Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
81. Hari Itu


__ADS_3

Hari Itu


Hari itu Winsi berangkat menuju salah satu kota sejarah, yang terkenal dengan Keratonnya, yaitu  Yogyakarta. Dia pergi ke bandara diantar oleh Hasnu, sementara Runa dan Arkan pergi ke rumah sakit dan melakukan aktivitas seperti biasanya.


 Runa melepaskan anaknya dengan perasaan haru, wanita yang tengah mengandung itu lagi-lagi mengalah demi orang lain. Kasih sayang seorang ibu yang tidak lapuk oleh waktu dan tak lekang oleh panas, sudah dibuktikannya dengan baik. Bukankah seperti itu seharusnya manusia menjalani hidup? Yaitu dengan menggunakan kesempatan yang ada seolah saat ini adalah waktu terakhirnya, termasuk untuk bersama seseorang hingga akan selalu memberikan yang terbaik.


Keinginan Runa untuk mempertahankan Winsi tetap di rumah sampai dia melahirkan tidak terwujud. Dia memang tidak kecewa karena sudah terbiasa apabila keinginannya yang tidak bisa dipenuhi. Akan tetapi, ada rasa yang berbeda ketika anaknya itu tidak menurutinya kali ini.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Arkan dengan suara yang lembut, ketika mereka dalam perjalanan ke rumah sakit setelah melepas kepergian Winsi.


“Tidak ada,” jawab Runa, dia duduk di samping Arkan yang tengah mengemudi.


“Kenapa cemberut begitu? Nanti, kalau nanti kamu mau ketemu Winsi, bisa kok, bulan depan kita ke sana.”


“Bukan soal itu.”


“Terus?”


Runa menceritakan kegelisahan hatinya yang menginginkan Winsi berada di sisinya, ketika nanti dia melahirkan dan bisa melihat adiknya untuk pertama kali. Menurut wanita itu, kuliah tidak harus tahun ini dan belajar bisnis juga mengejar cita-cita tidak harus saat ini.


Menurut Runa, masih banyak kesempatan di tahun depan ketika usia anaknya itu sudah genap 20 tahun. Runa masih ingin mengajarkan banyak hal tentang rumah tangga dan pelajaran tentang wanita dewasa lainnya kepada Winsi. Pada intinya, dia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan anaknya.


Apabila Winsi pulang saat liburan pesantren, maka anak itu akan menghabiskan waktunya berjalan-jalan bersama Arkan ataupun mengulang kembali hafalannya dan murojaah atau tidur, juga asik menonton TV.


 Saat ini Winsi sudah lulus dan tidak lagi diharuskan melakukan banyak kegiatan maka, Runa ingin menggunakan kesempatan yang ada untuk mengajaknya beraktivitas bersama, tapi karena keadaan memaksa mereka jarang bersua hingga akhirnya anak itu pergi mengejar angan-angannya.


“Ya, kalau begitu bukan depan kita ke sana, lihat perkembangannya.” Arkan berkata untuk menenangkan Runa.


“Tidak usah repot-repot, belum tentu Ayah sembuh secepat itu.”


“Mudah-mudahan saja sembuh, jadi kita bisa menengok Wiwin.”


“Apa dia akan tinggal dengan temanmu itu?”


“Aku tidak tahu, itu terserah Wiwin, rumah Hamzah juga luas dan kamarnya banyak. Jadi, kalau dia mau di sana gak masalah.”


Runa hanya mengangguk


“Jangan banyak pikiran ... ingat kamu masih mengandung itu tidak baik untuk anak kita kalau kamu stres.” Arkan berkata sambil mengusap-usap perut Istrinya yang masih rata, lalu memiringkan badannya untuk mencium pucuk kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit, Runa segera turun dari mobil dan berjalan sendiri ke bangsal perawatan Badri, sementara Arkan melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.


Runa memasuki kamar perawatan dengan perlahan, menggantikan perawat yang berjaga tadi malam. Saat itu Badri sedang tidak tidur dan Dia meminta rona untuk duduk di sisi tempat tidurnya.


“Apa anakmu sudah berangkat, atau dia menurutimu?” tanyanya pada Runa.

__ADS_1


“Tidak. Dia menuruti ayah dan sekarang dia pergi.”


“Jadi begitu rupanya, aku sudah tenang kalau dia sudah pergi untuk melakukan apa yang dia inginkan.”


“Sebenarnya, apa maksud Ayah mengapa menyuruh Wiwin pergi padahal aku ingin dia tinggal sampai adiknya lahir nanti.”


“Aku hanya ingin tahu siapa yang dia turuti aku atau kamu?”


Mendengar ucapan Badri Runa menjadi kesal karena ternyata, tidak ada yang berubah dari ayah mertuanya itu masih saja bersikap angkuh.


“Ayah tega sekali hanya karena alasan itu Ayah sama saja memaksanya pergi?”


“Aku tidak pernah memaksanya. Aku hanya ingin dia mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.”


“Memangnya apa yang harus dia dapatkan? Bisnis, kekayaan, begitu? Dia tidak membutuhkan itu, di sini bersamaku juga sudah cukup, aku dan Arkan bisa membahagiakannya dan,.bila nanti menikah, dia akan dicukupi oleh suaminya.”


“Jadi, Cuma sampai di situ cara berpikirmu, apa kau tidak bisa berpikir bahwa, tanah warisan kedua orang tuamu akan sia-sia kalau dibiarkan begitu saja?”


“Apa maksud Ayah tidak ada yang bisa diharapkan dari tanah itu sudah hancur, bahkan mungkin sekarang tidak terurus atau sudah dimiliki oleh orang lain.”


“Nah, itu maksudku apabila tanah yang seharusnya hak dari anakmu dimiliki oleh orang lain apa kamu rela?”


Mendengar  mertuanya, Runa menjadi termenung memikirkan tentang kejelian pria itu terhadap segala kesempatan dan, apa yang dimiliki sehingga dia tidak menyangka, jika Badri akan memperhatikan tanah yang dimiliki kedua orang tuanya dulu.


Perempuan itu menjadi sedikit terhibur setelah memikirkan jika Winsi kelak akan bisa memiliki tanah itu, tentu saja dia bisa menjual atau memanfaatkannya.


 


 


Winsi berdiri di ruang penjemputan bandara untuk menunggu seseorang yang sudah dia dihubungi setelah turun dari pesawat. Ini bukan penerbangan pertamanya sehingga dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan saat hendak naik atau turun dari burung besi itu. Dia duduk dengan santai sambil memainkan penselnya.


Untuk mengusir kejenuhan selama menunggu, dia mengambil beberapa foto yang menarik, termasuk melakukan swafoto terhadap dirinya sendiri kemudian mengunggah salah satunya di media sosial. Tidak lama dia menggugahnya, ada satu komentar masuk.


‘Memangnya dia gak ada kerjaan apa?’ batin Winsi dengan mengerutkan alis ketika dia membaca komentar itu dari akun berinisial Er Er Kim.


Dia tahu itu akun milik Erlan yang tentu saja mengomentari dengan komentar yang tidak ada hubungannya dengan foto sebuah ikon khas bandara Adisucipto, yaitu taman Candi Borobudur yang dia unggah.


“Di mana kamu?”


Winsi mengabaikannya. Kemudian dia kembali menonaktifkan ponselnya seperti biasa, untuk menghindari pesan dan panggilan dari orang-orang yang tidak diharapkan. Dia hanya menyalakan ponsel jika dia membutuhkannya saja.


“Kamu, Winsi Nisriya? Anak Pak Arkan?” tanya seorang pemuda yang tiba-tiba menghampirinya sambil mengulurkan tangan, dengan segera Winsi tersenyum dan mengetubkan kedua tangannya di depan dada lalu mengangguk.


“Apa Anda, Pak Nafadi?” katanya Winsi sambil berdiri dan mengambil kopernya.

__ADS_1


“Ya.” jawab pria itu sambil mengambil koper dari tangan Winsi, kemudian mereka berjalan beriringan ke luar area ruang tunggu.


“Pak Arkan sudah banyak bercerita Dek Win.”


“Oh, apa saja yang Ayah katakan tentang saya?”


“Banyak, tapi semuanya adalah hal yang positif dan bagus ... di matanya kamu adalah anak yang luar biasa.”


“Benarkah?”


“Ya.”


Saat bicara, mereka sudah berada di dekat mobil milik Nafadi, pria itu segera memasukkan koper milik Winsi dalam bagasi dan mempersilakan wanita itu masuk, setelah dia membukakan pintu untuknya. Lalu mereka duduk bersebelahan di kursi bagian depan sementara Nafadi sibuk mengemudi.


 Selama dalam perjalanan mereka terus berbincang-bincang dan Nafadi tidak ingin dipanggil dengan sebutan Pak, melainkan dengan panggilan Mas Adi karena seperti itulah dia biasa dipanggil.


“Padahal lebih bagus dipanggil Nava.” Winsi berkata untuk mengomentari permintaan Nafadi.


“Nafa mirip nama perempuan sedangkan, padi ... jangan salah nanti, kalau memakai p bukan f nama saya jadi padi.”


“Padi, juga bagus itu, nama tanaman yang memberi manfaat pada banyak orang, bahkan dijadikan semboyan semakin berisi semakin menunduk.” Winsi membicarakan tentang filosofi padi yang tentu mirip dengan nama Nafadi.


Pria itu tersenyum sambil melirik Winsi dari sudut matanya. Dalam hati dia berterima kasih pada Arkan karena sudah menitipkan seorang wanita yang cukup menggemaskan, bahkan sangat cantik di matanya.


“Sudah, berhenti ngomongin soal namaku, namamu juga bagus. Nisriya artinya pertolongan yang diambil dari kata Nasri, kan?”


“Wah, Mas Adi benar!”


“Tapi, kalau Winsi artinya apa?”


Mendengar pertanyaan itu Winsi tertawa. Dia sendiri tidak tahu apa artinya


Dulu, dia sempat menebak jika Winsi adalah nama pemberian Basri, yang waktu itu berpikir tentang kata Win dari bahasa Inggris yang artinya pemenang, sedangkan Sij diambil dari kata welas asih yang artinya penuh kasih sayang. Jadi, apabila digabungkan nama Winsi Nisriya adalah seorang pemenang yang penuh belas kasih dan selalu memberi pertolongan.


Cukup lama mereka berbincang-bincang selama dalam perjalanan hingga mobil yang dikendarai Navadi berhenti di depan sebuah rumah, yang cukup besar. Memang tidak mewah tetapi, rumah itu berhalaman luas bahkan dicat dengan warna yang begitu mencolok.


“Rumah siapa ini Mas?” tanya Winsi sambil melepaskan sabuk pengaman mobil.


“Ini Rumah saya.”


“Kenapa ke rumah Mas Adi? Kata Ayah aku akan tinggal di rumah sewaku sendiri?”


“Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara, kebetulan aku tinggal sendiri, rumah ini masih cukup besar kalau hanya ditempati berdua.”


“Apa maksudnya? Mas, nggak punya istri atau anak, gitu?”

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2