri yang terus menurun setiap tahunnya.
Selain itu para dokter juga mengatakan bahwa, mereka sudah melakukan usaha yang terbaik, tapi, takdir berkata lain. Tak lupa mereka mengucapkan kata turut berduka cita dan bela sungkawa pada keluarga yang ditinggalkan, dengan tulus lalu, menyalami Arkan sebelum akhirnya pergi.
Setelah rombongan dokter pergi, para pengurus jenazah pun datang. Mereka membawa tubuh Badri keluar kamar perawatan menuju bagian lain rumah sakit, di mana jenazah akan dibersihkan dan setelah itu barulah keluarga pasien membawa membawa jenazah pulang kembali ke rumah duka.
Prosedur kepulangan pasien yang sudah meninggal dunia seperti itu sebenarnya tidak wajib dilakukan oleh keluarga pasien. Mereka bisa membawa jenazah langsung pulang. Akan tetapi, hal ini dilakukan oleh Arkan karena dia ingin ketika pulang ke rumahnya nanti, jenazah sudah bersih dan siap untuk dimakamkan.
Selama menunggu proses kepulangan jenazah Arkan terus sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi beberapa rekan bisnis yang memiliki janji dengannya untuk membatalkan janji pertemuan ataupun kesepakatan kerjasama. Dia juga menghubungi beberapa orang yang akan mengurus pemakaman, termasuk memberitahukan pada aparat setempat tentang kematian ayahnya.
Setelah semua prosesi selesai akhirnya jenazah Badri pun dibawa kembali pulang ke rumah, menggunakan mobil jenazah. Sedangkan anggota keluarga berada dalam satu mobil dengan Arkan.
Runa yang masih belum begitu pulih benar memaksa ikut pulang, dia tidak mau bertahan di rumah sakit seorang diri sementara rumahnya menjadi rumah duka. Mau tidak mau dia harus ada di sana dan dengan terpaksa akan pun mengizinkannya.
Sebenarnya Arkan tidak ingin ada masalah dengan kesehatan Runa. Dia sangat takut kehilangan istri untuk yang kedua kali, apalagi sekarang wanita itu tengah hamil.
Biar bagaimanapun juga, bayangan istrinya yang meninggal dunia karena sakit parah dan bagaimana dia terus merintih kesakitan, masih belum bisa Arkan lupakan.
__ADS_1
Oleh karena itu, saat melihat Runa terbaring lemah di bangsal rumah sakit, dengan jarum infus yang menempel di tangan, membuatnya sedih dan tidak tega. Sebab semua itu mengingatkan kembali pada kejadian masa lalu, di mana dia tidak bisa berbuat apa-apa hingga pada akhirnya Ibu kandang Erlan pun tiada.
Hari sudah larut malam ketika jenazah tiba di rumah, tapi, persiapan untuk menyambut kedatangan jenazah, sudah sangat baik dilakukan oleh para asisten rumah tangga yang sudah mengerti dengan tugas yang harus mereka lakukan di saat seperti sekarang.
Sementara itu baik Runa, Arkan maupun Winsi, beristirahat sejenak sambil menunggu pagi, saat jenazah akan dimakamkan. Akan tetapi, ketiga orang itu tetap tidak bisa memejamkan mata hingga tetap terjaga di dalam kamar mereka sampai keesokan harinya.
“Ayah,” kata Winsi begitu melihat Arkan dan Runa keluar dari kamarnya pagi itu. Mereka bertiga sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian berkabung dan menuju ruang tengah, kini mereka duduk di kursi panjang dekat peti jenazah.
“Ya,” sahut Arkan datar.
“Apa Ayah tidak menghubungi Erlan?” winsy bertanya sambil melihat-lihat layar ponsel.
“Untuka apa?” tanya Arkan.
“Ya, kasih kabar kalau Kakek meninggal.”
Akan tetapi, Arkan tidak menanggapi dan justru merebut ponsel dari tangan Winsi dengan kasar, membuat gadis itu terkejut. Ini pertama kalinya sang Ayah angkat berbuat kasar kepadanya padahal, sebelumnya selalu lemah lembut.
Winsi memalingkan pandangannya dari Arkan sambil menyembunyikan embun yang sudah menggenang di pelupuk matanya, membuat ayah angkatnya itu tersadar jika dirinya salah. Lalu, dia menepuk kepala gadis di sebelahnya dengan lembut.
“Ya,” jawab Winsi singkat.
“Kalau dia tidak tahu tentang kematian kakeknya, itu jauh lebih baik demi ketenangan pikiran biar dia merasa semuanya baik-baik saja. Kecuali, kalau aku tiada kamu harus mengabarinya. Karena aku adalah Ayahnya.”
“Baik,”
Winsi diam tapi dalam benaknya mengatakan bahwa, bagi siapa pun orang yang masih termasuk saudara apabila meninggal dunia maka, semua berhak untuk mengetahuinya.
Akan tetapi, mungkin keluarga Arkan berbeda sebab, ketenangan pikiran untuk melakukan sebuah ujian demi cita-cita atau bisnis mereka, lebih penting daripada berita duka.
Arkan tidak memikirkan bagaimana kecewanya Erlan karena selama ini memang anak lelakinya itu selalu bersikap acuh tak acuh pada Badri.
Saat dia di luar negeri laki-laki tua itulah yang sudah mendidik Erlan dengan begitu keras, bahkan melebihi batas toleransi anak-anak di usianya, mungkin karena itulah Erlan sangat segan dan menghormati kakeknya.
‘Kenapa aku merasa bersalah begini sih sama Erlan?’batin Winsi sambil mengusap layar ponselnya kembali.
__ADS_1
Akhirnya dia hanya mengirim pesan pada Erlan.
“Hai, Lan, apa kabar?”
Tulis Winsi setelah menulis ucapan salam.
Tidak lama berselang, ada balasan, membuat Winsi tidak sadar menyunggingkan senyum.
“Kabarku baik, Alhamdulillah. Gimana kamu di sana, Win? Masih di Jogjakarta, apa sudah pulang?”
‘Wah, dia memang jadi pengangguran ya di sana, cepat sekali menjawabnya' batin Winsi sambil mengetik pesan kembali.
“Aku pulang, lagi sama Ibu sekarang”
“Dasar anak manja, baru sebentar udah pulang. Pasti kamu nengok Ibu, iya kan? gimana sekarang kabarnya Ibu, udah sehat? Aku harap Ibu baik-baik saja, soalnya akan dedek kita di perutnya”
‘Panjang sekali jawabannya, lucu sekali sih, mirip pengangguran!’ batin Winsi.
“Alhamdulillah sehat”
“Nah, berarti harapanku terkabul dong .... Eh, Win, kenapa kamu nggak sering-sering kirim pesan kayak gini, sih? Kan, enak bisa ngobrol, tumben kamu chat aku. Ada apa, jangan bilang kamu kangen, atau mau ke sini, ya?”
Jawaban Erlan kali ini sukses membuatnya mencebik dan mengerutkan kening karena berpikir ucapan Erlan sangatlah konyol.
“Nggak”
“Jangan bohong ... kamu tahu, kan, bohong itu dosa makanya, mengaku aja nggak usah malu. Kayak Waila, tuh, kamu kenal kan, sama Waila, dia jujur loh, orangnya, kalau kangen, mau ketemu atau mau aku datang ke sana, dia bilang terus terang!”
‘Dasar aneh!’ batin Winsi
Bersambung
__ADS_1