
Sepenggal Rasa Yang Tersisa
“Ya. Kalau masa Iddah Ibu sudah habis, aku mau pindah ke Jogjakarta dan mental di sana sama Ibu dan Jiddan!” Winsi mengulangi ucapannya pada Erlan dan spontan membuat pria itu tertawa.
“Kamu pikir Ibu sama Jiddan boleh pergi dari sini? Tidak akan!” Setelah berkata demikian, Erlan pergi begitu saja meninggalkan meja makan tanpa permisi. Pria itu langsung menuju kantor tempat Badri dulu mengelola semua usahanya.
Kepergian Erlan di susuk dengan kepergian paman pertama dan juga Tantenya dan juga sanak famili yang lainnya.
“Ibu, sabar dulu di sini, ya ... Wiwin nggak lama, kok, selesai ujian. Jangan kuatir, Erlan akan mengurus dan membela Ibu dengan baik.”
“Dari mana kamu tahu kalau semua akan baik-baik saja, Win ... jangan lama-lama, cepat ke sini lagi kalau sudah beres.”
“Ya. Ibu nggak usah kuatir, aku yakin Ibu pasti dibela dan diurus Erlan, lihat saja yg ingkahnya tadi, waktu aku bilang mau bawa Ibu pergi. Dia jelas-jelas sayang sama Ibu dan Jiddan.”
“Ya, Ibu tahu. Sudah, sana berangkat, jangan sampai telat!”
Winsi menciumi Jiddan yang masih menyusu pada Ibunya dari tadi, semalaman anak kecil itu gelisah tapi pagi ini sudah tidak rewel membuat Winsi dan Runa sedikit tenang. Setelah puas dia berpamitan dan menyalami tangan Runa lalu pergi dengan diantar oleh Hasnu seperti biasanya.
“Ya Allah beri kami ketenangan dan kemudahan dalam menjalankan kehidupan walaupun, tidak ada pemimpin dalam keluarga tempat kami menggantungkan segala harapan.”
Winsi terus berdoa dalam hati saat dalam perjalanan menuju ke Bandara. Dia memilih duduk di samping Hasnu dengan tenang dan terus memejamkan mata memohon ampunan pada Allah untuk ayahnya.
Saat itu Hasnu bercerita jika Arkan seperti memberi isyarat padanya tepat sepekan sebelum kematiannya dan, pria itu baru sadar jika ucapan Arkan adalah pesan terakhir baginya.
“Pak Hasnu, jangan ke mana-mana ya!” kata Arkan sewaktu mereka tengah berkendara hendak berangkat ke kantor.
“Ya, memangnya saya mau ke mana, Tuan?”
“Mungkin mau ikutan Anas, pamit pulang nggak ke sini lagi, hanya karena istrinya melahirkan!” sahut Arkan yang sebelum berangkat, Anas tukang kebunnya itu pamit pulang karena istrinya melahirkan.
__ADS_1
“Jangan kuatir, Tuan. Saya masih sanggup kerja sama Tuan di sini, kecuali saya sudah nggak kuat lagi, pasti saya pensiun.”
Waktu Arkan tidak menjawab dan hanya mengangguk, setelah hari itu, tidak ada lagi percakapan berarti antara mereka hingga saat Arkan melihat berita tentang kerusuhan di rumah Winsi, membuat dia seketika difonis punya penyakit jantung. Sementara Hasnu hanya bisa mengelus dada sebab prihatin, Tuannya yang masih tergolong muda dan gagah itu pergi lebih cepat dibandingkan dirinya.
Umur sudah ditentukan waktu dan waktu yang akan menjawab sampai di mana umur manusia. Seorang manusia bisa melihat gejala penyakit dan ciri menjelang kematiannya. Namun, tidak pernah tahu kapan tepatnya nyawa lepas dari raga.
Wnsi pun mengatakan kalau Arkan tiga hari sebelumnya sempat mengirim pesan, agar gadis itu senantiasa menjaga dirinya, tetap kuat dan semangat serta tetap dekat dengan orang-orang yang menyayanginya. Tiba-tiba hatinya kembali sedih dan mengurai kembali air matanya.
“Maaf, Non. Jadi, bikin Non sedih lagi.” Kata Hasnu saat sudah tiba di Bandara, dia menghentikan mobil tepat di pintu masuk dan menghadap ke arah Winsi sambil mengayunkan kedua tangannya.
“Nggak apa, Pak. Pak Hasnu nggak salah, saya yang terlalu berlebihan.” Winsi menjawab Hasnu sambil mengusap air matanya dengan tisu dan turun dari mobil.
Hasnu mengantarkan Winsi sampai memasuki area keberangkatan. Setelah dipastikan jika anak angkat majikannya baik-baik saja, dia pun kembali ke mobilnya dan pulang. Pria yang rambutnya mulai ditumbuhi uban itu sempat berpikir jika sebaiknya Winsi menikah dengan Erlan dari pada menikahi perempuan gila yang menjadi tanggung jawabnya. Tiba-tiba dia jadi bergidik membayangkan betapa nelangsanya majikan mudanya itu menghadapi wanita yang dinikahinya.
Sesampainya di rumah, Hasnu tidak memiliki pekerjaan lagi selain menunggu perintah, tapi, dia tetap memantau perkembangan semua orang yang ada dalam keluarga Badri. Dia dulu adalah orang kepercayaan pria tua yang juga sudah meninggal itu, tapi Arkan hanya memperkerjakannya sebagai sopir pribadi saja karena pria itu mampu menjalan semua tugas seorang diri.
*****
Lebih dari sepekan setelah kematian Arkan, suasana rumah sudah benar-benar kembali seperti semula, hanya beberapa perabot rumah tangga yang diubah atau di tukar posisinya, dengan maksud sedikit mengurangi suasana atau keadaan di saat Arkan masih bersama mereka.
Runa sudah membaik dan terlihat lebih sabar, dia sendiri yang mengatur keadaan rumah untuk kenyamanan semua orang. Beberapa asisten yang masih setia pun mendukung serta menemani majikan wanita yang baik dan ramah itu dengan tulus. Bahkan tidak ada rasa khawatir kalau mereka tidak di gaji olehnya.
Erlan sering sekali tidak pulang, dan kalau pun pria itu ada di rumah, hanya sekedar makan malam, menyapa Runa dan adiknya, lalu mengobrol sebentar. Setelah itu kembali ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Akan tetapi, dia lebih sering tidak pulang, dan hanya Hasnu yang tahu di mana Erlan saat tidak bekerja tapi juga tidak ada di rumahnya.
Saat Winsi tiba di rumah besar, secara kebetulan Erlan pun tiba di rumah juga, tapi laki-laki itu berniat akan pergi lagi karena dihubungi perawat jika Hanifa membuat ulah.
Saat itu Winsi yang baru saja melepaskan sepatunya melihat Erlan yang sudah hendak pergi lagi dengan kendaraannya. Winsi sengaja pulang karena ujiannya sudah selesai dan dia ingin menemani ibunya saat tidak ada kegiatan perkuliahan. Sementara tokonya dia percayakan pada Nia dan dua rekannya yang lain.
Erlan sudah mendekati mobil saat Winsi memanggilnya.
__ADS_1
“Erlan! Tunggu!” kata Winsi seraya mendekati Erlan tanpa alas kaki. Kamu mau pergi lagi? Kan, kamu baru saja datang tadi.”
“Bukan urusanmu!”
“Wah, wah ... lihat ini Ayah, lelaki ini tidak mau kalau urusannya di campuri, maka jangan mengurus urusanku juga!”
Erlan yang semula sudah akan membuka pintu mobil menghentikan gerakannya dan berbalik pada Winsi.
“Apa maksudmu?” laki-laki itu berkata sambil mendekat dan menatap Winsi penuh kemarahan.
Demi apa, sebenarnya dia tidak ingin marah pada Winsi, dia sayang dan dia tidak ingin gadis itu pergi atau bahkan membawa Runa bersamanya, tidak! Hanya saja dia punya urusan yang akan menguras energi serta pikirannya sekaligus. Dia tidak ingin Winsi menilainya negatif dengan tingkah lakunya, tapi, saat ini dia emosi. Lelah jiwa raga mengurus semuanya. Seorang diri, beban yang di tinggalkan ayahnya terlalu berat untuk dia lampai sendiri. Ya Allah!
“Ya. Jangan campuri urusanku, kalau aku mau bawa Ibuku pergi dari sini! Apa kau mengerti?” Winsi berkata sambil melangkah meninggalkan Erlan.
“Winsi Nasriya Binti Basri Darmawan! Hentikan langkahmu sekarang juga! Atau ...?”
Winsi berbalik dan berkata, dengan hati yang tiba-tiba berdebar karena tidak ada laki-laki yang sebelumnya memanggil namanya selengkapnya seolah hendak mengucapkan ijab kabul, “Atau apa? Kamu pikir aku takut?”
Erlan melihat pembangkangan sekali lagi pada Winsi, dia teringat pesan Arkan terakhir kali saat berbalas pesan terakhir kali sebelum ponselnya dia non aktifkan, agar menjaga apa yang sudah dijaganya selama ini. Apa yang Arkan jaga adalah semuanya, termasuk Winsi dan Runa! Dia sengaja mematika telepon genggam karena dia masih ingin fokus merawat dan memahami Hanifa serta belajar bagaimana mengatasinya.
“Ya Allah!” pekik Erlan sambil mengacak rambutnya lalu pergi begitu saja kembali ke mobil. Dia sendiri tidak tahu kalimat apa yang akan dia katakan selanjutnya karena dia tidak mungkin mengancam Winsi dan Runa.
“Erlan! Kalau kamu pergi sekarang, jangan harap kamu lihat kami lagi ada di rumah!” Kata Winsi lirih. Namun, seolah ucapannya di dengar oleh Erlan karena laki-laki itu berbalik dan kembali menatap Winsi lalu mengangguk.
“Baik, tunggu aku, aku tidak akan pergi, sebentar saja, oke?” katanya.
Winsi termenung, dia kira Erlan mendengar suaranya, atau akan marah-marah. Namun, sejenak kemudian dia melihat Erlan masuk ke dalam mobil yang tertutup lalu, berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Winsi dapat melihat dengan jelas dari bayangan di balik jendela kalau pria itu sedang marah-marah, entah pada siapa hingga timbul curiga di benaknya.
Bersambung
__ADS_1