
Demi Dia Atau Demi Aku
Runa tidak menjawab, melainkan dia cemberut dan menunjukkan raut wajah yang, tidak suka kepada menantunya karena dia merasa dibohongi juga. Siapa yang tega bila anaknya disakiti sedemikian rupa? Bukankah berpoligami bukan tentang boleh dan tidak boleh saja melainkan juga soal kejujuran dan keadilan, bukan hanya di hadapan para istri tapi juga di hadapan Allah sebagai Tuhan?
“Bu, Maafkan Erlan!” tiba-tiba Erlan menyudahi sarapannya dia menyimpan sendok secara perlahan, lalu, melangkah ke seisi Runa sambil membungkuk tak lupa dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Tanda dia memohon maaf dengan sangat.
Runa menoleh, melihat Erlan dengan mata berkaca-kaca, dia begitu sulit memaafkan Erlan, tai, apa itu artinya dia sulit juga memaafkan suaminya yang telah tiada?
Semalaman dia memikirkan hal itu. Seandainya suaminya itu masih ada, mungkin dia akan marah besar ataupun mengungkapkan kekecewaannya dengan berbagai cara. Namun sekarang, apa yang harus dia lakukan pada menantunya selain menyimpan harapan agar mereka bisa secepatnya perbaikan dan menyelesaikan masalah dengan Hanifa.
Sebagai ibu dia berharap ada campur tangan Allah di dalamnya.
Dia tidak rela apabila Erna lebih memilih wanita yang kurang waras itu ketimbang anak perempuannya. Apabila pria itu benar-benar melepaskan Winsi demi Hanifa, maka, dia tidak segan-segan untuk segera meninggalkan rumah saat itu juga. Dia tidak akan peduli sebesar apa pun menantunya memohon untuk tetap tinggal sebab dia akan pergi kalau memang Erlan menjatuhkan pilihan yang salah.
“Selesaikan urusan kalian bertiga dengan sebaik-baiknya dan, secepatnya kalian harus kembali bersikap normal. Aku tidak mau kalau anakku pergi hanya karena perempuan lain, yang dengan sengaja kamu bawa!” kata Runa setelah diam cukup lama dan membiarkan Erlan terus meminta maaf.
Erlan tahu jika ucapan Runa bukanlah pengabulan maaf, melainkan sebuah ultimatum dan menunjukkan dia masih menahan maafnya. Jika dia memang bersikap tidak sesuai dengan keinginan Runa, maka, jangan harap wanita itu akan memaafkannya.
Namun begitu dia sudah cukup senang karena artinya dia masih punya kesempatan, untuk menjadi menantu bagi ibu yang, sudah memberikan banyak warna dalam kehidupannya setelah ibunya tiada.
Erlan pergi setelah menyelesaikan sarapannya dan berpamitan, walaupun, Runa tidak bersikap hangat seperti biasanya tapi, dia maklum karena semua ini berakar dari dirinya. Dia tidak mempermasalahkan dari mana Runa bisa tahu, tentang pernikahannya dengan Hanifa sebab siapa pun yang menyampaikan kabar itu, mungkin sudah bagian dari takdir yang harus dijalaninya.
“Halo, Win!” kata Erlan saat mencoba menghubungi istrinya. Dia sangat khawatir, tapi, dia sudah cukup senang ketika Winsi mau menerima panggilannya.
Saat ini, Erlan tengah duduk sendiri di kantornya berteman dengan beberapa pekerjaan, yang menunggunya meluangkan isi otak, demi kelangsungan beberapa usaha.
Sementara Winsi tengah berada di bandara sedang menunggu taksi online yang sudah dipesannya.
__ADS_1
“Ya. Ada apa?” sahut Winsi dari seberang telepon.
“Kamu sudah nyampe mana?”
“Aku masih di bandara lagi nunggu jemputan!”
“Siapa yang mau jemput kamu Pak Basri apa Mas Adi”
“Bukan siapa-siapa taksi online kayak biasanya, Kenapa kamu mau nyusul?”
“Memang boleh, ya?”
“Terserah sih, tapi, memang bisa gitu ninggalin Hanifah, nggak bisa kan?”
Sejenak Erlan terdiam dia menyimpulkan apabila ucapan Winsi yang menawarkan untuk menyusulnya, hanyalah sebuah sindiran karena dia yakin apabila Erlan tidak akan mungkin meninggalkan Hanifah karena dirinya. Dia terdengar seperti wanita yang sangat putus asa.
“Eh, jangan! Kapan kamu pulang, nanti aku jemput kamu di bandara!”
Mendengar ucapan Erlan ini Winsi tersenyum sinis sambil memalingkan pandangannya ke arah lain, dia tahu benar bahwa, suaminya tidak akan mungkin meninggalkan Hanifa. Seharusnya, bisa saja pria itu menitipkan wanita pertama di rumah sakit jiwa, kemudian menyusulnya ke Jogjakarta.
“Bandara mana? Jakarta? Ah! Lupakan! Kamu nggak usah nunggu aku pulang, soalnya aku pulang kalau urusan di sini sudah selesai.” Winsi berkata dengan kesal.
“Memangnya kamu punya urusan apa sih?”
“Ya urusan bisnis, lah, jangan kuatir ... Aku mah, nggak akan ngurusin laki-laki!” kata Winsi, sebelum akhirnya dia menutup telepon secara sepihak.
Sementara Winsi tengah dalam perjalanan menuju ke tokonya dengan ojek online yang telah dipesannya. Erlan pun melakukan perjalanan ke suatu tempat juga.
__ADS_1
Winsi melakukan aktivitas yang dia sukai seorang diri karena Nia sedang sakit, tentu saja sebagai teman dia harus membantunya. Wanita itu bekerja dengan sangat semangat membereskan dan membersihkan toko yang sangat kotor. Termasuk juga memasak, untuk mereka berdua agar sahabatnya itu, cepat sembuh dan bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
Di tempat lain, Erlan menemui temannya yang seorang dokter kemudian, mengatakan beberapa hal tentang wanita yang dalam gangguan jiwa dan juga permasalahannya dengan Winsi. Tentu saja dokter itu menyarankan seperti yang diinginkan istrinya demi kesembuhan Hanifa
Dokter itu memberi saran secara netral karena dia memang sebelumnya tidak mengetahui keadaan Erlan dan juga istri-istrinya, yang ternyata sudah menikah untuk kedua kalinya. Sementara dirinya sendiri saja belum pernah menikah.
“Kamu orang nekat apa berani ya, Lan? Keren kamu, belum tentu orang lain mau tapi, kamu model bohong, sih!”
“Aku nggak bohong kalau soao Hanifa, tapi, aku Cuma nggak mau ngomong atau jujur dari awal gitu, aja!”
“Hais! Itu sama saja Lan!”
“Tapi, aku salut, deh, sama Wiwin, istrimu itu bisa nerima kamu apa adanya, tandanya dia benar-benar cinta. Walaupun, dia keras kepala!”
“Jadi, bener ya, dibawa ke klinik terapi jiwa lebih baik daripada dirawat di rumah?”
“Ya, iya, lah!”
Biar bagaimanapun, menyelesaikan masalah dengan orang yang ahli dalam menyelesaikannya, adalah salah satu solusi yang diberikan oleh agama bahwa, setiap urusan harus diserahkan pada ahlinya.
Setelah menerima saran dari temannya itu Erlan pun bergegas untuk menemui Hanifa dan membicarakan semuanya dengan dua perawat yang dia percaya. Walaupun, kedua orang itu bersedih karena kehilangan pekerjaan dengan bayaran yang cukup besar, tapi mereka akhirnya menerima juga. Erlan sebagai bos, telah memberikan kompensasi yang pantas kepada mereka berdua, sebagai ucapan terima kasih.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mereka bertiga sepakat untuk membawa Hanifa ke klinik tempat perawatan bagi orang-orang yang bermasalah dengan mental, mereka akan dipulihkan kembali, dengan terapi dan juga cara penyelesaian sesuai standar kesehatan lainnya.
Tentu saja hal ini tidak lepas dari pengawasan keluarga Hanifa yang kebetulan melihat Erlan membawa koper berisi beberapa pakaian yang akan dibawa serta.
“Mau ke mana, kamu Erlan! Kamu kira bisa bawa Hanifa ke rumah sakit jiwa? Dia dia itu tidak gila, dia cuma butuh perhatian saja, kamu ini ngerti nggak sih?”
__ADS_1
Bersambung