
Jangan Paksa
Suara keras dari meja yang dipukul oleh Badri mengagetkan semuanya yang ada di sana lelaki tua itu masih duduk di kursi roda sambil mencengkeram pegangan kursi dengan kuat lalu, dia melihat Arkan dan Erlan dengan tatapan tajam.
“Apa kalian begitu mengkhawatirkan anak itu, apa dia lebih penting dari Saina dan diri kalian sendiri?” kata Badri.
“Kakek ....!”
“Ayah ....!”
Arkan dan Erlan berkata secara bersamaan menyebut laki-laki tua di sana dengan sebutan mereka masing-masing.
“Apa? Apa kalian mau membantahku dan melawanku hanya karena perempuan itu? Ingat dia bukan siapa-siapa, kalaupun dia mau pergi biarkan saja tidak ada yang memaksanya, juga tidak ada yang menyuruhnya pergi. Apa kamu melihatnya pagi ini Saina?” tanya Badri sambil menoleh pada wanita yang duduk di samping dan masih tetap mengunyah makanannya dengan santai.
“Tidak ....” kata Saina sambil menggelengkan kepalanya tetapi Erlan menatapnya tajam dia tidak percaya dengan perempuan itu, tiba-tiba saja dia menjadi muak dengan cara Saian bersikap. Sebelumnya dia biasa saja menanggapi semua perlakuan dan sikap Saina tanpa perasaan apa-apa.
Akhirnya Erlan pergi tanpa makan sesuatu pagi ini dia segera memanggil Hasnu dan memintanya untuk berangkat ke sekolah. Dia sedikit kesal walau dia tahu bahwa niat Arkan mempertahankan Winsi adalah untuk menguji hati dan keteguhan perasaan Saina pada keluarganya.
Arkan sendiri yang mengatakan kepada Erlan bahwa keberadaan gadis kecil itu akan membuktikan apakah Saina benar-benar tulus mencintai ayahnya atau tidak. Seandainya wanita itu bisa menerima Winsi dengan lapang dada maka bisa dipastikan bahwa cinta Shaina begitu tinggi, bahkan murni tanpa mengharapkan apa pun darinya.
Sementara itu Saina sudah selesai sarapan dan juga pergi untuk bekerja, sementara Arkan masih diam dan duduk menikmati sarapannya, tanpa menghiraukan Badri yang masih memperhatikannya.
Arkan terlihat tenang karena yakin bahwa Winsi tidak akan ke mana-mana selain pergi ke rumah ibunya. Anak itu masih polos, dia tidak akan marah jika tidak ada sesuatu yang memicu apalagi sampai pergi dari rumah, mungkin ada sesuatu yang menyakitinya dan dia tahu pasti itu perbuatan Shaina. Akan tetapi dia tidak mungkin menghakimi perempuan itu di depan ayahnya.
Setelah beberapa saat Arkan mengeluarkan ponsel untuk mengirimkan pesan pada Runa dan menanyakan apakah anaknya ada di rumahnya. Cukup lama dia menunggu pesan itu dibalas hingga akhirnya dia terlihat lebih lega. Runa membalas pesan dan menjawab pertanyaannya bahwa Winsi ada bersamanya dan baik-baik saja.
“Ingat, Arkan! Jangan sia-siakan lagi wanita seperti Saina kau akan menyesalinya. Dia sudah berjuang dari dulu karena memang dia tulis mencintaimu!” kata Badri saat Arkan berdiri dari duduknya.
“Ayah tahu dari mana dia terus mencintaiku? Kalau memang dia tulus maka dia akan menyukai apa yang aku sukai, termasuk keberadaan Winsi, dia akan mendukungku dan tidak mengatakan hal buruk padanya sampai anak itu pergi.”
__ADS_1
“Jadi kamu pikir perginya anak itu karena Saina?”
“Siapa lagi?” Sambil berkata, Arkan menunjukkan rekaman kamera pengawas yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
Badri melihat rekaman itu dari ponsel Arkan itu, sekilas, lalu, dia memalingkan muka sambil mendengus kasar dan menggerakkan kursi rodanya kembali ke kamar, di ikuti perawat yang sudah di bayar untuk membantu keperluannya.
Setelah kepergian Badri, Arkan kembali menulis pesan kepada Erlan, memberitahunya bahwa dia tidak perlu khawatir karena Winsi berada di rumah ibunya.
Kalau dia ingin memastikannya maka dia boleh melihatnya ketika nanti pulang sekolah tapi, Arkan kembali memberi dan pesan agar jangan memaksa Winsi untuk kembali ke rumah kecuali, atas kemauannya sendiri. Ya, dia hanya perlu tahu bahwa Gadis itu baik-baik saja.
Benar saja ketika Erlan pulang sekolah dia pun meminta Husnu untuk mengantarkannya ke rumah Runa. Saat tiba di tempat itu mereka tidak langsung pergi menemui Winsi tapi, hanya hanya menyimpan mobil di seberang jalan dan, mengamati dari jauh apa yang dilakukan Gadis itu. Hari sudah menjelang sore ketika mereka tiba di sana.
Ternyata Winsi tampak begitu riang membantu ibunya melayani beberapa pembeli di warung.
Erlan menghembuskan nafas perlahan sambil menyandarkan kepala, dis menyesali kenapa gadis ini tidak sekolah padahal dia baik-baik saja. Akan tetapi, kemudian dia berpikir mungkin ada sesuatu, yang menyakitkan hingga anak perempuan itu tidak semangat untuk memikirkan pelajaran sekolah. Lalu, memilih pergi ke tempat ibunya, bahkan dia melayani pembeli dengan masih memakai seragam sekolahnya.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Winsi begitu melihat orang yang memanggil dan memesan segelas teh adalah Erlan.
“Memangnya tidak boleh? Aku kan pembeli, sama seperti orang lain juga.”
Tanpa melihat lagi ke arah Erlan, Winsi pun membuatkan pesanannya. Gadis itu menyodorkan satu gelas teh es teh sesuai pesanan bersamaan dengan Runa yang keluar dari dalam rumah.
Wanita itu menyapa Erlan dan tersenyum ramah, menyambut remaja itu dengan menjabat tangan dan Erlan pun mencium punggung tangannya.
“Apa kabar Tante?”
“Aku baik, Alhamdulillah. Gimana kabar semuanya di rumah? Maaf ya, Tante jarang ke sana, nggak enak sama kakekmu.”
“Kenapa harus nggak enak tante, rumah itu bukan rumah kakek tapi rumah Ayah! Semua baik-baik aja, kok!”
__ADS_1
“Oh, itu sama saja tante tetap nggak enak pergi ke sana.”
Selama ini, Runa hanya sekali-sekali saja dalam satu pekan untuk menengok keadaan Winsi di rumah besar. Setiap kali ke sana dia selalu membawa oleh-oleh sederhana berupa makanan buatannya sendiri dan juga membantu pekerjaan Neni. Dia memperlakukan dirinya seperti itu karena memang merasa bukan tamu, melainkan orang yang tetap harus mengabdi pada keluarga itu karena keberadaan anaknya di situ menurutnya sudah sangat mengganggu.
“Ibuk! Mulai sekarang nggak usah ke sana lagi Aku juga nggak akan ke sana sebelum Tante itu pergi.”
“Win, apa maksudmu, ada Tante siapa?” tanya rona sambil menengok dan menatap anaknya penuh selidik.
Saat tadi Winsi pulang ke rumah, dia mengatakan bahwa ternyata hari itu sekolahnya libur. Runa tahu bahwa anaknya saat ini sedang berbohong karena dia menangkap gelagat yang tidak baik dari sikap dan ucapan Winsi saat mengatakan tentang seseorang yang berada di rumah besar.
Winsi selalu jujur pada ibunya seperti saat ini, dia pun mengatakan apa yang dialami dan semua ucapan Saina padanya.
“Apa benar tante Saina mengatakan itu ke kamu?” tanya Erlan.
“Ya. Jadi aku nggak mau ke sana lagi Aku sadar kok siapa aku aku nggak pantas dan tante itu benar jadi aku nggak mau ... nggak mau lagi tinggal di rumah Ayah!”
“Apa kamu mau berhenti sekolah juga?” tanya Erlan.
“Kalau soal itu ... nggak, aku tetap mau sekolah kok,” kata Winsi sambil melihat ke arah ibunya lalu, berkata “Ibu, bisa kan nerusin biaya sekolah aku di sana?”
“Bisa, bisa, Nak. Kalo kamu memang mau sekolah di sana jangan khawatir, Ibu hanya perlu berusaha lebih keras.”
“Erlan, bilang sama Ayah, aku nggak akan pulang. Tolong nanti. Pak Hasnu yang akan membawa barang-barangku!” Kata Winsi seraya menatap Hasnu, memintanya untuk memindahkan barang miliknya dari rumah Arkan ke rumah sewa ibunya.
Bersambung
__ADS_1