Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
156. Rumah Singgah Sementara


__ADS_3

Rumah Singgah Sementara


 


 


Erlan menghentikan gerakannya memasukkan koper ke dalam mobilnya, lalu, dia berdiri tegak di hadapan Reni sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.


“Maaf Bude saya baru sadar kalau ucapan istri saya ternyata benar, bahwa dalam agama, kita harus menyerahkan semua urusan itu di tangan ahlinya.” Erlan berkata setelah menarik napas panjang.


“Kan, sudah kubilang ponakanku itu nggak gila, dia Cuma butuh perhatian kamu aja, dan kamu sebagai suami harus sabar menghadapi istrimu karena kamu sendiri, kan, yang mengambil amanah itu dengan sengaja?” teriak Reni.


“Ya, saya tahu ... saya ngerti tentang tanggung jawab saya, tapi, untuk urusan menyembuhkan Hanifa, saya benar-benar bukan ahlinya! Kalau saya terus memaksakan diri ... sama saja saya zalim pada istri sayaz pada Hanifa, dan pada saya sendiri!”


Erlen menarik nafas dalam lalu kembali berkata dengan suara yang lebih lembut.


“Bude ... Saya cuma manusia biasa, saya nggak bisa mengurus Hanifah yang seperti ini, terus terang saya capek! Kalau saya harus terus-menerus menganggap Hanifah sebagai anak, saya nggak bisa! Karena saya suaminya!” saya bukan Papanya!”


“Kamu cuma mikirin napsu aja!”


“Ya, mungkin Bude benar saya cuman memikirkan napsu, tapi, saya memang cuman laki-laki biasa wajar punya napsu. Kalau saya tidak mengarahkan nafsu saya dengan benar ... Sama saja saya zalim pada diri saya sendiri, Bude juga nggak mau mikil dosa saya, kan?”


“Sembarangan kamu ini, Erlan!”


“Ya, terserah Bude mau menilai saya seperti apa karena pada dasarnya yang menanggung semua urusan Hanifah itu saya, bukan Bude!”


“Tapi, Lan, aku nggak mau kalau ponakanku di cap jadi orang gila!”


“Sekarang saja sudah banyak yang bilang kalau Hanifa gila. Jadi, terserah kita mau tetap membiarkan dia seperti ini atau mau mengobatinya! Dan kalau Bude tidak mengizinkan saya untuk mengobati Hanifa di tempat yang tepat, sama saja Bude zalim pada Hanifah juga pada saya!”

__ADS_1


Reni akhirnya terdiam dan membiarkan Erlan yang memasukkan Hanifah ke mobilnya. Dia tidak berdaya ketika mobil itu pun akhirnya pergi meninggalkan rumah adiknya, bahkan bersama perawat yang selama ini mengurus Hanifah setiap hari.


Sesampainya di sebuah Bangunan yang cukup bagus dan sangat besar, Erlan menghentikan mobilnya. Tempat itu dikenal sebagai rumah sakit jiwa yang tertua dan terbesar di Indonesia.


 Erlan pun membawa Hanifah ke tempat yang biasa digunakan untuk mendaftar dan melakukan observasi dan konsultasi, sebelum dia pergi ke ruangannya untuk menjalankan terapi.  Pria itu sudah menghubungi seseorang yang akan menjadi penanggung jawab istrinya selama perawatan.


Setelah beberapa saat berbincang, Hanifa di bawa ke dalam sementara Erlan melepaskannya dengan sebuah keyakinan dan kepasrahan terdalam.


Saat itu juga Hanifa memberontak dan berlari kembali ke arah Erlan sambil menangis dan berteriak.


“Papa! Hani nggak mau di sini, Papa! Jangan tinggalin Hani di sini! Nggak mau! Nggak mau!” katanya sambil berurai air mata dan terus melepaskan diri dari cekalan dia orang wanita bertubuh tinggi besar.


“Hani, baik-baik di sini, ya, nanti Papa datang lagi buat jemput kamu!” sahut Erlan dengan suara berat.


“Aku titipkan kamu di sini pada mereka yang lebih tahu, aku juga menitipkan kamu pada Allah sang Maha penguasa segalanya, aku Cuma yakin semua pasti ada jalan keluarnya, karena Allah itu ada,” gumam Erlan sambil membalikkan badan dan berjalan menunduk, lalu menghampiri mobilnya lagi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Hanifa, yang masih terus dibujuk oleh dua perawat itu agar mau memasuki kamarnya sendiri.


Saat Erlan baru saja menginjak pedal gas, ponselnya berbunyi dan dia mengangkat benda pipih itu untuk ditempelkannya ke telinga. Fadli yang saat ini sudah menelponnya.


“Pak! Apa Pak Erlan mengizinkan saya sewaktu-waktu menengok Hanifa di rumah sakit itu?”


Sejenak Erlan merasa ragu dan heran, dia mengerutkan alis tanpa mengalihkan pandangan ke jalanan, perawat itu mungkin sudah kembali bertugas di tempatnya semula. Dua orang perawat itu, tadi hanya membantunya sampai di tempat observasi, lalu meninggalkan tempat itu terlebih dahulu.


“Boleh saja!” kata Erlan tanpa berpikir panjang.


“Kalau Pak Erlan sibuk dan ingin tahu keadaan Hanifa, Bilang saja sama saya, nanti saya yang akan menengok Hanifah untuk bapak!”


“Oh, begitu? Lihat saja nanti!”


“Terima kasih, Pak!” Sudah mengizinkan saya menengok Hanifa!”

__ADS_1


“Ya!”


Setelah mendapatkan izin dari Erlan perawat itu pun mengucapkan terima kasih dan mengakhiri panggilan.


Apabila Erlan, atau siapa pun yang ingin menengok Hanifa,  tidak bisa bertemu secara langsung setidak-tidaknya selama dua bulan. Dokter di sana yang tadi mengatakannya demikian. Waktu satu bulan adalah masa adaptasi dan penjajakan, memasuki bulan kedua, mulai terapi dan juga pemulihan.


Mungkin lebih lama akan lebih baik, tetapi, mereka para tenaga medis kejiwaan itu, akan melihat perkembangan Hanifa apakah menunjukkan kebaikan atau tidak. Kalau memang membutuhkan waktu tambahan karena belum menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik, maka, mungkin Hanifah akan dirawat di sana lebih lama.


Erlan mungkin hanya bisa melihat Hanifah dari jauh atau pintu gerbang ataupun dari balik kaca besar, yang biasa disediakan untuk para anggota keluarga, melihat mereka yang dirawat di sana.


Setelah Erlan melajukan mobilnya cukup jauh dari tempat itu, sedikit demi sedikit perasaannya menjadi lapang dan seolah-olah bebannya berkurang. Walaupun, rasa bersalah itu belum sepenuhnya hilang, tapi, kepasrahan hatinya  sudah menyerahkan istrinya ke tangan orang yang tepat dan, juga kepada Allah sebagai penciptanya, membuat pikirannya pun menjadi tenang.


Erlan melajukan mobilnya sampai di kantor dia fokus untuk menyelesaikan semua urusannya hingga larut malam. Hal yang biasanya dia lakukan saat akhir bulan di restoran Amsterdam, sekarang dia lakukan di sana.


Dia akan memeriksa buku keuangan dan menganalisisnya sendiri, apakah pembukuan yang disusun oleh pegawainya itu benar atau tidak. Memang, terkadang dia dan Arkan akan mengerjakan bersama, tapi, sekarang dia harus mengerjakannya sendiri.


Pria muda itu terus memeriksa hingga larut malam, dia baru berhenti saat Runa menghubungi, sedangkan dia belum makan malam.


“Erlan! Kapan Wiwin mau pulang?” Runa bertanya setelah Erlan mengucapkan salam.


“Maaf, Bu. Saya juga tidak tahu.” Sahut Erlan lembut.


“Kenapa, nggak tahu? Memangnya kamu nggak tanya?”


“Saya sudah tanya, Bu! Tapi, Wiwin bilang tergantung kondisinya.”


“Kondisi apa, sih? Masa kamu nggak tahu juga? Keterlaluan! Semua itu karena dia nggak percaya lagi, sama kamu, Lan! Dia merasa dikhianati, tahu?”


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2