
Kecemburuan Kecil Dalam Keluarga
Sesampainya di apartemen, Erlan mencoba menghubungi Winsi dan menanyakan waktu kepulangannya jika ibunya melahirkan nanti. Akan tetapi saat dia mengirimkan pesan, justru jawaban yang diberikan gadis itu sangat mengejutkan, membuatnya kesal.
Erlan membanting ponselnya ke tempat tidur, dan menyusul mehempaskan tubuhnya sendiri di sana. Bagaimana tidak kesal, jika Winsi menjawab pesannya begitu cepat tapi, dengan isi yang mengecewakan.
“Aku sudah di rumah, kok Lan. Soalnya adikmu sudah lahir, lebih cepat dari perkiraan dokter. Adikmu laki-laki, dia mirip kamu, loh. Terus, besok aku udah balik Jogja lagi, deh!”
Winsi mengirimkan ucapannya melalui pesan suara yang bisa di setel ulang dan Erlan memutarnya beberapa kali karena senang mendengar suara Winsi, tapi isinya, sama sekali tidak dia sukai.
Seandainya Erlan mendapatkan kabar lebih dahulu, maka dia akan sampai di tanah air lebih cepat, dan bisa berdebat dengan Winsi tentang sebutan Adikmu, sebab bayi itu bukan hanya adik seorang saja.
Arkan memang sengaja tidak mengabari anaknya karena dia mengharapkan anak lelakinya segera kembali bukan karena Winsi, melainkan karena tanggung jawabnya sendiri.
Arkan tidak ingin Erlan dekat dengan Winsi, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menjauhkan kedua anak itu dan sebisa mungkin mereka tidak sering berhubungan baik melalui pesan atau pertemuan. Pria itu ingin anaknya fokus dengan tanggung jawab yang dia sanggupi sendiri tanpa paksaan dari siap pun.
Apabila perasaan Erlan pada Winsi terus berkembang dan mendapatkan kesempatan, maka bisa jadi akan mengacaukan rencana Arkan untuk menikahkan anak lelakinya dengan seseorang yang sekarang sedang membutuhkan perawatan khusus di rumah sakit.
Arkan dulu sengaja menjaga jarak antara Erlan dan Winsi dengan alasan moral, tapi sekarang lebih spesifik lagi, yaitu demi masa depan anaknya sendiri. Dia tahu hal semacam ini bisa membuat sakit hati Oleh karena itu, dia menjaga agar kelak perasaan antara dua anak ini tidak terlalu dalam.
Lama Erlan mengabaikan poselnya hingga kemudia dia menjawab, “Bayi itu adikmu juga, tahu?”
Tak lama ada jawaban singkat. “Aku nggak mau adik.”
“Kenapa?”
“Aku mau jadi satu-satunya anak bagi Ayah dan Ibu. Jadi, bayi itu adikmu.”
“Kamu memang satu-satunya anak perempuan.”
“Itu, tidak cukup, karena kasih sayang Ayah dan Ibu sekarang terbagi.”
“Bayi itu punya nama, kamu sudah besar, Win ... Jadi, nggak perlu cemburu.”
“Kamu namai saja dia, dan jangan atur perasaanku!”
“Aku nggak ngatur, Cuma ngasih tahu aja! Masa, begitu aja dibilang ngatur, sih?”
__ADS_1
Setelah itu Erlan menunggu sampai keesokan harinya pesan terakhir pada Winsi tidak lagi berbalas seperti biasanya.
Lalu, pada saat Erlan tengah makan malam, dia mendapatkan notifikasi di media sosialnya dari akun milik Winsi. Gadis itu memosting sebuah gambar pesawat, menunjukkan jika dia tengah berada di Bandara dan tidak sudah tidak ada lagi di rumah.
******
Siapa yang tidak ingin memiliki seseorang yang mencintai, yaitu orang yang akan memberi semua keinginan, membuat nyaman, merasa berarti dan mengusahakan apa pun demi kebahagiaan hidup? Tentu saja semua manusia menginginkan hal itu dan hidup akan sempurna jikalau memiliki orang seperti itu.
Runa hanya tersenyum saat memikirkannya, memiliki Arkan di sisinya adalah sebuah kebahagiaan sempurna, di mana pria itu akan menuruti apa pun yang diinginkannya, bahkan protes hanya karena dia melakukan pekerjaan ringan saja.
Awalnya memang sedikit riskan diperlukan bak ratu di istana, tapi, setelah sekian lamanya hidup bersama, akhirnya wanita itu tahu jika sebenarnya sang suami hanya menunjukkan rasa cintanya.
“Sudahlah, tidur kalau kamu lelah, jangan memaksakan diri, kamu sudah lelah bekerja seharian, jadi tidak perlu bergantian denganku menjaga Jiddan.” Runa berkata sambil mengusap lembut punggung suaminya.
“Tidak apa-apa, toh aku bekerja di luar, bukan bekerja mengurus anakku.”
Mendengar ucapan itu, Runa tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa sebab Arkan menunjukkan perhatian yang sangat besar padanya.
Saat itu, Arkan sedang mengganti popok Jiddan yang basah saat bayi kecil itu menangis karena haus. Setelah selesai, pria itu memberikan anaknya pada Runa untuk segera di beri ASI dan duduk di sisi istrinya di atas tempat tidur mereka.
“Mumpung aku masih diberi kesempatan dan aku ada di sini bersama kalian saat ini. Jadi, aku akan menikmatinya,” katanya tenang, sambil mengusap kepala bayi lembut.
“Terima kasih,” ucap Runa tak kalah lembut.
“Kamu tidak perlu berterima kasih, Sayang ...” Arkan berkata sambil mencium bibir Runa dan wanita itu menyambut hangat. Tak lama perbuatan mereka itu terhenti karena bayi di pangkuannya tiba-tiba menangis.
“CK! Rupanya dia cemburu.” Arkan berkata sambil memalingkan mukanya membuat Runa terkekeh.
“Mana ada cemburu seperti orang dewasa, dia Cuma terganggu karena kamu menekan kepalanya,”
“Pindah aja ke sisi lainnya. Biar aku bisa menciummu lagi.”
“Eh, mana bisa dilepas begitu saja? Lihat dia menghisap kuat sekali. Kita akan menyakitinya kalau melepaskannya dengan paksa.” Runa berkata sambil memperlihatkan bagaimana bayi itu menghisap ujung dari buah dadanya.
__ADS_1
“Bisa-bisa habis tak tersisa untukku nanti,” kata Arkan sambil beralih posisi untuk berbaring.
“Nah, ternyata bukan Cuma Anak yang cemburu, tapi Ayahnya juga!”
Arkan bergeming, sambil bersungut-sungut, menarik selimut lalu, memejamkan mata, seraya berkata, “Aku tidak cemburu ....”
Runa mencebik sambil mengendikkan bahu lalu tertawa lirih, menertawakan sikap suaminya yang lucu.
Ada kecemburuan kecil yang biasa terjadi antara ibu, anak dan ayah mereka dalam rumah tangga. Terkadang cinta segitiga ini menerbitkan kecemburuan unik dan menggelitik.
Kasih sayang serta tuntutan perhatian atau keinginan-keinginan kecil antara ayah dan anak pada ibunya yang memicu rasa cemburu seperti ini. Semua menuntut perhatian yang sama, tapi sang ibu terkadang mendahulukan satu pihak hingga pihak lainnya merasa diabaikan.
Saat akan melahirkan beberapa hari yang lalu, Arkan tampak lebih gelisah dari Runa, seolah dirinyalah yang akan mengeluarkan bayi dari perutnya sendiri. Pria itu tidak segan-segan menciumi Runa dan memeluknya berulang kali saat wanita itu merasakan mulas yang teramat sakit.
Arkan belum pernah merasakan kegelisahan seperti ini, lebih gelisah dari saat dia melihat ibunya Erlan tengah ditangani oleh dokter saat dalam keadaan kritis. Saat itu dia sudah diliputi kepasrahan akan nasib istrinya yang kemungkinan besar tidak akan selamat.
Akan tetapi saat menghadapi Runa akan melahirkan, dia justru begitu takut kehilangan. Saat Erlan lahir melalui operasi Caesar, Arkan turut mendampingi istrinya yang dibius total hingga tidak melihatnya merintih-rintih seperti. Namun sekarang, dia melihat Runa bertarung antara hidup dan mati, sungguh dia tidak sanggup untuk kehilangan lagi.
Tubuhnya berkeringat, wajahnya pucat dan hawa dingin menyelimuti seluruh persendian dan dia gemetar tak bisa bergerak. Dia menciumi Runa berulang kali dan memeluk seolah-olah itu pelukan terakhir sebab dirinya akan segera tiada. Dia tidak perduli dengan tatapan geli dari dokter kandungan, bidan dan perawat yang biasa menangani pasien dengan resiko tinggi.
Lebih dari tiga jam Runa mengalami proses pembukaan jalan lahir hingga sempurna, proses persalinan selanjutnya berjalan lancar tanpa hambatan berarti, membuat semua tenaga medis yang terlibat bernapas lega. Semua yang mereka khawatirkan tidak terjadi pada Runa.
Seseorang di antara tenaga medis itu ada yang berkata, “Alhamdulillah, ini seperti keajaiban.”
“Banyak wanita lanjut usia yang lancar melahirkan di jaman dahulu.”
“Ya. Benar dulu, kan, sebelum ada obat-obatan pencegah kehamilan, tapi mereka baik-baik saja.”
“Tapi, Bu Runa bukan wanita lanjut usia, hanya mendekati empat puluh tahun saja.”
“Ya. Masih muda, kok, kadang kita terlalu berlebihan saja.”
“Bukan berlebihan, tapi hati-hati.”
“Alhamdulillah semua lancar.”
Arkan dan Runa mendengar semua pembicaraan mereka, dan kedua orang itu hanya menanggapinya dengan senyum penuh rasa syukur.
__ADS_1
Bersambung