
Erlan Mengalah
Arkan menarik nafas panjang sebelum menceritakan apa yang telah terjadi pada Saina sehingga keputusan yang akan mereka lakukan berdua, akan sangat mempengaruhi masa depannya. Wanita itu memang menyebalkan tetapi, mengingat jasa kedua orang tuanya yang pernah membantu usaha sang kakek, membuat mereka mau tidak mau harus menolongnya.
Sebenarnya Erlan berpikir bahwa semua yang terjadi pada Sania, bukanlah urusan mereka sebab, setiap manusia memiliki ujiannya sendiri. Akan tetapi, jiwa kemanusiaan yang terpanggil untuk membantu wanita itu atas dasar belas kasihan saja. Tidak lebih, sebab Erlan benar-benar tidak menyukai Saina, setelah tertangkap basah ingin meracuni ayahnya.
Apalagi ketika dia tadi, melihat betapa pongahnya wanita itu saat melintas di hadapannya, seolah-olah dialah sang nyonya besar di sana, dia semakin tidak suka. Meskipun usia Erlan baru beranjak dewasa tetapi, dia sudah berpikir jernih bahwa wanita itu bisa saja menyakiti ibu sambungnya.
Manusia yang tidak mengerti adab atau tidak beretika, mungkin akan sulit untuk dijelaskan bagaimana sikap yang seharusnya kecuali, apa yang mereka ingin lakukan. Apalagi bila orang seperti Erlan yang ingin menasihatinya, mungkin akan diremehkan karena dianggap kecil atau masih anak-anak, lalu, diabaikan.
“Apa nanti Tante tidak akan membuat masalah karena terus terlibat dengan kita, Ayah?” tanya Erlan setelah Arkan menceritakan dan mengatakan keinginannya.
“Justru ini adalah usaha agar dia menjauh dari rumah.” Arkan menyahut sambil menyandarkan tubuhnya.
“Restoran kakek yang mana, yang akan Ayah berikan padanya?”
“Bagaimana menurutmu? Untuk inilah Aku memanggilmu.”
“Kalau memang agar Tante menjauh, maka yang ada di luar negeri saja, Yah.”
“Bagaimana kalau yang di pinggir Jalan Shout.”
“Restoran itu baru saja berkembang, Ayah ...”
“Justru itu kita memberikannya agar dia lebih banyak pekerjaan di sana, bukan? Jadi, dia tidak punya waktu untuk mengganggu ibumu di rumah.”
Mendengar penuturan Arkan Erlan pun mengangguk-angguk dan melanjutkan pembicaraan.
“Selama ini, siapa yang bertanggung jawab di sana, Yah?”
“Mark Jo.”
“Oh, laki-laki itu? Dia sepupu jauh almarhum Ibu, kan?” kata Erlan menyebut saudara jauh almarhum ibu kandungnya. “Dia terlalu temperamental, kalau harus menghadapi Tante Saina.”
__ADS_1
“Apa menurutmu begitu? Aku pikir justru mereka cocok. Bukankah mereka sama-sama vulgar?”
“Ayah! Apa kita akan menjerumuskannya kalau kita memberikan restoran itu pada Tante Saina?”
“Tentu tidak ... kita akan melihat bagaimana perkembangannya, selama satu bulan ke depan, kita awasi mereka, beritahu Bibi Neat, juga. Bagaimana menurutmu?”
“Baiklah, aku siap akan mengawasinya mungkin aku akan menghentikan beberapa kegiatan untuk fokus di Shout”
“Baiklah kalau kau sudah setuju. Jadi, bekerja samalah dengan Mark, mulai dari sekarang. Kalau nanti Sania berhasil, kita beri kesempatan pamanmu mendirikan usaha baru, dengan menu andalannya. Jadi, dia punya restoran miliknya sendiri.”
“Baik, Ayah!”
“Pelajari ini,” kata Arkan seraya menyerahkan satu dokumen yang tadi ada di tangannya. “Laporan Mark dalam setahun terakhir pada Kakekmu!”
Sebenarnya Erlan mengenal laki-laki bernama Mark Jo dan juga Bibi Neat—istrinya, tapi, mereka tidak terlalu dekat dengan. Selain karena restoran itu jauh dari kampusnya, pamannya orang yang temperamental. Biarpun begitu, dia sangat bagus dalam manajemen dan pengawasan, dia juga tegas dalam disiplin karyawan lagi pula dia mempunyai menu unggulannya sendiri yang sampai sekarang menjadi ciri khas restoran itu.
Erlan Mengalah melakukan sebuah pekerjaan tambahan demi Sania dan juga agar tidak terjadi masalah dengan ibu sambungnya.
Beberapa orang ada yang harus mengalah pada sesuatu apalagi, bila keadaan memaksanya. Mengalah bukanlah sesuatu yang memalukan sebab, mengalah bisa diartikan dengan sebuah kemenangan yang sesungguhnya.
Arkan meninggalkan ruang kerja setelah memberikan dokumen itu kepada Erlan agar dipelajari anaknya. Dia berjalan menuju kamarnya sendiri di mana tadi dia meninggalkan Runa dalam keadaan sedih. Saat memasuki kamar dia melihat istrinya itu berbaring miring membelakanginya.
Arkan mendekat untuk melihat Runa tertidur tapi, masih ada sesuatu yang tertinggal di sudut matanya. Dengan perlahan dia menghapus sisa air mata itu, lalu mencium pipinya lembut, mengusap perut Istrinya sebentar, sebelum akhirnya kembali meninggalkan kamar dan membiarkan Runa beristirahat.
Arkan kembali melangkah ke kamar lainnya, dia mengetuk pintunya karena tahu Saina ada di sana. Benar saja karena tidak begitu lama kamar pun terbuka. Lalu, terlihat Saina yang tersenyum manis. Pria itu tidak merespon juga, tidak masuk ataupun melakukan sesuatu, dia hanya berdiri di ambang pintu menatap Saina tajam sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Apa kau merindukan aku sampai-sampai kamu ke sini masuklah kita mengobrol saja di dalam,” kata Saina sambil mengulurkan tangan dan merangkul pinggang Arkan, serta-merta pria itu menepisnya dengan kasar.
“Kenapa, kamu menolakku? Apa karena sekarang kamu sudah punya wanita kampung itu?”
“Ya. Syukurlah kalau kamu tahu.”
“Arkan ... Aku tidak masalah ada perempuan itu, kamu berhak memilih siapa pun, yang akan menjadi pendampingmu tapi, ingat ... aku juga punya andil untuk kesuksesanmu dan keluargamu. Lagi pula, aku tidak masalah, kok, jadi wanita keduamu.”
Mendengar ucapan Saina itu, Arkan menggelengkan kepala, menduakan istri itu hal yang tidak mungkin baginya. Usianya sudah lebih dari 40 tahun dan dia bukan laki-laki serakah yang menginginkan wanita lebih dari satu. Dia lebih memilih menyibukkan diri dalam pekerjaan daripada menyibukkan diri dengan hawa syahwat.
__ADS_1
“Aku tidak mau! Apa kau pikir aku tipe laki-laki seperti itu? Kau salah, Saina ...”
“Kenapa, laki-laki boleh melakukannya, lebih dari satu!”
Arkan sekali lagi menggeleng, dia sama sekali tidak berniat memiliki istri selain Runa, cuma wanita itulah yang bisa menyingkirkan bayangan wajah Kahna saat bersama Erlan.
Apalagi dia tahu untuk berbuat adil sebagaimana tuntutan firman Allah dalam Alquran (surat An Nisa ayat tiga) itu, tidaklah mudah. Apabila seorang pria mengucapkan ijab kabul di saat dia masih memiliki seorang istri yang secara sah dinikahi, itu artinya dia sudah membuat janji di hadapan Tuhan bahwa dia akan mampu berbuat adil pada keduanya.
Sebuah janji yang tidak bisa dipermainkan begitu saja karena membawa nama sang pencipta di dalamnya. Jika tidak bisa melakukannya, sama saja membunuh diri dan sengaja menceburkan tubuhnya ke dalam neraka.
Kalaupun dia memang memiliki minat yang besar pada wanita maka, sudah dari dulu dia melakukannya. Dia memiliki banyak uang, tentu saja dia bisa memilih wanita mana pun yang dia sukai dan tidak akan peduli bayangan Kahna—istrinya yang merintih sakit itu terus terbayang di pelupuk mata, dia akan terus menuruti keinginan dan keinginannya sebagai laki-laki.
Akan tetapi, Arkan tidak demikian, dia lebih menghargai pernikahan dan juga istrinya, sebuah kesetiaan adalah harga diri baginya, sebagaimana dia menunggang teguh setiap janjinya. Dia seorang pebisnis, maka, kejujuran dan memegang teguh sebuah perjanjian apalagi yang sudah ditandatangani dalam kontrak adalah keniscayaan.
Seorang laki-laki dipegang adalah janjinya, demikian kata pepatah. Jadi, apabila pria tersebut tidak bisa, maka dia bisa disamakan dengan wanita.
Arkan tertawa kecil begitu saja setelah terdiam beberapa saat lalu, dia menatap tajam kembali pada Saina.
Pria itu berkata, “Kalau aku menikahimu dan kau menjadi istri kedua, aku tidak akan bisa adil, aku akan lebih menyayangi Runa, lebih menghargainya daripada dirimu. Apa kau sanggup, kau mau diperlakukan seperti itu? Bahkan, mungkin aku akan mengabaikanmu, Saina.”
“Kau?” kata Saina sambil mendengus dan mengusap hidung dengan punggung tangannya dia menatap Arkan tak percaya setelah itu ya hanya mengepalkan sebelah tangannya.
“Jadi, aku sudah memahami keadaanmu sekarang ... Jadi, pertolongan seperti apa yang kau inginkan, apakah hanya menjadi istri kedua saja cukup? Dan kau tidak memerlukan apa pun lagi?”
“Apa Kau pikir aku tidak butuh makan dan berpakaian begitu?”
“Ya. Bukankah sudah kubilang jadi istri kedua saja cukup?”
“Lalu, kalau jadi istrimu kau tidak akan menafkahiku begitu?”
Arkan tiba-tiba tertawa cukup keras. Saat itu pula Badri sudah berada di antara mereka.
Bersambung
__ADS_1