
Bela Sungkawa
"Coba cari tahu, dan jadilah orang yang bertanggung jawab.” Runa berkata dengan lemah lembut.
“Tapi, aku nggak salah, Bu. Aku nggak sengaja jatuh, dari pada nabrak orang ... aku coba menghindar, eh, malah jatuh.”
“Iya, Ibu tahu kamu nggak salah, semua itu takdir Allah ... cukup tahu saja, kan, nggak berat, terus kita bisa ikut berbelasungkawa pada keluarganya, itu saja maksud Ibu, Nak.”
“Ya. Bu.” Erlan menjawab pasrah.
Runa mengakhiri panggilan, setelah berpesan agar anak lelaki itu istirahat yang cukup dan hati-hati bila suatu saat kembali mengemudi dan menjadikan semua pengalaman hari ini sebagai pelajaran dalam hidup.
Di rumah sakit, Erlan memberikan ponsel milik ayahnya dan mengatakan apa pesan Runa. Setelah mendengar semua itu, Arkan menuju meja informasi dan menanyakan perihal pasien kecelakaan beberapa jam yang lalu. Akan tetapi tidak ada pasien yang datang ke rumah sakit dalam keadaan meninggal dunia yang membutuhkan kamar mayat di sana.
Informasi yang diinginkan Arkan serta Erlan, baru mereka dapatkan keesokan harinya setelah mereka akan pulang.
Luka-luka yang di dapatkan Erlan tidak terlalu parah sehingga dia bisa pulang setelah menginap selama satu malam di rumah sakit itu. Mereka kembali ke rumah setelah menyelesaikan administrasi keuangan, lalu, pergi ke kantor polisi untuk mencari informasi tentang kecelakaan yang terjadi kemarin.
Sesampainya di kantor polisi, mereka tentu mendapatkan informasi yang di inginkan dengan mudah, polisi memberikan keterangan yang lengkap berupa kronologi serta identitas korban tewas di tempat hari itu, membuat mereka berdua tercengang, karena kedua orang suami istri yang mengalami kecelakaan bersama dengan Erlan adalah, orang tua salah satu teman sekolahnya.
Dua orang anak dan ayah kembali ke rumah, setelah mendapatkan informasi itu dengan lengkap. Tak lupa mereka mengabarkan kepada Runa. Wanita itu menyambut kedatangan suami dan anak tirinya dengan haru dan berlinang air mata.
“Ibu, tidak perlu menangis ... Erlan baik-baik saja, pikirkan saja diri Ibu sendiri.” Erlan berkata sambil duduk di sofa yang ada di tengah ruangan, di mana layar televisi yang cukup besar berada.
Runa, duduk di sampingnya dan berkata, sambil mengusap kepala Erlan. “Ibu bersyukur kamu baik-baik saja walaupun sakit, tapi, tetap saja Ibu senang kamu nggak apa-apa ... kamu masih muda, masa depanmu masih panjang, Alhamdulillah kamu nggak mengalami nasib seperti orang yang meninggal di tempat.”
“Ya, tetap saja jalannya pincang.” Sahut Arkan yang duduk di hadapan istri serta anaknya.
__ADS_1
Memang luka di bagian kaki cukup lebar karena tertindih badan motor, tapi, tidak membutuhkan jahitan dan akibat luka itu, saat berjalan terasa sakit, hingga Erlan berjalan sedikit pincang.
“Ya. Namanya saja habis jatuh dari motor, Ayah! Jatuh lagi jalan kaki juga bisa sakit, bisa lecet, apalagi ini!” Erlan berkata sambil mengusap kaki dan celana levisnya yang sobek karena di gunting oleh perawat saat dokter akan melakukan tindakan medis padanya kemarin.
“Itu, akibat dari kebut-kebutan di jalan!” kata Arkan menatap anaknya tajam. Sehari semalam menunggu anaknya di rumah sakit membuatnya lelah, hingga hal kecil saja bisa memicu kemarahannya.
“Kebut di jalan juga Erlan bukan ugal-ugalan, Ayah!”
“Sudah, sudah, apa tidak cukup kalian bertengkar di rumah sakit?” tanya Runa kemudian membuat kedua pria di dekatnya mengerutkan alis. Karena selama di rumah sakit justru mereka tidak banyak bicara atau bertengkar. Bahkan bisa dikatakan mereka tidak mengobrol sama sekali, hanya saat di hadapan Runa mereka bisa mengeluarkan segala isi hati dengan tenangnya.
Runa mengajak Erlan berbincang sambil melihat luka di kaki dan tangan yang diperban kain kasa, mendengarkan curahan hati anak itu saat sebelum dan sesudah kejadian.
Betapa terkejutnya dia saat tiba-tiba melihat orang berjalan kaki di depannya. Dia baru saja menyalip kendaraan lain dari sebelah kanannya waktu itu, membuat dia secara reflek membelokkan stir ke sembarang arah. Namun yang terjadi kemudian dia terjatuh, tangan dan kakinya seketika gemetar hebat, panik dan takut menjadi satu.
Sesaat setelah dia jatuh, terdengar suara benda berbenturan sanngat keras terdengar dari sisi lainnya, membuat Erlan kembali terperangah. Sebuah mobil sedan yang ada di belakangnya, sama-sama berkecepatan tinggi membentur pembatas jalan yang berupa bangunan dari bata setinggi pinggang orang dewasa, membuat bagian depan mobil ringsek tidak berbentuk.
Dia hanya duduk lemas di pinggir jalan melihat semua kekacauan, sesaat kemudian dia merasakan nyeri yang amat sangat di kulit tangan dan kakinya, darah mengucur deras. Sementara orang yang menyeberang jalan sembarangan, pergi entah ke mana.
“Oh ya, bagaimana, Ayah?” tanya Arkan tiba-tiba setelah Erlan selesai bercerita.
“Alhamdulillah baik-baik saja sekarang.”
“Mamangnya, kakek kenapa?” tanya Erlan, sambil melihat Runa.
Runa pun menceritakan kejadian yang dialami Badri kemarin dan sampai hari ini keadaan tubuhnya terus melemah, batuk terus menerus dan tidak mungkin lagi diajak jalan-jalan ke luar rumah seperti biasanya.
Arkan pergi ke kamar ayahnya di susul oleh Runa, sementara Erlan pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan istirahat.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengan anakmu?” tanya Badri sambil terbatuk-batuk. Dia membuka mata saat melihat Anak dan menantunya duduk di sisi tempatnya berbaring dengan lemah.
“Tudak apa-apa, Erlan baik-baik saja sekarang tinggal penyembuhan luka saja. Ayah pikirkan saja kesehatan ayah sendiri.”
“Apa karena aku sakit, tidak perlu tahu keadaan cucuku?” tanya Badri, sambil berusaha untuk bangkit. Runa membantu ayahnya duduk dengan cekatan, membuat perawat yang di bayar dan berdiri di dekat mereka seolah tak berguna. Sejak kedatangan Runa, pekerjaan sang perawat itu menjadi sangat ringan karena Runa banyak melakukan sesuatu untuk ayah mertuanya.
“Ayah, bukan seperti itu ... maksud Arkan itu biar ayah cepat sembuh.” Runa berkata sambil menepuk-nepuk punggung Badri karena kembali terbatuk.
“Kau juga!” Badri berkata sambil menoleh pada Runa. “Pikirkan saja dirimu sendiri, tidak perlu mengurusku, bukannya kamu juga tengah hamil sekarang?”
“Ayah, kehamilanku tidak ada masalah. Ada suami yang juga mengurusku. Memangnya salah kalau aku mengurus Ayah?”
Semua diam, Arkan menatap Runa dengan tatapan yang rumit, wanita itu masih saja mengusap-usap punggung Badri, membantunya meringankan batuk. Ada rasa khawatir yang tinggi pada istrinya yang mengandung bayi di usia yang beresiko tinggi bila hamil.
Runa sudah berulang kali memberi penjelasan bila Arkan tidak perlu mengkhawatirkannya karena dia merasa masih cukup kuat mengandung sebuah janin buah cinta mereka setelah menikah cukup lama. Wanita itu sengaja tidak memakai alat kontrasepsi apa pun pada dirinya setelah beberapa bulan pernikahan mereka. Dia ingin memberi Winsi dan Erlan seorang adik yang bisa merekatkan silaturahmi dalam kehidupan mereka selanjutnya.
Wanita itu tidak ingin bila setelah Runa atau Arkan tiada kelak, kedua anak itu menjadi berjauhan dan tidak lagi dekat karena merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa mendekatkan mereka.
Keluarga kecil itu masih bercakap-cakap di dalam kamar Badri ketika Bi Neni mengetuk pintu dan berkata, “Tuan, ada tamu.”
Setelah berkata demikian, wanita itu pun pergi untuk menyiapkan teh hangat untuk tamunya.
“Siapa?” tanya Arkan sambil melangkah pergi meninggalkan Bardri. Langkahnya yang cepat diikuti oleh Runa menuju ke ruang tamu, dia ingin tahu siapa tamu mereka.
Arkan sampai di ruangan itu dan seketika mengernyit. Dia pun berkata dengan sinis setelah tahu siapa wanita yang duduk dengan tenang di sofa ruang tamunya.
“Kamu? Untuk apa kamu ke sini?”
__ADS_1
Wanita itu langsung berdiri dan menghambur dalam pelukan Arkan seraya menangis dan berkata, “Arkan, tolong bantulah aku!”
Bersambung