Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
21. Kebingungan


__ADS_3

Kebingungan


Winsi masuk setelah mengucapkan salam dan menatap ibunya dengan ekspresi yang rumit. Dia mengedikkan bahu sambil berkata, “Aku ketemu sama Tente ini di jalan, tadi dia nanyain rumah kita.” Memberi pernyataan pada Runa seolah tahu apa yang di pikirkan ibunya, mengapa dia bisa bersama wanita itu sepulang sekolah?


Setelah itu, Winsi ke kamar untuk mengganti pakaian, saat melintasi kamar kedua orang tuanya, dia sempat melihat sekilas dari pintu yang terbuka, bapaknya sedang tidur dengan nyenyak. Basri selalu begitu bila ada di rumah, dia akan memuaskan dirinya dengan tidur, seolah dendam dan ingin melampiaskan sepuas hatinya.


Setelah mengganti pakaian, dia berdiri di sisi tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang makan, dia melihat Runa—ibunya dan Nira, sang tamu tak di undang itu duduk saling berhadapan.


Rupanya, saat Winsi sedang mengganti pakaian tadi, kedua wanita itu sudah berkenalan dan berbasa-basi karena percakapan yang di dengar Winsi selanjutnya adalah pertanyaan-pertanyaan serius dari Runa.


“Jadi, namamu Nira? Sudah lama kenal Mas Basri?” tanya Runa sambil menyilang kan kedua kakinya secara bertumpuk.


“Ya, lumayan lama juga, sih,” jawab Nira datar, tanpa melihat ke arah Runa.


Sementara Winsi masih menguping di belakang dua wanita itu.


“Kamu tahu, kan, kalau mas Basri sudah punya istri?”


“Tahu.” Lagi-lagi Nira menjawab pertanyaan Runa dengan cuek.


“Terus, kamu mau apa ke sini bawa tas besar, segala. Apa isinya, kamu mau pindah?”


“Iya.”


“Ke mana? Nanti aku bangunin mas Basri biar dianterin.”


“Nggak usah repot-repot, aku mau pindah ke sini.”


“Apa? Enak saja. Ini bukan rumah Bapakmu!”

__ADS_1


“Tapi, ini rumah Mas Basri, kan?”


“Memangnya, ada hubungan apa kamu sama Mas Basri?”


“Aku kan adiknya ...?”


“Adik ...? Hah!” Runa memalingkan muka sambil tersenyum meremehkan. Bagaimana bisa wanita yang sama sekali tidak mirip suaminya ini mengaku sebagai adik. Tidak pantas juga bila ada seorang adik bersikap tidak sopan seperti itu pada kakak iparnya. Ini sangat menyebalkan.


Winsi melihat hal itu dengan kesal, diam-diam dia mengepalkan tinju kecilnya. Dia belum tahu apa artinya cemburu, tapi dia paham bagaimana bersikap baik pada orang lain terutama pada yang lebih tua.


‘Bukankah yang dilakukan Tante Nira pada ibu itu, nggak pantas?’ batinnya. Sebenci apa pun seseorang pada orang yang lebih tua, tetap tidak boleh menampakkannya sebab, agama pun mengajarkan akhlaq, akal budi, ketulusan, menyambung tali silaturahmi, serta saling menghormati. Bahkan pada orang yang berbuat jahat pun dilarang untuk membalasnya dengan kejahatan pula.


“Kalau kamu nggak percaya, ya sudah. Aku ini adiknya, baru sebulan yang lalu Mas Basri mengakuinya!” kata Nira kemudian.


Mendengar hal itu, Runa tersenyum mengejek, dia tidak akan percaya dengan apa pun yang di katakan Nira sebab, dia tahu betul bahwa Basri tidak mempunyai saudara. Selama ini suaminya itu hidup hanya dengan orang tuanya walaupun, ada beberapa sanak keluarga atau sepupu, tapi mereka tinggal berjauhan di kota yang berbeda.


“Jadi, kamu adik angkatnya begitu?”


Sebenarnya dia tidak tega untuk mengganggu tidur Basri saat tengah begitu nyenyak. Sebab laki-laki itu sering mengabaikan waktu tidurnya selama bekerja dan terus berkonsentrasi di jalanan sehingga, wajar apabila ada di rumah, maka dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat. Akan tetapi kali ini berbeda, ada hal yang mendesak dan, membuat Runa harus membuatnya terbangun diluar waktu-waktu salat yang merupakan kewajiban.


Saat berpapasan dengan Winsi yang ketahuan menguping, Runa hanya melirik sekilas, tanpa menegur. Dia sadar anak perempuannya itu pasti sudah mendengar dan mengerti semuanya hingga, dia tidak harus repot-repot menjelaskan permasalahan yang harus dihadapi antara Nira, ibu dan bapaknya.


Setelah beberapa saat berada di kamar, Runa dan Basri keluar secara bersamaan, sementara Winsi bersembunyi di kamar. Dia takut kalau Basri tidak menyukai kehadirannya dan kembali marah atau memukul.


Winsi menyibukkan diri dengan membereskan beberapa buku yang tidak diperlukan lagi dan, memasukkanya dalam sebuah kotak kardus. Dia melakukan semua itu dengan hati masih digelayuti rasa penasaran, dengan pembicaraan kedua orang tuanya serta Nira. Hanya terdengar sesuatu yang tidak jelas dari arah ruang tamu, bahkan beberapa teriakan dari ibunya. Akan tetapi dia tetap tidak berani untuk keluar kamar karena takut pada kemarahan Basri.


Winsi merebahkan diri di atas tempat tidur setelah semua buku dan meja belajarnya rapi, dia siap menghadapi hari esok, sekolah dengan semangat dan baju yang baru. Hanya saja dia masih harus memakai tas lamanya karena Runa belum membeli tempat untuk membawa buku itu, sesuai keinginannya.


‘Ya ... tas itu masih bisa dipakai. Jadi nggak perlu membeli yang baru’ pikirnya menghibur dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia tahu Runa sangat menyayanginya dan pasti akan membelikan tas itu suatu saat nanti. Ibunya harus menabung agar mereka bisa segera pergi dari rumah yang terus menyiksanya, hingga dia tidak akan memaksa untuk sesuatu yang tidak begitu penting.


Winsi baru saja hendak memejamkan mata ketika, pintu kamar terbuka lebar dan Nira serta Basri masuk, sambil membawa tas besar lalu, menyimpannya di atas tempat tidur. Gadis itu sontak terbangun dan segera berdiri merapat ke dinding, dengan wajah pias menampakkan ketakutan. Seperti itulah dia setiap kali berhadapan dengan bapaknya.


“Nah, Winsi ... mulai saat ini Tante di nira tidur sekamar denganmu, ya?” kata Basri, bahkan tangan kekar itu mengusap perlahan kepalanya. Secara reflek Winsi mundur selangkah ke belakang, sambil mendongak menatap bapaknya dengan rasa tidak percaya, bila laki-laki itu berkata dengan lemah lembut kepadanya.


“Pak, tempat tidur anakmu itu kecil cuman cukup untuk satu orang lalu, anakmu harus tidur di mana kalau dia tidur di situ?” kata Runa tiba-tiba muncul dari balik pintu setelah menghapus air matanya.


Rupanya wanita itu tadi sempat bersitegang dengan suaminya dan tidak menyetujui rencana Basri untuk menampung Nira, tinggal di rumah mereka. Baginya, Basri sudah sangat kebingungan untuk berbuat yang benar, tidak tahu mana benar atau salah mana anak kandung atau bukan!


Wanita muda itu sudah dianggap oleh Basri sebagai adik angkatnya sendiri, saat dia mengetahui tentang latar belakang Nira yang hampir mirip dengan Runa, tidak memiliki orang tua dan tempat tinggal. Mereka bertemu Beberapa bulan yang lalu secara tidak sengaja di sebuah rumah makan lalu, Gadis itu mengatakan keinginannya, yaitu akan meneruskan kuliah di universitas yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan senang hati Basri pun menampungnya.


“Winsi, kan kurus jadi dia cukup kalau tidur di sini berdua ya kan Win?” kata Basri lagi masih dengan suaranya yang lembut dan tersenyum hangat pada Nira.


Ada riak-riak kecil mengalir lembut bagai air sungai yang tenang membawa kegembiraan dalam hati Winsi, ketika mendapati Basri bersikap berbeda, dia menarik napas dalam-dalam dan menghilangkan rasa takut. Dia berpikir mungkin akan ada kebaikan dengan hadirnya Nira karena bapak tidak lagi berbuat kasar kepadanya.


“Ya,” kata Winsi dengan gugup, ada rasa tak berdaya terselubung dari ucapannya. Dia melirik tempat tidur, sambil mengangguk.


Sementara itu, wajah Runa terlihat suram, dia hanya kasihan pada Winsi yang tidak mungkin bisa menolak keinginan kepala keluarga di rumah mereka. Biar bagaimanapun anak gadisnya akan segera tumbuh dewasa, bagaimana mungkin akan berbagi tempat tidur dengan ukuran ranjang sekecil itu. Sekali lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengelus dada.


“Tapi, Mas ... dia benar,” kata Nira sambil menunjuk ke arah Runa dengan dagunya. Setelah itu dia kembali berkata, “tempat tidur ini kecil kalau untuk aku berdua sama dia ....” Kali ini menunjuk pada Winsi. “Gimana Kalau kamu mau beli tempat tidur baru buat aku atau ... anak ini pindah aja di tempat lain, apa tidak ada kamar lagi?” ujarnya sambil berbelit menjadi lengan Basri.


Sontak saja pemandangan ini membuat Runa membelalakkan matanya dengan sempurna. Sementara Winsi pun ternganga, dia tidak pernah melihat ibunya bersikap seperti itu pada Basri karena setiap kali dia berada di antara ibu dan bapaknya, yang dilihatnya adalah sikap acuh tak acuh Basri pada istrinya.


“Baiklah, untuk sementara Winsi bisa tidur di kamar belakang yang jadi gudang, besok aku beli tempat tidur baru buat kamu, ya?” sahut Basri sambil mencolek ujung hidung Nira.


"Ya Allah, suamiku ini benar-benar kebingungan atau lupa sih?' batin Runa


“Apa?” tanya Runa sambil menarik bahu suaminya agar menghadap ke arahnya. “Tega kamu ya, Pak, nyuruh anak sendiri tidur di gudang?”

__ADS_1


Bersambung


“Jangan lupa like, komen, give dan Vote, terima kasih atas dukungannya”


__ADS_2