
Ke Jogjakarta
Runa memilih mengabaikan anak perempuannya itu dan langsung masuk ke kamar pribadinya. Dia mengunci pintu, pertanda tidak ingin diganggu selain karena akan menidurkan Zidan agar lebih cepat kembali terlelap, dia masih enggan untuk bicara. Dia berusaha mencerna sebuah kebenaran yang baginya mustahil dilakukan Erlan.
Dahulu Runa memang menyarankan agar Erlan mencari tahu, siapa orang yang sudah meninggal saat menjadi korban, bersamaan dengan kecelakaan yang dialami anak itu. Dia tidak menyangka apabila apa yang dia sarankan hanya sekedar untuk berbelasungkawa dan, turut berduka cita itu, berakhir pada sebuah pernikahan.
Wanita itu tidak menyangka bila seorang manusia bisa terbelit dalam masalah, saat menuruti ucapan manusia lainnya. Tentu berbeda apabila seseorang menaati firman Allah dan ucapan Rosul, dengan apa yang disabdakan beliau pada manusia, semua adalah agar manusia terbebas dari segala masalah kehidupan yang, sudah rumit tanpa diminta karena cobaan hidup akan selalu ada.
Setelah sampai di kamar ibunya, Winsi membatalkan niatnya untuk menggedor pintuya yang terkunci karena dia berpikir mungkin ibunya sedang sedih. Mungkin juga masih merindukan ayahnya, apalagi dia mendengar tangisan Zidan dari dalam, yang tengah terbangun hingga membutuhkan Runa agar tenang kembali.
Winsi segera membersihkan diri, dia mencoba berendam air hangat untuk membuat otot tubuhnya rileks. Namun, belum lama dia memanjakan diri untuk sekedar melepaskan beban pikiran, dia mendengar suara handphone-nya berbunyi. Dia sudah mengunci pintu kamar hingga dia bebas, saat keluar kamar mandi, hanya menggunakan handuk sebatas dada dan handuk kecil membungkus kepalanya.
“Halo! Nia, apa kabar?” tanya Winsi begitu benda pipih itu menempel di telinganya dan, dia terlihat girang karena yang menghubunginya adalah Nia, teman yang dia percaya untuk mengelola bisnis mereka di Yogyakarta.
“Hai, Win ....” suara Nia terdengar serak, gadis itu sepertinya tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dia sukses membuat Winshi mengerutkan alisnya lalu, terlihat serius dan melanjutkan pembicaraan.
“Kamu kenapa, sakit?”
“Iya, Maaf ... Kayaknya besok-besok aku nggak bisa deh, buka toko ... uhuk! Ini aku udah dua hari ini nggak kuliah ... padahal kan, besok libur.”
“Iya, besok akhir pekan! Terus?”
“Nah ... makanya itu, harusnya kita bisa dapat duit kalau aku nggak sakit. Apalagi, kamu tahukan, akhir pekan itu jadwalnya kita buka cafe juga bareng sama anak buah Om Anas!”
“Iya. Parah ya sakitnya?”
__ADS_1
“Bisa dibilang begitu, sih, aku bener-bener nggak bisa bangunin cucianku aja udah numpuk!”
“Oh, kalo gitu, aku ke sana deh, sekarang?”
“Sekarang Win ... gila kamu mau ngambil penerbangan malam? Udah deh, besok aja, lah ... pagi-pagi! Lagian bentaran doang, kamu terbang!”
“Ya, udah, yang penting kamu masih sanggup buat tidur malam ini, kan? Masa sih Cuma tidur aja nggak kuat?” Winsi tertawa di sambut Omelan Nia dari seberang telepon.
“Udah sana, tidur! Berpikir positif dan bilang pada diri kamu sendiri kalo kamu harus cepat sembuh, demi orang -orang yang kamu sayang, kamu harus sehat, pasti cepat beneran tuh, sembuhnya!”
Winsi bernapas lega setelah Nia mau menurutinya dari seberang sana. Gadis itu masih saja terikat satu sama lain walau berjauhan. Hanya sesekali mereka melakukan panggilan telepon, tapi, mereka cukup intens dalam berkirim pesan. Setiap pekan Nia selalu mengirimkan laporan soal toko mereka.
Keesokan harinya Winsi keluar rumah menuju Bandara, seusai melakukan sholat subuh. Dia belum bertemu dengan ibunya dan juga belum kembali membicarakan masalah dengan suaminya. Namun dia lebih memilih pergi sebelum mendapatkan izin dari keduanya.
Setelah melakukan panggilan dengan Nia tadi malam, Winsi segera berkemas dan segera mengistirahatkan dirinya begitu puas dengan semua barang bawaannya. Dia harus bersiap esok hari dan, kembali bertempur untuk melakukan aktivitas yang sudah lama tidak dia lakukan. Ini termasuk kerja keras karena dia harus membereskan beberapa urusan, berhubung temannya sedang tidak enak badan.
Di dalam kamar, Erlan merenung setelah selesai mandi, dia baru menyempatkan diri untuk membuka handphonenya hingga dia baru tahu kalau Winsi pergi ke Yogyakarta, bahkan tanpa menunggu izin darinya. Pria itu menghentikan gerakan mengeringkan rambut dan melemparkan handuk kecil ke lantai begitu saja.
Dia lebih menyesal kenapa tidak memaksakan diri untuk masuk ke kamar Wnsi. Saat pulang semalam, dia melihat kamar gadis itu sudah gelap dan jendela kamarnya pun tidak terbuka seperti biasanya, bila dia sedang merenung atau memikirkan sesuatu. Jadi, kemungkinan besar bila istrinya itu sudah tidur dan dia tidak ingin mengganggu karena khawatir memperburuk keadaan.
Dia tidak menyangka bila Winsi begitu berani pergi, bahkan sebelum menemuinya. Gadis itu hanya mengirimkan beberapa pesan sebagai pemberitahuan bila dia harus mengurus sesuatu di Yogyakarta.
Erlan berada di antara gamang dan tidak, apakah dia harus menyusul atau membiarkan istrinya. Sementara urusannya di sini pun sudah sangat banyak. Di kantor yang sering dia tinggalkan sekarang, sudah menumpuk beberapa berkas yang butuh sentuhannya. Bahkan, dia tidak memeriksa beberapa laporan keuangan dalam beberapa pekan. Hari ini, bisa dikatakan agenda Erlan menjadi sangat kacau.
Ditambah dengan kepergian Winsi yang secara tidak langsung, bertepatan dengan ungkapannya semalam jika dia akan siap meninggalkan Erlan kapan saja, kalau Hanifa sembuh, sungguh mengusik hatinya.
__ADS_1
Namun, satu hal yang membuatnya sedikit terhibur yaitu Runa tidak ikut bersama Winsi ke Jogjakarta. Dengan begitu, masih besar harapan apabila gadis itu akan kembali kepadanya.
“Mana Wiwin?” tanya Runa saat mereka bertemu di meja makan untuk sarapan.
Erlan hanya menggelengkan kepalanya, lalu, duduk di mana dia biasa duduk saat makan bersama, yaitu di kursi paling ujung.
“Dia bilang mau ke Yogyakarta emang urusan apa yang harus dikerjakan Wiwin, di sana?” kata Runa, sambil menyuapi si kecil makan juga di sampingnya.
“Maaf, Bu, saya tidak tahu?”
“Kamu ini gimana sih, Lan, masa kamu nggak tahu dia mau ngerjain apa di sana? Kan, kamu suaminya?”
Baik Runa maupun Erlan hanya mendapatkan pesan yang sama, yaitu pemberitahuan jika Winsi pergi untuk satu Urusan ke Yogyakarta.
“Saya belum menghubunginya, Bu. Lagipula, mungkin sekarang dia masih ada di pesawat, nanti saja kalau dia sudah ada di bandara, saya telepon.” Erlan berbicara dengan ibu mertuanya itu secara lemah lembut.
“Memangnya dia nggak minta izin sama kamu?”
“Tidak, Bu. Dia pergi saja saya tidak tahu, kan, dia tidak tidur sama saya Bu, Wiwin masih marah!”
“Terus kamu nggak berusaha membujuk Wiwin, kamu biarin aja dia marah gitu?”
“Maaf, Bu. Saya nggak tahu harus ngomong apa sama dia.”
“Ya wajar kamu nggak tahu mau ngomong apa, orang kamu yang salah, kenapa kamu nggak Jujur dari awal sama ibu dan Wiwin? Kalau kamu jujur dari awal, kan, nggak kayak gini jadinya?”
__ADS_1
“Jadi, Ibu sudah tahu, masalah saya?”
Bersambung