Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
109. Pria Diluar Jendela


__ADS_3

Pria Di Luar Jendela


Winsi duduk di dekat jendela yang dia biarkan terbuka. Dia tengah merenung sendiri di kamarnya, setelah selesai mengobrol dengan ibunya tadi. Sedangkan Runa sudah kembali ke kamar utama karena Jiddan terbangun dan membutuhkannya.


Gadis itu terus berpikir tentang keinginan ibu tercinta, agar dia segera mencari pendamping hidup hanya karena kekhawatiran yang tidak berdasar. Baginya setiap orang punya rasa takut atau kuatir, tapi, selama ini dia sudah banyak belajar untuk menghilangkan ketakutan terbesarnya sendiri. Kebutuhan hidup serta keinginan untuk mandiri dan sukses lebih besar dari ketakutan juga trauma yang dia miliki.


Tiba-tiba dia mengingat salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang rezeki dalam bentuk apa pun sudah di jamin oleh Allah bagi semua hamba Nya. Jadi, kalau memang dia akan menikah yang merupakan rezekinya, maka, dia pasti akan mendapatkan jodoh juga. Dia tidak perlu khawatir, kan?


Winsi tidak bisa mengungkapkan semua keluh kesah di hatinya selama ini. Dia mengakui kesalahannya karena tidak jujur dan terbuka pada Runa. Mungkin saja ibunya itu merasa cemas jika suatu saat Basri akan kembali dan mengganggunya. Oleh karena itu dia meminta anaknya segera menikah.


Dia belum ingin menikah dan tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Dia masih sibuk memulai prestasi dan bisnis. Hidup bukan hanya untuk menikah dan berada di bawah peraturan karena sebagai seorang istri harus taat dengan suaminya. Bukan, hidup bukan hanya soal itu saja!


Dia tidak mau seperti itu.


Dia akan hidup mandiri dan tidak akan membutuhkan pernikahan hanya demi mendapatkan jaminan rezeki. Dia ingin membuktikan bila dia bukanlah wanita lemah yang membutuhkan laki-laki. Apalagi kalau laki-laki hanya akan membuat hidupnya sengsara, seperti saat ibunya menikahi Basri. Apakah hidup dengan Erlan bisa menjamin semuanya  baik-baik saja? Tidak juga,n belum tentu, kan?


“Kamu mikirin apa?” tanya Erlan tiba-tiba, sambil mengetuk kaca jendela dari luar. Dia sudah memperhatikan Winsi sejak tadi hingga lebih dari dua jam gadis itu tidak beranjak dari tempatnya dan membiarkan Jendela kamarnya terbuka.


“Eh!”


Winsi sedikit terkejut, walaupun Erlan mengetuk kaca dengan perlahan. Lamunannya seketika buyar. Sejenak dia menatapnya dengan pikiran yang berkecamuk, apakah ibunya sudah mengatakan keinginan konyol itu pada pria di luar jendela? Sejak kapan dia berdiri di sana dan melihatnya melamun? Apa pria di luar jendela itu tahu kalau dia tengah memikirkannya?


Winsi masih memikirkan Erlan dan perkataan ibunya tentang laki-laki yang mengerti masa lalunya dan semua hal dalam hidupnya, bahkan Cuma dia yang selama ini dekat dan menyayanginya sepenuh hati. Walaupun terkadang memang dia menyebalkan, tapi, dia memang memperhatikan dan kasih sayang Erlan itu nyata dia rasakan.


“Kamu tanya apa, tadi, Lan?”


“Kamu mikirin apa?”


“Kamu!”


Seketika Erlan tertawa, wajahnya terlihat semringah dengan jawaban jujur Winsi yang memikirkan dirinya.


“Aku, kenapa memangnya?”


“Kamu sudah lulus sekarang, Pak B.BA! Selamat, ya!”


“Huh! Telat, ngucapinnya!”


“Yah, dari pada enggak.”

__ADS_1


Setelah itu suasana hening, Erlan masih berdiri di luar jendela dan Winsi masih duduk di tempatnya semula.


“Masih belum ngantuk?” Erlan kembali memulai percakapan.


“Belum.”


“Masih mikirin aku?”


“Ya!” Winsi bicara jujur, dia merasa nyaman berkata apa adanya tanpa batasan sama sekali, dia tidak perlu menutupi sesuatu dari pria itu.


Sementara Erlan masih berpikir tentang sesuatu yang akan dia lakukan besok. Dia punya rencananya sendiri, rencana yang belum sempat dia lakukan pun sudah dia sesali. Akan tetapi dia tidak akan mundur, karena janjinya harus ditepati.


“Maaf, kalau aku punya salah, sampai kamu pikirin segala!” kata Erlan.


“Eh, kamu nggak salah, Lan. Justru aku harus terima kasih kamu sudah banyak bantu.”


“Nggak masalah, selama aku mampu. Tidur sana, sudah malam!”


“Apa kamu punya rencana menikah muda, Lan?”


Tiba-tiba jantung Erlan berdetak tidak beraturan, pernikahan memang keinginannya dan dia memang hanya ingin menjadikan Winsi sebagai istri dan melindunginya, menyayanginya  seumur hidup.


Namun, tidak saat ini, dia ingin Winsi meraih cita-cita dan menikmati hidupnya dalam kebebasan terlebih dahulu. Jika dia nanti menjadi istrinya, maka dia ingin wanita itu tetap berada di sisinya dan tidak harus bekerja mencari uang. Cukup dia saja, dia akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya apa pun itu kalau dia mampu.


“Kamu punya rencana nggak nikah sama siapa atau perempuan seperti apa?”


“Ada!”


“Siapa?”


“Aku pernah ketemu sama peri waktu kecil dulu, nah, aku tuh pengin nikah sama peri itu!”


Winsi pun tertawa ringan seraya menutup mulutnya, dia tidak menyangka jika Erlan punya khayalan tinggi seperti sekarang. Peri hanyalah cerita dalam sebuah dongeng, bagaimana menikahi mahkluk bersayap itu kalau ada di dunia nyata?


“Wah, khayalanmu ketinggian, Lan!” sahut Winsi saat sudah berhenti tertawa.


“Ada, suatu saat kamu tahu siapa peri kecil itu. Udah sana tidur, kalau kamu masih takut, aku ada di sini jagain kamu.”


Winsi tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa mendengar ucapan yang penuh dengan rayuan atau perhatian itu.

__ADS_1


“Nggak perlu, aku sudah nggak seperti dulu. Sudah hampir setahun aku bisa tidur seperti orang normal... ya, kadang saja sih.”


“Kadang, kenapa?” Erlan penasaran.


“Nggak ... kenapa-napa,” Setelah bicara seperti itu, Winsi segera menutup Jendela dan saat jendela hampir tertutup, dia sempat melihat Erlan yang juga tengah memandangnya dengan tatapan yang rumit. Sejenak penglihatan mata mereka saling mengunci sebelum akhirnya jendela benar-benar tertutup.


Erlan punya peri kecil yang dia cintai, jadi Winsi tidak akan berharap banyak, tidak ada perempuan yang mengalami nasib seperti dirinya, tentu tidak akan ada yang sudi menikah dengannya.


 


*****


 


Keesokan harinya, setelah sarapan pagi bersama, Erlan pergi dengan Arkan yang akan berangkat menggunakan satu mobil  karena akan pergi ke tempat yang sama. Sementara Winsi dan Runa hanya menatap kepergian mereka dengan senyum dan lambaian tangan.


Dua wanita itu kemudian bercanda dengan hangat bersama si kecil Jiddan, yang selalu di rindukan Winsi selama di Yogyakarta. Dia tidak serius saat mengatakan pada Erlan bahwa dia cemburu dengan adiknya dan Jiddan adalah adik Erlan seorang, bukan dirinya. Namun, nyatanya dia sangat menyayanginya, anak kecil itu selalu berada dalam gendongan Winsi dan sering kali dia mencium pipi gembilnya.


“Kapan kamu pulang, Win?” tanya Runa sambil menyuapi Jiddan yang berada di pangkuan Winsi.


“Besok.” Winsi menjawab sambil mencium pipi adiknya.


“Pertimbangkan lagi permintaan Ibu, Win.”


“Buk, kan, sudah aku bilang aku belum mau menikah aku pengin nyelesain kuliah dulu. Usahaku sekarang baru saja mulai jalan, Bu. Apalagi aku sudah bekerja sama dengan om Anas, masa mau aku tinggalin sih?”


“Win, semua demi kebaikanmu Ibu bisa tenang kalau kamu sudah ada yang jaga, dan bertanggung jawab, kamu nggak harus tinggal sendiri di sana ... Ibu kuatir, Nak!”


Winsi terdiam sesaat pandangan matanya jauh ke depan dia mengerti sekarang bahwa, sebenarnya pernikahan yang Runa inginkan bukanlah demi kebaikan dirinya melainkan demi ketenangan hati ibunya sendiri. Runa lebih mementingkan ketenangan hatinya yang selama karena berjauhan dengan anaknya, yang tinggal seorang diri.


Apalagi orang yang dulu pernah berbuat jahat kepada Winsi datang lagi, membuat Kekhawatiran Runa pun semakin bertambah. Dia takut bila nanti pasti berbuat macam-macam karena dia mengetahui anaknya itu hanya tinggal sendiri.


Tentu saja akan berbeda kalau Winsi kemudian menikah, ada laki-laki yang bertanggung jawab serta menjaganya. Apalagi orang yang melindungi Winsi adalah laki-laki seperti Erlan, maka, dirinya akan lebih tenang. Dia adalah satu-satunya pria yang mengetahui masa lalu anaknya dan tidak pernah mengungkitnya. Itu artinya dia adalah orang yang sangat pengertian. Pria itu juga  memberikan kasih sayang walaupun tahu pengalaman dan masa lalu Winsi yang memang tidak menyenangkan.


“Apa Yang bikin Ibu tenang Cuma pernikahanku?”


“Ya!”


“Kalau begitu ....”

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2