Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
11. Anda Siapa


__ADS_3

Anda Siapa


Ditanya begitu, Winsi kembali menoleh dan menatap Arkan dengan wajah kekanakannya yang polos lalu, menggelengkan kepalanya.


“Biasanya, ada di rumah, kan?”


Kali ini Winsi mengangguk. Sejenak kemudian dia menarik napas dalam, karena biasanya bapak ada di rumah juga. Akan tetapi dalam hati dia berdoa, agar laki-laki menakutkan itu sekarang tidak ada di rumahnya. Basri paling tidak suka, melihat hal yang kotor, tentu dia akan sangat marah bila melihat keadaan Winsi saat ini. Keadaan rumah mereka yang sederhana, selalu terlihat bersih dan rapi berkat kerja keras yang dilakukan oleh Runa—ibunya.


Sesampainya di halaman rumah Runa, Arkan memarkirkan mobilnya lebih dekat ke teras, agar Winsi mudah masuk tanpa harus kehujanan lagi. Dia melihat tubuh gadis kecil itu sudah menggigil.


Saat terkena air hujan, kondisi dan suhu tubuh akan menyesuaikan hawa dingin sehingga untuk beberapa lama tidak akan kedinginan, tapi bila sudah tidak kehujanan lagi, maka suhu tubuh akan menurun sehingga, akan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Apabila daya tahan tubuh seseorang buruk, biasanya akan mengalami demam, masuk angin dan sebagainya.


Arkan itu turun dan membiarkan dirinya diguyur hujan, saat dia berjalan dari mobil sampai ke teras.


Sementara itu Runa bergegas keluar begitu mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Tepat di saat membuka pintu, dia melihat seorang pria tinggi tegap dengan stelan jasnya yang basah, sedang membukakan pintu mobilnya untuk Winsi—anaknya dan membantunya turun.


Runa membelalakkan matanya, menghampiri anaknya dan berkata, “Ya Allah. Win ... kamu basah kuyup begini, ayo cepat mandi dan ganti baju, biar nggak masuk angin!”


Setelah berkata begitu, dia menoleh pada pria yang berdiri di samping diri dan anaknya, lalu, tatapan matanya menyipit, mencoba mengingat sebuah wajah yang tengah menatapnya lekat-lekat.


“Anda ....” kata Runa saat membuka mulutnya. Tiba-tiba jantungnya seolah kehilangan satu detakan saat dia mengatakan sesuatu yang membuat Arkan tersenyum, seperti mengejek dirinya sendiri, “Maaf, Anda siapa ya?”


“Kamu nggak ingat aku?” tanya Arkan kemudian.


Ada sedikit kecewa di hatinya karena pertanyaan itu memberitahukan bahwa Runa melupakannya. Padahal dia langsung mengingat Runa saat pertama kali melihatnya, dia tidak langsung menemuinya waktu itu karena sibuk.


Runa mengerutkan alisnya dan mencoba membenarkan sebuah pikiran yang tiba-tiba melintas, bahwa pria itu mirip seseorang. Akan tetapi dia menggelengkan kepala untuk menepis pikirannya, lalu yang keluar dari mulutnya adalah, “maaf, saya tidak ingat.”


‘Hai. Ini sudah belasan tahun yang lalu, siapa tahu aku salah, lagi pula bagaimana mungkin dia ada di sini?’ batin Runa sambil melepaskan tas dan jaket dari tubuh anaknya.


“Ayo, kita mulai semuanya dari awal, kenalkan, aku Arkan. Kamu Runa, kan? Runa Umaya?”


Runa tercengang, buru-buru mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum, Arkan masih mengingatnya. Dia menatap wajah yang dulu pernah dikenal, menurutnya banyak sekali Arkan berubah, baik dari wajah, postur tubuh, dan penampilannya, sangat berbeda.

__ADS_1


Ditatap seperti itu, Arkan mengerutkan alisnya dan berkata, “Kenapa, kamu nggak percaya ini, aku?”


“Bukan begitu, tapi kamu jauh berbeda dari terakhir kita bertemu.”


“Wajar, itu sudah lima belas tahun yang lalu. Umm ... apa suamimu di rumah?”


Runa memalingkan pandangannya dan menunduk untuk melihat ke arah Winsi yang kini sudah melepas sepatunya yang kotor dan basah. Dikepalainya berpikir, tentang Arkan.


Laki-laki itu tinggal sejak lama di rumah besar itu, tapi tidak langsung menempatinya karena di saat dia mulai pindah, ibu dan ayahnya membutuhkan bantuannya dalam bisnis, mengingat usianya sudah semakin renta. Sementara kedua kakaknya pun tinggal di luar negeri serta tidak sanggup mengurus bisnis orang tua mereka.


Arkan menitipkan Erlan kepada pasangan suami istri Hasnu dan Neni, orang kepercayaannya yang bekerja menjadi sopir serta asisten rumah tangga. Oleh karena itu, Erlan sampai sekarang terbiasa memanggil sopirnya dengan sebutan ayah, karena menganggap pria lima puluh tahunan itu sebagai ayahnya angkatnya.


Baru sekitar satu tahun ini dia mulai tinggal di sana, karena sudah mendapatkan orang kepercayaan untuk mengurus bisnis ayahnya, dan kembali mengurus bisnisnya sendiri.


Runa menyadari hal itu, bahwa Arkan dan keluarganya tidak terlalu banyak tahu, dengan para tetangganya karena memang penghuni rumah besar itu, tidak pernah tampak bergaul dengan masyarakat sekitar.


“Suamiku belum pulang, dia sopir truk, jadi pulangnya tidak tentu kapan,” jawab Runa tenang, diam sejenak lalu, melanjutkan bicaranya, “Di mana kamu menemukan anakku?”


“Oh.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Winsi karena dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan, walaupun, banyak yang melintas dalam pikiran, suasana itu sangat canggung.


“Terima kasih sudah mengantar Winsi, ke sini. Maaf merepotkan, kamu jadi basah.”


Arkan menggelengkan kepalanya, karena dia sama sekali tidak merasa direpotkan oleh siapa pun lalu, dia menjawab, “Nggak masalah, nggak usah berterima kasih.”


“Maaf, saya tidak bisa mempersilahkan kamu masuk, soalnya, suami saya tidak ada di rumah.”


Arkan kembali tersenyum kecil, merasa lucu karena Runa terlihat sangat canggung, bahkan menggunakan bahasa formil padanya.


“Aku juga tidak mau masuk, sudah sana urusin anakmu, kasian dia kedinginan.”


“Baik, saya masuk dulu. Sekali lagi terima kasih.”


“Ya, sama-sama.”

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Runa dan Winsi masuk lalu, menutup pintunya. Sementara Arkan menuju mobilnya, tapi tidak segera menjalankan kendaraan itu pergi, melainkan diam sambil menatap pintu rumah yang tertutup.


Beberapa saat kemudian barulah dia memutar mobilnya dan meninggalkan rumah sederhana itu dengan perlahan-lahan, seolah berat menjalankannya.


Secara bersamaan saat mobil Arkan meninggalkan halaman, sebuah mobil truk warna kuning masuk. Basri turun, dengan tergesa-gesa menuju rumah untuk menghindari hujan. Dia membanting pintunya dengan keras, ketika sudah berada di dalam, tentu saja Runa dan Winsi terkejut akan kedatangannya.


“Runa!” panggil Basri dari ruang tamu, dia sudah duduk di sofa sambil melepas pakaiannya yang basah.


Mendengar namanya di panggil, wanita yang sudah lama mengenal tabiat suaminya itu mendekat dengan tergopoh-gopoh ke ruang tamu, meninggalkan Winsi yang belum selesai mandi.


“Ada apa, Pak?” tanyanya. Sejak kelahiran anak keduanya yang kemudian meninggal dunia, Runa tidak pernah lagi memanggilnya Mas, atau sayang seperti kebiasaannya dulu, sebab dia sangat sakit hati karena kelakuan pria ini yang menunjukkan ketidakpedulian.


“Pake tanya, ada apa, ada apa segala! Kamu ini kok nggak pinter-pinter ya, jadi istri? Nyesel aku nikah sama kamu, Run! Aku ini suamimu, jadi istri itu harus taat! Sana, bikinin aku kopi!”


Runa menghela napas panjang dan kembali ke dapur lalu mulai membuat kopi. Setelah selesai, dia membawa kehadapan Basri dan duduk di depannya.


“Ini, Pak kopinya.”


“Siapa lagi laki-laki tadi, kamu punya selingkuhan baru?”


Runa mengerutkan keningnya saat melihat suaminya yang menatapnya, dengan tatapan seribu pedang yang terhunus tepat mengenai jantungnya. Bukan tatapan mata itu yang membuatnya hatinya sakit seperti tengah dilubangi, tapi ucapannya. Tidak percaya jika pria yang dicintainya itu tidak pernah mempercayainya, sebab dia bukan wanita peselingkuh.


“Laki-laki yang mana?” tanya Runa kesal. Ada rasa khawatir bila suaminya tahu saat Arkan mengantarkan Winsi dan sempat berbincang sebentar di teras rumahnya.


“Kamu kira aku nggak tahu, apa?” Kata Basri sambil menyeringai, dia melihat interaksi yang terjadi antara Runa dan Arkan, dia tahu pria itu tinggal di rumah besar, ujung jalan menuju kota. Ada sedikit rasa tidak suka dan cemburu, tapi terlintas pikiran lain di kepalanya.


“Tapi ... kalau yang kamu pacari orang yang tadi, aku gak masalah, dia orang kaya, kan? Jangan kayak Anas, orang miskin itu! Makanya aku gak suka sama Winsi, dia anak orang miskin yang nggak mau tanggung jawab. Nggak ada gunanya.”


“Pak, kamu ini ngomong apa, sih?” Runa terlihat sangat gelisah saat bicara. Pikiran suaminya sangat menjerumuskan!


Bersambung


“Jangan lupa like, komen, give dan votenya.”

__ADS_1


__ADS_2