Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
160. Pulang


__ADS_3

Pulang


Erlan menghentikan ciumannya dan menoleh ke arah Nia yang sudah mau berangkat ke kampus.


Winsi pun menoleh dan mendorong Erlan, karena kesadarannya tiba-tiba saja pulih, dia tidak lagi terhipnotis oleh kedatangan dan penampilan pria itu. Walaupun begitu, kedua tangan mereka masih bergandengan.


“Kamu mau ngampus, hari ini? Memang sudah kuat gitu, jangan maksain diri kalau masih lemas!” kata Winsi mengalihkan pembicaraan.


Nia menggelengkan kepalanya, lalu, berkata, “Nggak. Udah baikan, kok. Alhamdulillah udah sehat sekarang berkat kamu, Win! Makasih ya!”


Nia merasa heran dengan pria yang datang tanpa sopan santun dan rasa bersalah, sudah menciumi sahabatnya dengan ciuman yang kuat begitu rupa. Namun karena melihat Winsi biasa saja bahkan menggenggam tangannya, dia menyadari sesuatu.


“Win, jawab pertanyaanku!”


“Ya, ya, dia suamiku, dan aku ngaku kalau aku sudah menikah di Jakarta!”


“Apa? Ah ... sudahlah, nanti kita bicara lagi!” kata Nia sambil melirik Erlan dengan sisa rasa kesal di hatinya karena begitu tak menyangka. Kemudian dia pergi dengan taxi online yang dipesannya.


Selepas kepergian Nia, Erlan melepaskan pegangan tangannya dari Winsi dan, menutup rolling door kembali, sambil memikirkan bila istrinya pergi ke Yogyakarta hanya untuk menemani temannya yang sakit, selama berhari-hari. Sementara dia sendiri mengabaikan kuliahnya, bukankah lebih baik dia tidak usah kuliah dan membantunya di kantor? Ini akan menyenangkan, bukan?


“Kenapa kamu tutup? Udah biarin aja!” Kata Winsi menahan tangan Erlan pada pintu besi itu.


CK!


Erlan berdecak lagi dan meneruskan keinginannya.


“Dasar keras kepala!” kata Winsi sambil membuka lagi pintu besi.


“Kamu juga sama!” balas Erlan sambil mendorong pintu dengan cepat, lalu, mengangkat tubuh Winsi dengan kedua tangannya.


“Diaman kamarmu?” kata Erlan sambil melangkah ke arah ruang tengah di mana televisi besar berada, tempat itu menjadi satu dengan ruang makan dan dapur.


“Aku nggak punya kamar!”


“Kalau begitu, aku akan melakukan pagi pertamaku sejak jadi suami di Yogyakarta di sini saja!”


“Apa, apa maksudmu, ih! Turunin aku, Lan!”


“Nggak!”


“Dih, maksa, turunin, nggak atau ...”


“Atau apa?”


“Aku nggak akan pulang selamanya!”


Erlan membeku, dia menatap Winsi dengan tatapan rumit sambil membasahi bibirnya sendiri. Kesal, tapi tak berdaya.

__ADS_1


“Di mana, kamarmu, aku Cuma mau numpang tidur ....” kata Erlan dengan suara serak, mata yang sayu dan menurunkan Winsi dengan berat hhat, dan dia berkata lagi, “semalaman aku bayangin kamu, bukan ... bukan semalaman, tapi setiap malam! Win ....”


Erlan kembali memeluk istrinya erat dan menyimpan dagu di pundaknya. Winsi menoleh ke arah pundaknya sendiri, melihat Erlan tampak sangat mengenaskan, pria yang biasanya gagah bagai cuplikan Arkan memelas meminjam kamar.


Wanita itu tertawa kecil dan meraih tangan Erlan sambil berjalan ke kamarnya. Dia menepuk bantal di kamar yang sudah rapi sejak dia bangun tidur tadi.


“Ayo! Tidurlah!”


Erlan duduk di sisi kamar yang lumayan besar dengan beberapa pernah pernik khas wanita dan beberapa buku di atas rak dekat lemari pakaian. Tidak ada kamar mandi di dalamnya karena bangunan itu memakai konsep tradisional, yang memakai sistem kamar mandi bersama.


“Jadi, ini kamar istriku, kamar peri kecilku melarikan diri ....”


Erlan mengedarkan pandangannya


“Siapa yang melarikan diri, sih?” Winsi berkata sambil duduk di sebelah suaminya.


Erlan menoleh dan menggeser duduknya hingga menempel dengan Winsi. Merangkulnya.


“Lalu, apa namanya kalau bukan melarikan diri, karena temanmu sakit dan toko nggak ada yang jaga?”


“Ya!”


Erlan melepas kerudung istrinya dan tersenyum karena anting-anting mas kawin darinya dipakai di telinga wanita itu.


“Kamu tahu nggak, kenapa aku lebih senang memilih anting-anting dari pada cincin untuk mas kawinmu?”


“Apa?”


“Oh ....” Winsi mengangguk-angguk, rasa kesal saat ingat Hanifa tiba-tiba hilang karena pujian Erlan padanya. Dia tahu laki-laki itu jujur.


“Win, aku capek¡”


Welan merebahkan diri dengan kaki menjuntai ke lantai. Dia menarik tangan Winsi hingga gadis itu ikut berbaring dengan posisi terjatuh di atas dadanya.


“Please ... Temani aku tidur, Sayang!” kata Erlan sambil menumpukan bibir mereka.


Winsi diam saat Erlan melepaskan ciuman lalu, memeluknya dalam keadaan miring, kepalanya berada di pangkal lengan pria itu.


“Tidurlah ....” kata Winsi lembut, demi melihat mata pria itu terpejam, tetapi, tidak demikian dengan tangannya yang terus bergerak ke segala arah, lalu, tanpa menunggu persetujuan, dia menggeser badan mereka pada posisi yang benar.


Winsi membiarkan Erlan melakukan semua yang diinginkan pada tubuhnya hingga setelah pria itu selesai, dia menumpukan bibir mereka knali dengan waktu yang cukup lama, sebagai penutup, sebelum merebahkan diri kembali ke samping.


“Kita pernah melakukannya, kan? Apa kamu belum hamil?” tanya Erlan sambil kembali membawa Winsi dalam pelukan.


“Mana kutahu. Ibu juga tidak langsung hamil kan, awal menikah dulu!”


“Hmm ....”

__ADS_1


Saat bergumam, Erlan sudah memejamkan mata, Winsi segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya agar tidak terbuka dan membiarkannya tertidur dengan nyenyak.


*****


Winsi setuju untuk mengikuti Erlan pulang, setelah selama tiga hari pria itu berada di Yogyakarta. Mereka menghabiskan waktu bersama melakukan segala hal seperti berkeliling kota, berbelanja dan beberapa hal lain yang belum pernah mereka lakukan dulu, sebelum resmi menjadi suami istri di kota bersejarah itu.


Gadis itu sudah mengakui pernikahan dirinya kepada Nia dan menceritakan bagaimana kejadiannya. Namun, dia tidak membagikan pengalaman pahitnya saat mengetahui Erlan menikah dengan Hanifa.


Mereka menikmati kebersamaan itu termasuk saat mengembalikan mobil Nafadi, lalu, mereka mengakui kalau sudah menjadi suami istri. Tentu saja pria itu sangat terkejut, tapi ikut bahagia dengan keputusan yang diambil Erlan dengan cukup berani, untuk menikah muda. Berbeda dengan Arkan dan juga dirinya yang baru menikah saat berusia 30 tahun, menunggu usahanya mapan.


Kabar itu membuat Waila pun ingin segera menikah mengingat Anas, pria yang dicintainya itu sudah sangat cukup umur untuk menjadikan dirinya sebagai istri. Walaupun, Nafadi, ayahnya tidak setuju, dia tidak peduli dan ingin Anas melamar secepatnya.


Erlan membujuk sahabat ayahnya itu hingga akhirnya, mau menuruti keinginan Waila demi kebaikan mereka juga.


Kini Winsi dan Erlan telah berada di dalam pesawat kelas VIP dan mereka duduk berdampingan dengan Winsi yang berada di dekat jendela. Saat duduk itulah tangan Erlan tidak mau diam meraba bagian tubuh Winsi yang disukainya.


“Apa Hanifa baik-baik saja? Kenapa kamu tinggalin dia lama-lama?” tanya Winsi membuat gerakan Erlan berhenti.


Selama mereka bersama, baik Winsi maupun Erlan, tidak ada yang mengatakan atau mengingatkan untuk membahas soal Hanifa. Mereka enggan, karena tidak ingin merusak suasana bulan madunya, ya, anggap saja demikian.


Mereka mengesampingkan sebuah kenyataan bahwa, mereka sebenarnya para pelaku poligami, untuk sementara waktu. Namun, karena sekarang dua orang itu harus kembali menghadapi kenyataan itu, mau tidak mau mereka membahasnya. Tidak ada bedanya sekarang atau nanti.


“Erlan, jawab pertanyaanku, bagaimana istrimu itu?”


“Jangan bahas dia di sini, aku malas!”


“Kenapa?”


“Jadi, sekarang dia baik-baik saja ... Nanti, kalau dia sehat, aku akan memberinya pilihan, mau bertahan atau tidak hidup bersamaku dengan kamu, ada di sisiku. Begitu juga denganmu, Win?”


“Aku?”


“Ya! Aku akan memberimu pilihan yang sama. Kamu mau tidak bertahan denganku walaupun ada Hanifa di sisiku.”


“Aku, jawab sekarang, tidak!”


“Win ... Ah! Sudahlah, aku malas membahasnya!”


“Memangnya kamu yakin, dia pasti sembuh?”


“Ya. Sekarang dia sudah melakukan perawatan dan terapi kejiwaan di rumah sakit jiwa.”


“Oh, bagus, dong. Mudah-mudahan dia cepat sembuh. Sejak kapan?”


“Sudah lama, sejak kamu pergi ke Jogjakarta.”


“Wah, sudah selama itu? Dan kamu baru datang menjemputku kemarin?”

__ADS_1


Mendengar ucapan Winsi, Erlan tersenyum lebar.


Bersambung


__ADS_2