Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
100. Sikap Yang Berlebihan


__ADS_3

Sikap Yang Berlebihan


 


Sementara itu di belahan bumi yang berbeda, tampak Arkan sedang menuntun Runa dengan mesra menuju ruang pemeriksaan kandungan. Mereka sudah terdaftar sebagai pasien VIP hingga ketika menghubungi dokter, maka mereka bisa langsung masuk tanpa harus menunggu pasien lainnya dan mengantre lebih lama.


“Apa kamu lelah, kalau kamu lelah, mau kugendong?” Tanya Arkan saat mereka berjalan dari tempat parkir, melewati ruang tunggu dan melihat banyak wanita hamil yang menunggu giliran untuk diperiksa.


“Tidak. Jangan berlebihan, aku harus bersyukur karena banyak wanita lain yang harus menunggu, tidak sepertiku,” Jawab Runa.


“Baiklah, kamu memang baik!” Arkan berkata sambil mencium lembut pucuk kepala Runa.


Seperti itulah sikap Arkan selama ini, wanita itu seolah menjadi benda berharga dan satu-satunya bagi suaminya. Pria itu begitu memanjakan dirinya secara berlebihan.


Beberapa kali Arkan mencampakkannya tanpa sungkan di depan umum, seperti menciumi kepala dan tangannya secara posesif, atau tidak melepaskan rengkuhan di bahunya saat mereka berjalan walau hanya dari kamar sampai ruang tengah rumah.


Pria itu seolah takut kehilangan wanitanya, bahkan kalau bisa, dia ingin menjaga dan menemani Runa sepanjang waktu dan tidak harus bekerja. Akan tetapi, pekerjaan mengharuskannya tetap datang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul, walaupun banyak asisten yang bekerja di bawah naungannya.


Arkan tidak perduli pandangan orang yang melihat kemesraannya pada Runa karena penilaian orang itu tidak penting baginya, yang terpenting adalah istri dan hatinya hingga dia merasa bahagia begitu dicintai suaminya. Namun bagi Runa, pria itu terlalu berlebihan.


Seperti saat ini, mereka tengah berada di ruang pemeriksaan dan dokter kandungan yang memeriksa Runa, tengah menjelaskan beberapa hal tentang janin yang sebentar lagi sudah waktunya dilahirkan ke dunia.


Pria itu tak henti-hentinya menciumi punggung tangan istrinya sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaannya. Dokter wanita itu sampai salah tingkah dan tersenyum geli melihat tingkahnya.


Mereka pasangan yang berusia matang, Arkan sudah berumur hampir mendekati 50 tahun dan dia kembali mengalami hal seperti ini setelah 27 tahun yang lalu.


Dia masih ingat saat pertama kali melihat rekaman gerakan bayi di perut Runa dari layar monitor, ada rasa menggelitik yang lucu muncul di hatinya bercampur rasa syukur dan bahagia sekaligus tidak percaya jika diusainya yang sekarang, akan mendapatkan seorang anak lagi.


“Selamat Pak Arkan, putra Anda sehat dan akan lahir kira-kira kurang dari satu bulan atau tepatnya tiga pekan dari sekarang.”


Dia sudah mengetahui jenis kelamin putranya sejak usia kandungan Runa anam bulan. Akan tetapi, mendengar kabar jika dia akan mempunyai bayi tiga pekan lagi sepertinya hatinya lebih senang. Diusianya sekarang dia bukan menimang cucu, melainkan anak!


Asisten dokter membersihkan perut Runa yang diolesi gel setelah pemeriksaan berakhir, setelah bersih, mereka kembali duduk di depan meja dokter sambil menunggu wanita itu menuliskan resep untuk vitamin dan suplemen kesehatan lainnya.


“Terima kasih, Dokter.” Runa berkata bersamaan dengan Arkan saat semua sudah selesai dan mereka melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Betapa terkejutnya mereka begitu sampai di ruang tunggu VIP demi melihat Sina ada di hadapan mereka bersama seorang pria yang sepertinya itu adalah pasangannya.


Saina juga tampak terkejut melihat kedua orang yang baru keluar dari ruang periksa yang akan dimasukinya.  Rupanya Saina adalah pasien VIP selanjutnya yang mendapat giliran sesudah Arkan dan Runa.


“Kenapa kamu ada di sini, apa kamu hamil?” tanya Arkan, sengaja menghalangi langkah Saina sambil merengkuh bahu istrinya.


“Ya.” Kata Saina gugup. Wanita itu sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Arkan di tempat seperti itu.


“Siapa dia? Apa dia suamimu?” tanya Arkan lagi, kali ini dia menepis tangan lelaki yang berada di samping Saina, tanpa melepaskan rengkuhan tangan dari bahu istrinya.


Laki-laki itu mencoba melindungi Saina dengan mengulurkan tangannya di depan Arkan. Dia tidak berbicara karena sepertinya dia tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia


“Arkan, biarkan aku lewat. Kalau kamu mau penjelasanku, tunggu aku!”


“Ya, kamu harus menjelaskan kenapa kamu seenaknya meninggalkan restoran, tanpa meminta izin dariku!”


“Jangan mengada-ada, Erlan tahu kalau aku pulang,” sahut Saina sambil berlalu.


Arkan mengajak Runa duduk di kursi ruang tunggu, dia menyilangkan kaki dan bersandar, sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku bagian dalam jasnya. Pria itu menghubungi seseorang mengabarkan jika akan datang terlambat.


Saina baru saja diangkat menjadi pimpinan restoran di luar negeri itu demi hidupnya, tapi sekarang, seolah dia mengabaikan kepercayaan Arkan dan pulang seenaknya saja. Ini tidak bisa dibenarkan.


“Maaf, ya, kamu harus ikut menunggu wanita itu.” Arkan berkata sambil mencium puncak kepala Runa dua kali.


“Nggak apa-apa, aku juga mau tahu soal dia.”


“Soal siapa? Saina atau laki-laki itu?” Arkan berkata sambil menunduk dan menghadapkan mukanya tepat di wajah Runa.


“Saina ... aku tidak kenal dengan laki-laki itu, jadi untuk apa aku tahu soal dia?”


Arkan tersenyum puas mendengar jawaban istrinya, dia akan cemburu jika Runa penasaran dengan pria bule yang kini menjadi pengganti dirinya di hati Saina.


Runa tahu jika Saina mencintai suaminya sejak dulu. Siapa yang tidak penasaran tentang bagaimana jalan ceritanya sehingga pria itu bisa menggeser kedudukan Arkan. Akan tetapi, Runa tidak akan mengatakan tentang rasa penasaran yang menggelayuti pikirannya. Dia geli melihat reaksi suaminya yang berlebihan, tidak bisa dibayangkan jika dia cemburu.


Kecemburuan seorang pria akan jauh lebih dahsyat dari kecemburuan wanita terhadap seseorang yang biasa disebut pelakor. Sebab seorang pria bisa melakukan mutilasi atau pembunuhan , serta hal keji lainnya yang kadang diluar akal sehat, jika dia cemburu pada pasangannya.

__ADS_1


“Iya, kamu benar,” sahut Arkan sambil tersenyum dan mencium punggung tangan Runa. Tangan istrinya itu tidak lepas dari genggaman tangannya sejak mereka duduk tadi.


“Jangan bilang kamu cemburu?”


“Ya, aku pasti cemburu kalau kamu mau tahu soal pria itu!”


Runa terkekeh mendengar ucapan Arkan yang terus terang.


“Jangan tertawa terlalu keras, nanti bayi kita tidak nyaman di dalam sana.” Kembali Arkan bersikap berlebihan, mengusap perut Runa dan menciuminya.


“Siapa bilang? Dia akan bahagia kalau aku bahagia, dia akan sedih kalau aku sedih.”


“Jadi, dia ikut ketawa kalau kamu ketawa?”


“Ya.”


Tiba-tiba sudut bibir Arkan berkedut, dia tertawa kecil membayangkan bayi yang tertawa di dalam rahim ibunya, itu mustahil.


“Ayo, periksa lagi perutmu, dan kamu tertawa, aku mau lihat bagaimana bayi tertawa di perutmu!”


Runa melotot pada suaminya yang berpikir begitu naif hingga bisa melihat bayi tertawa dalam perut. Apalagi dia tidak akan periksa dua kali dalam satu waktu.


“Bukan tertawa seperti yang kamu bayangkan, Sayang! Intinya dia bahagia, itu yang penting.”


“Ck! Bilang dari tadi kalau begitu!” Arkan berkata sambil memalingkan pandangan, kesal. Namun tangannya mengusap-usap pangkal lengan Runa berulang kali menunjukkan perhatian yang menenangkan.


Tak lama Saina keluar dari dalam ruang periksa dan begitu terkejut mendapati Arkan serta Runa masih ada di sana, dia tidak menduga jika pria itu akan menunggunya.


“Kenapa kamu terkejut? Kamu pikir aku tidak akan menunggumu dan kamu bisa mengelak dari tanggung jawab begitu saja?”


“Tidak!” Saina mencoba mengelak.


“Benarkah?”


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2