
Mendua Hati
Winsi tertawa mendengar ucapan Mery, hal yang riskan untuk dibicarakan oleh anak-anak muda seperti mereka. Istilah poligami, tidak pernah ada dalam pikirannya sebelum mereka melakukan pernikahan apalagi sesudahnya. Dia sekarang tahu rasa cintanya, yaitu sebuah rasa seperti rasa serakah dalam diri manusia, yang tidak akan dibagi walau kaksih sayangnya berlebihan.
Gadis polos seperti dirinya bukan berarti bodoh hingga mau menjalani kehidupan berat dengan berpoligami. Mengapa harus menjalani hal yang memberitakan, kalau memang bisa hidup sendiri jauh lebih ringan.
Apa sih yang dia cari dalam pernikahannya, itu adalah kebahagiaan, bagaimana mungkin dia bisa membahagiakan, kalau secara akal dan hati dia tidak siap menjalani. Kalau toh dipaksakan, bukan bahagia yang dia dapatkan melainkan kesedihan karena merasa terabaikan. Lalu, syurga yang dijanjikan nyatanya hanyalah neraka yang tertunda karena untuk ikhlas saja belum bisa.
Jadi, untuk apa kalau untuk ihklas saja masih sulit dia lakukan. Hati masih sering ujub dan riya dengan ibadah kecil yang dia jalankan. Lalu, tiba-tiba dituntut untuk ikhlas dengan ibadah yang jauh lebih besar bahkan, selama umur pernikahan. Apa dia siap?
Winsi Menggelengkan kepala kuat-kuat. Lalu, dia berkata, “Ah, nggak deh. Masa depanku masih panjang, masih banyak pria lain yang baik-baik dan mau menjalani pernikahan tanpa harus menduakan hati.”
“Ciee... Cieee.... optimis bener nih orang!” kata Mery, sementara minuman di gelas mereka sudah habis.
“Terus, kamu sekarang mau ke sana, bukan?” tanya Mery sambil menggerakkan dagunya ke arah rumah Hanifa.
Winsi mengangguk sambil mengeluarkan uang untuk membayar jajan mereka. Setelah itu dia langsung mengenakan helm.
“Kamu mau pulang, Mer? Atau mau ikut aku nengok Hanifa?” tanya Winsi sambil menyalakan motornya.
Mery menggelengkan kepala karena selain dia punya urusan yang lain, dia tidak ingin terlibat dengan urusan seperti itu.
“Win!” kata Mery, dia pun melakukan hal yang sama, menyalakan mesin juga.
“Ya!”
__ADS_1
“Apa pun keputusan kamu, aku Cuma mau bilang kalau Erlan itu orang baik, kalau nggak baik, dia nggak akan sabar ngurusin orang setres jadi istrinya!”
Winsi diam dan tatapan matanya jauh ke depan, dia sadar Erlan baik dan sangat sabar, jangankan menghadapi dirinya, mengurus Hanifa saja dia bisa.
“Ya, ya, aku akan pertimbangkan itu,” kata Winsi.
“Satu lagi, kalau dia memang menikahi kamu saat sudah menikah dengan Hanifa, itu artinya dia sudah siap buat sayangin kalian berdua. Kan, poligami mah, boleh dalam agama. Nggak akan ada lagi cowok kayak dia di dunia ini, Win!”
“Hmm ...”
“Eh, siapa tahu juga ada yang lain.”
“Yang lain apa maksudmu, Mer?”
Mereka berpisah setelah sama-sama mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan. Mery pergi ke suatu tempat, sedangkan Winsi melarikan motornya ke rumah Hanifa, dengan kecepatan sedang hingga tidak butuh waktu lama dia sampai di sana.
Winsi memarkirkan motor di dekat mobil Erlan yang terlihat jelas di depan garasi, lalu melepas helm setelah mencabut kunci lalu, memasukkannya ke dalam tas. Gadis itu berdiri di depan rumah sambil menerik napas panjang berulang kali, sambil memejamkan mata.
Gadis itu masih ragu untuk masuk. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam rumah itu sehingga dia berpikir jika kemungkinan, Erlan dan Hanifa sudah tidur apalagi dia melihat jendela kamar depan itu tertutup. Sudah dari sejak dia memarkirkan motornya, seluruh tubuhnya berkeringat dingin dan gemetar seolah tidak kuat kaki untuk menyangga tubuh. Jantung berdegup kencang dengan rasa was-was jika yang dia lihat adalah hal yang sangat menjijikkan
Klek! Suara pintu terbuka dari dalam dan keluarlah Erlan yang melihat keberadaan istrinya di sana dengan tatapan yang rumit. Mereka sama-sama terkejut.
“Sayang!” Erlan mendekat hendak menggamit tangan Winsi atau memeluknya tapi, Winsi menolak dengan mundur satu langkah kebelakang, lalu dia melambaikan tangannya sebagai isyarat penolakan.
Winsi tidak bisa menahan air mata, betapa baru pertama kalinya dia merasakan rasa yang, kata orang itu hancur berkeping-keping di hatinya. Bagaimana tidak hancur, saat melihat suaminya sendiri, pria yang menjadi satu-satunya kekasih dalam hidupnya itu berada di rumah wanita lain.
__ADS_1
Dia sudah pernah melihatnya bersama Hanifa, tapi melihatnya secara langsung saat ini, rasanya seperti tidak rela.
Sakit, ini sakit pada perasaannya seperti terluka karena benda tajam, yang perih atau rasa apa lagi yang bisa, untuk menggambarkan rasa hancur itu. Mirip juga seperti rasanya kulit terbakar api atau saat jari tangan terkena cipratan minyak panas, tapi rasa itu bukan dikulit melainkan di hati.
“Kamu sudah dari tadi ada di sini?” tanya Erlan. Winsi bisa saja menjawab dengan mengatakan jika dia sudah lebih daei seluluh menit yang lalu berada di sana, tetapi, dia diam saja. Enggan bicara rasanya.
“Kamu mau masuk, ayo! Hanifa masih tidur. Kalau dia tidur, jendela harus ditutup biar bisa tidur nyenyak.” Kata Erlan seraya membuka pintu rumah itu lebih lebar lagi dan mempersilakan Winsi masuk.
Pria itu tadi memang berniat keluar demi mendengar suara motor berhenti di depan rumah, tapi, dia heran karena tidak ada suara lain setelah itu, padahal dia berharap orang yang datang itu akan segera mengetuk pintu atau memanggilnya dengan berteriak dan marah.
Winsi mencibir. Dia merasa kesal karena Erlan sangat pengertian pada wanita lain dan, menampakkan dengan jelas di hadapannya. Dia tahu, memang Erlan orang yang perhatian sejak dulu. Namun, melihat kenyataan jika suaminya pun melakukan hal yang sama pada orang lain, dia tidak suka. Sekali lagi dia kecewa, juga cemburu dibuatnya.
Apakah demikian cepatnya rasa cinta itu berubah menjadi benci hanya karena orang yang, dicintai telah bersikap tidak sesuai dengan apa yang diinginkan?
Erlan memang berharap Winsi bisa mengerti, dengan semua tindakannya sehingga wanita itu bisa menerima dirinya jika harus merawat Hanifa. Pria itu sama sekali tidak berniat untuk melakukan poligami dengan istrinya tetapi, apabila Winsi mau menjalani takdir mereka dengan lapang dada, tentu Erlan akan sangat bahagia.
Winsi tetap diam terpaku di sana dengan setetes air mata yang sudah meluncur begitu saja. Melihat hal itu, Erlan mendekat dan ingin menghapus air matanya dengan telapak tangan, tapi, Winsi menolak dengan kembali mundur satu langkah ke belakang.
“Ayo! Masuklah!” kata Erlan dengan suara yang gemetar karena sekuat hati laki-laki itu menahan perasaannya, agar tidak menangis juga. Bukan hanya Winsi yang terluka tapi, Erlan juga.
Dia terluka melihat gadis yang dicintainya menangis sedih karena perbuatannya, padahal, dulu dia pernah berjanji dalam hati untuk membahagiakan peri kecilnya dan, tidak akan membuatnya menangis. Namun, nyatanya sekarang wanita itu justru menangis karena perbuatannya.
Erlan masuk tanpa berkata apa-apa lagi setelah menatap Winsi penuh arti, lalu menghilang di balik pintu.
Bersambung
__ADS_1