Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
71. Tersenyum Saat Melihatnya


__ADS_3

Tersenyum Saat Melihatnya


 


Badri menatap dua orang manusia yang berlawanan jenis itu tengah mengobrol di depan pintu kamar tamu.


Dia sudah terbangun sejak sepuluh menit yang lalu, dan meminta perawatnya untuk mendorong kursi roda lalu, keluar kamar karena dia merasa lapar, ingin makan sesuatu yang manis. Dia sudah menunggu camilan buatan Runa seperti biasanya, tapi, di atas meja kecil di kamar itu kosong.


Saat keluar dari kamar itulah dia mendengar suara Arkan tertawa keras, membuatnya menoleh. Dia melihat Saina dan Arkan yang sedang mengobrol serius dan tidak menyadari kedatangannya.


“Apa yang kalian bicarakan? Saina, kapan kamu datang?” tanya Badri datar. Dia menatap dua orang di hadapannya itu penuh tanda tanya.


Tanpa berpikir apa akibatnya, Saina langsung menghamburkan diri di bawah kaki Badri sambil menangis.


“Dasar, bodoh!” gumam Arkan sambil memalingkan pandangan.


Sementara Saina tengah berlutut mencoba meraih simpati pria tua di hadapannya, dengan menceritakan apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuanya di Amsterdam. Semua usahanya hancur dan mereka meninggalkan utang yang cukup banyak sehingga hanya dalam beberapa bulan saja dirinya sudah jatuh miskin akibat semua kekayaan dan harta simpanan mereka habis untuk melunasi semua hutang.


Badri menarik napas dalam-dalam selama mendengar cerita dan Isak tangis Saina, sambil memegang dadanya.


“Cukup!” Arkan berteriak memanggil lengan Saina hingga wanita itu berdiri tapi, pijakan kakinya yang memakai sepatu hak tinggi tidak seimbang, lalu, dia terjatuh dalam pelukan Arkan. Secara refleks pria itu memeganginya.


“Apa kamu akan membunuh Ayahku, dengan mengatakan semua itu? Bodoh!”


Saina mencengkeram baju Arkan kuat sambil berkata, “memangnya apa yang aku lakukan?”


“Kesehatan Ayahku memburuk dan engkau menceritakan tentang kematian Ayahmu! Apa kau tidak berpikir sebelum mengatakannya?” Kata Arkan seraya mencengkeram lengan atas Saina.


Saat itu Saina justru tersenyum miring dia berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang baik dan mengharapkan agar laki-laki tua itu, mau memberikan sebagian harta atau tanah yang dimilikinya sebagai balas budi karena dulu kedua orang tuanya pernah berjasa.


Badri terlihat memejamkan mata lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan dia menolak melihat Arkan yang berwajah datar.


Dengan suara bergetar laki-laki itu berkata, “Apa Kau sudah mengerti semuanya?”


“Ya.” Arkan menjawab singkat dia menatap penuh rasa khawatir pada ayahnya.

__ADS_1


“Lalu, apa yang kau pikirkan dan apa yang akan kau lakukan untuk menolong ku kali ini.”


“Ayah ... Memangnya Ayah kenapa? Ayah akan panjang umur dan baik-baik saja.”


“Dasar! Anak tidak tahu diri. Kalau kau menolong Saina sama saja kau menolongku! Apa kau mengerti sekarang?”


Mendengar ucapan Badri, Saina menyembunyikan senyum dan berpaling. Saat itu pula pandangannya bertumpu pada Runa yang juga tengah berdiri di depan pintu kamar. Seketika senyumnya semakin mengembang, sementara posisi mereka masih sama, seolah sedang berpelukan dengan Arkan.


Tiba-tiba Erlan berjalan mendekat dengan kaki pincang.


“Kakek, tidak perlu menyuruh Ayah. Sebelum kakek meminta, Ayah sudah memikirkannya denganku dan kami sudah mengambil kesepakatan," Katanya sambil melirik Saina dan ayahnya sekilas, lalu mencebik.


Saat itu Saina menoleh pada Erlan seraya melepaskan diri dari cengkraman Arkan.


“Memangnya apa yang bisa kalian sepakati dengan anak sepertimu?” sahut Badri.


“Kakek pikir aku selama tiga tahun ini tidak bekerja apa-apa dan hanya belajar? Aku ikut mengurus dan mempelajari restoran kakek di Pert, yang Kek!" Erlan berkata penuh percaya diri.


“Itu pengalaman baru tiga tahun, dan kau sudah bangga? Kau pikir apa?” Badri tampak meremehkan Erlan.


Tentu saja bagi laki-laki tua itu, pengalaman tiga tahun bukanlah apa-apa. Dia sudah puluhan tahun menjajaki berbagai macam bisnis hingga baginya, pengalaman bekerja dalam waktu sesingkat itu tidak akan menjadi patokan untuk bisa diandalkan begitu saja.


“Ayah ...” Arkan berkata sambil mendorong kursi roda Badri ke meja makan, mengambil alih dari perawat kepercayaannya. “Itulah gunanya Aku di sini ... aku berniat melatihnya seperti Ayah melatihku dan kupikir tidak salah melepasnya pergi ke luar negeri untuk belajar. Itu belum selesai, tiga tahun baru permulaan... Jadi, Ayah tidak perlu kuatir.”


Badri tampak tersenyum puas mendengar ucapan anaknya. Sementara Erlan kembali ke kamarnya sambil membawa dokumen, sedang kan Saina mengikuti langkah Arkan.


Basri saat itu berkata, “Suruh dia mengelola, restoran yang dipimpin Mark, kurasa itu cocok untuk Saina.


Mendengar penuturan ayahnya, Arkan mengernyitkan dahi lalu, menjawab, “Baiklah, sesuai keinginan Ayah.”


"Buat perjanjiannya dengan adil, dan berikan dia bonus tiap bulan." Basri melanjutkan.


"Baik."


"Teruskan kebiasaan ini, walaupun aku mati."

__ADS_1


"Baik. Apalagi yang Ayah ingin berikan untuk Saina?"


"Kurasa, untuk sementara ini cukup. Berbuat baiklah padanya, meskipun aku sudah tiada."


"Baik. Ayah akan panjang umur."


Saat melintas hendak ke ruang makan dua laki-laki itu menoleh ke arah pintu kamar Arkan, di mana Runa tengah berdiri di sana sambil memalingkan muka.


Arkan masih tetap dalam posisinya mendorong kursi roda, sedangkan satu tangannya melambai pada istrinya sebagai isyarat agar dia mendekat.


‘Apa sedari tadi dia di sana dan melihat semuanya? Astaghfirullah' batin Arkan.


“Kau sudah bangun?” tanya Arkan sambil melingkarkan tangan Runa di lengan lalu, mencium pipinya sebelum melanjutkan berjalan.


Runa melirik Saina sekilas lalu mengangguk.


"Sudah dari tadi," sahut Runa.


“Apa kau membuat sesuatu untukku hari ini?” tanya Badri begitu Runa ikut berjalan di belakannya.


Runa sedikit bingung, pasalnya dia tidak menyiapkan camilan manis seperti biasa untuk ayah mertuanya itu. Dia hampir menyiapkan bahan untuk membuat odading, saat suaminya dan Erlan pulang dari rumah sakit, di susul kedatangan Saina.


“Maafkan, aku Ayah.” Runa berkata dengan gugup.


"Sudahlah, Ayah ... dia lebih sering mual akhir-akhir ini." Arkan membela istrinya, membuat Runa tersenyum.


"Oh. Rupanya calon cicitku itu merepotkan, ya?" kata Badri sambil tersenyum.


"Ayah, harus tetap sehat kalau ingin melihat cucumu lahir." Arkan berkata sambil kembali mencium puncak kepala Runa.


Seketika Sania meringsek ke depan sambil menarik tangan Runa hingga cekalan tangannya dari Arkan terlepas.


“Apa maksudmu, tadi kamu bilang maaf? Apa artinya kamu tidak mengurus Paman dengan baik? Menantu macam apa kamu?”


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2