Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
134. Aku Tidak Salah Lihat


__ADS_3

Aku Tidak Salah Lihat


Winsi tertawa kecil sebelum menjawab, “Memang dia nggak tahu, Pak, jangan bilang-bilang, ya!”


Hasnu hanya menggelengkan kepala dan dia diam saja, ketika Winsi selesai melakukan transaksi, dengan pembayaran cash yang dia lakukan sendiri.


Setelah selesai melakukan pembayaran Winsi pun akhirnya pulang bersama dengan Hasnu, sedangkan motornya akan diantarkan beberapa saat kemudian langsung ke kediamannya.


Sebelum sampai di rumah, Winsi meminta sopir pribadinya itu, untuk berhenti di warung makanan tempat dia dahulu sering jajan sepulang sekolah, bersama beberapa teman-temannya, yang dianggap lemah hingga dia dijuluki ketua geng lemah.


Winsi membeli beberapa makanan kesukaan diri dan teman-temannya seperti orang yang kelaparan, dia mengenang masa lalu dan membawa satu kantong penuh jajanan anak-anak itu. Dengan tersenyum riang dia menunjukkan kantong itu kepada Hasnu, sambil berjalan menuju mobil.


Hasnu yang hanya menunggu di dalam mobil, menggelengkan kepala, melihat majikan wanitanya yang terlihat ceria hanya dengan membawa makanan anak-anak.


Namun, sesaat kemudian wajah ceria Winsi seketika lenyap, berganti dengan raut muka serius sambil mengerutkan keningnya menatap ke satu arah


“Pak, bukannya itu Erlan?” kata Winsi ketika dia melihat sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi di jalan yang sama. Dia hapal betul mobil siapa yang melintas itu, sedangkan dia sudah duduk kembali di kursi depan, di samping kursi yang Hasnu duduki


Seketika Hasnu menoleh pada arah yang ditunjukkan Winsi dan ia melihat dengan saksama mobil yang baru saja melewati mereka, adalah kendaraan yang mirip dengan yang biasa dipakai oleh Erlan.


“Bukannya dia pergi ke kantor ya, Pak, kok lewat sini? Kira-kira dia mau ke mana, tahu nggak, Pak?”


“Ya, mana saya tahu Nona!”


“Ya sudah kalau gitu, ikuti dia, Pak, bisa nggak?”


Hasnu terdiam sejenak, untuk berpikir sebelum akhirnya menyalakan mesin. Lalu, dia melajukan mobil dengan sangat perlahan karena hatinya bimbang, apakah dia harus menuruti Winsi atau tidak. Dia tahu bahwa laju arah kendaraan Erlan itu menuju ke rumah Hanifa, dia tidak ke kantor seperti yang dikatakan majikan perempuannya itu.


Walaupun, secara naluri Hasnu ingin sekali mengatakan dengan jujur, apa yang dilakukan Eran di belakangnya tetapi, dia tetap tahu diri dan batasan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya kecuali, Erlan sendiri yang mengakui di hadapan istrinya. Di saat seperti ini kadang takdir yang akan menjawab pertanyaan dan masalah mereka.


“Hai, Win!” tiba-tiba sebuah suara keras mengagetkan Winsi dari samping jendela mobilnya. Dia melihat seseorang yang sedang mengendarai motor dan mengenakan helm serta kacamata hitam, berada di samping mobilnya yang berjalan dengan sangat perlahan.


Winsi tersenyum karena dia tahu bahwa itu adalah Merry hingga dia menjulurkan kepala ke luar jendela, lalu, berteriak juga.

__ADS_1


“Hai, Mer! Kamu dari mana?” katanya.


Belum sempat Merry menjawab, terdengar suara letusan kecil dari ban motonya, saat itu, kebetulan dia sedang bersama seorang teman yang duduk di belakang dan akan segera di antarnya pulang.


Mereka yang ada di sempat itu terkejut tapi, kemudian mereka segera tersadar bila suara itu berasal dari ban motor yang dikendarai oleh Merry pecah. Gadis itu dengan cepat berhenti dan turun dari sana sambil melepas helm, begitu juga dengan temannya.


Hasna pun bernapas lega karena saat ini Erlan selamat, dia tidak harus menuruti Winsi dan gagal mengikuti karena kedatangan teman-temannya, yang secara kebetulan melintas lalu, ban motornya pecah. Pria itu menepikan kendaraannya secara perlahan dekat dengan motor Meri yang tidak mungkin dinaiki dua orang.


Hasnu tetap duduk di mobilnya sementara Winsi turun kembali untuk menemui teman-temannya.


Gadis yang bersama mereka itu bernama Tiana, dia adalah sahabatnya Mery yang menempuh pendidikan di kampus yang sama dengannya.


“Oh, jadi, dia yang teman yang kamu ceritakan waktu itu?” kata Winsi setelah saling berkenalan dengan Tiana.


“Iya, dia ini tetanggaan sama Hanifa!” jawab Mery.


Tiana tersenyum ramah dan mengangguk.


“Nggak tahu, deh,” kata Mery pada Tiana sambil mengangkat bahunya dan menatap ban motornya yang kempes.


“Kamu mau pulang?” tanya Winsi.


Tiana mengangguk.


“Oh ya, kebetulan ada Winsi, kalau kamu mau, gimana Win, kamu mau nggak nganterin dia? Dia lagi buru-buru, perutnya sakit katanya!” kata Merry lagi.


“Nggak apa, aku kan, mau pulang sekalian aja, arah jalannya ke mana?” kata Winsi.


“Ke arah sana, dari perempatan jalan, belok ke kiri!” kata Tiana.


“Oh, ayo! Aku nggak masalah kok, lagian udah lama di rumah juga, sekalian jalan-jalan!” kata Winsi.


“Kenapa kamu di rumah terus? Kamu Kapan mulai kuliah, Win?” tanya Mery

__ADS_1


“Hari Senin, sebentar lagi,” sahut Winsi. “Ya, kalau gitu aku tinggal dulu ya, Mer?”


Mery mengangguk sambil menuntun motornya ke arah tukang tambal ban motor yang ada di seberang jalan itu.


Winsi melambaikan tangan pada Merry, dia menggandeng tangan Tiana dan duduk di kursi belakang berdua. Setelah pintu tertutup dengan sempurna, dia pun meminta Pak Hasnu untuk mengantarkan Tiana ke jalan yang dia tunjukkan sebelumnya.


Hasnu mengikuti arah yang ditunjukkan, sementara dua gadis di belakang sedang berbincang-bincang tentang kuliah dan pertemanan dirinya dengan Mery. Mereka dan juga mengobrol tentang beberapa hal yang lainnya sehingga tiba di suatu jalan yang agak kecil, Tiana memberikan isyarat untuk berhenti karena di situ adalah rumahnya.


“Makasih banget ya, Win kamu udah mau nganterin aku soalnya kalau aku udah nggak kuat lagi, nih! Kalau sehat, aku nggak bakalan minta Merry buat nganterin aku,” Kata Tiana, sambil menyeka wajahnya.


“iya, nggak masalah ... ini juga takdir, sih, pas kita ketemu itu karena memang aku harus nganterin kamu ke sini, iya, kan?”


“Alhamdulillah ini takdir baik makasih banget, ya!” kata Tiana, sambil turun dari mobil.


“Ya!” sahut Winsi, sambil menutup pintunya kembali.


Winsi melambaikan tangan dari tempat duduknya dia hanya melihat ke arah Tiana yang sudah pergi dan memasuki rumahnya.


Di saat yang sama dia melihat selintas, ada mobil yang dia kenali siapa pemiliknya, terparkir di di sebuah rumah yang tak jauh dari rumah Tiana.


Winsy mengingat-ingat kembali, saat dia tadi melihat mobil Erlan yang melintas tepat di hadapannya mengarah ke tempat yang sama, dia tidak menyangka apabila mobil itu terparkir di sana.


“Pak, bukannya itu mobil Erlan, ya? Kenapa mobilnya ada di sini? Pak Hasnu tahu ini rumah siapa?” tanya Winsi, tepat di saat Hasnu sudah hendak memutar.


Hasnu tergagap menjawab pertanyaan Winsi, sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak tahu, Non!”


“Tapi, aku nggak salah lihat, kan, Pak? Itu mobil Erlan!”


“Bukan, Non ... Itu bukan mobil Tuan Muda! Mungkin juga itu hanya mirip saja!”


Hasnu berkata sambil memutar mobilnya dengan cepat ke arah yang berlawanan dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2