
Saat Berniat Untuk Pergi
Basri tidak mengindahkan pertanyaan Istrinya, tapi justru kembali duduk dan menikmati makanannya yang tadi sempat tertunda akibat ulah Winsi. Anak itu datang dan menjawab panggilaln Basri yang memanggil istrinya. Dia menahan laparnya hanya karena ingin meluapkan amarah pada anak perempuan yang sepertinya berusaha menunjukkan bahwa dia sekarang tidak bisa sembarangan untuk melakukan kekerasan padanya.
“Kenapa memangnya aku tidak boleh pergi?” tanya Runa sambil duduk di hadapan suaminya lalu, kembali berkata, “apa karena janjimu yang akan memberiku rumah dan melindungiku? Lupakan janji itu!”
Mendengar ucapan Runa, Basri tidak menjawab, tapi menatapnya sekilas dan tersenyum miring di salah satu sudut bibirnya.
Dia berinisiatif untuk mendiamkan Runa kali ini, kemudian menghabiskan makanannya seolah-olah tidak ada yang terjadi. Laki-laki itu tahu bahwa istrinya akan kesal diperlakukan begitu, menurutnya membuat wanita itu kesal saja sudah cukup.
‘Apa dia masih memiliki tabungan, oleh karena itu dia sepertinya sudah berniat untuk pergi?’ batin Basri.
‘Tungggu sebentar lagi, uangku akan cukup dan aku akan meninggalkanmu, walau pun kamu melarangku. Apakah aku dosa? Mungkin, tapi siapa yang mau terus diperlakukan seperti ini?’ batin Runa sambil menarik napas dalam dan memalingkan wajahnya.
Seekor semut pun akan menggigit apabila dia dipermainkan dan disakiti sedemikian rupa, apalagi Runa yang memiliki perasaan serta jiwa raga lemah lembut. Allah menakdirkan seorang wanita untuk hidup sebagai pendamping seorang laki-laki yang seharusnya melindungi dirinya. Akan tetapi yang didapatkannya adalah sebaliknya.
Runa tahu bahwa Islam tidak mengajarkan untuk perceraian sebagai solusi sebuah masalah yang terjadi dalam rumah tangga. Perceraian akan memutuskan tali silaturahmi antar dua keluarga sebab inilah yang membuat Allah tidak menyukai orang yang mengambil keputusan untuk bercerai dari pernikahannya kecuali, ada alsan mendesak dan tidak ada jalan keluar lain yang bisa ditempuh.
Di antara alasan yang bisa digunakan untuk menggugat cerai salah satu pasangan pada hubungan pernikahan adalah karena alasan agama, misalnya salah satu pasangan menjadi murtad atau, melakukan perbuatan keji yang jelas-jelas dilarang oleh agama misalnya, berjudi, mabuk-mabukan, berzina dan kekerasan.
Bahkan, kata talak hanya dibatasi menjadi tiga kali saja dalam sebuah pernikahan dan, tidak boleh mempermainkannya karena Islam sangat menjunjung tinggi silaturahim antar keluarga. Selain itu Islam adalah agama yang sangat menghargai pernikahan di mana janji suci itu dibuat Dengan menyebut nama-Nya.
Sementara Basri tidak hanya berjanji untuk menikahi Runa, tetapi berjanji juga untuk membahagiakan Runa dan memberinya rumah, serta memperlakukannya dengan baik. Bukankah memang seperti itu esensi sebuah ikatan perkawinan bukan?
“Tenanglah, sekarang kamu adalah istriku, aku akan melindungimu dan memberimu rumah, aku janji akan membahagiakanmu,” ucap Basri waktu itu, saat mereka baru saja meresmikan hubungan mereka.
__ADS_1
“Ya, terima kasih....” Hanya itu yang bisa Runa katakan sambil tersenyum.
Awalnya Basri merasa tidak masalah dengan semua yang menjadi tanggung jawabnya. Akan tetapi, sejak kejadian dia melihat seorang laki-laki berada di kamarnya dan membuat kekecewaan begitu dalam di hatinya lambat laun mulai memanfaatkan kelemah istrinya.
Sementara Runa pun sangat kecewa, dengan apa yang dilihatnya, beberapa hari yang lalu, ketika dia tegah berjualan dan melihat suaminya tampak begitu bahagia dengan seorang wanita muda..
Tiba-tiba keikhlasannya terusik. Dia yang selalu setia, rela bekerja untuk menyambung hidup tanpa mengandalkan nafkah dari suaminya karena selama ini, Basri hanya memberinya sekitar dua ratus atau tiga ratus ribu dalam setiap minggunya. Mungkin jumlah sebanyak itu, bagi Basri sudah cukup untuk biaya hidup rumah tangganya.
Akan tetapi bagi Runa tidak demikian, dengan anak yang harus dibesarkan di sisinya, uang sebesar itu tidaklah cukup. Mereka tinggal di kota besar, yang membutuhkan biaya tinggi untuk bertahan hidup.
Runa juga membiayai sendiri rumah yang harus selalu bersih saat Basri tiba, seperti membayar listrik dan air. Karena cinta yang begitu besar, hingga dia pun rela pula diperlakukan dengan kasar bahkan menyebut anaknya anak haram, kemudian yang dia lakukan adalah menghianatinya diantara ketiga orang yang ada di rumah itu hati rumah lah yang paling terluka.
Selama ini Runa selalu bisa bertahan dan bersabar menghadapi semua ujian dan cobaan yang diterima dalam berumah tangga dengan suaminya, tetapi kejadian terakhir kali membuat hatinya lebih berdarah lagi. Dia sudah melewati semuanya dengan lapang dada, tapi ketika dia melihat orang yang dicintainya bersama dengan wanita berbeda, dia tidak bisa menerimanya sehingga, dia berani mengabaikannya.
“Ayo! Win, kita tidur saja, nggak perlu dengar penjelasan Bapak.” Runa berkata sambil meraih tangan anak gadisnya masuk ke kamarnya.
“Bu, kenapa Bapak marah terus, apa aku bukan anak Bapak?” tanya Winsi dalam pelukan Ibunya.
Hati Runa pedih mendengar pertanyaan dari anaknya pertanyaan yang selalu sama setiap kali Winsi mendapatkan kekerasan dari ayahnya sendiri dan setiap kali itu pula hatinya terluka. Akan tetapi dia tetap tersenyum sambil membelai rambut hitam anaknya.
Dia berkata, “Jangan berpikiran buruk, Bapak ya Bapakmu.”
“Tapi, kalau Bapaknya Meri nggak suka marah-marah, Mary cerita kalau ayahnya sering ngasih permen tapi Bapak nggak pernah. Kita ganti aja panggilan Bapak jadi Ayah biar Bapak nggak jahat lagi.”
Mendengar perkataan anaknya Luna pun tertawa kecil ia mencium kepala wingsi sambil berkata, “yang menyebabkan orang marah bukan karena panggilannya Ayah atau Bapak, tapi mungkin Bapak memang lagi capek, kan di jalan terus dan pulangnya cuma seminggu sekali.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan ibunya, Wensi terdiam sambil memutar matanya lalu, mengerjab berulang kali, berpikir bahwa mungkin memang benar, bila Bapak terlalu lelah setiap hari dan menjadi pemarah ketika pulang.
“Om yang suka beli dagangan Ibu juga baik dia Ayahnya Erlan, kan? Kenapa semua yang memanggil Ayahnya Ayah, semua baik?”
“Ya, ya, mulai besok, panggil Bapakmu, Ayah, ya?”
“Nanti Bapak marah lagi ....”
“Ibu juga nggak tahu Bapak marah atau nggak.”
“Kalau masih marah, kita pindah rumah saja, Bu dari sini.”
“Tabungan Ibu belum cukup untuk sewa tempat usaha yang bisa sekalian dijadikan rumah. Maafin Ibu, ya?”
Dalam hati Ronald kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa membahagiakan anaknya.
“Aku punya tabungan juga pakai saja, Bu, buat beli rumah baru.”
Mendengar ucapan Winsi, Runa kembali tersenyum, pikiran polos anaknya belum mengetahui betapa jauhnya jarak antara jumlah uang yang dimilikinya dan harga rumah baru yang bisa dibeli.
“Tidak usah,. Ibu juga sudah menabung. Ingat, jangan bilang-bilang Bapak, ya ....”
‘Kalau dia tahu aku punya tabungan, aku kuatir dia akan mengambil dan memanfaatkannya. Dia sudah terlalu mengandalkan diriku untuk mengabaikan tanggung jawabnya!’ batin Runa, sambil terus membelai kepala anaknya.
Winsi mengangguk sambil bertanya, “Bu, siapa Anas? Apa dia Bapakku? Apa dia tukang kebun di rumah Erlan?”
__ADS_1
Bersambung
“Jangan lupa, like, komen, give dan vote. Terima kasih atas dukungannya”