Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
14. Sebungkus Nasi Hangat


__ADS_3

Sebungkus Nasi Hangat


Winsi melihat kearah dagangan dan ibunya secara bergantian lalu, tersenyum. Mulutnya terbuka untuk menjawab pertanyaan Runa.


“Nggaklah, Bu.”


“Benaran?”


“Ya.”


Biasanya Winsi hanya membawa makanan itu untuk di titipkan di warung dekat sekolah dan, uang hasil jualannya akan diambil pada keesokan harinya, seperti itu setiap hari. Akan tapi sekarang dia membutuhkan uang lebih banyak lagi, sehingga bertekad untuk menjajakan dagangan makanannya sendiri, dia yakin teman-teman sekolah mau membeli. ‘Kenapa harus malu?’ pikirnya, sebab kebutuhan lebih besar dari rasa malu sebagai anak remaja.


Dia tahu bila Basri tidak mau membiayai kebutuhan sekolahnya dan dia bersyukur masih diperbolehkan untuk makan dan tidur di rumah itu, seandainya Basri mengusirnya, dia tidak tahu harus tinggal dengan siapa.


Mendengar jawaban itu, Runa tersenyum dam mengusap lembut kepala anak semata wayangnya, yang masih serius melayani pembeli. Oleh karena kehadiran Winisi, dia tidak terlalu sibuk melayani pembeli.


“Bu, mudah-mudahan hari ini bisa habis semuanya, ya?’ kata Winsi dengan mata berbinar, melihat barang dagangan ibunya, yang hanya tinggal separuhnya, terlalu banyak orang yang lapar pagi itu rupanya.


Belum sempat Runa menjawab, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan trotoar. Ini terlalu riskan sebab, setahu Runa tempat yang dia gunakan untuk berjualan adalah area dilarang parkir kendaraan. Hanya diperbolehkan bagi para pejalan kaki atau mobil polisi yang sedang berpatroli saja, atau keadaan darurat lainnya.


Jendela kaca mobil terbuka secara perlahan dan muncul dari baliknya, sebuah wajah teduh yang menatap dua wanita pasangan ibu dan anak itu sambil tersenyum ramah.


“Apa nasinya masih hangat?” tanya Arkan, pria itu kemudian turun setelah bertanya dan tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya karena dua wanita itu hanya bengong saja.


Saat Arkan sudah berdiri tepat di depan mereka barulah Runa menjawab dengan terbata-bata. “Ya, ada. Semua masih hangat,” sambil mengasongkan bungkusan nasi yang dikemas secara sederhana. “Silakan,” katanya lagi.


Arkan membuka bungkusan itu di sana, dia melihat nasi yang di bungkus dengan rapi, ada irisan telur dadar, kering tempe yang diidris kecil, dan taburan bawang goreng di atasnya, serta sambal yang terpisah. Dia tersenyum sambil mendekatkan makanan itu ke hidungnya, membuat Runa membelalakkan mata. Dia membuat makanan itu secara hati-hati dan dikemas dengan baik serta rapi, sebab pedagang yang selalu mangkal di tempat yang sama, sangat menjaga kualitas dagangannya. Sebab, apabila seseorang menjual dagangan dengan kualitas yang bagus, maka banyak orang akan menjadi langganannya. Nasi uduk buatan Runa rasanay enak dan gurih, sudah banyak pegawai yang menjadi langganannya.

__ADS_1


Akan sangat berbeda bila seseorang menjual barang dagangan pada orang sekali lewat yang kemungkinan tidak bertemu lagi, dan bila terjadi masalah, maka orang seperti itu, tidak akan peduli. Berbeda dengan Runa, dia tidak mengingkan ada masalah dengan makanan yang dijualnya.


“Baunya, hmm ... enak. Kalau begitu, saya borong semuanya.” Kata Arkan lalu, dia duduk di kursi plastik kosong di samping Runa. Kursi yang biasa dia sediakan untuk para pelanggan yang memilih menikmati nasi uduknya di sana.


“Semuanya, Pak?” Runa bertanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Arkan mengangguk sambil menikmati nasi uduk di tangannya. Runa sedikit heran dengan tindakan pria yang dulu pernah disukainya saat masih remaja, untuk apa nasi sebanyak ini, pikirnya.


“Wah ... Benar, kan, Bu. Dagangan kita habis cepat sekali hari ini!” Winsi berkata dengan girang, sambil memasukkan bungkusan demi bungkusan nasi dalam sebuah wadah. Sesekali gadis itu melirik Arkan yang masih asik mengehabiskan nasi uduk, makanan sederhana buatan ibunya, dia terlihat begitu menikmati.


‘Bapak nggak pernah makan nasi uduk buatan ibuk’ batin Winsi dengan mengerucutkan bibirnya.


Pekerjaan mereka mengemas nasi pun selesai, Runa sengaja menyiapkan kantung plastik khusus untuk orang yang membeli dalam jumlah banyak. Sekarang Arkan membeli semua sisa dagangannya hingga, Runa harus membaginya menjadi beberapa kantung agar bungkusan nasi tetap rapi dan mudah ketika mengambilnya kembali.


Arkan sudah selesai makan tak lama setelah Runa menyelesaikan mengemas lalu, dia menoleh dan berkata, “Jadi, berapa semuanya?” tanyanya sambil mengeluarkan dompet dari balik saku bagian dalam jasnya.


“Apa nasinya enak?” Runa mencoba memancing pendapat Arkan tentang masakannya. Namun pria itu tampak mengerutkan alisnya lalu, menjawab sambil tersenyum , “Hmm ... lumayan,”


“Oh, aku kira tidak enak,” kata Runa.


“Ah, mana mungkin, kalau tidak enak pasti daganganku nggak habis setiap hari.”


“Oh, jadi begitu, syukurlah. Jadi, berapa semuanya?”


‘Kenapa dia beli semuanya?’ Batin Runa.


“Semuanya ... jadi, 100 000,” Jawab Runa dengan raut wajah tidak enak, jumlah uang sebanyak itu untuk membeli makanan, adalah jumlah yang sangat banyak menurutnya. Dia berkata tanpa melihat ke arah Arkan yang menatapnya dengan tatapan yang rumit.


“Untuk apa makanan sebanyak ini? Kamu mau kerja, kan?” tanya Runa saat menerima selembar uang seratusan ribu dan memasukkannya ke dompet.

__ADS_1


“Ya, untuk dimakanlah.” Arkan biacara sambil memalingkan muka menyembunyikan senyum lucu lalu, kembali berkata setelah raut wajahnya menjadi biasa. “Aku mau bagikan ke pegawai kantorku, biar mereka nanti jadi langgananmu.”


‘Oh. Jadi dia punya kantor sendiri’ batin Runa sambil mengusap lengannya.


“Oh, terima kasih.” Runa menjawab sambil menundukkan kepala kemudian memberikan dua kantong plastik kepada Arkan. Pria itu menerimanya dan memasukkan bungkusan itu ke mobil.


Sementara itu, Winsi melihat interaksi antara ibunya dan laki-laki di hadapannya itu dengan wajah polos dan mata yang berbinar, dia selalu membayangkan pria seperti Arkan yang menjadi bapaknya. Akan tetapi siapa yang mau menikahi ibunya yang kurus, wajahnya pun biasa saja, penampilannya tidak menarik, selalu memakai baju yang itu-itu saja. Ibunya pernah bercerita saat mengandung danperutnya semakin besar, dia tidak memiliki pakaian untuk menutupi auratnya, dengan layak. Oleh karena itu dia terpaksa tidak berjualan. Runa hanya seharian dirumah karena semua pakaiannya sempit dan Basri tidak mau membelikannya pakaian hamil, dengan alasan tidak memiliki uang.


Meskipun demikian, Runa tetap bertahan dan melahirkan bayinya dengan selamat, biar bagaimana pun juga, Basri adalah suaminya dan bayi itu buah cinta mereka. Dia berharap semua akan berubah menjadi baik setelah kelahiran anak mereka. Akan tetapi harapan hanyalah harapan, karena sikap laki-laki itu tidak berubah pada Winsi.


Sikap Basri sedikit berubah saat Runa hamil anak yang kedua, menjadi begitu penyayang dan lemah lembut hingga, takdir kembali menyeretnya dalam pusaran kekerasan, ketika anak lelakinya itu kemudian meninggal dunia karena sakit.


Saat ini Runa hanya perlu bersabar sedikit lagi, bila dia ingin berpisah dengan Basri hingga, uang yang dia kumpulkan cukup untuk membiayai kehidupan diri dan anaknya. Siapa yang kuat terus menerus diperlakukan penuh kebencian dan kekerasan.


Allah saja tidak pernah mengijinkan sebuah kezaliman dan kekerasan terjadi dimana pun berada, apalagi pada manusia, mahkluk yang paling disayangi-Nya. Itulah sebabnya ada surga dan neraka yang menjadi balasan bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Jikalau manusia memilih kebaikan, maka surga sebagai balasan yang jauh lebih baik dari apa yang sudah dilakukannya. Sebaliknya bila manusia memilih kezaliman dan tidak mentaati agama, maka neraka sebagai balasan yang jauh lebih keras dari apa yang sudah dilakukannya.


Sebelum memasuki mobil, Arkan menyempatkan diri mengusap kepala Winsi sambil tersenyum lembut padanya dan gadis kecil itu membalas dengan senyum polos khas anak-anaknya.


“Terima kasih, Om!” kata Winsi tulus, dia sangat berterima kasih pada pria gagah itu.


Arkan mengangguk, menutup pintu mobil dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menembus jalanan.


Tatapan mata Winsi takjub mengikuti ke mana arah mobil itu pergi, tapi kemudian dia melihat sebuah pemandangan lain di ujung jalan yang membuat jantungnya seolah kehilangan satau detakan.


“Bu, bukankah itu Bapak?” tanya Winsi, sambil menarik baju ibunya tanpa melepaskan pandangan dan menunujk kesebuah arah.


“Mana?”

__ADS_1


Bersambung


“Jangan lupa, like, komen, give dan vote. Terima kasih atas dukungannya”


__ADS_2