Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
101. Ziarah Kubur


__ADS_3

Ziarah Kubur


 


“Ya. Aku memang kaget kamu masih ada di sini, aku pikir kamu sibuk.” Saina berkata sambil duduk di kursi kosong dekat dengan Arkan.


Pria di sampingnya berbicara dengan bahasa Belanda yang kental dan Saina mengatakan sesuatu juga dengan bahasa yang sama, membuat Arkan tersenyum ke arah pria itu, lalu mereka berjabat tangan.


Runa tentu saja tidak mengerti apa yang mereka bicarakan setelah itu, mereka lebih banyak berkata dengan bahasa Inggris dan Belanda yang sama sekali tidak dipahaminya.


Saina menjelaskan jika bisnis restoran yang ada di Amsterdam baik-baik saja, dia sengaja pulang karena ada keperluan mendadak. Rumah terakhir peninggalan kedua orang tuanya kini sudah laku terjual, dan pembeli ingin serah terima langsung dengan dirinya, sehari kemudian. Akan tetapi dia sudah mengatakan semuanya pada Erlan, hanya saja anak itu tidak menyampaikan berita itu pada Arkan—ayahnya.


Selain itu Saina akan mengurus surat-surat kepindahan yang dia perlukan karena dia akan menetap menjadi warga di sana.


Alasannya untuk pindah kewarganegaraan sangat kuat, dia sudah memiliki bisnis yang bagus dan ada seorang pria baik, yang mau menerima semua kekurangan dan kelebihannya dengan lapang dada. Pria itu bernama John, dialah satu-satunya pria yang serius dengan Saina dan bersedia membawanya ke pelaminan.


Tentu saja Saina menerimanya dengan senang hati. Apalagi pria itu sudah tergolong mapan dan memiliki pekerjaan bagus di kantor pemerintahan di Holland.


Selain itu kepulangan Saina adalah untuk berziarah ke makam Badri, orang yang sudah sangat banyak berjasa pada kehidupannya, dia akan mengunjungi makam pria tua itu walaupun sangat terlambat.


Dia tidak tahu jika dirinya hamil, dan baru sadar saat dia naik pesawat lalu dia merasakan jetlag untuk pertama kalinya dan mabuk. Oleh karena itu, dia pergi ke rumah sakit khusus ibu dan anak untuk melakukan pemeriksaan dan tidak menyangka akan bertemu Arkan di sana.


“Baiklah, kalian sudah bahagia, aku ucapkan selamat semoga kalian menjadi pasangan sampai maut memisahkan.” Arkan berkata dengan bahasa yang lugas dan tegas hingga Runa bisa mendengar dan memahaminya.


“Ya. Terima kasih, untuk kalian juga, aku ucapkan selamat, kalian akan segera punya anak,” sahut Saina sambil tersenyum.


Runa mengucapkan kata-kata yang sama, saling mengucapkan selamat dan saling memeluk, tak lupa kedua wanita itu meminta maaf atas apa yang pernah terjadi di masa lalu.


Pertemuan itu berakhir dengan canda tawa antara John dan Arkan dengan bahasa yang tidak dipahami Runa, hingga wanita itu hanya diam saja sampai mereka berpisah saat memasuki mobil mereka masing-masing.


Arkan dan Runa kembali ke rumah, sedangkan Saina pergi ke makam di mana jasad Badri di kuburkan.

__ADS_1


 


*****


 


Sesampainya di rumah, Arkan meminta Hasnu untuk menghentikan mobil tepat di depan teras dekat pintu masuk, agar Runa mudah untuk sampai ke dalam dan pria tua itu membukakan pintu mobil untuk majikan perempuannya yang sedang hamil besar. Setelah itu, dia kembali menutup pintu dan duduk di belakang kemudi lagi untuk mengantarkan tuannya kembali ke kantor.


Arkan sengaja meminta Jasnya yang menjadi sopirnya jika tengah bepergian bersama Runa, sebab pria itu akan memilih untuk bersantai dan memeluk istrinya di kursi belakang sepanjang perjalanan dari pada mengemudi.


Dia akan berbincang terus dengan Runa meski yang mereka bicarakan hanya hal dari ke itu saja. Sering juga dia melakukan sesuatu yang tidak penting seperti merapikan jilbab Runa yang sudah rapi. Hal-hal kecil yang manis menyenangkan menunjukkan perhatian dan kasih sayang, membuat Runa merasa begitu dicintai, dan itu saja cukup.


Apalagi keinginan Hasnu yang memilih untuk menjadi pengemudi jika Tuan dan Nyonya besar akan pergi berdua. Sebab, sejak Erlan kuliah ke luar negeri, Hasnu lebih banyak diam di rumah, dan tugasnya menjadi lebih ringan seperti mengantar istrinya ke pasar dan ke swalayan berbelanja kebutuhan rumah besar.


“Kita mau ke mana, Tuan? Kantor, restoran atau lokasi proyek?” tanya Hasnu memulai percakapan begitu mobil mereka sampai di jalan raya.


“Kita ke makam Ayah, tadi ada Saina, dia bilang mau ke sana. Lihat, apa dia bohong atau tidak?”


Setelah mendapat perintah jelas, Hasnu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai tujuan.


Arkan meminta Hasnu agar memarkirkan mobilnya agak jauh dari lokasi parkir yang biasa digunakan para peziarah. Mereka hanya akan mengamati keadaan saja, membuktikan jika Saina tidak bohong.


Mungkin sebagian orang mengira jika memastikan apa yang dilakukan Saina tidak penting, tapi bagi Arkan, yang terpenting adalah kejujuran, sebab sikap itu sangat berarti di dunia bisnis, dan mereka sekarang terlibat kerjasama.


Tak lama setelah Arkan memarkirkan kendaraan, dia melihat Saina dan calon suaminya yang berusia hampir sama dengan dirinya itu keluar dari area pemakaman. Pemandangan itu menunjukkan jika gadis itu memang bersungguh-sungguh tentang menghargai Badri dan keluarganya yang sudah banyak menolongnya.


Sementara itu Arkan menghubungi Erlan, dia harus tahu kenapa anak lelakinya tidak menghubunginya, bahkan sudah lebih darin mereka tidak bicara melalui telepon.


“Ayah! Ada apa meneleponku?” kata Erlan dari seberang begitu selesai mengucapkan salam.


Arkan kesal dengan anaknya yang justru bertanya seperti itu seolah tak merasa bersalah. Ini pertama kalinya Arkan kesal karena Selain tidak berkoordinasi dengan baik. Sementara Erlan terlalu sibuk hari itu dan sama sekali tidak terpikirkan untuk mengatakan semua tentang kepulangan Saina pada ayahnya.

__ADS_1


“Apa kamu tahu Saina pulang?”


“Ya.” Erlan menjawab pertanyaan ayahnya singkat bahkan terkesan enggan.


“Kenapa kamu nggak bilang sama Ayah?”


“Ayah, jangan marah, aku tidak sengaja, Yah ... aku cuma belum mengatakan saja, tapi dari mana Ayah tahu?”


“Ayah bertemu Saina tadi di dokter kandungan?”


“Apa, dokter kandungan? Memangnya dia hamil?”


“Mana Ayah, tahu?”


“Oh, bisa jadi dia memang sudah hamil, Ayah! Aku sibuk Ayah, jadi nanti kita ngobrol lagi, ya?”


“Kapan kamu pulang?”


“Mungkin tahun depan!”


“Cepat pulang kalau kamu sudah selesai, Ayah bosan menjenguk gadis itu!”


“Ayah, bisakah bersabar sedikit saja? Aku ingin pulang sesudah aku wisuda.”


“Apa kamu anggap aku nggak sabar? Dia sudah sadar dari koma!”


“Benarkah?”


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2