
Dia Siapa?
“Siapa kamu?” Tanya Hansya, sambil menarik tangannya dari cengkraman laki-laki yang tidak disadari dari mana kedatangannya, tahu-tahu sudah menghalangi gerakannya, saat hendak menampar pipi Winsi.
“Aku Kakaknya! Kenapa?” Sahut Erlan sambil bersungut-sungut dan melirik Winsi dengan wajahnya yang berkerut. Memastikan gadis yang dia anggap lemah itu baik-baik saja.
Seketika Hansya dan teman-temannya tercengang dengan apa yang mereka lihat, seorang anak yang berpenampilan menawan mengenakan seragam SMA swasta favorit di kota, mengaku sebagai saudara Winsi. Tidak bisa dipercaya, apakah ini mungkin?
Penampilan mereka saja jauh berbeda. Winsi sepertinya terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, sejak hari pertama sekolah selalu datang dan pulang hanya dengan menggunakan jasa angkot, tas dan sepatunya pun terkesan murahan serta lusuh.
Sementara pria itu tadi turun dari mobil mewah brand ternama yang sama seperti milik Hansya, hanya saja beda kelas dan serinya.
Bagaimana mungkin mereka bersaudara? Mungkin dunia akan tertawa bila memang itu benar adanya. Mungkin saja Winsi adalah adik yang dipungut oleh pria itu dari jalanan.
“Jadi, kamu yang sudah bikin dia basah kuyup kemarin?” tanya Erlan, sambil menunjuk Winsi membuat semua anak-anak itu heran, bagaimana dia bisa tahu padahal, mereka yakin tidak ada orang lain yang melihat?
Hansya yang berdiri di antara mereka kemudian menoleh ke salah satu sisi gedung sekolah, di mana ada tiang penyangga dan terdapat satu kamera pengawas di sana.
‘Apa anak ini tahu dari CCTV itu? Sebenarnya, siapa dia? Mana mungkin mereka bersaudara, dia tampan, sedangkan Winsi? CK!’ batinnya sambil mencebik melirik ke samping di mana Winsi berada.
“Kalau iya, kenapa memangnya?” sahut Hansya.
“Terus, kamu juga yang bikin gara-gara menjegal kaki orang tapi nggak mau tanggung jawab, tapi malah nyalahin orang lain? Benar begitu?” tanya Erlan lagi, kali ini sukses membuat Winsi ternganga tapi, segera menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
Ah ... seandainya saja Fika ada, dan arah rumah mereka tidak berlawanan, tentu dia sekarang bisa bersama dan melihat pembelaan dari orang lain pada dirinya.
“Apa urusanmu? Lagi pula kamu nggak sekolah di sini. Buat apa kamu ngurusin dia? Tahu, nggak? Dia udah di skors tiga hari!”
“Tapi, dia nggak salah, kan?”
“Memang sih, dia nggak bikin tanganku patah, tapi dia sudah bikin tanganku bengkak, tahu?”
__ADS_1
“Itu, kan, karena salah kamu sendiri, nampar dia!”
“Dia seharusnya memang pantas ditampar kok. Dia sudah nggak sopan padaku. Temannya juga, lewat nggak permisi dulu.”
“Jadi semua itu karena kamu, jangan-jangan ide skorsing juga dari kamu?”
“Iya lah, semua guru di sini itu idiot, jadi mereka nurut sama aku.” Setelah berkata demikian, Hansya tertawa keras, sedangkan teman-temannya diam dan berharap mereka selamat.
Sungguh apa yang di katakan Hansya itu sangat memalukan, bagi mereka yang masih memiliki akal sehat. Teman yang mereka agungkan, seperti anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan.
Bahkan, saat melihat sikap perempuan itu, seakan perlu mempertanyakan sejauh mana keberhasilan para pendidik menerapkan ajaran moral pada anak didiknya?
Banyaknya tawuran, pergaulan bebas, maraknya miras oplosan, atau narkoba yang menyelusup hampir di setiap kalangan anak muda, seolah menepiskan bahwa ajaran moral dan tata krama menjunjung harkat martabat diri serta keluarga seolah sirna.
Setelah ucapan Hansya berhenti, Erlan berteriak pada seseorang. “Ayah!” lalu, Hasnu muncul dari balik pohon tempat Winsi berteduh tadi.
“Apa Ayah merekam semuanya?” tanya Erlan sambil melangkah mendekati pria itu.
“Sudah,” jawab Hasnu sambil mengangguk hormat pada Erlan dan Winsi, membuat gadis itu merasa canggung.
Seperti itulah Hansya, merasa tinggi hati hanya karena dia adalah anak dari seorang pejabat yang berpengaruh di bidang pendidikan. Keberadaannya memang sangat dihargai para guru, selain itu dia juga pintar sehingga para Guru menyayanginya. Akan tetapi, kasih sayang para pendidik disalahartikan sedemikian rupa hingga dia menjadi sombong.
“Apa yang kamu lakukan?” Hansya berkata dengan panik, sejujurnya dia hanya menggertak tapi, tidak menyangka bahwa, Erlan melakukan hal sejauh itu padanya.
“Aku akan menggunakan rekaman ini untuk membuktikan kalau Wiwin nggak salah! Jadi, dia nggak perduli di skors.” Erlan berkata sambil meraih tangan Winsi dan menariknya ke mobil. Mereka meninggalkan kerumunan anak perempuan yang, masih tercengang karena rencana mereka mempermalukan Winsi justru berbalik menampar wajah mereka sendiri.
“Lepas! Kamu nggak perlu melakukan semua ini buatku, Lan!” Kata Winsi sambil menepis tangannya dari genggaman Erlan tapi, anak laki-laki itu seolah tidak mendengar dan terus mengajaknya masuk.
“Ayo cepat kita pulang ....” kata Erlan dengan lembut.
“Win!” teriak sebuah suara saat Winsi hampir saja menghenyakkan tubuhnya ke jok kursi penumpang belakang mobil BMW warna hitam itu. Seketika Winsi menoleh dan melihat Meri yang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Meri?” Winsi pun berteriak, sambil beranjak mendekati Meri lalu, mereka berpelukan.
“Kok, kamu bisa ke sini, si?” tanya Winsi sambil tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya itu.
“Oh, aku kebetulan lewat sini, tadi. Sekalian pulang.” Meri menyahut sambil melirik Erlan yang masih berdiri di pintu mobil yang terbuka dan menunggu Winsi.
Meri menaruh curiga pada Erlan, yang ingin menemui Winsi. Saat pulang tadi, secara tidak sengaja dia mendengar pria itu memerintahkan sopirnya untuk mampir di SMP Negeri tempat Winsi melanjutkan pendidikan. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Erlan pada sahabatnya.
Dari seberang jalan, Meri melihat semuanya dengan jelas hingga dia menduga bila ada sesuatu yang telah terjadi antara Winsi dan Erlan. Saat itulah dia menyesal mengapa memilih bersekolah di Yayasan yang sama dengan tujuan ingin mendekati Erlan. Namun, nyatanya, sejak hari pertama masuk sekolah dia belum pernah bertemu dengannya.
Dia merasa aneh saat mendengar dan melihat apa yang terjadi, Erlan tampak datang dengan maksud sebagai pahlawan bagi Winsi. Dia sengaja muncul untuk mencegah temannya itu bisa duduk di mobil bersama dengan pria yang dia sukai.
“Kamu sekarang mau pulang, kan?” tanya Winsi begitu gembira bertemu Meri, sebab mereka sudah jarang bertemu sejak melanjutkan sekolah yang berbeda.
“Ya.” Meri menjawab dengan antusias dan memegang tangan Winsi sambil berlalu dari tempat itu.
“Hai! Anak Buluk!” Teriak Erlan saat menyadari Winsi akan segera pergi dengan Meri.
Mendengar ucapan Erlan itu, Meri tertawa tertahan, membuat Winsi cemberut. Dia kemudian mendekati Erlan.
“Lan, jangan panggil aku dengan nama itu, please ....” rengek Winsi dengan suara rendah agar Meri tidak mendengar dia memohon.
Sementara Meri menahan tawanya semakin kuat, dia mendengar dengan jelas sebutan itu hingga dia bernapas lega karena ternyata hubungan antara Erlan dan sahabatnya bukanlah sebagai pasangan kekasih.
“Ayo, masuk! Ada yang mau aku omongin sama kamu!” Erlan menjawab sambil mendorong tubuh Winsi kembali ke dalam mobil.
“Eeh... Tunggu. Gimana Meri?” tanya Winsi sambil melambaikan tangan agar Meri mendekat.
“Ya sudah, ajak sana!” Erlan berkata dengan raut wajah terpaksa.
Akhirnya mereka menumpang mobil itu bertiga. Erlan duduk bersama Winsi di jok belakang, sementara Meri duduk di samping Hasnu di bagian depan. Tentu saja Erlan yang mengatur posisi duduk mereka. Meri dan Winsi tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
“Lan, kamu mau ngomong apa?” tanya Winsi, saat mobil sudah mulai berjalan.
Bersambung