Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
49. Dia Yang Bernama Saina


__ADS_3

Dia Yang Bernama Saina


 


Winsi segera mengganti seragam sekolah dengan pakaian biasa yang dikenakannya sehari-hari, lengkap dengan kerudung instan sederhana tapi, cukup nyaman. Gadis itu keluar menuju halaman rumah dengan wajah yang ditekuk. Dia punya niat membuat kegaduhan untuk membuyarkan keakraban antara dua orang tadi dilihatnya sedang berpelukan. Dia tidak bisa menamai dengan nama apa perasaannya, dia hanya merasakan tidak suka, itu saja.


Tiba di halaman samping, Winsi melihat Ismi binatang kesayangan Erlan yang sedang bersantai, dengan sengaja dia membuka pintu kandang dan membiarkan binatang itu keluar berkeliaran.


Mengetahui hal itu Anas segera berlari, dengan perasaan kesal dia melirik ke arah Winsi sekilas. Lalu, berusaha menangkap binatang itu sambil berteriak memanggil nama monyet putih kecil yang menggemaskan. Tentu saja kejadian ini menarik perhatian Erlan.


Sementara gadis kecil itu tersenyum smirk sambil melihat Anas yang kebingungan. Dia tidak menyukai binatang itu, tapi, Erlan begitu menyayanginya, dia bilang, monyet itu sama seperti binatang peliharaannya Irfan Hakim, salah satu artis yang kaya raya dan terkenal sebagai pecinta binatang. Semua peliharaan artis itu terdiri dari binatang yang sulit di dapat.


Pria remaja itu sedang bercakap-cakap dengan Saina, wanita yang menyukai Arkan sejak dulu, dan baru saja pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan studi strata duanya di London. Dia berpikir mungkin sekarang Saina akan kembali melancarkan rayuan mautnya kepada sang ayah.


Sebenarnya perasaan Erlan pada Saina biasa saja, tidak mendukung juga tidak membencinya. Kalaupun Arkan ingin menikah dengan wanita itu pun, dia tidak peduli, semua terserah ayahnya. Dia hanya tidak menyukai caranya yang terlalu berlebihan serta terkadang melakukan hal yang riskan.


Pergaulannya lama di luar negeri yang terbiasa bebas tanpa aturan hingga wanita ini sering sekali melupakan adabnya, hidup di negeri ketimuran, negara mereka di mana rasa malu dan sopan santun sangat dijunjung tinggi. Sementara Saina tidak malu-malu mengumbar kemesraan saat merayu Arkan bahkan di hadapan Erlan sekalipun.


Seperti saat ini pun begitu, Saina melihat Erlan muncul tanpa segan-segan dan tanpa canggung, dia memeluknya dengan erat, bahkan cipika-cipiki padahal, pria remaja itu sudah lebih besar dan bukan anak kecil yang biasa di peluk dan di cium di mana saja.


Saina tidak langsung melepaskan rengkuhan tangannya, sambil terus berbicara tentang dirinya sendiri hingga Erlan melihat monyetnya keluar kandang dan Anas sedang berlari mengejarnya. Sontak remaja itu melepaskan  tangan wanita itu dari pundaknya.


“Ismi! Kenapa bisa keluar?” katanya sambil berjalan dengan langkah cepat untuk turut menangkap peliharaannya itu yang berlari ke sana ke sini.


Erlan menggunakan makanan yang biasa dia berikan untuk manarik perhatian monyet itu hingga akhirnya dia bisa menangkap dan menggendong dengan kedua tangannya.


Sementara Anas terlihat lega dan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah melirik Winsi sambil menarik napas panjang.


Saat Erlan membawanya ke kandang monyet dan melihat Winsi berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di depan dada, akhirnya dia mengerti bahwa, gadis itulah yang sudah membuat gara-gara .... Dia mendekat, sambil mengangguk-angguk, Sementara bibirnya menyeringai.


“Oh. Jadi, kamu biang keroknya?” kata Erlan sambil membuka pintu kandang dan memasukkan monyet kecil itu kembali.


“Hehe. Ya!” sahut Winsi tanpa rasa bersalah sedikitpun terlihat dari wajahnya.


“Dasar kurang kerjaan, cari gara-gara saja. Pergi sana!”

__ADS_1


“Bukannya kamu harusnya berterima kasih padaku.”


“Untuk apa?”


“Biar kamu bisa bebas dari Tante itu, siapa dia?”


“Oh. Jadi, karena itu? Nanti juga kamu tahu, pasti Ayah akan kasih tahu kamu, siapa perempuan itu!”


“Kenapa harus Ayah, kenapa nggak kamu aja kenalinnya, memang kamu nggak kenal siapa dia? Kalau kamu nggak kenal, kenapa kamu dipeluk-peluk sama dia?”


Ucapan Winsi membuat Erlan mengerutkan alisnya sekaligus tersenyum.


“Memang kenapa kalau aku dipeluk sama dia, kamu mau dipeluk juga? Bilang aja ... Dia seneng, kok, meluk-meluk siapa aja kalau ketemu sama orang yang dia kenal, beneran!”


“Apa?”


Bagi Winsi hal itu mengherankan, bagaimana mungkin ada orang yang bila ketemu langsung berpelukan? Itu hal yang tabu baginya sebab, dia hanya melihat orang berpelukan hanya dalam film televisi saja.


“Kamu nggak percaya? Ayo! Aku kenalin kamu sama dia.”


‘Sebenarnya siapa dia dan apa hubungannya dengan Ayah, tidak ada yang mau menjelaskannya padaku’ batin Winsi.  Dia tidak bisa mengharapkan keterangan apa pun dari pria yang berjalan di depannya.


Winsi dan Erlan baru saja berjalan sampai pintu samping kanan dekat dengan kolam renang, ketika terdengar suara klakson mobil Arkan yang sudah memasuki halaman depan. Mereka bertemu di ruang tengah rumah secara bersamaan, di mana Saina sudah duduk di sofa besar, dia tampak menunggu Arkan sambil memainkan telepon genggamnya.


Melihat Arkan berjalan mendekati mereka, baik Erlan maupun Winsi, menyalami punggung tangan pria itu secara bergantian. Sementara Saina berdiri melangkah mendekati pria matang yang masih memakai pakaian kantornya itu sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.


“Apa kabar, Sayang ....” kata wanita itu sambil bergerak melingkarkan kedua tangannya di leher Arkan. Saina tak segan-segan mencium kedua pipi pria itu hadapan dua anak remaja ingusan yang tidak bisa memahami sejauh mana hubungan mereka.


Winsi yang melihat Itu tampak terperangah, dia menutup mulut dengan sebelah tangannya, sedangkan mata membulat sempurna. Dia merasakan sesak dan mual yang merambat dari arah perut naik ke ulu hati dan tercekat di lehernya. Ingin rasanya muntah, bahkan hatinya seolah-olah diaduk dengan berbagai emosi. Dia benar-benar tidak menyukai pemandangan ini.


‘Tidak Ayah tidak boleh dimiliki wanita ini!’ batin Winsi.


Dia tidak rela Arkan diperlakukan seperti itu oleh wanita yang menurutnya sangat tidak sopan, mencium pria sembarangan.


‘Memangnya, siapa dia. Ayah! Kenapa sih, Ayah kok, diam saja?’ batin Winsi lagi seraya menahan geram di hatinya.

__ADS_1


Arkan tidak merespon atau membalas perlakuan Saina, pria itu justru melirik Winsi yang berekspresi berlebihan, hanya melihat orang dewasa berpelukan saja di terkejut setengah mati. Masalahnya karena dia tidak pernah melihat kedua orang tuanya bersikap mesra bila ada di rumah.


Sania mengikuti ke mana pandangan Arkan, hingga dia melihat gadis berpenampilan sederhana tengah berdiri kaku sambil menutup mulutnya.


“Ar, siapa perempuan ini?” tanya Saina sambil mendekati Winsi, menatapnya penuh selidik.


Sania sempat curiga ada wanita lain yang tinggal di sana. Dia menyimpulkan hal itu karena dia melihat ada beberapa benda juga beberapa pernah pernik identik dengan wanita muda, berada di salah satu kamar tamu yang pintunya terbuka.


Kini Sania melihat Winsi, dan tersenyum tipis ‘oh, gadis gembel seperti ini rupanya yang di pelihara Arkan?’ batinnya.


“Dia Winsi, anakku ... anak angkatku. Win, ini Tante Sania, temanku," tegas Arkan sambil mendekati Winsi dan menepuk halus kepalanya lalu, tersenyum,  “Apa kamu, sudah makan?” tanya Arkan kemudian sambil menundukkan kepalanya karena tinggi tubuh gadis itu hanya setinggi ketiaknya.


Winsi mengangguk, sambil melirik Sania dia menyukai sikap lembut Arkan, dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh bapaknya sehingga semua yang dilakukan pria dewasa itu bagaikan setetes embun di padang Sahara. Ya, Arkan datang memberi perhatian dan menyembuhkan dahaganya dari kekurangan kasih sayang seorang ayah.


Saat pertama kali digendong Arkan, dia seperti seorang wanita yang pertama kali jatuh cinta, dia menyukai semua yang ada pada pria itu hingga berharap dia akan menjadi miliknya.


Cinta murni dari seorang anak kecil pada seorang pria dewasa yang menyembuhkan rasa hausnya. Semurni kasih sayang anak pada orang tuanya. Oleh karena itu dia seperti wanita dewasa yang cemburu saat kekasihnya membagi cinta, dia khawatir kasih sayang Arkan akan berkurang padanya jika pria itu menikahi Sania.


Sementara Saina sedikit kesal karena Arkan mengenalkan dirinya hanya sebagai seorang teman.


“Anak angkat? Kamu seperti orang yang kekurangan anak saja. Kalau mau punya anak lagi, kenapa nggak nikah saja, Ar?” tanya Sania menunjukkan ketidaksukaan atas kehadiran Winsi yang diakui sebagai anak oleh kekasihnya.


“Biarlah, aku suka anak ini,” kata Arkan sambil kembali merengkuh bahu Winsi. Tentu saja gadis kecil itu menyukainya, dia merasa istimewa.


Sementara Erlan melihat pemandangan itu dengan ekspresi wajah yang rumit.


“Memangnya siapa dia? Anak yatim piatu yang tidak jelas siapa orang tuanya? Atau gelandangan yang hampir diperkosa?” kata Sania sambil tertawa.


Ucapan itu sontak membuat semua orang mengerutkan alisnya dan menatap Sania dengan tatapan mata penuh rasa tidak suka.


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2