Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
48. Bukan Anak Lemah


__ADS_3

Bukan Anak Lemah


“Erlan! Kamu salah paham. Memangnya apa yang kamu dengar, apa yang kamu tahu?” Tanya Winsi kemudian.


“Aku dengar dari mana, kamu nggak perlu tahu ... yang penting aku tahu sekarang kamu itu terkenal, hebat ya, jadi ketua geng! Ingat, sebentar lagi semesteran kamu harus serius belajar jangan ngurusin gengmu terus.”


“Memangnya siapa yang punya geng? Aku nggak punya, kok!”


“Lah terus yang namanya Winsi ketua Geng Anak Lemah itu, siapa kalau bukan kamu?”


“Bukan! Aku nggak punya geng anak lemah seperti yang kamu bilang itu. Aku sama sekali nggak tahu dari mana nama geng itu! Mereka sendiri yang nyebut nama kayak gitu. Justru aku gak suka," kata Winsi panjang lebar.


"Lan ... aku pengen jadi anak kuat, biar gak di zolomi terus kayak dulu ... kenapa jadinya geng anak lemah, heran aku juga," kata Winsi lagi.


“Hah. Gak usah bohong!”


“Aku nggak bohong, Lan! Bener...”


“Awas nanti kalau sampai Ayah tahu, kalau enggak aku bilangin aja sekalian sama ayah sekarang.”


“Dasar tukang ngadu!”


Winsi sebenarnya takut apabila Arkan mengetahui tentang gerak-geriknya di sekolah. Dia memang terlalu berani, dengan semua yang dilakukan pada teman-temannya yang selama ini dia bela tapi, semua keberanian itu muncul karena rasa percaya dirinya.


Ya, karena dia menganggap Arkan sebagai orang tua dan dia tidak perlu malu mengakuinya. Rasa percaya dirinya mulai tinggi, apalagi sekarang dia sudah dikenal banyak orang sebagai murid pembela anak-anak yang banyak kekurangan di sekolah. Sudah banyak anak yang merasa kurang percaya diri lalu, bergabung bersama kelompoknya tanpa dia minta.


“Mau ngapain kamu?” tanya Winsi ketika melihat Erlan mengeluarkan ponselnya, dia khawatir apabila laki-laki itu benar-benar melakukan ancaman dan mengadukan perbuatannya kepada Arkan.


“Aku mau bilang sama Ayah!”


“Jangan, Lan! Please ...” kata Winsi memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

__ADS_1


Erlan melihat Gadis itu sekilas dan dia merasa lucu, membuatnya menahan tawa, padahal sebenarnya dia hanya menggertak saja. Selama ini Arkan sudah mempercayakan Winsi padanya. Pria itu juga tahu selama pergaulannya masih bisa ditolerir maka, dia tidak akan mengadukan kepada ayah.


“Makanya, kamu harus rajin belajar malu, kan, kalau jadi ketua geng tapi nilainya rangking kesatu dari bawah. Gimana mau membela yang lemah kalau yang jadi ketuanya juga lemah.”


“Aku sudah rajin belajar, kok!” sahut Winsi sambil cemberut, dia pasrah ketika melihat Erlan mulai mengetikkan beberapa kata di ponsel untuk mengadukan semuanya pada Arkan dan dia tinggal menerima akibatnya saja. Ketika nanti dia pulang dia harus siap akan dimarahi habis-habisan.


Winsi baru saja menarik nafas sambil melamun dan melihat pemandangan di luar jendela, tiba-tiba dia merasakan mobil berhenti lalu, Erlan menyentuh bahunya.


“Ayo! Turun!” kata Erlan sambil membuka pintu mobil dan turun, di susul Winsi juga Hasnu yang berjalan mengiringi di belakang kedua anak itu.


Erlan mengajaknya ke satu sisi gedung olahraga Senayan, tepatnya di sebelah timur dekat pintu ke empat sebelah kanan musholla. Dia meminta Winsi untuk mengganti pakaian sekolah dengan seragam karate. Gadis itu tidak menyangka bila Erlan sudah menyiapkan semuanya.


Setelah Winsi selesai mengganti pakaian seragamnya, mereka berdua melakukan pemanasan seperti yang biasa dilakukan apabila sedang berlatih. Bahkan Erlan menambahkan pemanasan dengan berlari mengelilingi area sebelah timur Senayan itu sebanyak sepuluh kali. Sementara Winsi sudah selesai melaksanakan pemanasan standar biasa dan setelah itu dia hanya menunggu Erlan menyelesaikannya.


‘Dasar tukang pamer memangnya apa yang mau diperlihatkan dengan mengelilingi lapangan sepuluh kali, aku juga bisa!’ batin Winsi sambil mencebik.


“Ayo! Sekarang lawan aku! Ketua!” kata Erlan setelah menyelesaikan larinya, dia berdiri mengambil kuda-kuda di tengah lapangan rumput, salah satu tangannya menjadikan jari kepada Winsi agar mendekat ke arahnya.


“Jadi kamu yang jadi lawan aku?”


“Ya, siapa lagi?”


“Ah yang benar saja, ini nggak seimbang. Sudah kelihatan siapa pemenangnya, dasar sombong!”


“Ayo! Coba saja dulu!”


Sebenarnya Erlan tidak punya niat untuk melawan ataupun mengalahkan Gadis itu. Dia hanya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan Winsi sehingga terakhir kabar yang dia dengar, anak perempuan itu bisa mengalahkan lima dari delapan orang perempuan anggota Geng Kece yang menantangnya di belakang gedung sekolah.


Pertarungan pun dimulai, Winsi mencoba bertarung dengan kemampuan terbaiknya. Dia mengerahkan semua tenaga yang tersisa padahal, dia sudah cukup lelah berada di sekolah apalagi bertengkar dengan Erlan pun sudah cukup menguras energinya.


Berulang kali Winsy mengeluarkan jurus pukulan dan tendangannya, berulang kali pula Erlan bisa mengalahkannya. Akan tetapi, laki-laki remaja itu pun mengetahui kelihaian anak di depannya ini.

__ADS_1


Pantas saja bila Winsi bisa mengalahkan beberapa lawannya karena dengan sisa tenaga setelah pulang sekolah pun, dia masih bisa melakukan perlawanan dengan baik. Bahkan Erlan merasakan sakit di beberapa bagian yang terkena tendangan serta pukulannya.


“Aw! Sudah cukup!” kata Erlan ketika menerima pukulan Winsi di pundaknya terakhir kali.


“Sudah! Sudah puas kamu ngerjain aku? Hah!” kata Winisi sambil melayangkan satu tendangan lagi ke pinggang Erlan dengan sigap Erlan menangkis dengan tangan yang terkepal hingga membuat tubuh gadis itu setengah berputar.


Ini terakhir kali, Erlan yang sejak tadi hanya menangkis dan bertahan, kini dia membalas pukulan gadis itu dengan menendang bokongnya, membuat Winsi terhuyung ke depan dan hampir terjatuh, pada saat itu Erlan pun menangkapnya.


Menyadari badan mereka yang berimpitan, membuat Winsi segera menegakkan badan dan mendorong dada Erlan sekuat tenaga lalu, melengos padanya sambil berlalu pergi ke toilet wanita untuk mengganti pakaiannya.


Setelah semua kembali ke dalam mobil, Hasnu pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah. Jarak antara Senayan ke Komplek tempat tinggal mereka, terbilang cukup jauh membuat Winsi yang kelelahan pun tertidur.


 Selama perjalanan dia tidak merasakan bila kepalanya bersandar di bahu Erlan namun anak remaja itu tidak mengalihkan pundaknya. Bahkan dia membiarkan Winsi tetap tertidur di sana sampai tiba di depan rumah.


“Heh! Bangun!” kata Erlan sambil mendorong kepala Winsi membuat gadis itu terbangun.


Gadis itu merutuk dalam hati, karena kepalanya sempat terbentur kursi saat dia terbangun padahal masih mengantuk. Dia mengira Erlan sengaja membenturkannya.


Saat Winsi turun dari mobil dan masuk ke rumah, dia merasakan sedikit aura yang berbeda di dalam sana, bahkan dia mencium bau parfum seorang wanita yang begitu menyengat, tertinggal di ruang tengah saat dia melaluinya dan hendak masuk ke kamar.


Belum sempat Winsi menutup pintu kamarnya, dia melihat sebuah pemandangan yang mendebarkan hatinya. Dia melihat pantulan bayangan dari balik kaca sebuah nakas besar yang menempel di dinding ruang tengah dekat meja makan.


Itu adalah pemandangan yang sangat mengejutkan di mana seorang wanita cantik dengan rambutnya yang panjang tergerai sampai di pinggang dengan pakaian yang bagus dan sangat pas di tubuhnya tengah memeluk Erlan dengan hangat. Sementara laki-laki remaja itu terlihat diam, tidak menolak juga tidak membalasnya.


“Siapa dia, apa itu ibu Erlan? Tapi, bukankah Ibunya sudah meninggal lalu, kenapa dia diam saja dipeluk wanita itu? Atau jangan-jangan dia calon istri Ayah? Tidak ... ini tidak boleh terjadi ... Ayahku, tidak boleh menikahi siapa pun!” gumam Winsi seraya bersungut-sungut dan membanting pintu kamar dengan keras.


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2