Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
63. Kecewaku


__ADS_3

Kecewaku Yang Tidak Perlu Kau Tahu


Setelah memalingkan muka, Winsi tidak lagi melihat ke arah layar ponsel Arkan, meskipun, pria itu tetap mengarahkan kamera padanya. Gadis itu terlihat sibuk mencicipi camilan satu persatu. Erlan merasa diabaikan dan dia meminta Arkan agar tidak perlu mengajak anak itu bicara.


“Makanya, kamu pakai baju dulu, Lan!” Kata Runa sambil melirik Winsi dan wanita itu tersenyum melihat kepolosan anaknya yang malu-malu karena Erlan tidak memakai baju.


Sebenarnya bukan karena Erlan yang masih belum memakai baju melainkan, karena Winsi kecewa. Itu sebuah rasa yang tidak perlu semua orang tahu, betapa seringnya dia merasa malu dan sakit hati karena panggilan pria itu. Memang sakit akibat dari sebuah ucapan, akan lebih menyakitkan dari kulit yang terluka dan tentang kecewa, tidak bisa diobati oleh deraian air mata melainkan dengan mengikhlaskannya.


Arkan mengobrol dengan anaknya melalui telepon genggamnya seraya mengabarkan keinginannya untuk menikah dengan Runa. Tentu saja Erlan sangat mendukung keinginan Arkan dan meminta mereka untuk melakukan pernikahan secepatnya. Dengan begitu dia akan benar-benar memiliki ikatan saudara dengan Winsi.


Runa dan Arkan tidak menyangka jika anak-anak mereka menyambut baik keinginan mulia itu bahkan ingin mereka segera mempercepat proses pernikahan.


“Tidak perlu mewah, Ayah. Sederhana saja pestanya, yang penting kalian sah.” Erlan berkata memberikan ide untuk ayahnya dan Arkan mengangguk tanda bahwa dia menyetujui pendapatnya.


“Eh, memangnya siapa yang mau pesta mewah?” tanya Runa menyela obrolan ayah dan anak itu.. “Kalau saja mengadakan pesta pada saat melakukan pernikahan, bukan Sunnah, Tante nggak mau di adakan peta, malu. Kami sudah sama-sama cukup umur, jadi tidak perlu pesta. Menikah di kantor KUA saja!”


“Bukan Tante, kau akan jadi ibunya.” Arkan menyahut datar, dan Erlan mengangguk sambil tersenyum malu, kelak Runa akan menjadi ibu sambungnya.


Bagi Erlan, apa pun keputusan Arkan, dia setuju asal ayahnya itu bahagia.


Setelah berbincang sebentar dengan Runa, Arkan dan Erlan membicarakan tentang perkembangan restoran yang telah di dirikan oleh Badri. Bisnis dibidang kuliner itu sengaja dibangun karena memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh seorang teman dan kini sudah menjadi cukup besar.


Erlan turut mengawasi berjalannya restoran itu di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu, dia sudah berada di Amsterdam untuk kuliah, sejak sepekan dari keberangkatan Winsi.


Seperti itulah yang dilakukan Arkan dahulu, sebelum dia memutuskan untuk mendirikan restoran dan usahanya sendiri di tanah air dan kemudian menikah. Dia menjadi mahir mengelola bisnis dan mempunyai keahlian memasak mulai saat itu.


Walaupun bisnis mereka yang di luar negeri sudah dikelola oleh orang kepercayaan yang juga mempunyai kemampuan bisnis yang bagus, Arkan dan Badri tidak melepaskan begitu saja, mereka tetap memantau perkembangan baru setiap saat, bahkan sekarang Erlan pergi ke sana pun atas tujuan pemantauan juga.


Sebenarnya Arkan dan Badri tidak pernah memaksa anak lelaki itu untuk pergi belajar ke luar negeri dan belajar bisnis di sana tapi, dia pergi atas kemauannya sendiri membuat Arkan mendukungnya karena akan sangat meringankan tugasnya.


Biar bagaimanapun juga, kelak semua usaha keluarga itu akan berpindah ke tangan anaknya. Jadi, melatih Erlan dari sekarang adalah keharusan.

__ADS_1


Saat Arkan dan Erlan tengah berbicara melalui video, ada seorang wanita cantik yang datang mendekat dan menyapa Winsi dengan hangat. Kedatangan wanita itu dan suaranya, rupanya terdengar oleh Erlan, dari seberang telepon. Laki-laki itu meminta ayahnya untuk mengarahkan kamera ponsel pada Winsi dan ibunya.


Di sana terlihat Winsi yang sedang berbincang sambil menikmati camilan dan ada Hanifa di antara mereka, duduk dengan anggun serta senyuman tidak lepas dari bibirnya. Dia menjadi salah satu guru pengawas asrama yang selama ini begitu ramah serta perhatian terhadap Winsi.


Tentu saja pemandangan itu bisa dilihat oleh Erlan dari layar ponselnya membuatnya tersenyum.


Di saat yang bersamaan, Winsi berbalik badan hendak mengambil sebungkus camilan yang dibuat oleh ibunya dan, secara tidak sengaja dia melihat layar ponsel Arkan yang mengarah padanya membuat dia mencebik demi melihat Erlan masih belum memakai pakaian. Dia selintas berpikir bahwa apa yang dilakukan ayah angkatnya itu, atas permintaan Erlan yang ingin melihat Hanifa. Dia jadi ingat cerita sahabatnya bila kedua orang itu memang tampak saling menyukai sejak mereka masih di bangku SMA.


Winsi kembali menghadap Hanifa sambil memberikan sebungkus kentang goreng pedas, lalu, guru pengawasnya itu menerima dengan senang hati sambil tersenyum ramah.


“Ibu masih ingat kak Erlan, kan?” Winsi bertanya secara tiba-tiba membuat Hanifa mengernyitkan dahi. Lalu, mengangguk.


“Tuh, dia lagi teleponan sama Ayah. Iya, kan, Ayah ... coba kesiniin HP-nya!” pinta Winsi manja.


Hanifa tercengang mendengar permintaan Winsi pada pria yang ada di sampingnya, dia baru tahu bahwa pria yang tampak berwibawa itu adalah ayah Erlan dan itu artinya dia juga ayah Winsi, demikian pikirannya. Seketika dia mengagukkan kepala pada Arkan lalu melirik ponsel yang ada di tangannya, tapi, dia tidak melihat siapa-siapa di sana melainkan hanya sebuah ruangan yang mirip dengan kamar tidur.


Seaat kemudian muncullah Erlan dalam layar, dia sudah memakai pakaian santai tapi cukup rapi bahkan sudah menyisir rambutnya.


“Halo! Assalamualaikum, Han, apa kabar?” tanya Erlan Setelah Winsi mengarahkan kamera agak jauh sehingga dirinya dan juga Hanifa bisa terlihat. Diam-diam Winsi semakin sebal padanya, setelah melihat ada Hanifa, barulah Erlan mau memakai pakaiannya. Gadis itu meminta ponsel bukan karena ingin bicara melainkan hanya ingin melihat seperti apa kedua orang itu bila sedang bersama, apakah benar mereka saling suka?


Sewaktu mengantar Winsi untuk pertama kali ke pesantren sebulan yang lalu, gadis itu tidak tahu apa yang sudah mereka bicarakan karena dia harus membereskan pakaian di kamar asramanya. Ketika dia selesai, baik Erlan maupun Hanifa sudah tidak ada.


Cuma ada Hasnu yang setia menunggu Runa karena tugasnya harus mengantarkan wanita itu pulang. Dia ingin bertanya mengenai Erlan dan Hanifa pada pria itu, serta apa yang dilakukan mereka saat dia berada di asrama, tapi dia malu untuk menanyakannya.


Saat ini Winsi bisa melihat bagaimana interaksi yang terjadi pada dua manusia berlawanan jenis ini walaupun hanya melalui ponsel. Akan tetapi dia justru heran, dikarenakan semua yang ditanya Erlan pada Hanifa adalah tentang dirinya.


Winsi hanya menyimak pembicaraan keduanya, sementara Arkan dan Runa beranjak dari tempat itu untuk melihat-lihat area sekitar pesantren.


“Jadi, Winsi tidak nakal? Dia baik-baik saja, kan selama ini, Han?” tanya Erlan.


“Ya,” jawab Hanifa masih dengan senyum, gadis itu benar-benar ramah.

__ADS_1


“Aku kuatir saja dia bikin gara-gara, berantem misalnya sama temannya?”


“Nggak ... dia baik dan pintar.”


“Dia pinter karate loh, dulu dia sok jagoan, tapi lumayan sih ... dia kayak pahlawan kesiangan gitu.”


‘Dih, apaan sih pahlawan kesiangan?’ batin Winsi sambil mencebik lagi.


“Wah, kamu perhatian banget, ya? Sama adikmu ini.” Hanifa berkata sambil merengkuh bahu Winsi membuat Winsi membulatkan matanya.


Erlan diam setelahnya tidak menjawab. Sikapnya sangat ambigu.


“Eh, bilang ya nanti kalau dia punya pacar!” Erlan tiba-tiba berkata hal aneh yang tentu membuat Hanifa tertawa kecil.


“Mana boleh di sini pacaran!”


“Ya, siapa tahu aja, ada guru cowok yang suka sama dia. Habisnya dia gemesin, sih!”


Ucapan Erlan spontan membuat Winsi mengarahkan kamera tepat padanya dan tanpa bicara, dia menunjukkan tangannya yang terkepal ke arah Erlan.


“Duh, sayangnya si kakak sama adiknya!”


Setelah Hanifa selesai bicara, Winsi menutup panggilan dari benda pipih itu begitu saja.


“Eh, kenapa di matikan?”


“Kakak masih mau telepon?”


“Ah, nggak usah, nggak usah. Eh, Win ... kenapa aku lihat kamu sama Erlan, kok nggak mirip, kalian kan, saudara?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2