
Dia Bukan Yang Terbaik 2
“Terima kasih, Win. Kamu memang anak Ibuk.” Runa berkata sambil memeluk anaknya.
“Maafkan Wiwin, Bu.”
“Ya, Ibu juga punya salah. Jadi, kamu nggak sepenuhnya salah.” Setelah berkata, dia melepaskan pelukan dan melangkah pergi meninggalkan anaknya bersama dengan Erlan.
Runa menggamit tangan suaminya dan mengajaknya ke kamar, dia ingin membicarakan sesuatu tentang anaknya, Winsi yang menjadi satu-satunya berlian dalam hidupnya. Dia tidak ingin anaknya yang berharga mengalami hal buruk lagi dalam hidupnya.
“Mas, aku mau menjodohkan Winsi sama seseorang!” kata Runa saat mereka sudah ada di kamar. Mereka berdiri berhadapan, dan saling tatap dengan serius.
“Siapa?”
“Siapa menurutmu, lelaki yang mengerti keadaannya, tahu masa lalunya, dan juga ngerti sifat-sifatnya?”
Arkan memutar bola matanya, dia tersenyum dan berkata dengan jujur, “Aku nggak tahu ... coba bilang, siapa?”
__ADS_1
Ck!
“Erlan!”
“Apa?” Arkan berkata dengan suara yang sedikit meninggi.
Arkan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Runa karena dia punya rencana berbeda dengan putranya itu. Ada amanah lain yang harus dilakukan Erlan hingga masalah lama bisa selesai. Anaknya itu berjanji akan segera menikah dengan orang lain setelah kuliahnya selesai.
Runa bersikeras dengan pendiriannya karena dia tahu sifat anaknya dari sejak kecil hingga berubah drastis saat mengalami kejadian di penjara. Dia adalah seorang ibu biasa saja, yang ingin agar anaknya bahagia. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu, tidak. Dalam pikirannya seorang pria yang cocok dengan Winsi hanyalah Erlan. Apalagi Erlan juga menyukai Winsi sejak dulu.
“Tidak.”
“Mas, cuma Erlan yang tahu masa lalu anakku, yang tahu trauma dan sikap anakku, cuma dia Mas! Lihat selama ini Wiwin nggak pernah dekat dengan laki-laki lain, selain Erlan.”
“Tapi, Runa ... kita kan jadi suami istri, masa anak-anak kita mau menikah juga, apa kata orang nanti?”
“Mas, mereka itu bukan muhrim, bisa menikah, kan? Kecuali antara dirimu dan anakku, maka, kalian itu jadi muhrim dan nggak boleh menikah.”
__ADS_1
“Runa, memang semua yang kamu katakan benar, tapi, aku nggak akan setuju dengan rencanamu.”
Sejak saat itu, Runa dan Arkan sering membicarakan tentang perjodohan antara Erlan dan Winsi. Runa selalu memberi penjelasan pada suaminya dengan lemah lembut. Dia ingin Winsi pindah kuliah dan bisa menikah dengan Erlan, agar mereka tetap berkumpul dan tinggal di rumah besar hingga suasana rumah menjadi ramai.
Runa merasakan bila Arkan pergi bekerja, maka, rumah besar menjadi sepi dan anaknya tidak punya teman bermain serta bersenda gurau. Keinginannya sederhana, tapi, karena terlalu sederhananya, justru susah untuk diwujudkan.
Saat semua anggota keluarga selesai makan malam, Runa mengajak anaknya bicara dan mengatakan rencananya. Meminta agar Winsi tetap berada di rumah, pindah kuliah dan bisa sering berdekatan bila ada di rumah.
Akan tetapi kemudian Winsi mendengar ucapan Runa untuk segera mencari pria yang mengerti dan, menerima diri apa adanya, memaklumi dan tahu tentang masa lalunya. Saat itu juga Winsi memandang ibunya nanar.
“Siapa yang ibu maksud? Nggak ada laki-laki yang tahu masa laluku, selain Erlan! Jadi, apa maksud Ibu sebenarnya? Kalau memang yang Ibu maksud adalah Erlan, dia bukan yang terbaik.”
“Sayang, kamu butuh orang yang bisa lindungi kamu, Ibu cuma kuatir kalau ada orang jahat atau memanfaatkanmu!”
“Ibu ... hati-hati kalau bicara, ucapan itu do’a!”
Bersambung
__ADS_1