Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
13. Rapuh


__ADS_3

Rapuh


Sesampainya Basri di dalam, dia melihat Bu Bidan dan Bu Tina—tetangganya, berada di ruang tamu, duduk sambil menyambut kedatangan suami Runa itu dengan wajah terkejut.


Basri tidak mengindahkan mereka dan langsung mencari keberadaan istrinya di kamar. Betapa terkejutnya dia saat melihat seorang lelaki berada di dalam kamar dan tengah menyelimuti istrinya.


Seketika amarah Basri bergolak memenuhi perut dan rongga dada seakan-akan menambah kekuatan pada tubuhnya. Dengan kekuatan itu lah Basri meninju dan menendang pria itu tanpa mempertanyakan motif dari perbuatannya terlebih dahulu.


“Hai!” katanya sambil melayangkan tinjunya kembali dan berkata, “berani-beraninya kamu di kamarku!”


“Ahk!” pria itu memekik keras sambil memegangi pipinya dan, tubuhnya miring ke samping, belum sempat dia berdiri tegak, pukulan berikutnya pun melayang kembali.


Buk!


Sambil memukul Basri berteriak, “Kurang ajar!”


Setelah itu dia diam dengan napas yang terengah-engah, membiarkan lelaki asing di hadapannya berdiri.


Pria itu tidak rela dirinya diperlakukan demikian, tapi dia tidak membalasnya karena tidak ingin menambah amarah suami Runa, hingga dia pergi begitu saja. Bidan dan tetangganya memberi sedikit penjelasan, namun saat itu Basri tidak bisa berpikir jernih karena terbungkus amarah.


Itulah yang dinamakan energi kemarahan, yang bila dikumpulkan maka bisa menghancurkan sebuah tembok hanya dengan satu pukulan tangan kosong.


Pada saat Basri memukul pria yang sudah menolongnya, Runa tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terus menerus muntah, membuat tubuhnya semakin lemah.


Kondisi tubuh Runa seperti itu terus, selama beberapa hari, dan Basri merawatnya dengan baik, meski kepercayaan pada istrinya berkurang sejak kejadian itu. Akan tetapi dia tidak bisa terus mengurusnya karena harus kembali bekerja.


Runa belum sempat membeli alat tes kehamilan karena kondisi badannya. Namun, setelah beberapa hari kemudian, dia merasa sudah kuat dan segera pergi menuju supermarket terdekat. Dia membeli alat tes itu, beserta beberapa bahan makanan lain yang sudah menipis di rumahnya. Kebetulan Basri memberi kabar akan pulang lusa, sehingga dia bisa menunjukkan bukti itu padanya.

__ADS_1


Siapa yang menyangka nasib malang kembali menimpa Runa, dja terjatuh dan pingsan, saat berjalan di trotoar, untuk mencari angkutan umum. Dia mengalami pendarahan dan, secara kebetulan pula pria yang pernah menolongnya itu, ada di sekitarnya.


Begitu melihat kerumunan orang yang akan menolong Runa, dia ikut serta lalu, berinisiatif membawa Runa ke rumah sakit, dengan menumpang taksi, untuk mengatasi pendarahan.


“Anda, suaminya?” tanya dokter yang memeriksa Runa waktu itu dan, tanpa ragu pria itu mengangguk.


Dokter itu sudah berhasil mengatasi kondisi Runa. Dia pun tersenyum tipis, lalu berkata, “Anda harus bersyukur, Pak. Bayi Anda selamat. Untung saja cepat dibawa ke mari. Kalau tidak, istri Anda bisa mengalami keguguran.”


“Oh, iya Dok. Terima kasih.”


Setelah berkata seperti itu, dia diam tanpa ekspresi, karena menyadari bahwa bukan dirinya yang seharusnya bahagia, melainkan suami Runa. Setelah itu dia menunggu di kamar perawatan, sampai Runa tersadar. Wanita itu hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tulus, padanya atas pertolongan yang dia berikan.


Keesokan harinya, Basri sudah kembali pulang dan mendapati kediamannya kosong, dia buru-buru pergi ke rumah sakit begitu mendapatkan informasi dari tetangganya bahwa, Runa tengah dirawat karena terjatuh dan sempat pingsan.


Setelah berada di rumah sakit, Basri mencari informasi tentang istrinya dan, segera pergi ke kamar perawatan di mana istrinya berada. Di saat itulah dia terkejut dan kembali marah karena melihat pria yang sama, sedang berbincang dengan istrinya di sana.


Pada saat di kamar perawatan itu, sebenarnya si Lelaki Asing tengah membereskan pembayaran administrasi dan menyerahkan bukti pembayaran kepada Runa yang sudah sudah diperbolehkan untuk pulang.


“Kamu lagi?” tanya Basri dengan geram dan kedua tangannya terkepal menunjukkan emosinya yang membuncah, benci dan cemburu menjadi satu. Pikiran buruk yang dihembuskan setan semakin penuh di benaknya.


Pria itu melihat ke arah Basri tanpa ekspresi, dengan tenang dia melangkah sambil mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


“Anda pasti suami Bu Runa, kan? kenalkan nama saya Anas,” kata pria itu dengan datar, dia masih ingat pukulan yang sangat sakit di wajahnya dari Basri.


“Heh. Siapa yang mau kenal dengan orang seperti kamu!” sahut Basri acuh, melewati Anas begitu saja. Kemarahan tidak juga sirna meskipun, pria ipenolong tu menunjukkan gelagat yang baik dan ramah. Akan tetapi kekerasan hati Basri tidak bisa melihat kebaikan itu di matanya karena kecemburuan dan emosi lebih mendominasi.


Basri membawa istrinya yang sudah diijinkan pulang, dengan menggunakan mobil truknya. Sesampainya di rumah, Runa langsung menggunakan alat tes kehamilan yang ada di kantong plastik belanjaannya. Anas yang membawa belanjaan itu saat menolongnya, bahkan dia bawa sampai ke rumah sakit sehingga, dia bisa menggunakan apa yang sudah ia beli.

__ADS_1


Alat tes kehamilan itu, kemudian menunjukkan hasil bahwa, Runa positif hamil, dan langsung menunjukkannya kepada Basri, dengan senang hati. Namun ternyata komentar yang dia dapatkan sungguh diluar dugaan, Basri tidak mempercayai dan tidak menyukai kehamilannya.


Saat itu Runa benar-benar rapuh, harapannya menjadi keluarga yang lebih bahagia karena hadirnya seorang anak, hanyalah sia-sia. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain di abaikan dan disia-siakan oleh suaminya. Bahkan sikap Basri yang dulunya begitu lembut dan penuh perhatian pun berubah total. Pria itu acap kali marah, bahkan menyebutkan buah cinta mereka sebagai anak haram.


“Urus anakmu sendiri, jangan mengandalkan aku, aku tidak Sudi mengurus anak itu.” Begitu ucapan Basri saat Winsi lahir ke dunia dan menyapa kedua orang tuanya dengan tangisan keras tanpa dosa.


Runa mencoba bertahan, karena dia tidak mempunyai siapa-siapa dan hasil tabungan dari usahanya menjual nasi uduk di perempatan jalan tidaklah seberapa, karena dia hanya berjualan saat Basri pergi bekerja. Bahkan terkadang uang yang dia dapatkan habis untuk biaya anaknya.


Wanita itu tetap bersikap baik dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, meskipun, Basri semakin hari semakin kasar, apalagi setelah Winsi mulai besar dan punya tingkah menyebalkan khas anak-anak.


*****


Winsi dengan senang hati membantu dan menemani Runa menjual nasi uduk buatan mereka. Gadis cantik itu sudah bangu sebelum subuh setiap harinya untuk mempersiapkan semua bahan dagangan. Dia sudah tidak lagi sekolah, dan sudah mendaftar di salah satu SMP negeri dekat lingkungannya, hanya saja sekolahnya kali ini lebih jauh, membuatnya tidak bisa berjalan kaki ke sana.


“Nanti uang jajan sekolahku di tambah, kan, Bu?” tanyanya saat mereka tengah berada di perempatan jalan.


Bukan hanya mereka yang menjajakan dagangannya, ada juga yang berjualan bubur ayam, bubur kacang hijau, gorengan, bahkan tukang sayur mayur pun ada. Perempatan itu memang luas dan sangat strategis sebagai tempat sarapan para pengguna jalan, karyawan dan pegawai beberapa pabrik yang kebetulan berdiri di sekitar jalanan.


“Ya. Asal kamu rajin bantuin ibu kalau mau jualan.”


“Pastilah, Bu. Nanti dibawa juga nasi uduknya ke sekolah, aku mau jualan sendiri saja, biar lebih banyak untungnya.”


“Apa kamu tidak malu, jualan di sekolah?”


Bersambung


“Terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa, tinggalkan jejak like, komen, give dan votenya”

__ADS_1


__ADS_2