Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
66. Belum Tahu


__ADS_3

Belum Tahu Tentang Sesuatu


Runa terus menepuk-nepuk punggung laki-laki tua itu tapi, batuk Badri tidak juga berhenti, bahkan batuknya semakin parah. Akhirnya Runa mendorong kursi rodanya dengan cepat kembali ke rumah. Dia membawa pria itu ke kamarnya dan membaringkan dengan bantuan perawat yang setia menemaninya selama ini. Lalu, menghubungi dokter keluarga langganan mereka.


Mereka bercakap-cakap sambil menunggu dokter itu datang.


“Ayah apa Ayah tidak apa-apa?” Runa bertanya dengan gusar.


Namun laki-laki itu tidak menjawab membuat Runa khawatir apalagi dia takut disalahkan, apabila terjadi sesuatu pada Badri hingga dia merasa bersalah telah membawanya jalan-jalan keluar rumah bahkan menceritakan sesuatu yang menyebalkan.


“Maafkan Aku, Ayah kalau ceritaku tadi membuat Ayah tidak suka.” Runa berkata berulang kali sambil menyelimuti tubuh ayah-mertuanya yang terus terbatuk-batuk.


Tanpa diduga Badri menggelengkan kepalanya, kemudian dengan terbata-bata di sela batuknya, dia berkata, “tidak masalah ... bukan itu yang membuatku batuk tapi karena aku memang sakit ... mungkin ini sudah waktunya lebih dekat lagi.”


“Apa maksud Ayah?”


“Runa ... mungkin waktuku sudah tidak banyak ... maafkan aku, tidak tahu selama ini beban dan penderitaanmu serta anakmu begitu berat ... maafkan aku yang dulu bersikap acuh padamu padahal seharusnya Aku menyayangimu seperti anakku sendiri.”


Ternyata, setelah Runa menceritakan tentang masa lalunya, Badri menjadi merasa bersalah. Sebagai orang tua yang sudah banyak berpengalaman dalam hidup, dia tahu bagaimana rasanya tinggal serumah dengan seorang laki-laki yang tidak mengakui anaknya sendiri. Dengan kata lain suaminya itu menuduhnya sebagai perempuan penzina. Tentu itu sangat menyakitkan.


Apalagi setelah dia mendengar bahwa wanita itu sempat membela anaknya, sampai rela masuk ke penjara karena suaminya tidak mau membela. Badri dulu berpikir bahwa kabar pencurian perhiasan itu memang benar. Namun mendengar cerita tentang masa lalu Runa hari ini, dia merasa begitu bersalah karena tidak seharusnya dia berprasangka buruk.


Badri meminta pelayannya yang ada di dekatnya untuk mengambilkan sebuah kotak yang disimpan dalam lemari perhiasan milik istrinya.


“Pakailah, ini untukmu.” kata pria itu sambil memberikan kotak kayu kecil berukiran asli Jepara kepada Runa.


“Apa ini Ayah?” tanya Runa sambil membuka kotak perhiasan itu dan dia tercengang ketika sudah melihat banyak sekali perhiasan mewah yang ada di dalamnya.


Akan tetapi Runa menutupnya kembali dan menyodorkan kotak perhiasan itu kepada Badri sambil berkata, “maaf Ayah aku tidak pantas menerimanya.”


“Siapa yang bilang kamu tidak bantas lalu, untuk apa perhiasan ini kalau nanti aku mati?” Badri menolak kotak itu dan mengetahuinya kembali di pangkuan Runa.


“Ayah jangan berkata seperti itu Ayah akan berumur panjang dan sehat selalu.”

__ADS_1


“Tidak ada gunanya berumur panjang kalau tidak bisa melakukan apa-apa seperti diriku.”


“Bukankah Ayah masih bisa melakukan banyak ibadah walaupun Ayah hanya duduk di kursi roda, banyak bersedekah dan juga berzikir, bukankah itu ibadah? Bukankah itu cukup?”


“Ya, Kamu benar tapi aku tidak mau merepotkan banyak orang.”


“Memangnya, siapa yang merepotkan? Bukankah orang yang mengurus juga akan mendapatkan pahala dari Allah?”


“Ya, kalau orang itu ikhlas.”


“Ya, Ayah juga harus ikhlas diurus oleh siapa pun ... jadi sama-sama mengikhlaskan.”


Setelah pembicaraan itu selesai tak lama dokter yang dihubungi oleh Runa pun datang dan segera memeriksa kondisi, serta memastikan keadaan Badri.


Sementara itu Runa menghubungi Arkan, tetapi ponsel suaminya itu tetap saja tidak diangkat.


Rona kembali ke kamar Badri dan melihat dokter itu sudah selesai melakukan pemeriksaan dan kini terlihat pria tua itu tertidur. Sepertinya dokter itu sudah memberinya obat penenang hingga mengurangi beban dan tidak lagi terbantu batuk.


“Bagaimana, Dok? Kenapa tiba-tiba batuk terus-menerus?” tanya Runa antusias.


Dokter memberikan penjelasan bahwa laki-laki itu akan tetap baik-baik saja selama dia tidak gelisah, ataupun tidak ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya. Penjelasan dokter itu membuat Runa mengerti bahwa dia tidak boleh mengatakan hal yang buruk lagi.


“Baik Dokter, terima kasih.”


Dokter itu pergi setelah Runa mendapatkan semua penjelasan dan tahu apa yang harus dilakukan. Tak lama setelah itu ponselnya kembali berterima dan itu dari Arkan.


Melalui ponsel Runa mengatakan apa yang terjadi pada Badri di rumah. Tak lupa Dia menanyakan apa yang terjadi pada Erlan, bagaimana keadaannya di rumah sakit, dan apakah membutuhkan sebuah operasi sehingga Arkan tidak bisa menerima panggilan.


“Jangan khawatir dia baik-baik saja,” kata Arman setelah mendengar rentetan pertanyaan dari Runa, melalui telepon genggamnya.


“Kalau tidak kenapa-napa, kok dari tadi aku menghubungi tapi, tidak diangkat juga aku kan penasaran, belum tahu gimana keadaannya?”


“Oh, maaf ... soal itu tadi hp-ku ketinggalan di mobil dan aku tadi pergi melihat Erlan di tangani, dia cuma terluka tangan dan kaki tapi, tidak banyak mungkin dalam seminggu juga dia akan sembuh.”

__ADS_1


“Oh, terus apa yang terjadi kenapa Erlan bisa kecelakaan, bagaimana motornya, sekarang?” Runa kembali memberondongkan dengan banyak pertanyaan membuat laki-laki itu tersenyum di seberang telepon.


Arkan menjelaskan tentang terjadinya kecelakaan. Yaitu saat Erlan berusaha menyalip mobil yang ada di hadapannya, tiba-tiba dia melihat seorang pejalan kaki yang melintas. Demi menghindar agar tidak menabrak orang itu, dia membanting satirnya ke kanan lalu, terjatuh. Akan tetapi mobil yang di belakang Erlan kebetulan dalam kecepatan tinggi sehingga terlalu susah untuk menghindari motor Erlan terjatuh tepat di saat akan melintas, membuat pengemudi terkejut.


Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah mobil itu berusaha menghindar agar tidak menabrak motor Erlan hingga sang sopir pun membanting satir ke kanan juga. Namun, naas, mobil itu menabrak pembatas jalan hingga kemudian dua suami istri yang merupakan pemilik kendaraan dan duduk di bagian depan mobil, meninggal seketika.


Siapa yang menduga bila ternyata, mereka adalah kedua orang tua teman Erlan sendiri. Baik Arkan maupun Erlan, saat ini belum tahu tentang identitas korban kecelakaan tunggal itu.


Ya, mereka tidak tahu bila teman Erlan itu, sedang menjalani perawatan di rumah sakit karena terjatuh sehingga mendapatkan jahitan yang cukup banyak di kepala. Saat ini dia menjadi koma, dan trauma parah. Sedangkan kedua orang tua yang akan menengok keadaan anak mereka, tapi, justru mengalami kecelakaan dan meninggal saat itu juga sebelum sempat melihat apa yang terjadi padanya.


“Coba, berikan hp-nya pada Erlan aku mau bicara.” Runa berkata masih dengan rasa penasarannya.


“Baik.” terdengar Arkan berbicara pasrah lalu, laki-laki itu memberikan hp-nya pada anaknya sehingga terdengar di telinga Runa suara Erlan yang serak dan lemah.


“Halo, Bu? Kapan Wiwin pulang?” tanya Erlan dari seberang membuat Runa mengernyit heran. Bagaimana mungkin anak itu bertanya tentang Winsi, dalam keadaan dirinya yang tengah kesakitan. Akan tetapi, pertanyaan yang diajukan Erlan itu terdengar wajar karena selama ini memang mereka tidak pernah bertemu. Erlan hanya pulang setahun sekali di akhir tahun sedangkan Winsi hanya pulang di saat pergantian tahun ajaran baru, selalu saja ketika Erlan pulang maka Wingsi sudah kembali ke pesantrennya.


Seperti itulah yang selalu terjadi dalam kurun waktu selama tiga tahun.


“Jangan mikirin soal Winsi, dia masih lama pulangnya ... Kalau nanti dia sudah menerima ijazah.”


“Tapi aku seminggu lagi sudah harus kembali ke Amsterdam, apa aku tidak bisa menemuinya, Bu?”


“Bisa, asal kamu mau ke sana kalau dia tidak bisa pulang sesuai peraturan sekolahnya. Kamu ini gimana, sih? Sudah tenang aja nanti juga kalian ketemu, yang penting sekarang kamu sembuh dulu.”


“Ya, baik, Bu.” Erlan berkata sambil mendesah pelan.


Dia pulang dalam waktu yang sempit sehingga tidak mungkin untuk menyempatkan diri menengok Winsi. Saat Erlan pulang selalu dia gunakan sebagai perbandingan dan pelajaran antara bisnis yang dilakukan di dalam kota dan di luar negeri. Harapannya sederhana, pulang dalam waktu terbatas dan bisa sekaligus bertemu Winsi. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak.


“Lan, Kamu sudah tahu siapa orang yang kecelakaan bareng sama kamu katanya dia meninggal di tempat, sebaiknya kamu cari tahu siapa mereka?”


“Belum tahu, Bu. Memangnya kenapa?”


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, give dan vote. Semoga suka jalan ceritanya dan terima kasih atas dukungannya. Salam manis dariku buat para pembaca yang setia!


__ADS_2